Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Kalender Hijriyah dari Arab-Islam Hingga Islam-Nusantara

7 min read

Sumber foto: islam.nu.or.id

11,588 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Sejarah

Enam tahun setelah Rasulullah saw wafat, tepatnya di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, ia mendapati persoalan administrasi berkenaan pencatatan tahun dari surat-surat yang dikirim dan diterima oleh khalifah.

Abu Musa al-Asyari menceritakan, saat menjadi Gubernur Basrah, dirinya mengeluhkan kepada khalifah tentang surat-surat yang dikirimkan kepadanya. Namun, ia bingung dengan penanggalan surat tersebut.

Telah sampai kepada kami surat-surat dari khalifah, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat tersebut. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Demikian keluh Abu Musa al-Asyari kepada khalifah Umar.

Hal tersebut dikeluhkan Abu Musa al-Asyari, karena hingga saat itu, umat Islam belum mengenal penggunaan angka tahun dalam sistem penanggalan yang digunakan.

Masyarakat Arab pra-Islam telah mengenal sistem penanggalan. Namun, belum ada penentuan secara permanen mengenai angka tahun yang digunakan. Biasanya, Bangsa Arab pra-Islam menjadikan peristiwa-peristiwa besar sebagai acuan tahun.

Misalnya, Tahun Renovasi Kakbah, karena pada tahun tersebut, Kakbah direnovasi ulang akibat banjir. Lalu, Tahun Fijar, disebabkan saat itu terjadi perang besar bernama Fijar.

Kemudian, Tahun Fiil (gajah), karena saat itu terjadi penyerbuan Kakbah oleh pasukan bergajah. Oleh karena itu, kita mengenal tahun kelahiran Rasulullah saw dengan istilah Tahun Gajah.

Peristiwa-peristiwa besar dijadikan sebagai acuan tahun oleh Bangsa Arab. Meski begitu, tidak berlaku secara permanen, karena nanti digantikan dengan peristiwa besar berikutnya yang terjadi. Hal inilah yang kelak menimbulkan persoalan dalam pencatatan angka tahun.

Umar bin Khattab kemudian mengumpulkan sahabat yang bermukim di Madinah untuk diajak urung-rembug menentukan peristiwa, yang nantinya dijadikan acuan tahun pertama dalam sistem kalender Islam, yang akan digunakan secara permanen.

Forum musyawarah kemudian menerima peristiwa hijrah Nabi dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah), yang diusulkan SayydinaAli bin Abu Thalib, sebagai patokan tahun pertama dalam penanggalan yang digunakan.

Penentuan peristiwa hijrah sebagai acuan tahun pertama tersebut, menurut Sayyidina Ali bin Abu Thalib, didasarkan pada firman Allah dalam surat At-Taubah (9) ayat 108:

Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.

Kalender Hijriyah

Kalender Hijriyah menggunakan sistem penanggalan lunar atau kamariah (bulan). Waktu satu tahunnya adalah 12 kali lamanya bulan mengelilingi bumi, yaitu 29 hari 12 jam 44 menit 3 detik (29,5306 hari) dikalikan 12, menjadi 354 hari 8 jam 48 menit 34 detik atau 354,3672 hari.

Pergantian hari terjadi pada saat matahari terbenam, dan awal bulan dimulai ketika terjadi konjungsi (hilal).

Jumlah hari dalam sistem lunar lebih singkat dibanding kalender solar, yang waktu panjang tahunnya selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik atau 365,2422 hari (disesuaikan menjadi 365-366 hari).

Sistem kalender Hijriyah merupakan kelanjutan dari tradisi penanggalan pada masyarakat Arab pra-Islam.

Hal ini dapat dilihat dari nama-nama bulan yang digunakan masih merupakan nama yang sama, dengan nama bulan yang dikenal masyarakat Arab pra-Islam.

Perbedaan mendasar pada sistem yang digunakan, karena tradisi Arab pra-Islam menggabungkan sistem lunar dan solar (luni-solar). Sehingga, membuat adanya penambahan bulan ketigabelas, atau memperpanjang satu bulan tertentu, menjadi dua bulan di setiap tiga tahunnya.

Penyesuaian ini dilakukan supaya bulan-bulan kamariah selaras dengan perputaran musim atau matahari. Karena itulah, nama-nama dalam bulan Hijriyah menunjukkan kondisi musim. Misalnya, Rabiul Awal, yang berarti musim semi pertama. Atau, Ramadan, yang berarti, musim panas.

Penghapusan bulan ketigabelas didasarkan pada Firman Allah dalam Surat At-Taubah (9) ayat 35.

Pada ayat tersebut juga ditegaskan pengakuan mengenai empat bulan, yang dalam tradisi Arab pra-Islam, merupakan bulan-bulan yang diharamkan berperang.

Bulan-bulan tersebut adalah, Muharram, Rajab, Zulkaidah, dan Zulihijjah.

Kalender Jawa

Seiring masuknya Islam ke nusantara, secara otomatis, suku-suku di nusantara yang menerima Islam pun kemudian menerima sistem kalender Hijriyah masuk dalam kebudayaan mereka.

Hal yang menarik, meski sistem kalender Hijriyah digunakan, maka tidak serta-merta meninggalkan sistem penanggalan lama. Kalender Hijriyah diakulturasikan dengan sistem penanggalan yang sebelumnya digunakan, seperti pada sistem penanggalan Jawa.

Sebelum masuknya Islam di nusantara, masyarakat nusantara, khususnya Jawa, mengggunakan sistem kalender Saka, yang juga merupakan sistem penanggalan dalam tradisi Hindu.

Memasuki era kekuasaan Mataram Islam, tepatnya di masa pemerintahan Sultan Agung (1613-165), dilakukan pembaruan sistem kalender Jawa dengan mengakulturasikan kedua sistem kalender tersebut.

Pembaruan sistem kalender tersebut dimulai pada Jumat Legi, 1 Sura 1555, bertepatan 1 Muharram 1043 H atau 8 Juli 1633 M. Sultan Agung tetap meneruskan penggunaan periode tahun Saka (bukan Hijriyah).

Karena penanggalan Saka menggunakan sistem luni-solar, maka dilakukan penyesuaian dengan penanggalan Hijriyah menggunakan sistem lunar. Jika tahun ini kalender Hijriyah memasuki tahun 1442, maka kalender Jawa adalah 1 Sura 1954.

Sistem penanggalan ini biasa disebut juga kalender Jawa-Islam. Sebab, nama-nama bulannya mengikuti nama bulan di kalender Hijriyah, meski mengalami penyesuaian dalam penyebutan.

Sura (Muharram), Sapar (Safar), Mulud (Rabiul Awal), Bakda Mulud (Rabiul Akhir), Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Poso (Ramadan), Sawal (Syawal), Dzulkangidah (Zulqaidah), dan Besar (Zulhijjah).

Penanggalan Jawa juga masih mempertahankan siklus hari dalam pancawara (Legi, Pahing, Pon, Wage,dan Kliwon), meski juga menggunakan siklus tujuh hari, yang nama-nama harinya diserap dari bahasa Arab.

Penyesuaian kedua siklus hari tersebut juga dilakukan dan disebut selapanan, yang berlangsung selama 35 hari.

Islam Nusantara

Islam Nusantara merupakan perwujudan integrasi Islam dan budaya lokal di nusantara (Indonesia), yang telah berlangsung sejak awal kedatangan Islam di wilayah nusantara.

Islam Nusantara merupakan hasil dari kebudayaan Muslim Nusantara, yang akhirnya melahirkan wajah dan warna Islam yang khas.

Di antara wajah dan warna keislaman yang khas di nusantara berkenaan dengan beragam respons, interpretasi, ekspresi, dan artikulasi dari tradisi lokal nusantara, dalam kaitannya dengan sistem penanggalan Hijriyah.

Sistem penanggalan Hijriyah tidak hanya sebatas menjadi kalender keagamaan, tetapi dalam banyak hal, juga menjadi kalender kebudayaan, yang dihubungkan dengan kepercayaan hingga tradisi keagamaan masyarakat Muslim di nusantara.

Bulan-bulan pada kalender Hijriyah dalam kepercayaan masyarakat Muslim Nusantara ada yang dipahami sebagai bulan baik dan bulan naas.

Sedapat mungkin, mereka menghindari aktivitas penting seperti melaksanakan pesta, memulai usaha, hingga memulai membangun rumah di bulan-bulan yang dipandang “naas’ tersebut.

Sebaliknya, pada bulan-bulan yang dipandang baik, mereka menjadikan acuan untuk mengadakan hajatan penting, seperti pernikahan, memulai usaha maupun memulai membangun rumah.

Dalam kepercayaan masyarakat Bugis, misalnya, bulan Muharram tidak baik untuk mendirikan rumah, karena nantinya terjadi pertengkaran/perselisihan bagi pemiliknya. Sebaliknya, pada bulan Sya’ban, adalah bulan yang baik untuk memulai mendirikan rumah, dan akan dimudahkan rezeki bagi pemiliknya.

Kepercayaan masyarakat terhadap baik atau naas yang terjadi pada bulan-bulan tersebut, biasanya dikaitkan dengan peristiwa atau momen yang terjadi pada bulan tersebut.

Muharram, misalnya, dipandang sebagai bulan “panas”, yang membawa naas. Sebab, pada bulan tersebut, ada peristiwa Asyura, yaitu peristiwa pembantaian terhadap cucu nabi saw, yaitu Husain bin Ali beserta keluarga dan sahabat di Karbala.

Bulan Muharram, oleh masyarakat Muslim Nusantara, lebih dikenal dengan nama bulan Suro atau Sura. Momen Muharram, khususnya hari Asyura (10 Muharram), dimaknai sebagai hari penting. Pada hari itu, beragam tradisi dilaksanakan sebagai ekspresi penghargaan terhadap peristiwa yang terjadi di hari Asyura.

Kalender Hijriyah sebagai kalender budaya keagamaan masyarakat Muslim Nusantara berkenaan momen hari-hari besar Islam yang berakulturasi dengan kebudayaan lokal.

Bulan Muharram atau Sura, biasanya semarak dengan berbagai tradisi, yang tidak hanya berkenaan dengan momen pergantian tahun, tapi dengan momen Asyura.

Bulan Safar, khususnya Rabu terakhir, dipandang sebagai hari naas. Untuk menangkalnya, sebagian masyarakat Muslim di nusantara melaksanakan ritual mandi-mandi Safar di laut maupun di sungai.

Sementara Rabiul Awal lebih dikenal dengan bulan Maulid, karena pada bulan ini Rasulullah saw lahir. Ragam tradisi dilangsungkan dengan sangat semarak sebagai ungkapan syukur akan kelahiran nabi saw, sekaligus ekspresi kecintaan terhadap rasulullah.

Peringatan Maulid Nabi saw berlangsung silih berganti sepanjang Rabiul Awal, dan bahkan hingga Rabiul Akhir.

Di beberapa tempat, peringatan Maulid Nabi saw bahkan masih berlangsung hingga bulan Jumadil Akhir.

Peristiwa Isra Miraj Nabi saw yang terjadi di bulan Rajab, tak ditinggalkan oleh masyarakat Muslim Nusantara dengan berbagai tradisi, yang biasanya berlangsung hingga Sya’ban. Sya’ban biasanya semarak dengan berbagai tradisi masyarakat menyambut kedatangan Ramadan.

Masyarakat Jawa, misalnya, menyebut Sya’ban dengan nama Ruwah. Karena pada bulan Sya’ban, mereka menggelar tradisi ruwah (kirim arwah), atau mendoakan arwah keluarga yang meninggal.

Tradisi ruwah biasanya dilakukan dengan slametan hingga ziarah makam. Tradisi ini tidak lepas dari penyambutan bulan suci Ramadan, yang dalam penanggalan Jawa, disebut wulan Poso (bulan puasa).

Tradisi ruwah dan ziarah, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan tersebut, tidak hanya berlangsung di Jawa. Akan tetapi, kita akan menjumpai tradisi tersebut dalam berbagai bentuk dan model pada tradisi masyarakat Muslim Nusantara di berbagai daerah.

Ramadan

Bulan Ramadan, adalah bulan puncak dalam tradisi keagamaan masyarakat Muslim Nusantara. Ramadan merupakan bulan yang penuh semarak, karena di dalamnya ada perintah puasa, turunnya Al-Qur’an, dan turunnya malam Lailatul Qadr.

Ketiga hal tersebut diramaikan oleh masyarakat Muslim Nusantara dengan beragam tradisi yang sangat semarak.

Bulan Syawal, adalah bulan silaturahmi, yang diwujudkan dalam tradisi mudik ke kampung halaman.

Tradisi halal bi halal merupakan khas budaya Islam Nusantara berkaitan bulan silaturahmi ini. Acara halal bi halal ini silih berganti berlangsung, bahkan hingga memasuki bulan Zulqaidah.

Zulhijjah sebagai bulan penghujung, dan merupakan bulan ritual haji serta kurban, tak kalah semarak dengan berbagai tradisi berkenaan dua hal tersebut.

Pada sebagian masyarakat, bulan Zulhijjah atau Muharram, biasanya dimanfaatkan untuk melakukan tradisi ritual mencuci benda-benda pusaka.

Setahun penuh dalam kalender Hijriyah, masyarakat Muslim Nusantara mengisinya dengan khidmat atau semarak tradisi, sebagai ekspresi penghargaan terhadap momen-momen pada setiap bulan tersebut.

Pada masyarakat Muslim di nusantara, siklus dalam kalender Hijriyah menampakkan integrasi antara Islam dan tradisi lokal, yang melahirkan kekhasan wajah dan warna Islam, yang kemudian diberi label Islam Nusantara. (*)

Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1442 Hijriyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *