Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Islam(isasi) Nusantara, Bukan Khilafah(isasi) Nusantara

8 min read

Sumber foto: duniaekspress.com

11,078 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Beberapa hari ini, film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara, mengundang polemik. Tidak sekadar nitizen yang memperdebatkannya di jagat maya. Tapi, intelektual semacam Azyumardi Azra dan Nadirsyah Husein, pun ikut berkomentar.

Azra dengan lugas menyebutkan, pembuatan film Jejak Khilafah di Nusantara, adalah upaya pembuatan sejarah yang dipaksakan. Film itu disebutnya manipulasi sejarah yang dibuat seromantis mungkin untuk mengelabui masyarakat.

Begitu kata Azra, demikian pula komentar Nadirsyah Husein. Tokoh muda NU, yang akrab dipanggil Gus Nadir, ini seiras seirama dengan Azra mengenai tidak adanya fakta jejak khilafah di Nusantara.

Terlepas dari polemik film dokumenter tersebut, benarkah memang tidak ada hubungan antara kekhalifaan di Timur Tengah atau di Arab dengan Nusantara? Berkenaan dengan pertanyaan ini, mau tidak mau kita akan masuk ke dalam perdebatan soal teori-teori Islamisasi di nusantara.

Orientalis

Selama ini, diskursus Islamisasi Nusantara didominasi bikinan orientalis. Dalam teori para orientalis, Islamisasi Nusantara dianggap berasal dari Gujarat-India dan masuk ke Indonesia pada abad 13.

Hal ini dibuktikan, demikian argumen teori ini, dengan ditemukannya makam raja Islam pertama bernama Malikus Shaleh. Raja kerajaan Samudera Pasai ini dianggap berasal dari India.

Dalam kaca mata Ahmad Baso (2018), Islamisasi asal India ini menjadi sebuah teori,  bersumber dari Snouck Hurgronje. Hurgronje yang menulis proses Islamisasi di nusantara pada 1907, membangun teori, bahwa pengislaman di Indonesia dilakukan oleh orang India, bukan dari Arab.

Peneliti Barat yang datang berikutnya, seperti R.A. Kern, C.C. Berg ataupun G.W.J. Drewes, lantas mengikuti teori ini. Begitu pun beberapa sarjana dan peneliti dari Indonesia.

Teori tentang Islam yang berasal dari India ini, pada akhirnya memutus satu mata rantai penyebaran Islam yang langsung berasal dari Arab ke nusantara. Hal inilah yang dikritik oleh beberapa sejarawan dan agamawan lainnya.

Cobalah telusuri buku-buku sejarah kita, baik sejarah umum maupun sejarah Islam di nusantara. Mulai SMP hingga perguruan tinggi, semuanya akan menyandarkan diri pada asumsi, kerajaan Islam pertama adalah Samudera Pasai, dengan raja pertama, Malikus Shaleh.

Namun, tentu saja, teori Islam dari India ini banyak yang membantah. Dalam satu “Seminar Sejarah Masuknya Islam di Indonesia” yang berlangsung di Aceh pada 1963, disebutkan:

“Bahwa menurut sumber-sumbernya yang kita ketahui, Islam untuk pertama kalinya telah masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriah (abad ke 7-8 Masehi) dan langsung dari Arab (A.Hasyim, 1981).

Dalam beberapa naskah yang selama ini kurang tersentuh disebutkan, beberapa orang nusantara, sesungguhnya telah berkunjung ke tanah Arab pada abad pertama hijriah. Mereka berdagang, belajar Islam, sekaligus menunaikan ibadah haji.

Salah satu naskah yang mengemukakan data tercecer ini, adalah Ayajibul Hindi. Dalam naskah tersebut, dikisahkan, masyarakat Sarandib atau Swarnadwipa (Sumatera), begitu mendengar kehadiran Nabi Muhammad SAW, mengutus utusan yang cakap untuk menemui Rasulullah.

Namun, utusan ini baru tiba di Madinah, setelah nabi Muhammad dan khalifah Abu Bakar wafat. Utusan ini hanya bisa bertemu Umar bin Khattab. Ia lalu memeluk agama Islam, mempelajarinya, dan melaksanakan ajarannya, termasuk berhaji.

Kelak, dalam versi ini, orang dari Sarandib inilah, yang kemudian kembali ke nusantara untuk memperkenalkan  Islam.

Dalam Kitab Al-Tarikh al-Islamy, karya Mahmud Syakir, disebutkan pula, pada babak selanjutnya orang-orang nusantara juga telah berkunjung ke Arab. Mereka telah sampai ke Bagdad pada masa Dinasti Abbasiah di bawah kepemimpinan Harun Al-Rasyid.

Orang-orang nusantara itu datang berdagang ke Bagdad, sekaligus mempelajari ajaran Islam. Dari sana, mereka juga melanjutkan perjalanan menuju Makkah untuk melaksanakan haji.  Orang nusantara yang telah mempelajari Islam dan telah melaksanakan haji inilah, yang kemudian kembali ke nusantara.

Kendati kitab-kitab tadi menyebutkan, orang-orang nusantara yang telah memeluk Islam langsung bersentuhan dengan sumbernya dari Arab. Tetapi, tidak ada satu pun yang menunjukkan, mereka ini setelah pulang ke nusantara membawa agenda perluasan khilafah.

Baik Umar bin Khattab maupun di masa Dinasti Abbasiah, tidak satu pun yang memerintahkan orang nusantara ini pulang ke negerinya, dan meminta raja-raja di nusantara menjadi bagian dari Kekhalifaan Umar atau Dinasti Abbasiah. Mereka hanya betul-betul diajarkan Islam dan pulang ke nusantara dengan misi islamisasi, bukan khilafaisasi.

Sementara itu, ditemukan pula surat yang ditujukan kepada khilafah di zaman Dinasti Umayyah, yang menunjukkan hubungan Islam (Arab) dengan nusantara sejak abad 7 M.

Surat yang diungkap Nuaym bin Hammad, dan dikutip dalam Kitab al-Hayawan, karya al-Jahiz, di antara isinya sebagai berikut:

“Raja al-Hind  mengirim surat kepada Umar bin Abd. Azis yang berbunyi: Dari Maharaja keturunan para raja, yang istrinya adalah juga keturunan para raja, yang kandang-kandangnya berisi seribuh gajah, yang wilayahnya dialiri dua sungai, yang menumbuhkan gaharu, pala dan kapur barus, yang aromanya tercium hingga jarak 12 mil. Kepada raja orang Arab yang tidak mensyarikatkan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada anda hadiah yang tidak seberapa, merupakan pertanda salam dari saya dan berharap Anda dapat mengutus utusan yang bisa mengajari aku tentang Islam dan menjelaskan kepada aku tentang hukum-hukumnya.

Dalam naskah itu disebutkan tentang surat dari maharaja Hind ke khalifah Umar bin Abd Azis (memerintah 717-720 M).

S.Q.Fatimi

Al-Hind, pada mulanya dianggap kerajaan India, khususnya oleh para orientalis. Tetapi ini dibantah oleh S.Q.Fatimi dalam artikelnya, “Two Letters from the Maharaja to the Khalifah” yang terbit di jurnal Islamic Studies, tahun 1963.

Al-hind, demikian kata Fatimi, adalah Sriwijaya, bukan India. Fatimi mendasarkan dirinya pada istilah maharaja, yang merupakan gelar yang diberikan pada raja di Sriwijaya, dan tidak dikenal di kerajaan lain di luar nusantara.

Dengan demikian, kontak melalui surat menyurat sudah terjadi antara maharaja Sriwijaya dengan Umar bin Abd Azis. Suratnya menunjukkan, kerajaannya ingin diajarkan tentang Islam dan perdamaian.

Data ini menguatkan teori Islamisasi langsung dari Arab. Bukan dari Gujarat-India, yang selama ini banyak digunakan orientalis barat. Tetapi, apakah dengan demikian, data ini bisa menjadi pegangan untuk mengatakan ada jejak khilafah pada masa Sriwijaya?

Tentu ada yang menyimpulkan demikian. Padahal, dalam hemat saya, Raja Sriwijaya (jika benar Hind itu Sriwijaya) dalam surat menyurat itu, hanya  ingin memeluk Islam dan mengenal hukum-hukumnya. Bersedia memeluk Islam, tidak berarti menjadi bagian dari kekuasaan Dinasti Umayyah. Apalagi, dalam pengantar suratnya, si Maharaja ini memperkenalkan kehebatan kekuasaannya.

Dalam teks lain, (masih dalam Naskah Nuaym) disebutkan, Umar bin Abd Azis mengundang raja-raja dari beberapa tempat, dan mempersilakan tetap boleh mempertahankan wilayah kerajaannya masing-masing.

Yang menarik, dalam masa pemerintahan Umar bin Abd Azis yang terbilang singkat, banyak kerajaan di dunia ingin mengenal dan diajarkan Islam. Tetapi, setelah pemerintahan Umar bin Abd Azis, kecenderungan itu menurun.

Banyak sejarawan, termasuk Fatimi, menyebutkan, Umar bin Abd Azis memang konsisten untuk menyebar Islam dengan nilai-nilai luhur perdamaiannya. Umar bin Abd Azis pun dikenal sebagai pemimpin saleh, adil, dan sangat jujur. Inilah yang menarik minat kerajaan lain untuk memeluk Islam.

Berbeda dengan Umar bin Abd Azis, khalifah-khalifah setelahnya dianggap hanya bernafsu untuk mengembangkan dinasti (para pengamat menyebut lebih berorientasi melakukan Arabisasi dibanding Islamisasi). Mereka lebih bernafsu melebarkan kekuasaan dibanding kepentingan menyebarluaskan Islam Rahmatan lil Alamin. Inilah yang menjadikan banyak kerajaan di dunia yang tidak lagi berminat mengenal Islam.

Di mata saya, Umar bin Abd Azis lebih menekankan satu pusat dalam soal agama (khilafah diniyah) dibanding satu pusat dalam soal kekuasaan politik ( khilafah siyasiah). Mungkin mirip dengan Katolik, yang secara agama semua terpusat di Roma, tapi sama sekali tidak mengganggu kedaulatan negara-negara di dunia.

Dari apa yang tercermin dalam kisah Umar bin Abd Azis dan khalifah sesudahnya, terbetik tanda tanya di benak saya:

“Apakah ini menunjukkan bahwa orientasi menggenggam dunia dalam satu kekuaasan (proyek khilafah Siyasiah), hanya akan membuat orang tidak berminat pada Islam?

Teori Islam dari Arab; Mengukuhkah Islam Nusantara, Bukan Khilafah Nusantara 

Teori penyebaran Islam langsung dari Arab ke nusantara memberikan satu kemungkinan baru. Tentu saja, yang saya maksud, bukanlah kemungkinan adanya jejak khilafah dalam teori tersebut.

Sebaliknya, teori Islam dari Arab, membuka kemungkinan diskursus tentang pergumulan Islam yang langsung dari Arab dengan tradisi nusantara itu sendiri.

Sebelumnya, berdasarkan teori Islamisasi Nusantara yang berasal dari India, maka penerimaan orang nusantara atas Islam itu sendiri, dianggap pasif.

Islam yang datang pada orang  nusantara, adalah Islam yang fixed dan settle. Proses perjumpaan dengan hal-hal berbau lokal dianggap telah selesai di India.

Ketika di nusantara terjadi tafsir atas Islam yang telah mengalami perjumpaan dengan kelokalan, hal itu bukan dianggap sebagai kreativitas orang-orang nusantara. Islam semacam itu dianggap sebagai pengaruh Hindu.

Itulah mengapa, beberapa perayaan Islam yang menunjukkan perjumpaan dengan lokalitas justru dianggap dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.

Taruhlah peringatan kematian, 7 hari atau 40 hari, kelompok puritan di kalangan muslim sendiri, bahkan mungkin juga dari pengusung khilafah, menganggap perayaan itu adalah pengaruh India.

Pandangan semacam ini, tanpa sadar, sebenarnya telah terperangkap dalam konstruksi orientalis mengenai Islamisasi nusantara yang berasal dari India.

Berbeda halnya jika kita melihat Islam itu datang ke nusantara langsung dari Arab. Yang  terjadi adalah pergumulan langsung antara Islam dari sumbernya (Arab) dengan tradisi yang hidup di nusantara.

Tentu saja, yang disebut tradisi nusantara, juga adalah percampuran dari berbagai kultur, termasuk kebudayaan Hindu-India, Cina, dan lainnya.

Dengan berpatokan pada pandangan ini, kita akan melihat, bahwa praktik keberislaman orang-orang nusantara, adalah sebuah proses kreatif antara yang membawa Islam dengan masyarakat yang menerimanya.

Berbagai ajaran yang berasal dari Islam dan merupakan bagian dari budaya Arab berhasil menyatu dengan kebudayaan nusantara. Yang tadinya Arab, tidak terasa lagi menjadi Arab.

Sebaliknya, beberapa hal dibentuk atau dikreasi oleh ulama-ulama yang ada di nusantara,  dengan berpijak pada tradisi yang sudah ada. Tradisi itu tidak terasa lagi sebagai hal yang bersifat lokal, tetapi sudah menjadi bagian dari ajaran Islam.

Martin Van Bruinessen (1999), dalam salah satu artikelnya, Global and Local in Indonesia Islam, menyebutkan, banyaknya pengaruh Arab dalam konteks kelokalan masyarakat Islam Indonesia dan bukan dari Hindu atau India. Salah satu yang Martin tunjukkan, teknik meditasi yang dianggap mirip dengan meditasi tantra dari Hindu-Budha.

Namun, Martin menyebut, kemungkinan ini berasal dari pengaruh Sufi Kabrawiyya, hal mana menunjukkan persentuhan langsung antara orang Jawa dan Mekkah.

Kasus lain, tradisi debus. Dalam tilikan Bruinessen, debus juga merupakan tradisi nusantara yang dipengaruhi tradisi dari Arab.

Debus, yang berasal dari kata dabbus (bahasa Arab), yakni sebuah sikap penyerahan diri secara bulat-bulat pada Tuhan, sehingga tusukan logam tajam tidak akan berpengaruh pada tubuh. Tradisi ini dianggap beririsan dengan Sufi Rifaiyyah.

Walau dianggap berasal dari Arab, Bruinessen juga mengakui adanya percampuran dengan ilmu kebal lokal. Sehingga, debus yang kita kenal sekarang ini, adalah sebuah tradisi hibrid. Sebuah perpaduan antara tradisi dari Sufi Rifaiyyah dan ilmu kebal nusantara. Ilmu ini dapat kita saksikan di berbagai tempat di nusantara. Salah satunya, di Maluku Utara.

Teori Islamisasi Nusantara langsung dari Arab, justru menunjukkan keberislaman orang-orang nusantara adalah Islam yang langsung berasal dari sumbernya, yang kemudian dikreasi oleh ulama-ulama nusantara, agar bisa menjawab problem-problem lokal.

Islam yang berasal dari Arab ini berdialog secara kreatif dengan tradisi yang ada di nusantara. Clifford Geertz memandang, dalam proses dialog itu, ulama berposisi semacam cultural broker. Tetapi, dalam hemat saya, tidak hanya ulama, tokoh-tokoh komunitas lokal, juga berperan sebagai the main connecting figure.

Walhasil, apa kesimpulan yang dapat kita ambil?

Teori Islamisasi Nusantara dari Arab, alih-alih menunjukkan jejak khilafah. Sebaliknya, teori ini justru menegaskan posisi Islam Nusantara.

Praktik-praktik keberislaman masyarakat lokal nusantara, tidak bisa lagi dipandang sebagai wujud Islam yang tidak sempurna, Islam nominal atau abangan, seperti istilah Geertz, atau Islam yang khurafat, karena dipenuhi peninggalan Hindu dari India.

Sebaliknya, praktik keberislaman itu harus dipandang sebagai kreativitas orang-orang nusantara dalam membaca dan menafsir ulang Islam yang berasal dari Arab, agar bisa sesuai dengan konteks kehidupan di mana mereka berada.

Wallahu A’lam bissawab (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *