Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

“Bella Pitung Rupa” dan Hari Asyura

6 min read

Bahan untuk membuat "bella pitung rupa." Foto: Hamsiati

21,189 total views, 10 views today

Oleh: Hamsiati (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Hari Asyura, adalah sebuah momen istimewa di bulan yang mulia, Muharram. Hari Asyura pada tahun ini jatuh pada 29 Agustus 2020.

Apa itu Asyura? Kata Asyura’ (عاشوراء) telah masyhur di kalangan umat Islam, yang merujuk pada hari ke-10 di Bulan Muharram.

Dari derivasi katanya, Asyura’ (عاشوراء) merupakan kosa kata yang langka. Hal ini dikarenakan, di kamus-kamus bahasa Arab jarang ditemui derivasi kata yang serupa, kecuali yang mengkhusus pada sebuah nama hari di Bulan Muharram. Hal serupa terjadi pada kosa kata tasua’ (تاسوعاء). Kata Asyura’ (عاشوراء) dan tasua’ (تاسوعاء) wazannya dari fa’ula’ فاعولاء .

Ulama ahli bahasa Arab berbeda pendapat terkait derivasi kata tersebut. Ada yang menyebutkan berasal dari turunan, atau derivasi (isytiqaqal-‘Asyr (العَشر). Ada pula yang menyebutkan berasal dari ‘Isyr (العِشر), sebagaimana orang Arab sering menyebutkan dalam kalimat وردت الابل عشرا إذا وردت يوم التاسع.

Namun, menurut al-Qurtuby, Asyura, adalah bentuk perubahan (ma’dul) dari al-Asyir (العاشرة), sebagai sifat yang mulia dan penuh keagungan dari malam ke-10 Muharam. Bila kita menyebut Asyura, maka seperti kita mengatakan “yaum al-lailah al-asyirah.” Kata “yaum” disandarkan pada al-lailah, dan kata “Asyura” sudah menjadi nama sendiri.

Keistimewaan Hari Asyura

Hari Asyura masyhur di kalangan umat Islam dengan berbagai keistimewaannya. Di antara keistimewaan tersebut, adalah:

Diterimanya Taubat Nabi Adam. Ulama ahli fiqih dan pakar hadis Imam Abu Laits As-Samarqandi (wafat 373 H), dalam kitabnya Tanbihul Ghafilin, meriwayatkan dari Ikrimah, berkata, Hari Asyura, ialah hari diterimanya tobat Nabi Adam ‘alaihissalam.

Sebagaimana diketahui, Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga, karena telah melanggar perintah Allah untuk tidak mendekati buah khuldi. Namun, karena bisikan syaitan, mereka akhirnya melanggar perintahNya.

Keistimewaan lain, mendaratnya Kapal Nuh di atas Gunung. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis riwayat Ahmad 2/359-360 dengan jalan dari Abdusshamad bin Habib Al-Azdi  dari bapaknya dari Syumail dari Abu Hurairah, Abdusshamad dan bapaknya keduanya, yang berbunyi:

Wa hadzaa yaumus stawat fiihis safiinat ‘alal juudiyyi, Fa shaamahuu Nuhun syukral lillaahi ta’ala.

 “Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur.”

Hari Asyura juga merupakan hari kemenangan Nabi Musa dan Bani Israil terhadap Fir’aun dan kaumnya.

Sebagaimana Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/244, 6/429, 7/274, Muslim 2/795, Abu Daud 2444, Nasa’i dalam Al-Kubra 2/318, 319, Ahmad 1/291, 310, Abdurrazaq 4/288, Ibnu Majah 1734, Baihaqi 4/286, Al-Humaidi 515, Ath-Thoyalisi 928, yang berbunyi:

Qadiman nabiyyu Shallallaahu ‘alaihi wa sallamal Madinata fa ra’al Yahuuda tashuumu yauma ‘asyuuraa’, faqaala: maa hadzaa? Qaaluu hadzaa shaalihun, hadzaa yaumun najjal llaahu banii Iraaiila min ‘aduwwihim fa shaamahuu Musaa syukran. Fa Annaa ahaqqu bi Muusaa minkum, nahnu nasuumuhu ta’dzhiiman lahuu.

“Nabi Saw tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya: “Apa ini?” Mereka menjawab: “Sebuah hari yang baik, ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

Pada saat tersebut, ketika bala tentara Fir’aun mengejar kaum Nabi Musa yang taat, Fira’aun dan tentaranya kemudian tenggelam di laut yang terbelah, setelah dilewati oleh kaum Nabi Musa.

Tenggelamnya Fir’aun, adalah kemenangan Nabi Musa dan kaumnya. Lalu, pada saat itu, Musa dan kaumnya berpuasa sebagai wujud rasa syukur mereka.

Keistimewaan Puasa Asyura

Pada masa pra-Islam, Asyura diperingati sebagai hari raya resmi bangsa Arab. Pada masa itu,  orang-orang berpuasa dan bersyukur menyambut Asyura.

Pada hari Asyura, umat muslim disunahkan untuk berpuasa. Sebab, puasa Asyura merupakan puasa paling utama kedua setelah puasa Ramadhan. Sebagaimana diriwayatkan dalam hadis:

Afdhalus shiyaami ba’da Ramadhaana syahrul Laahil Muharramu, wa afdhalus shalaati ba’dal fariidhati shalaatul laili.

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

Di antara keistimewaan lain puasa Asyura, yaitu akan dihapuskan dosa pada tahun kemarin, sebagaimana Hadits Shahih Riwayat Muslim 2/818-819, Abu Daud 2425, Ahmad 5/297, 308, 311, Baihaqi 4.286, 300 Abdurrazaq 4/284, 285, yang berbunyi:

Suila ‘an shaumi yaumi ‘Asyuuraa’, faqaala yukaffirus sanatal maadiyata.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab: “Puasa itu bisa menghapuskan (dosa-dosa kecil) pada tahun kemarin.

Adapun dosa yang dimaksud dalam hadis ini, adalah dosa-dosa kecil yang pernah dilakukan tahun sebelumnya. Dosa besar seperti syirik, tidak akan diampuni dosanya, kecuali dengan taubat nasuha, atau tobat yang sesungguhnya.

Bella Pitung Rupa

Bagi masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, puasa Asyura atau puasa di 10 Muharram, identik dengan hidangan menu buka puasa bella pitung rupa, atau bubur tujuh macam.

Tradisi masyarakat Bugis setiap kali menyambut 10 Muharram adalah membuat bubur tujuh macam, atau yang diistilahkan “bella pitung rupa.” Ada juga menyebutnya, mappeca sura. Tradisi ini dilakukan turun temurun sebagai wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dari Allah swt.

Secara historis, dari penuturan masyarakat, bella pitung rupa berawal ketika pada masa lalu ada sekelompok masyarakat Bugis bepergian ke suatu tempat, dan di tengah perjalanan hampir kehabisan bekal. Lalu, mereka menyatukan bekal yang tersisa.

Setelah bekal sisa disatukan, maka terkumpullah tujuh macam. Dari bekal sisa itu, mereka kemudian membuat bella pitung rupa.

Tradisi mappeca Sura atau bella pitung rupa, yang diadakan Ibu Darma dan tetangga di BTN Nusa Idaman, Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, pada 10 Muharram tahun ini (1442 H), berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada tahun sebelumnya, tradisi ini selalu dilaksanakan di masjid, yang dibarengi dzikir, dan diakhiri makan bersama dengan menu bella pitung rupa, yang dibawa oleh masyarakat dari rumah masing-masing.

Namun, karena peringatan Asyura tahun ini bertepatan dengan kondisi pandemik Covid-19, maka pelaksanaannya pun berbeda. Pelaksanaannya cukup dengan berbuka puasa bersama di rumah warga, dengan menu bella pitung rupa.

Untuk menyajikan bella pitung rupa, masyarakat di BTN Nusa Idaman Sengkang, khususnya di Blok B2, memasak bella pitung rupa sebanyak satu panci. Mereka “patungan” membeli bahan-bahannya untuk di makan bersama saat berbuka puasa. Setelah buburnya masak, mereka juga membagikan ke setiap tetangga untuk dinikmati bersama.

Bahan “Bella Pitung Rupa”

Syarat dari bahan bella pitung rupa, adalah hasil bumi yang ditanam oleh masyarakat. Adapun tujuh macam bahannya adalah: kacang hijau, beras ketan, pisang raja, labu kuning,  nangka, kelapa (santan), gula merah.

Namun, sebagian masyarakat beranggapan, kelapa (santan) dan gula merah bukan bagian dari tujuh macam tersebut. Sehingga, mereka menambahkan bahan lain untuk mencukupkan tujuh macam. Seperti, ubi, kacang tanah, kacang merah, jagung, durian. Tergantung dari bahan yang tersedia di musim tersebut, sepanjang bahan tersebut berasal dari hasil panen masyarakat itu sendiri.

Proses pembuatan bella pitung rupa mempunyai beberapa tahapan, dan tidak serta merta dimasukkan semua bahannya sekaligus.

Hal ini disebabkan, ada bahannya yang memang memerlukan waktu lama untuk dimasak, dan ada pula yang cuma sebentar.

Pembuatan bella pitung rupa diawali dengan memasak kacang hijau dengan air yang banyak sampai lembut. Setelah itu, memasukkan beras ketan dan juga dimasak sampai lembut. Kemudian, masukkan labu kuning, pisang raja, nangka, dan gula merah yang telah dikeprek.

Setelah gula merah mencair, tahap terakhir yang dilakukan adalah memasukkan santan sampai mendidih, dan hmm.. bella pitung rupa siap disajikan. Untuk penambah rasa gurih dan harum, boleh ditambahkan kayu manis, garam, dan jahe.

Sekilas, bella pitung rupa atau bubur tujuh macam ini, tak lebih dari kuliner basah biasa. Namun, bagi masyarakat Bugis tempatan, bahan dasar bubur ini memiliki simbol, yakni sejumlah hari dalam hitungan sepekan.

Sedangkan buah yang tumbuh di atas permukaan dimaknai sebagai simbol kemakmuran, kesuburan, dan limpahan rezeki, untuk setiap hari selama setahun ke depan.

Jumlah tujuh bagi masyarakat Bugis mengandung makna filosofi, yaitu mattuju-tujung, yang berarti segala yang diusahakan oleh masyarakat akan berhasil.

Sementara bahan-bahannya memiliki makna filosofi tersendiri. Misalnya, pisang, yang dimaknai sebagai sebuah harapan, harapan akan keluarga yang harmonis. Beras memiliki makna sumber kehidupan/makanan pokok masyarakat; labu kuning bermakna kebaikan; dan nangka atau panasa, bermakna minasa deceng (harapan yang baik).

Inti dari kesemua bahan yang terdapat dalam bella pitung rupa mengandung arti, harapan sebuah kebaikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat selama setahun mendatang.

Wallahu a’lam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *