Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Mengenal Lebih Dekat Doktor “Aji Ugi” Syamsurijal; Penggemar Aamir Khan yang Masih Takut Naik Pesawat

5 min read

Dr. Syamsurijal, M.Si, di ruangannya, di Kantor BLAM. Foto: M. Irfan

3,995 total views, 2 views today

SOSOK yang satu ini memang senang bercerita (paccarita). Dalam satu kesempatan berbicara, ia bisa membincang banyak hal. Mulai bacaan “berat-berat”, seperti mengutip teks-teks Al-Quran, hadis, dan “kitab kuning”, mengutip teori-teori filsafat, teori kebudayaan, hingga bercerita sepakbola dan novel stensilan.

Bila berbicara, ia selalu terlihat bersemangat. Berapi-api. Tak heran, teman-teman kantornya sering membilanginya, “meliuk-liuk”, apabila tengah berbicara serius di forum.

Namun, meski berbicara tema-tema serius, toh ciri khas dan identitas ke-NU-an, tetap melekat kuat pada dirinya; bercanda dan guyon.

Adalah Syamsurijal. Kawan-kawan dekatnya menyapa, Ijal. Namun, di kantornya, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Ijal sering disapa Om Ijal. Sapaan ini merupakan panggilan akrab sebagian besar peneliti dan pegawai di BLAM.

Belum lama ini, tepatnya Selasa, 18 Agustus 2020, Ijal mengalami hari bersejarah dalam hidupnya.

Pada tanggal itu, ia berhasil merengkuh gelar tertinggi dalam dunia akademik di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Kini, di depan namanya, ia bisa mencantumkan gelar Doktor.

Di depan promotor dan penguji, ia, dengan sangat meyakinkan, mempertahankan disertasinya, “Aji Ugi (Studi Perjumpaan Agama, Tradisi Lokal, dan Gaya Hidup Modern, dalam Masyarakat Bugis Segeri).” Ia pun memperoleh IPK 3,92 atau “Sangat Memuaskan.”

Disertasi Ijal cukup menarik. Banyak hal diungkapkan dari riset menggunakan etnografi ini. Ia menyingkap tradisi dan ritual haji, modernitas berhaji, hingga menyoroti pengelola travel haji/umrah, yang dianggap telah menghilangkan kesakralan haji.

Pada kesempatan ini, Website BLAM mengajak Ijal berbincang-bincang sejenak. Namun, perbincangan kali ini bukanlah untuk mengulas temuan risetnya, lantaran sebagian kecil sudah dimuat di wesbite ini (lihat, https://blamakassar.co.id/2020/07/02/temuan-riset-disertasi-peneliti-blam-syamsurijal-ada-tradisi-hibrid-dalam-aji-ugi-haji-bugis/ dan https://blamakassar.co.id/2020/08/18/aji-ugi-antarkan-peneliti-blam-syamsurijal-sabet-doktor-di-uin-makassar/)

Kali ini, kami cuma ingin mengetahui hal-hal ringan di luar aktivitas akademiknya, seperti kebiasaan, hobi, dan kehidupannya dalam keseharian, yang mungkin saja belum banyak diketahui teman-teman lain.

Ingin tahu seperti apa? Simak bincang-bincangnya:

Selamat Om Ijal atas raihan Doktornya?

Makasih, Om.

Bagaimana perasaannya setelah menyandang Doktor?

Biasa saja, Om. Tidak ada yang berubah. Rasanya juga seperti hari-hari sebelumnya. Gelar doktor, bagi saya, bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan atau diistimewakan. Sebab, semua orang bisa meraih doktor.

Bisa diceritakan sedikit proses risetnya dan penyelesaian studi doktornya? Misalnya, apakah sempat stres? Hehe.

Saya begitu menikmati waktu penelitian lapangan. Selain bertemu banyak orang dan mewawancarai banyak informan, saya juga mengikuti berbagai tradisi dan ritual berkaitan haji, yang sebelumnya saya belum banyak ketahui. Di situ, saya betul-betul mendapatkan banyak pengalaman. Apalagi, saya memang memilih waktu penelitian lapangan pada saat musim haji.

Kalau soal stres, saya juga agak stres, tetapi bukan dalam arti stres sesungguhya. Saya mengalami perasaan itu pada saat proses penyelesaian administrasi di kampus. Di situ, saya merasakan agak sibuk, dan urus-urus masalah administrasi juga, kadang menguras waktu dan tenaga. Sekarang ini, urusan saya di kampus belum selesai. Hehehe.

Kalau berada di rumah, apa kebiasaan yang dilakukan pada waktu senggang?

Saya paling sering main bersama anak-anak di rumah (Ijal memiliki tiga putri). Saya juga suka nonton film terbaru hasil download internet di rumah, baca buku dan novel, dan mengetik. Kalau ada siaran langsung pertandingan sepakbola di televisi, apalagi yang main tim idolaku, Barcelona, saya pasti menontonnya. Di Barcelona kan ada (Lionel) Messi. Hehehe.

Di luar rumah, apa yang sering dilakukan di waktu senggang?

Jalan-jalan bersama keluarga ke mall atau ke tempat wisata. Ya, seperti keluarga pada umumnya-lah. Kalau ke mall, palingan main-main di tempat mainan, lalu cari makan. Kadang juga cari buku, atau nonton bioskop. Hal-hal umum sajalah, dan tidak ada istimewa.

Film-film bergenre apa yang disukai?

Saya sebenarnya menyukai hampir semua jenis film. Tapi, saya paling suka film India. Saya bahkan hapal nama-nama aktor dan aktris India, yang main di tahun 1990-an sampai sekarang. Namun, di antara pemain India, saya paling suka film-film yang dimainkan Aamir Khan. Saya juga suka film barat dan animasi. Tapi, saya kurang suka film horor.

Bagaimana film Indonesia. Apakah suka juga?

Iya, itu sudah pasti. Apalagi film-filmnya Bang Haji Rhoma Irama. Waktu masih kecil di kampung, saya dan teman-teman tak pernah ketinggalan menonton Rhoma Irama melalui layar tancap. Kalau melihat aksi-aksi Rhoma Irama di film, dia terlihat gagah sekali dan berwibawa. Menunggangi kuda saja terlihat keren sekali. Hehe.

Sampai sekarang, saya masih menonton ulang film-film Rhoma Irama, yang disiarkan televisi kabel. Saya pun punya beberapa film Rhoma Irama yang saya download di internet. Selain aksinya di film, saya juga suka lagu-lagu Rhoma. Saya punya koleksi lagunya.

Siapa lagi penyanyi Indonesia yang disukai?

Tommy J. Pisa. Kalau lagi karaoke, saya senang menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama dan Tommy J. Pisa. Saya senang musik dangdut dan pop. Saya juga hapal beberapa lagu Tommy dan Rhoma Irama di luar kepala. Lirik lagunya bagus-bagus. Hihihi.

Anda masih merasakan ketakutan (phobia) naik pesawat?

Iya. Hehehe..

Mengapa?

Ketika mahasiswa S1 (strata satu) di UIN Alauddin Makassar, saya sangat berani naik pesawat. Kalau akan naik pesawat, saya tidak pernah memikirkan cuaca. Bagiku, mau kondisinya hujan deras atau tidak hujan, sama saja. Saya masih ingat, saya pernah naik pesawat, di saat hujan sedang turun deras-derasnya.

Waktu itu, saya dan beberapa teman di Makassar, mau menghadiri acara diskusi di Yogyakarta. Di atas pesawat, saya duduk santai-santai saja, seolah-olah tidak terjadi hijan deras. Padahal, waktu itu, pesawat beberapa kali bergoyang akibat goncangan. Saya malah kadang senyum-senyum sendiri melihat penumpang yang menunjukkan perasaan cemas di wajahnya.

Terus, mengapa sekarang menjadi takut naik pesawat?

Saya sendiri juga tidak tahu. Tapi, saya merasakan semuanya berubah ketika menikah dan punya anak. Saya merasakan kok tiba-tiba menjadi takut (naik pesawat). Mungkin, pengaruh umur juga, ya? Hehehe. Padahal, sudah banyak teman, dan bahkan kyai, memberi nasihat dan “baca-baca.” Toh, ketakutan saya masih sulit hilang hingga sekarang.  

Terus, bagaimana perasaannya begitu mengetahui akan melakukan penerbangan?

Begitu saya tahu akan naik pesawat karena penugasan kantor, tubuh saya langsung merasakan menggigil dan keringat dingin. Malamnya, saya mulai merasakan kesulitan memejam mata, dan tidur nyenyak. Pokoknya, sejak saat itu, saya mulai gelisah. Sambil menunggu keberangkatan di bandara, saya tak henti-hentinya berdoa.

Di atas pesawat, saya hampir tidak pernah berbicara, karena sibuk melakukan ritual-ritual, hingga pesawat betul-betul mendarat. Tidak apalah kalau teman-teman kantor sering “mengejek” melihat tingkah laku saya di dalam pesawat. Hihihi.

Oke, Om. Terima kasih atas waktunya.

Iya, Om. Sama-sama.

***

Di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan, Ijal termasuk salah satu tokoh anak muda NU yang disegani. Ia memang tergolong cerdas dan kritis.

Sebagai mantan aktivis, Ijal juga sejak dulu banyak bergaul dan terbilang akrab dengan sejumlah tokoh NU di Indonesia.

Perkenalannya dengan tokoh-tokoh NU di Indonesia,  telah terjalin sejak dirinya menjadi aktivis di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, di masa mahasiswa strata satu, di UIN.

Karena pengetahuan dan jalinan keakraban itulah, ia kerap diundang untuk menjadi pembicara di tingkat nasional dan internasional, yang diadakan PMII, NU, dan organisasi non pemerintah.

Sayangnya, ia terpaksa menolak semua tawaran tersebut, karena takut naik pesawat. Termasuk,  menolak undangan lawatan ke luar negeri. (ir)

Dr. Syamsurijal, M.Si

Lahir: Kindang, Bulukumba, Sulsel, 17 November 1976

Jabatan di BLAM: Peneliti Ahli Madya (IVa)

Pengalaman Organisasi & Penelitian, antara lain:

Ketua Umum  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Fakultas Syariah Tahun 1996-1997.

Ketua Umum Komisariat PMII IAIN Alauddin Makassar, Tahun 1997-1998.

Sekjen Forum Lintas Komisariat PMII Metro Makassar, 2001-2003.

Presedium Forum Mahasiswa Kota Makassar (FORMAKAR), 2000-2001.

Pengurus NU Cabang Makassar, 2009-2015.

Ketua Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahldatul Ulama (LTN-NU) Sulawesi Selatan, 2019-2024.

Peneliti pada Desantara (Institute For Cultural Studies) Jakarta dan Interseksi (Lembaga yang Mengelola Issu-Issu Minoritas dan Multikultural) Jakarta, 2004 – sekarang.

Manager Program Sekolah Demokrasi, LAPAR-KID (2008-2012).

Peneliti Wahid Institute Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *