Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku “The Geography of Faith”: Pengembaraan Eric Weiner Mencari Tuhan di Tempat Religius

5 min read

Foto: Sabara

5,902 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku                : The Geography of Faith: Pencarian Tuhan  di Tempat-tempat Paling Religius di Dunia dari Tibet Sampai Yerussalem

Penulis                        : Eric Weiner

Penerbit                      : Qanita, Mizan Grup Bandung

Cetakan                      : Cet. I/September 2016

Jumlah Halaman   : 500

Terbit pertama kali dengan judul: Man Seeks God: Flirtations with the Divine (Twelve, Hachete Book Group New York, Desember 2011)

Titik Balik

BERMULA ketika Weiner terbaring sakit dan harus menjalani operasi, seorang perawat membisikkan suatu kalimat yang menjadi satu momen titik balik dalam hidup Weiner.

“Sudahkah kau menemukan Tuhanmu?” bisik perawat itu kepada Weiner. Meski suara perawat tersebut pelan, namun suaranya terdengar jelas di telingan Weiner, usai mengambil sampel darah Weiner sebelum menjalani operasi.

Kendati akhirnya sembuh, kalimat perawat tersebut ternyata membuat Weiner dihantui kegelisahan. Beberapa waktu kemudian, masih dalam kondisi memikirkan kalimat perawat tersebut, Weiner dicecar pertanyaan-pertanyaan teologis oleh Sonya, putrinya, yang berusia lima tahun.

Eric Weiner, seorang keturunan Yahudi, agama yang menurut Weiner, adalah agama leluhurnya, tetapi tidak otomatis menjadi agamanya. Pada prolog buku ini, Weiner mengakui dirinya meragukan eksistensi Tuhan.

Namun, ia menolak disebut ateis. Lebih tepatnya, Agnostik, untuk menggambarkan kondisinya dalam keimanan, walau Weiner juga menyebut, agnostik adalah ateis tanpa pendirian.

Passing Over

Pertanyaan sang perawat UGD dan cecaran pertanyaan teologis Sonya, membuat Weiner semakin gelisah. Ia pun akhirnya memutuskan melakukan pencarian terhadap Tuhan.

Weiner memutuskan melancong ke berbagai tempat. Mulai Istambul, Kathmandu (Nepal), Wuhan (Tiongkok), Bronx (New York), Las Vegas, Washiongton, hingga Yerussalem.

Pada berbagai tempat tersebut, ia menyaksikan dan bahkan terlibat langsung dalam berbagai ritual pada delapan kelompok keagamaan yang dipilihnya.

Weiner berputar bersama sufi, bermeditas, melatih chi, berugahari bersama rohaniawan Fransiskan, bersenang-senang bersama kaum Raelian, melingkar bersama penyihir Wicca. Ia pun menyaksikan kesurupan kaum Syamanis, dan merenungi jati dirinya sebagai seorang Yahudi dalam tradisi Kabbalah di Yerussalem.

Weiner memilih kelompok keagamaan yang particular, semisal sufisme, bukan Islam secara keseluruhan, atau Kabbalah dalam Yahudi.

Menurut Weiner, ia ingin menyelami yang partikular, karena lebih mudah untuk dipahami, ketimbang agama secara keseluruhan. Di antara berbagai kelompok keagamaan yang berbeda doktrin dan tradisi tersebut, terdapat sedikit irisan, yaitu Tuhan.

Passing over, sebuah istilah untuk menggambarkan seseorang yang melintas kepercayaan untuk menyelami spiritualitas dari berbagai tradisi agama. Inilah yang dilakukan Weiner selama pengelanaannya, yang mengantarkan dirinya pada totalitas pengalaman dan penghayatan sebagai partisipan aktif dari kedelapan tradisi keagamaan yang didatangi.

Weiner benar-benar melakukan passing over; mencari Tuhan melalui pengalaman dan penghayatan secara langsung.

Melalui passing over, ia menemukan perbandingan, melintasi keyakinan-keyakinan paradoks dari Sufisme hingga Raelisme, menemukan jati diri melalui meditasi, hingga terlibat dalam khusyuk ritual menjadi hewan a la Syamanisme.

Rangkaian catatan perjalanan dan pengalaman dari delapan tempat dan kelompok keagamaan tersebut dikumpulkan dan tertuang dalam buku setebal 500 halaman ini.

Buku yang menggambarkan memoar pengembaraan spiritualitas yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan dari satu aliran ke aliran keagamaan lainnya.

Membaca buku ini akan menambah wawasan kita tentang keragaman bentuk dan ekspresi keyakinan manusia. Bahkan, dalam bentuk-bentuknya yang tak terbayangkan, seperti Raelian dan Wicca.

Weiner adalah seorang pengelana. Terlebih, ketika ia bekerja sebagai koresponden National Public Radio (NPR). Dari hasil kelananya hingga ke kaki Himalaya dan Athena, ia menerbitkan dua buku best seller, selain buku ini.

Dua buku tersebut adalah; The Geography of Bliss, yang diterjemahkan ke dalam 18 bahasa,  dan buku The Geography of Genius. Keduanya masuk dalam daftar The New York Time Best Seller.

Perjalanan

Melalui buku ini, Weiner menceritakan rangkaian pengalamannya dengan apik. Termasuk,  dialog-dialog menarik antara Weiner dan orang-orang yang dijumpai dalam kelana spiritualnya. Weiner juga secara detail menggambarkan “pengalaman spiritual”, yang ia rasakan pada setiap kelompok yang didatangi.

Sebagai penulis dan pelancong, Weiner adalah orang yang kaya dengan wawasan. Beragam analisis dan teori dari para tokoh, mulai William James, Joseph Campbell, Mahatma Gandhi, hingga beberapa tokoh lainnya, ia gunakan untuk menganalisis atau sekadar mengomentari temuan dan pengalamannya.

Buku ini, akhirnya tak sekadar catatan perjalanan. Lebih dari itu. Buku ini dapat dikatakan buku filsafat dan agama, yang menyajikan beragam perbandingan mengenai pandangan, pengalaman, dan penghayatan tentang satu irisan, yaitu Tuhan.

Rangkaian perjalanan Weiner mencari Tuhan dimulai dari Sufisme. Ia ke California untuk bergabung dengan kamp kaum sufi. Namun, Weiner belum menemukan kepuasan hingga terbang ke Turki menelusuri jejak spiritual Rumi. Sufisme mengajarkannya untuk tunduk kepada Tuhan, bukan dengan takut, tapi dengan Cinta.

Menyelami khidmat Buddhisme, Weiner terbang ke kaki Himalaya, Kathmandu, Nepal. Weiner belajar meditasi dan pengendalian pikiran hingga pencariannya soal Buddhisme, yang dalam beberapa hal, ia menjumpai kemiripan antara ajaran Buddha dan Alkitab. Keduanya sama-sama mengajarkan kasih-sayang dan sikap ugahari dengan berpantang terhadap kesenangan duniawi.

Perjalanan selanjutnya ke sisi lain Kota New York; Bronx Selatan, tempat penampungan tunawisma. Di sini, Weiner mendalami ordo Fransiskan, sebuah ordo dalam tradisi Katolik. Melalui ordo ini, ia belajar spiritualitas dalam kemiskinan dan persaudaraan, seperti Yesus dan murid-muridnya.

Kelana berikutnya kepada kelompok kepercayaan berbasis UFO, yang meyakini manusia diciptakan oleh sosok makhluk asing bernama Elohim.

Weiner lalu terbang ke Las Vegas untuk bergabung dalam acara kaum Raelian. Meski tak puas dengan spiritualitas model Raelian, Weiner mengaku belajar dari kaum Raelian tentang bagaimana agama dan kesenangan dapat bercampur.

Pencarian selanjutnya mengantarkan Weiner hingga ke Tiongkok untuk melatih chi melalui meditasi a la agama Tao.

Weiner berkelana ke Gunung Wudang hingga Gunung Qhingcheng di dekat Wuhan untuk melakukan retret. Di sana, Weiner mendapat nasihat, “Kau tak memilih agama. Agamalah yang akan memilihmu. Kau akan tahu begitu kau siap.”

Weiner kemudian ke Washington untuk menemui Jannie, sang penyihir Wicca, sebuah kepercayaan yang menawarkan kepercayaan hingga ratusan Tuhan.

Menurut Weiner, Wicca adalah keyakinan sempurna bagi orang-orang yang kurang cocok dalam berkomitmen. Jika gagal dengan satu Tuhan, maka dapat mencoba Tuhan yang lain.

Masih di Washington DC, Weiner lalu bergabung dengan kelompok Syamanisme, sebuah praktik spiritual yang telah ada sejak zaman kuno. Kekuatan Syaman, menurut Weiner, terletak pada kemampuan mereka kesurupan sesuka hati dan mencapai tingkat kesadaran yang berbeda tanpa bantuan psikoterapis.

Kembara Weiner berakhir di pinggiran Tel Aviv, yang membawanya menyelami spiritualitas Yahudi dalam kelompok Kabbalah. Dari kelompok ini,Weiner mendapatkan inspirasi, bahwa tugas manusia adalah memperbaiki dunia dengan memperbaiki diri dan kesadarannya sendiri.

Agama

Weiner mengakui, jika berhubungan dengan agama, kita seperti kehilangan akal sehat. Namun, ia juga mengakui, paling tidak, agama membantu mausia untuk mengatasi (kalau bukan menjawab) tiga pertanyaan besar dalam hidup kita.

Dari mana asal-usul kita? Apa yang terjadi ketika kita meninggal? Bagaimana cara kita menjalani kehidupan? Mengutip Alfred North Whitehead, “Agama adalah apa yang dilakukan manusia dalam kesendiriannya.” Weiner menyebut, agama semacam filosofi terapan.

Eric Weiner sangat mengagumi William James, tokoh yang sering dikutip pendapatnya dalam buku ini. Namun bagi Weiner, meski James seorang yang cerdas, James hanyalah seorang pengamat yang hanya mengintip kehidupan religius orang lain dari jarak yang aman.

Weiner tidak ingin meniru James. Ia merasa perlu mencobanya sendiri, menyelami nuansa keragaman agama (passing over). Weiner merasa perlu mencoba secara langsung kedelapan keyakinan yang dipilihnya tersebut. Apakah cocok atau tidak.

Terkesan aneh atau seperti sedang bermain-main dengan agama, mungkin itu yang muncul dalam benak kita, yang memandang agama sebagai komitmen serius dan menuntut loyalitas normatif.

Lantas, apa simpulan Weiner setelah melakukan pengembaraan spiritual di delapan kelompok agama tersebut? Apakah Weiner berhasil menemukan Tuhan yang ia cari? Sampai di akhir, Weiner bersimpulan, Tuhan dibutuhkan himpunan.

Di akhir tulisan, Weiner menulis kalimat inspiratif.

“Agama yang buruk merendahkan kita. Agama yang baik meninggikan kita, menjadikan kita lebih baik dari yang kita sangka atau mungkin lebih baik dari yang dapat kita bayangkan.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *