Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

Polemik Akal & Wahyu dalam Lanskap Pemikiran Islam

7 min read

Sumber foto: kompasiana.com

29,733 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dalam sejarah pemikiran manusia, polemik tentang akal dan wahyu (ilmu, dan iman, filsafat,  dan agama), seolah menjadi tema abadi. Ia telah melahirkan berbagai aliran, kecenderungan, hingga gerakan.

Sebagian kalangan menerima wahyu (teks keagamaan) secara taken for granted sebagai firman Tuhan, yang ditujukan untuk menuntun jalan manusia pada keselamatan sejati dan kebahagiaan abadi.

Sementara sebagian yang lain menolak wahyu (teks keagamaan), karena menganggapnya sebagai mitos yang mensubordinasi akal, dan meyakini, bahwa dengan akal, manusia dapat mencapai kebenaran sejati dan kebahagiaan hakiki.

Wahyu diterima dan diposisikan sebagai sumber primer pengetahuan oleh kalangan agama. Namun ia pun ditolak oleh kelompok anti agama. Sementara akal pun disubordinasi atas nama finalitas kebenaran tekstualitas wahyu oleh kelompok ortodoks.

Di kelompok lain, akal dipuja sedemikian rupa, hingga menegasi wahyu sebagai petunjuk kebenaran bagi manusia. Di antara keduanya, terdapat kelompok yang mengapresiasi akal dan wahyu. Mereka memosisikan keduanya sebagai dua pilar kebenaran, petunjuk, dan penuntun keselamatan bagi manusia.

Polemik panjang tersebut telah melahirkan berbagai ragam aliran dan variannya dalam sejarah pemikiran manusia. Muncul kalangan rasionalis ekstrem yang menolak agama.

Kalangan ini percaya, kekuatan akal manusia sudah cukup untuk mengantarkan manusia pada kebenaran, bahkan memandang kehadiran agama sebagai hal yang mengancam eksistensi akal.

Ada pula kelompok fideisme yang percaya, bahwa akal manusia tak punya otoritas dalam soal-soal keagamaan. Sehingga, pada hirarki epistemologis, ia mensubordinasi akal jauh di bawah wahyu.

Di antara keduanya, ada sekolompok pemikir sekaligus agamawan, yang menerima secara penuh akal sebagai fakultas epistemik terpenting dalam diri manusia, yang dengannya manusia dapat mengetahui, memahami, dan membedakan benar dan salah, serta baik dan buruk.

Namun, di saat yang sama menerima wahyu dalam bentuk teks keagamaan sebagai sumber kebenaran absolut yang berasal dari Tuhan. Penerimaan terhadap keduanya meniscayakan keyakinan akan kompatibilitas akal dan wahyu dalam memahami hakekat kebenaran.

Rasionalisme versus Fideisme

Polemik seputar pengetahuan aqlani dan pengetahuan wahyuni melahirkan dua varian pemikiran; rasionalisme vis a vis fideisme.

Rasionalisme merupakan istilah umum untuk seluruh sistem pemikiran yang menekankan peran penting akal.

Dalam konteks filsafat agama dan teologi, istilah rasionalisme merujuk pada mazhab pemikiran yang menghargai peran akal dan sarana perolehan ilmu, yang vis a vis dengan pengetahuan wahuyuni.

Penghargaan pada akal memiliki sejumlah tingkatan. Karena itu, rasionalisme dalam pengertian ini memiliki cakupan sangat luas. Mulai dari rasionalisme radikal anti agama, hingga rasionalisme pro agama dengan berbagai tingkatan dan bentuknya.

Rasionalisme dalam pengertian filsafat agama dan teologi berhadap-hadapan (vis a vis) dengan fideisme (Adian, 2006:20), yaitu paham yang meyakini, pengetahuan religius tidak bisa didasarkan pada akal budi, tapi dengan iman.

Dengan demikian, fideisme meyakini, akal manusia tidak memiliki otoritas dalam soal-soal keagamaan. Paham fideisme menuntut kepasrahan dan taklid buta, serta menafikan pengakuan rasional dan logis.

Paham fideisme melahirkan kecenderungan literalis dalam memahami bahasa agama (wahyu), yang kaku dalam teks agama, dan meyakini pemikiran manusia tak mampu (mustahil) merasionalisasi teks dan ajaran keagamaan.

Dalam sejarah pemikiran Islam, paham rasionalisme dan fideisme sebagai manhaj fikr senantiasa bertarung dalam rangka merebut kuasa pemahaman ajaran agama.

Kedua paham tersebut mengambil bentuk dalam berbagai mazhab pemikiran, teologi, dan fikih, baik di kalangan Sunni maupun Syiah.

Rasionalisme Radikal Anti Agama

Secara epistemologis, paham rasionalisme radikal menekankan fungsi vital akal sebagai satu-satunya sarana dan sumber pencapaian pengetahuan terpercaya, dan menegasi kemungkinan manusia memperoleh pengetahuan di luar kelaziman.

Akal manusia telah cukup mengantarkan manusia pada kebenaran, pada pengenalan akan baik dan buruk, serta tuntunan dalam kehidupan.

Kaum rasionalis radikal berusaha mengenyahkan agama dengan menyebut agama sebagai ajaran anti akal. Konsekuensi akan kepercayaan pada wahyu, adalah subordinasi akal di bawah teks keagamaan.

Dalam sejarah pemikiran Islam, pemikiran rasionalisme radikal yang anti agama hadir di awal-awal berkembangnya pemikiran filsafat Islam. Tokoh-tokoh utamanya; Muhammad bin Zakaria al-Razi (w 313 H), Abul Ala’ Ma’arri (w. 449 H), Ibnu al-Rawandi, Ibnu Muqaffa, dan beberapa pemikir berlatarbelakang muslim. Semuanya menolak otoritas wahyu dan kenabian.

Karena itu, para pemikir tersebut, oleh kalangan agamawan, kemudian dicap pemikir zindik atau mulhid. Mereka dipandang telah menyimpang jauh dari ajaran dasar Islam, karena menolak kenabian dan Al-Quran (Badawi, 2003).

Dalam beberapa literatur disebutkan, rasionalisme radikal anti agama di dunia muslim, cukup banyak dipengaruhi oleh pemikiran kelompok Brahmana, sekelompok filosof dari India yang mendeklarasikan ketidakbutuhan akan nabi dan wahyu, karena akal sudah cukup mengantarkan manusia pada kebenaran.

Keyakinan ini didasarkan pada pandangan, jika ajaran para nabi sesuai hukum akal, maka wahyu dengan sendirinya tidak dibutuhkan. Sebab, lewat bantuan akal manusia sudah dapat memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan hal-hal yang disampaikan oleh para nabi.

Jika ajaran para nabi tidak sesuai hukum-hukum akal, ajaran para nabi mustahil untuk dibenarkan dan dipatuhi. Tolok ukur kemanusiaan yang membedakannya dengan binatang,  adalah akal (Yussufian dan Shariff, 2011:55-56).

Muhammad bin Zakaria al-Razi (Badawi, 2003:213-222), menolak kenabian dan wahyu. Ia mengajukan tiga asumsi, sebagai berikut;

Pertama; Akal manusia mampu mengantarkan manusia pada kebenaran, dengan akal manusia mampu memilih yang benar dan salah, serta yang baik dan buruk. Hal ini membuat manusia tak butuh pada tuntunan wahyu.

Kedua; Setiap orang memiliki potensi yang sama dalam memfungsikan akalnya. Superioritas hanya mungkin lewat proses belajar-mengajar. Asumsi ini meniscayakan, mustahilnya ada manusia khusus yang ditugaskan untuk membimbing manusia.

Ketiga; Jika ajaran para nabi itu benar berasal dari Tuhan, mengapa antara ajaran para nabi terdapat perbedaan antara satu dengan yang lain?

Abu Ala’ al-Ma’arri (Yusufian dan Shariff, 2011:68), merangkum pemikiran anti agamanya dalam dua baris puisinya; “dua penduduk bumi, yang satu berakal tapi tak beragama, yang lainnya beragama tapi tak berakal.”

Ibnu al-Rawandi, mengutip pendapat kaum Brahmana (Badawi, 2003:112-113), menyatakan, akal merupakan nikmat Allah yang terbesar atas makhlukNya, yang dengannya, Tuhan dan nikmat-nikmat Tuhan dapat dikenali.

Bila para rasul datang untuk mengajarkan penilaian baik dan buruk, perintah dan larangan, maka tidak ada kewajiban bagi manusia untuk mengkaji argumentasinya. Dan, tidak ada pula keharusan bagi manusia untuk mengikuti seruannya.

Meski begitu, terdapat beberapa pemikir berlatarbelakang muslim, sampai pada pemikiran tentang ketidakbutuhan akan nabi dan agama, serta beberapa di antaranya malah menjadi pemikir (filosof) besar, seperti Muhammad Zakaria al-Razi.

Pemikiran seperti ini, dalam sejarah dunia Islam, cenderung tidak bertahan dan tidak sempat menjadi sebuah gerakan. Namun, sebagai sebuah khasanah, corak pemikiran rasionalis anti agama menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah pemikiran Islam.

Rasionalisme Pro Agama

Dengan corak dan pendekatan yang berbeda di kalangan agama, hadir sekelompok orang yang kemudian terlembaga dalam aliran atau mazhab pemikiran tertentu. Mereka ini meyakini, bahwa rasionalisme bisa bersanding dengan keimanan pada teks-teks keagamaan.

Kalangan rasionalis pro agama meyakini betul penerimaan pada kebenaran agama disebabkan kerasionalan ajaran dan proposisinya. Pada tataran ekstrem, kerasionalan ajaran dan proposisi teks keagamaan menjadi prasyarat diterimanya agama tersebut.

Untuk kalangan yang lebih moderat, berpendapat bahwa tidak semua proposisi dan ajaran agama harus diverifikasi secara rasional.

Kelompok ini mengakui akan keterbatasan daya nalar manusia dalam memahami makna, dan kebenaran dibalik ajaran dan proposisi agama tertentu, khususnya pada wilayah tuntunan  syariat.

Rasionalisme pro agama, tentu saja, menerima wahyu sebagai sumber kebenaran dan tuntunan hidup. Hanya saja, peran vital akal tetap dipentingkan dan bersanding dengan wahyu.

Wahyu hanya bisa dipahami dengan akal. Dan, wahyu mengafirmasi, menegaskan, serta menjelaskan kebenaran yang didapat dari olah akal.

Di dunia Islam, rasionalisme pro agama mengambil bentuk dalam lapangan teologi (ilmu kalam), filsafat, fikih, dan tasawuf.

Rasionalisme teologi diwakili oleh kelompok Mu’tazilah, yang meyakini peran vital akal dalam memahami dan menerima doktrin ajaran teologi Islam.

Mu’tazilah menekankan peran akal dalam hal keyakinan (akidah). Dalam konteks hukum dan cabang agama, mazhab ini menjadikan akal sebagai salah satu sumber penggalian dasar hukum (istimbath).

Meski memberikan porsi besar bagi akal dalam lapangan pemikiran keagamaan dan teologi, Mu’tazilah tentu saja sangat mengapresiasi wahyu sebagai rujukan primer bagi manusia. Dalam pandangan Mu’tazilah (Nasution, 2002:98-101), wahyu berfungsi untuk menyempurnakan pengetahuan akal tentang baik dan buruk.

Di lapangan fikih, rasionalisme pro agama diwakili oleh kelompok ashab al-ra’y atau ahlul ra’y, yaitu kelompok fikih yang menjadikan akal sebagai salah satu sumber penggalian hukum (istimbath), dan dalam mendeduksi fatwa hukum, tidak hanya mendasarkan pada makna lahiriyah teks.

Kelompok ini di wakili Mazhab Hanafi, didirikan Imam Abu Hanifah, yang menjadikan ra’y, atau pemikiran/nalar berperan vital dalam merumuskan hukum-hukum fikih di samping teks.

Di antara empat mazhab fikih yang berkembang di dunia Ahlussunnah, Mazhab Hanafi,  adalah mazhab yang menampilkan corak rasionalisme dalam lapangan fikih.

Rasionalisme pro agama juga diisi kalangan filosof dan sufi, yang memosisikan akal begitu vital dalam menggapai kebenaran. Khususnya filsafat paripatetik, yang mendasarkan doktrin,  bahwa akal manusia bisa mengantarkan manusia mencapai kebenaran sejati.

Ciri utama filsafat paripatetik, adalah epistemologinya didasarkan pada metode logis Aristotelian, yang bersifat diskursif-demonstrasional (Bagir, 2005:103).

Al-Farabi (wafat 950 M) dan Ibnu Sina (wafat 1037 M), merupakan tokoh terkemuka filsafat paripatetik. Pandangan rasionalis radikal a la paripatetik menuai kritik bukan hanya dari kalangan ulama literalis, tetapi juga kalangan sufi. Ia dianggap terlalu mengagungkan akal.

Di kalangan paripatetik, Ibnu Rusyd (wafat 1198 M) dan Ibnu Thufail (wafat 1185 M), dianggap sebagai garda depan pemuja rasionalisme dan meyakini benar, bahwa dengan berpegang pada rasionalitas, manusia dapat menggapai kebenaran sejati.

Kedua filosof tersebut digolongkan sebagai filosof paripatetis murni, karena sepenuhnya mendasarkan pandangan filsafatnya pada rasionalisme Aristeotelian, dan menolak paham Platonisme yang juga cukup memengaruhi pemikiran filosof paripatetik sebelum mereka (al-Farabi dan Ibnu Sina).

Rasionalisme paripatetik bukan berarti menolak wahyu dan kenabian. Dalam pandangan mereka, kebenaran wahyu sejalan dengan kebenaran akal. Hanya dengan jalan akal, manusia dapat memahami makna yang terkandung di dalam wahyu.

Penggunaan akal dalam memahami wahyu, tentu saja, tidak bisa menghindarkan diri dari ta’wil atas nas wahyu. Ibnu Rusyd (Afrizal, 2006:71), mengatakan, orang yang mengabaikan penggunaan akal, adalah bid’ah.

Di kalangan sufi, peran akal juga diakui oleh sebagian sufi (kalangan tasawuf falsafi/irfan), meski dengan proporsi yang berbeda dengan kaum filosof paripatetik dan Mu’tazilah.

Peran vital akal tetap diakui, meski dalam proses pencapaian kebenaran puncak, fakultas epistemik intuisilah yang digunakan, dan akal mencapai pengetahuan tersebut via penyingkapan intuitif.

Akal berperan untuk mengungkapkan pengetahuan yang didapat dari pengalaman spiritual dengan menggunakan bahasa diskursif-logis. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright ©BLAMakassar2019 | Newsphere by AF themes.