Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Bincang-bincang dengan Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si: “Urban Salafisme Mengadopsi Istilah dari Tradisi Budaya Populer”

7 min read

Kepala BLAM, Dr. H. Saprillah, M.Si, bersama keluarga. Foto: Istimewa.

10,289 total views, 6 views today

PEMBAWAAN kesehariannya santai. Bahkan, sikap egaliternya sama sekali tak berubah, meski kini menjadi orang nomor satu di Balai Litbang Agama Makassar (BLAM). Buktinya, ia bisa tertawa terbahak-bahak dengan siapa saja. Di kantor, ia pun bisa berdiskusi serius dan bercengkerama dengan cleaning service.

Sebagai pejabat, ia memang sejak awal menghindari gaya kepemimpinan “struktural” di kantor. Seperti, misalnya, dibukakan pintu mobil, dibawakan tasnya, dan sebagainya. Ia menolak semua perlakuan khusus tersebut. Ia tidak biasa diperlakukan seperti itu, karena merasa kaku dan canggung.

Bahkan, ia tampak santai saja dipanggil “Om Kepala” oleh sebagian rekan-rekan peneliti. Sapaan ini menunjukkan, betapa akrab dan intimnya (rapport) ia dengan “anak buahnya.”

Sebagai orang yang besar di “jalanan” (aktivis), Lembaga Swadaya Masyarakat, dan kemudian menjadi Peneliti BLAM, ia tak terbiasa dilayani secara khusus. Sebaliknya, ia yang justru terbiasa melayani orang bila berada di lapangan melakukan penelitian.

Sebagai peneliti, ia telah menghasilkan banyak karya tulis ilmiah berupa buku, jurnal, dan artikel. Bukan itu saja. Ia pun menelorkan beberapa karya novel.

Novel yang dibuat adalah Tahajud Sang Aktivis (2012), Kasidah Maribeth (2013), Jejak: Cinta Tak Pernah Salah Mengenali Tuannya (2015), Calabai; Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016), dan Kyai Saleh dan Surga yang Tak Merindukannya (2018). Calabai bahkan meraih penghargaan tiga novel terbaik nasional versi Kusala Sastra Khatulistiwa, 2017.

Eits, hampir lupa. Ia juga masih hobi bernyanyi. Dulu, ketika mahasiswa strata satu di UIN Alauddin Makassar, ia malah punya kelompok band musik.

Bermodal suara serak-serak, ia lalu didapuk menjadi vokalis. Kini, sambil bermain gitar akustik, ia pun masih sering melampiaskan hobi bernyanyinya, di sela-sela mengisi waktu senggang.

Seseorang yang diceritakan ini, adalah Haji Saprillah, yang meraih Doktor, Kamis, 27 Agustus 2020. Ini merupakan sebuah gelar, yang kerap diidam-idamkan oleh sebagian besar orang, yang bergelut di dunia akademik.

Di depan Sidang Promosi Doktor, di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Pepi, sapaan akrabnya, mempertahankan disertasinya dengan ciamik, “Kontestasi Antar Kelompok Keagamaan dalam Masyarakat Islam; Dialektika, Subordinasi, dan Strategi Mempertahankan Kelompok.”

Sebagai peneliti, Pepi memang sejak dulu concern meneliti berbagai kelompok dan aliran keagamaan di Kawasan Timur Indonesia. Ia tidak hanya mengamati dari dekat dinamika organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Namun, ia pun meneliti pelbagai paham kelompok dan aliran keagamaan Islam, yang dipandang oleh negara dan masyarakat, sebagai sempalan dan radikal, semacam tarekat maupun kelompok salafi/wahabi.

Lalu, seperti apa temuan disertasi Saprillah? Berikut petikan wawancaranya dengan Pengelola Website BLAM:

Selamat Pak Doktor?

Makasih.

Bisa diceritakan sedikit alasan ketertarikan meneliti kontestasi antarkelompok keagamaan dalam masyarakat Islam?

Iya. Saat ini, kemunculan berbagai kelompok keagamaan dalam Islam ikut berpengaruh pada dinamika kehidupan umat beragama di Indonesia. Ini terlihat, setiap kelompok mencari cara untuk menguatkan identitasnya dengan berbagai aktivitas yang memungkinkan mereka mendapatkan simpati dan tempat dalam masyarakat Indonesia. Maka, kontestasi tak terelakkan. Konflik sosial muncul dengan ketegangan yang meresahkan.

 Akibatnya, masyarakat urban mengalami gelombang relasi yang dinamis. Mayoritarianisme menguat. Kelompok minoritas mendapatkan banyak tekanan. Baik kelompok minoritas di luar Islam maupun di dalam Islam. Penyerangan dan intimidasi kepada kelompok Syiah, Ahmadiyah, dan penganut aliran (yang dikategorikan) sesat marak terjadi. Protes terhadap pendirian rumah ibadat agama non-muslim terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Nah, bagi saya, ini fenomena dan realitas menarik untuk diteliti lebih dalam mengapa bisa seperti itu.

Berarti, media sosial dan media online ikut andil terhadap kehadiran dan dinamika kelompok keagamaan di Indonesia?

Iya. Media digital ikut memengaruhi dinamika keagamaan di tanah air. Kanal-kanal media ini menjadi transmisi ideologis dan sekaligus transmisi emosi sosial. Isu yang kecil bisa menjadi viral dan menjadi gejolak dalam masyarakat. Media sosial memiliki keunggulan dalam hal kecepatan informasi dan jumlah massa besar yang terlibat dalam perbincangan terhadap arus informasi.

Media sosial telah menjadi “ruang publik” yang tidak bisa membatasi siapapun untuk terlibat dalam perbincangan, perdebatan, polarisasi, dan pembentukan psikologi massa. Di antara yang mudah memancing perdebatan dan kontroversi adalah isu agama.

Saat ini, jumlah kelompok keagamaan Islam di Indonesia boleh dikatakan tergolong “subur.” Bagaimana Anda melihat pola relasi di antara mereka?

Saya melihat, pola relasi antarkelompok keagamaan yang dinamis ini berimplikasi pada tiga hal. Pertama, jika tidak terkelola dengan baik, persoalan sosial dalam masyarakat akan terus menerus terjadi. Kedua, definisi kewarganegaraan yang berbasis egaliterianisme akan terkoreksi menuju mayoritarianisme, dan Ketiga, apabila perbedaan kelompok agama bisa dikelola dengan baik, negara Indonesia memiliki modal yang sangat besar untuk tampil sebagai bangsa yang maju dengan bertumpu pada penghargaan terhadap perbedaan.

Boleh Anda jelaskan mengenai ragam kelompok keagamaan dalam arena kontestasi?

NU dan Muhammadiyah merupakan aktor atau kontestan lama dalam arena kontestasi. Kontestasi antara NU-Muhammadiyah di berbagai wilayah bersumber pada perbedaan fundamental pemikiran keagamaan yang berkembang di dalam masing-masing organisasi. Fundamen keagamaan Muhammadiyah adalah modernisme dan puritanisme. Muhammadiyah memiliki jargon dakwah yang cukup populer di Indonesia, yaitu pemberantasan TBC (takhayul, bid’ah, dan churafat). Sedangkan pondasi pemikiran keagamaan yang berkembang di NU adalah tradisionalisme.

Kontestasi NU-Muhammadiyah dalam masalah keagamaan tidak destruktif. Kontestasi keduanya justru menjadi lokus equilibrium dari pandangan keagamaan yang berbeda dalam masyarakat Makassar. Kontestasi keagamaan berlangsung dalam tataran gagasan tentang idealitas masyarakat Islam.

Pasca reformasi, hubungan antara NU-Muhammadiyah di Sulawesi Selatan, khususnya di Kota Makassar, lebih tenang dan cenderung pasif. Kedua organisasi besar nasional ini memilih menguatkan eksistensi organisasi masing-masing organisasi. Tidak banyak relasi formal yang dilakukan. Perjumpaan kedua kelompok keagamaan ini terjadi dalam ruang konsorsium yang membutuhkan keterlibatan berbagai kelompok seperti di MUI (Majelis Ulama Indonesia) di tingkat provinsi maupun kota dan FKUB (Forum Kerukunan antarumat Beragama) di tingkat provinsi maupun kota. NU dan Muhammadiyah menyumbang kader-kader terbaiknya untuk mengisi pos penting di kedua lembaga konsorsium keagamaan ini.

Lalu?

Proses demokratisasi yang berjalan ke arah liberal, menjadi lahan subur bagi berkembangnya kelompok keagamaan. Semua bersemangat untuk eksis dan berkontestasi meraih dukungan publik. HTI, misalnya, sangat terbantu dengan sistem demokratisasi yang sedang berjalan di Indonesia. Mereka tumbuh subur di kalangan masyarakat perkotaan Indonesia.

Sementara itu, aktor-aktor baru yang muncul pasca reformasi bermunculan dalam bentuk kelompok, organisasi atau lembaga keagamaan, dan individu. Wahda Islamiyah, Yayasan Assunnah, Salafi Rodja, Markaz Imam Malik  (MIM) IJABI, dan kelompok keagamaan yang dianggap sempalan, adalah aktor baru dalam arena kontestasi keagamaan di Kota Makassar. Mereka muncul dalam bentuk organisasi atau kelompok dan mengusung ideologi keagamaan tertentu. Ahmadiyah sebagai kelompok keagamaan yang sudah lama di Indonesia, juga menguat kembali dan bisa dikategorikan sebagai ‘aktor baru’ yang terlibat dalam arena kontestasi keagamaan.  Ada pula dai-dai yang muncul dalam bentuk individu.

Bagaimana Anda melihat bentuk-bentuk kontestasi di antara kelompok keagamaan tersebut?

Kontestasi keagamaan di Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, kontestasi keagamaan antara kelompok keagamaan dalam rumah besar Sunni. Kontestasi dalam mode ini berkembang di Indonesia akibat dari perkembangan kelompok Sunni dari berbagai arah pemikiran. Pembahasan tentang kontestasi ini juga mendapatkan porsi penjelasan yang lebih besar, karena banyak kasus yang terjadi. 

Kedua, kontestasi dalam satu kelompok dengan manhaj keagamaan yang sama. Misalnya,  kontestasi antara sesama kelompok salafi dan sesama kelompok Jamaah Tablig. Kontestasi antara kelompok berhaluan salafi dengan memperebutkan identitas salafisme. Kontestasi antara dua kelompok Jamaah Tabligh. Keduanya berkontestasi dalam memperebutkan ruang identitas, siapa yang paling benar pasca munculnya Amir Maulana Saad dan Syura Alamiah.

Dan, ketiga, kontestasi antara kelompok mainstream Sunni dan kelompok subordinat non Sunni. Misalnya, antara FPI yang berhaluan Sunni dengan Ahmadiyah. Antara Annas (Aliansi Nasional Anti Syiah) yang mengklaim diri sebagai Sunni dengan IJABI yang berhaluan Syiah. MUI sebagai lembaga konsorsium ulama Sunni di Indonesia menempati posisi strategis melalui fatwa yang diproduksinya dalam kontestasi pola ini.

Apakah ada faktor yang memengaruhi kontestasi keagamaan?

Iya, ada dua faktor yang memengaruhinya, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya; perbedaan batasan teologis, perbedaan memahami pluralisme, perbedaan konsep relasi negara – agama, dan perbedaan konsep relasi agama dan budaya. Sementara faktor eksternalnya; perluasan medan kontestasi melalui media digital dan intervensi negara.

Apa implikasi teoritik dari temuan disertasi ini?

Ada tiga. Pertama, mayoritas-quasi mayoritas: konstruksi masyarakat multiideologi; kedua, kontestasi keagamaan dan tipologi kelompok keagamaan, dan ketiga; neo-salafisme.

Namun, di sini, saya ingin menjelaskan sedikit mengenai apa itu neo-salafisme ini. Nah, kontestasi keagamaan ternyata mendorong berbagai kelompok mengembangan strategi adaptasi. Salah satu yang menarik, adalah munculnya gejala neo salafisme berbasis kebudayaan urban. Kelompok ini bisa juga disebut Urban Salafisme.

Apa yang dimaksud Urban Salafisme?

Urban Salafisme mulai menggejala pasca reformasi. Para tokoh salafi memanfatkan media TV sebagai ruang dakwah. Rodja TV, adalah salah satu televisi yang cukup populer di tanah air. Gerakan salafi urban, adalah upaya untuk merespons modernitas.

Jika sebelumnya gerakan salafi berada pada level gerakan sosial seperti membangun pengajian di masjid-masjid, maka salafi urban ini mencoba membangun tempat mereka di dunia modern. Munculnya komunitas berbasis ajaran salafisme, seperti hijrah yuk dan niqab squad, adalah bentuk negosiasi baru antara salafisme dengan dunia luar.

Dalam banyak kasus, salafisme menempatkan dunia modern sebagai tempat yang buruk dan harus dijauhi, dan menolak menerima kehidupan modern berlebihan, seperti berfoto atau mendatangi tempat-tempat syubhat, seperti mall. Mereka mengembangkan sikap mengikuti gaya hidup Nabi Muhammad, sahabat, tabiin, dan tabi-tabiin. Mereka menolak kreativitas berlebihan dalam agama, karena dianggap sebagai penambahan yang menyimpang dari “kemurnian” agama.

Sementara, Neo Salafisme atau salafi urban, ini menyerupai gejala post Islamisme, meski tidak sepenuhnya. Munculnya tindakan sosial yang melampaui dan bahkan cenderung memberi kritik terhadap Islamisme. Salafisme urban ini mulai terbuka pada perubahan dan tidak lagi memelihara ortodoksi secara ketat. Urban salafisme mulai menggunakan istilah-istilah popular, yang diadopsi dari tradisi budaya populer, seperti niqab challenges, meet up, gathering akbar, Ramadhan run, biker subuhan, dan hijrah fest. Termasuk, tidak alergi menggunakan istilah asing sebagai nama komunitas (niqab squad).

Terima kasih banyak telah meluangkan waktunya.

Iya. Sama-sama. Siip. (ir)

***

Dr. H. Saprillah, M.Si

Lahir   : Cappa solo, 10 Februari 1977

Istri     : Wahyu Narsih, S.Kom

Anak   : Nayla Sasmita Zillah (Chelsea), Nindya Tiara Fyardillah (Viola), Naufal Wali Fakhrillah (Milan)

Organisasi & Pengalaman Penelitian, antara lain:

Ketua Umum PMII Cab. Metro Makassar, 2001-2003.

LSM LAPAR 2000-2005.

PC NU Kota Makassar, 2009-2013.

Mabincab PMII Metro Makassar, 2016-2021.

Jaringan Gusdurian Makassar , 2016 – sekarang.

Ketua PW Lakspesdam NU Sul sel 2019-2023.

Peneliti Ahli Madya BLAM (IVb)

Terlibat dalam program advokasi kebudayaan 2002-2003, kerjasama LAPAR Makassar-Desantara Jakarta.

Fasiliator Sekolah Demokrasi Jeneponto, 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *