Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Problem Sunni-Syiah: Titik Beda dan Titik Temu

6 min read

Sumber gambar: islami.co

16,631 total views, 371 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Sunni-Syiah

Telah lebih 14 abad, Islam terlembaga menjadi sebuah agama, yang kini dianut sekitar 1,5 milyar penduduk bumi. Persebaran Islam telah meliputi berbagai belahan bumi dan dianut oleh berbagai bangsa. Islam lahir di Jazirah Arab 14 abad silam, namun kini, tiga dari empat penganut Islam bukan berasal dari bangsa Arab.

Dalam perjalanannya, Islam kemudian terbagi ke dalam dua mazhab besar, yaitu Sunni dan Syiah.

Sunni menjadi mazhab “arusutama” yang dianut sebagian besar, atau sekitar 80% kaum Muslimin. Sedangkan Syiah, menjadi ”mazhab kedua”, yang dianut sekitar 20% umat Islam.

Iran menjadi pusat utama populasi Syiah. Sejak Revolusi Islam Iran 1979, Iran menjadi sebuah poros kekuatan politik Muslim besar di dunia. Selain Iran, penganut Syiah merupakan umat mayoritas di Irak, Azerbaijan, dan Bahrain.

Populasi Syiah dengan angka yang cukup signifikan di sejumlah negara Arab, anak benua India, hingga wilayah Afrika.

Di Indonesia, populasi Syiah diestimasikan sekitar 1% dari populasi umat Muslim Indonesia. Sedangkan Sunni dengan populasi yang cukup merata di berbagai belahan dunia Islam.

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim Sunni terbesar. Arab Saudi menjadi pusat salah satu kelompok ortodoksi Sunni (Wahabi), dan Mesir sebagai sentrum Sunni moderat.

Sunni dan Syiah sebagai dua mazhab utama terbagi lagi ke dalam beberapa kelompok. Dalam bidang fikih, Sunni terpolarisasi dalam empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali), sementara dalam bidang teologi ke dalam tiga aras (Asy’ariyah, Maturidiyah, dan Wahabi).

Adapun Syiah, tidak menjadi kelompok yang tunggal. Saat ini, Syiah terbagi ke dalam tiga kelompok (Imamiyah, Ismailiyah, dan Zaidiyah). Imamiyah merupakan mazhab arusutama di Syiah dan menjadi ideologi resmi Republik Islam Iran.

Sejarah perjumpaan Sunni dan Syiah hingga abad 21 kerap diwarnai dengan sejumlah konflik. Persoalan Sunni-Syiah, hingga kini kerap menjadi proxy konflik politik di Timur-Tengah, dan menjalar sampai Afrika, bahkan hingga ke Indonesia.

Sejarah

Sunni dan Syiah dipisahkan oleh sejarah dan kerap bertengkar, disebabkan demi sejarah yang dipertentangkan tersebut. Konflik antara dua saudara dalam Islam, yang tentu saja, membawa dampak mudarat bagi keutuhan dan persatuan Islam.

Sejarah merupakan salah satu sumber terpenting yang membentuk suatu struktur doktrin yang diyakini oleh kelompok keyainan manapun.

Narasi tentang suatu peristiwa sejarah diterima, dipahami, ditafsirkan, dihayati, untuk kemudian diartikulasikan menjadi sekumpulan doktrin keagamaan dan direfleksikan dalam ekspresi dan sikap keagamaan.

Sejarah, setidaknya, menjadi ”jangkar”, di mana sebuah agama atau kelompok keagamaan meletakkan dasar signifikansi ajaran dan semangat keagamaannya, yang tak jarang membentuk elemen esensial suatu agama atau kelompok keagamaan tersebut.

Sejarah tidak hanya bercerita tentang asal-mula. Tapi juga proses yang berpulang pada tokoh-tokoh utama sebagai poros. Musa dalam Yahudi, Isa/Yesus dalam Kristiani, Sidharta dalam Buddha, dan Muhamad dalam Islam.

Babakan-babakan penting dalam sejarah hidup sang tokoh mendapatkan perhatian utama. Ia menjadi titik tekan, yang nantinya “diglorifikasi” ke dalam dasar doktrin, dan memengaruhi bentuk-bentuk ekspresi bahkan ritus keagamaan.

Selain menjadi titik tekan, babakan sejarah sang tokoh kerap pula menjadi titik beda. Bahkan,  menjadi ”titik tengkar”, yang membuat terjadinya perbedaan esensial suatu agama dengan agama lainnya.

Misalnya, seputar penyaliban Isa/Yesus, yang menjadi salah satu “titik tengkar”, yang memicu perbedaan esensial doktrin keagamaan Kristen dan Islam.

Sejarah juga menjadi problem yang memicu pemisahan (skisma) suatu agama menjadi dua atau beberapa sekte.

Misalnya, skisma Sunni dan Syiah dalam Islam, yang jika ditelisik bersumber pada perbedaan dalam menerima, memahami, menafsirkan, menghayati dan mengartikulasikan peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah Islam awal.

Syiah menekankan peristiwa Ghadir Kum, yang diyakini sebagai deklarasi pengangkatan Ali bin Abu Thalib sebagai pemimpin setelah Nabi (Syiah menyebutnya Imam) sebagai titik tekan doktrin esensial ajaran mereka (ushul amzhab).

Sedangkan Sunni menekankan peristiwa terpilihnya Abu Bakar melalui mekanisme musyawarah sekumpulan sahabat di Tsaqifah Bani Saadah, tak lama setelah Nabi Muhammad wafat sebagai salah satu sentrum esensial kemazhabannya.

Peristiwa seputar wafatnya Nabi Muhamamd hingga musyawarah Tsaqifah Bani Saadah, menjadi titik tengkar yang memisahkan Sunni-Syiah, sebagai dua mazhab berbeda dalam Islam.

Bagi Sunni, Tsaqifah diyakini sebagai awal persatuan umat. Sebaliknya, bagi Syiah, Tsaqifah dipandang sebagai awal perselisihan umat.

Menurut Hazleton (2018), perbedaan Sunni-Syiah dalam memahami sejarah Islam, yaitu karena Sunni melihat sejarah sebagai peristiwa yang mengambil bentuk sebagaimana adanya. Sedangkan bagi Syiah, sejarah mengambil bentuk sebagaimana harusnya, sebagaimana Syiah memahami, bahwa sejarah sebenarnya berada dalam suatu dunia yang melampaui dunia materi.

Perbedaan falsafah sejarah tersebut, tampak dengan jelas pada perbedaan kontras keduanya dalam menerima, memahami, menafsirkan, menghayati, dan mengartikulasikan peristiwa terbantainya Husain, cucu Nabi di Padang Karbala 10 Muharram 61 H.

Lebih satu milenium berlalu dari peristiwa Karbala, namun Syiah selalu mengenangnya, karena peristiwa tersebut menjadi paradigma Inti Islam Syiah. Simbol pertempuran abadi antara haq versus bathul.

Lebih jauh lagi. Syiah mengglorifikasi peristiwa tersebut dan mentransformasinya sebagai “jangkar” historis bagi teologi pembebasan, yang diekspresikan dengan slogan, “setiap hari adalah Asyura, setiap tempat adalah Karbala.”

Adapun Sunni cenderung memandang peristiwa pembantaian di Karbala sebagai sebuah aib dan duka tragis akibat intrik sejarah politik masa silam.

Sunni tentunya tetap memuliakan Husain sebagai pahlawan besar. Namun, Sunni menolak cara-cara Syiah mengglorifikasi Karbala dan Husain dengan menyebutnya sebagai, “pemujaan berlebihan (kultus) terhadap individu.”

Titik Beda

Sunni dan Syiah, adalah dua mazhab utama dalam Islam, yang jika ditelisik perbedaan mendasarnya seputar kepemimpinan pasca kenabian.

Bagi Syiah, kepemimpinan (imamah), adalah persoalan teologi, karena menjadi dasar dalam agama (ushuluddin). Sedangkan bagi Sunni, kepemimpinan (khilafah) hanyalah persoalan cabang dari agama (furu’uddin).

Bagi Syiah, pemimpin pasca nabi adalah imam yang melanjutkan tugas kenabian dalam urusan bimbingan spiritual dan hukum agama, yang pemilihannya berdasarkan penunjukan dari Allah melalui Nabi

Sedangkan bagi Sunni, pemimpin pasca Nabi, adalah khalifah yang tugasnya lebih pada kepemimpinan politik-adinistratif.

Pemilihannya diserahkan kepada mekanisme umat yang menentukannya. Karenanya, Sunni berbeda dengan Syiah yang meyakini bahwa sebelum wafatnya, Nabi menunjuk pemimpin penggantinya.

Syiah menjadikan ma’shum atau terpelihara dari dosa sebagai prasyarat dan karakteristik Imam mereka. Itu sebabnya, Syiah mengglorifikasi imam-imamnya sampai pada level yang nyaris setara dengan Nabi. Sedangkan Sunni meyakini kema’shuman hanya pada Nabi dan tidak pada orang selainnya, termasuk pada khalifah.

Syiah berpandangan, kepemimpinan adalah hak ahlulbait Nabi yang telah ditentukan oleh Allah dan ditetapkan oleh Nabi. Sebaliknya, bagi Sunni, kepemimpinan adalah perkara politik,  yang urusannya diserahkan kepada umat untuk mengatur mekanismenya sendiri.

Perspektif tentang sahabat dan Ahlulbait menjadi salah satu titik beda, bahkan menjadi “titik tengkar” utama antara keduanya. Bagi umumnya Sunni, semua sahabat tanpa terkecuali berkualifikasi adil. Hal yang tak diterima oleh Syiah, sebagaimana Sunni, yang tak menerima keyakinan Syiah, bahwa Ahlulbait adalah ma’shum.

Sikap Syiah, yang mengeritik dan mendekonstruksi narasi tentang keadilan sahabat Nabi, tidak diterima, dan bahkan cenderung dianggap makar oleh Sunni. Sebab, bagi Sunni, sahabat adalah “postulat” risalah pasca Nabi.

Dari sinilah kemudian berkembang anggapan dari sebagian kalangan Sunni, bahwa Syiah mengkafirkan sahabat Nabi.

Sebaliknya, sikap penolakan terhadap otoritas kepemimpinan Ahlulbait oleh Sunni, dipandang oleh sebagian kalangan Syiah sebagai bentuk pengingkaran terhadap ketetapan Allah. Dari sinilah kemudian muncul pandangan dari sebagain kalangan Syiah, bahwa Abu Bakar merampas hak kepemimpinan Ahlulbait.

Perbedaan perspektif, yang pada dasarnya bisa ditarik titik temu, pun jika Syiah mengakui kekhilafahan Abu Bakar sebagai pemimpin politik pasca Nabi, toh tidak bertentangan dengan keyakinan Syiah, bahwa Ali adalah pewaris spiritual Nabi.

Sebaliknya, seorang Sunni dapat saja menerima Ali sebagai pewaris spiritual Nabi, karena tidak berkonsekuensi me-mansukhkan keyakinannya tentang Abu Bakar sebagai khaliffah pertama.

Demikian pula tentang peristiwa Karbala, Sunni dan Syiah dipertemukan pada kesedihan mendalam yang sama akan terbantainya cucu kesayangan Nabi. Tentu dengan tanpa perlu membesar-besarkan perbedaan dalam mengekspresikan kesedihan tersebut dan saling menghormati perbedaan ekspresi yang ada diantara keduanya.

Titik Temu

Butuh kedewasaan dan kematangan berpikir untuk menerima titik temu dari sekian perbedaan yang ada.

Sunni dan Syiah, adalah dua kelompok saudara Muslim, yang sama-sama mengimani Allah dan Muhammad. Jika hendak dideskripsikan perbedaan Sunni dan Syiah, mungkin kalimat ini dapat menjelaskan.

“Sunni meyakini Islam sebagai agama paripurna yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhamamd saw dan akses kepada risalah tersebut melalui sahabat, sedangkan Syiah meyakini akses genuine risalah tersebut melalui jalur Ahlulbait.”

Allah dan Muhammad menjadi titik temu yang menyatukan keduanya melalui taqrir syahadat yang sama, dengan Al-Qur’an sebagai kitab suci bersama, dan sosok Muhamamd saw sebagai teladan bersama.

Keduanya berhulu pada mata air yang sama (Allah dan Muhamamd), kemudian dipisahkan oleh jalur anak sungai yang berbeda (akses risalah).

Akhir dari semua perjalanan jalur tersebut, keduanya kembali berjumpa pada muara keyakinan dan harapan yang sama, yaitu “samudera ridha Allah dan syafaat Rasulullah”.

Keduanya salat menghadap kiblat, dengan bilangan rakaat yang sama pula. Berpuasa di bulan suci yang sama, serta sama-sama wajib membayar zakat, dan berhaji di tanah suci yang sama. Salat seorang Syiah tetap sah walau berdiri di belakang imam yang Sunni, dan tentu demikian pula sebaliknya.

Persatuan menjadi sangat indah bukan dengan menghilangkan perbedaan, melainkan dengan saling menerima dan mengakui, sehingga perbedaan dapat menjadi khazanah dan rahmat bersama.

Sunni dan Syiah, adalah produk sejarah dan berlarut-larut dalam pertengkaran hanya membuat sejarah umat Islam menjadi stagnan, bahkan mundur.

Persatuan menjadi niscaya dan moderasi menjadi kata kunci, bergandengan tangan sebagai saudara seiman dan seislam.

Firman Allah dalam surat Ali Imran (3) ayat 103 dapat menjadi refleksi bersama, bahwa persatuan adalah segalanya.

Dan berpegang teguhlah kepadaa Tali Allah, bersatulah dan jangan berpecah-belah”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.