Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Saprillah Membimbing Peneliti di Parepare

2 min read

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, melakukan pembimbingan kepada peneliti, di Parepare. Foto: Arisal

20,825 total views, 2 views today

PAREPARE, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Dr. H. Saprillah, M.Si, melakukan monitoring sekaligus pembimbingan kepada Peneliti Khaerun Nisa’, yang melakukan penelitian di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, Minggu, 30 Agustus 2020.

Saat melakukan pembimbingan, Saprillah menanyakan apa saja yang menjadi temuan terbaru Kharun Nisa’ selama tiga hari berada di lapangan.

Kharun Nisa’ bersama Peneliti BLAM lainnya mulai turun lapangan sejak Kamis, 27 Agustus 2020. Nisa’ adalah Peneliti di Bidang Pendidikan Agama dan Layanan Keagamaan BLAM, yang meneliti Perspektif Tokoh Masyarakat terhadap Pendidikan Moderasi Beragama.

Sementara itu, bidang lain, Bimas Layanan Agama dan Keagamaan, meneliti Pemahaman Moderasi Beragama Guru Pendidikan Agama Islam di Madrasah Aliyah dan SMA/SMK, sedangkan Bidang Lektur Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi, meneliti Kajian Konteks Naskah Keagamaan.

Selama 15 hari, hingga 10 September 2020, seluruh peneliti menyebar ke lokasinya masing-masing. Untuk penelitian tahap kedua 2020, Peneliti BLAM menyasar ke sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Nisa’ mengaku bertemu dan “berbincang-bincang” dengan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpen) Hidayatullah dan tokoh adat di Parepare.

Dari hasil wawancaranya di Ponpen Hidayatullah, Nisa menemukan, pemahaman keagamaan yang dianut di ponpen tersebut cukup terbuka terhadap tradisi dan praktik keagamaan Islam.

Buktinya, meski mereka sendiri tidak melakukan tradisi dan praktik keagamaan Islam, seperti barazanji dan Maulid Nabi Saw, namun pimpinan ponpen sama sekali tidak melarang para santri untuk memenuhi hajatan keagamaan masyarakat sekitar.

“Kalau ada masyarakat luar yang meminta dan mengundang santri mengikuti permintaan mengaji dan ceramah di acara tradisi keagamaan warga, pimpinan ponpen tetap mengizinkannya. Padahal, mereka tidak melakukan tradisi dan ritual keagamaan Islam,” kata Nisa.’

Saprillah menyatakan, data yang ditemukan di Ponpen Hidayatullah sungguh menarik. Dengan cara seperti itu, pimpinan ponpen sebenarnya telah menunjukkan sikap moderasi beragama.

“Artinya, mereka tetap mengakomodasi pemahaman di luar dari pemahaman kelompoknya, tetapi tetap mempertahankan dan tidak kehilangan identitasnya. Ini menarik. Sebab, kalau mereka memaksakan pemahaman mereka kepada orang lain, mereka justru tidak menunjukkan sikap moderat,” kata Saprillah.

Saprillah kemudian menyarankan Nisa’ untuk mengamati beberapa tradisi dan ritual keagamaan Islam yang diikuti santri Ponpen Hidayatullah, sekaligus mewawancarai santri mengenai tradisi dan ritual keagamaan tersebut.

Selain itu, tentunya, menemui tokoh-tokoh masyarakat dan budayawan lain untuk menggali gagasan-gagasan mereka tentang moderasi beragama.

“Boleh jadi, dari hasil wawancara dan pengamatan nanti, kita menemukan model moderasi beragama menarik menurut perspektif mereka,” imbuh Saprillah.

Sementara dalam tradisi lokal, sebagian besar masyarakat di Parepare sudah jarang lagi melakukan tradisi lokal. Hal itu dikatakan salah seorang pelaku budaya yang ditemui peneliti di rumahnya, di Watang Bacukiki.

Misalnya, mappadendang, yang dilakukan apabila padi sudah tampak menguning. Pada upacara ini, masyarakat melaksanakan mappadendang, dengan menari sembari memegang lesung panjang ditumbuk diiringi irama gendang.

“Mereka yang tidak melakukan tradisi mappadendang bukan karena menganggap tradisi tersebut tidak sesuai ajaran Islam, melainkan kondisi sosial masyarakat di Parepare memang sudah tampak kosmopolitan dan modern. Namun, intinya, tradisi lokal tidak memengaruhi kehidupan beragama di Parepare,” kata Nisa’. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *