Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti Lektur Temukan Banyak Naskah Keagamaan di Sulsel

4 min read

Peneliti Bidang Lektur BLAM menggelar pembahasan penjajakan lapangan. Foto: Arafah.

3,715 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Tim Peneliti Bidang Lektur Khazanah Keagamaam dan Manajemen Organisasi (LKKMO), Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), menemukan beragam naskah keagamaan, saat mereka melakukan penjajakan lapangan di sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan, selama sepekan, 9-15 Agustus 2020.

Hal tersebut dikemukakan para Peneliti Lektur, ketika menyajikan hasil temuan penjajakan lapangan mereka, di Kantor BLAM, Selasa, 18 Agustus 2020.

Ragam naskah yang didapatkan peneliti di masing-masing lokasi, ternyata memiliki keunikan tersendiri. Misalnya, naskah Assikalaibing, yang ditemukan Abu Muslim di Kabupaten Bone.

Demikian pula, di Kabupaten Pinrang ditemukan adanya beberapa naskah, namun oleh pemiliknya, naskah tersebut tidak bisa diperlihatkan, karena adanya perlakuan khusus.

“Walaupun terdapat beberapa naskah yang tidak memerlukan perlakukan khusus, namun naskah tersebut telah ditulis ulang, maupun dalam bentuk kopian,” kata Peneliti Syahrir Kila.

Demikian halnya di Wajo, ditemukan sebuah naskah yang masih digunakan untuk massurek, yakni naskah Surek Seleang, yang merupakan bagian dari naskah I Lagaligo. Naskah ini digunakan untuk Massurek pada berbagai kegiatan ritual, antara lain, Mappano Bine (memulai menanam benih padi).

Perlakuan serupa oleh sekolompok masyarakat  di Desa Amparita Sidrap, jika akan memulai penanaman pada, masyarakat senantiasa melakukan ritual dengan melakukan pembacaan naskah  yakni naskah Meong Palo Karellae.

Temuan Muh. Sadli terkait naskah Fiqh, di mana yang menarik dalam naskah ini, yakni terjadinya dialog yang dilakonkan oleh empat ekor burung tentang fiqh.

“Walaupun naskah ini tidak lagi dibacakan oleh masyarakat umum, namun oleh pemiliknya masih tetap membacanya dalam rangka menghidupkan isi naskah tersebut,” ujar Sadli.

Peneliti Wardiah, yang menjajaki Kabupaten Maros, menyatakan, persebaran naskah di Maros laksana mengikuti arus sungai lalu menuju ke pedesaan, hingga menyisir ke daerah kerajaan di Maros, yakni kerajaan Turikale dan menemukan naskah Tarekat Khalawatiyah Samman, di mana naskah ini masih diperlakukan di masyarakat Maros.

Naskah Jayalangkara, sebuah naskah yang masih hidup di masyarakat, dan dibacakan ketika ada kematian. Naskah ini memiliki  ragam isi seperti nasihat.

Sementara Subair, yang menjajaki Kabupaten Bantaeng, menemukan mengambil salah satu syair dalam naskah Baraqon, yang masih digunakan oleh masyarakat Bantaeng.

“Naskah ini berisi nyanyian sufi namun ada makna lain di dalamnya, yakni Baraqon yang tidak maknai sebagai berkah, tetapi memiliki makna berbeda, yaitu Kilat. Syair ini digunakan dalam tradisi pengantin oleh keturunan raja di Bantaeng,” katanya.

Naskah yang masih hidup di masyarakat Takalar pada saat ritual kematian, yaitu Ahbarul Akhira atau Tulkiyama, Surah Rate’ Maudu. Namun ini telah dikaji oleh peneliti sebelumnya.

Namun, terdapat pula naskah yang masih dibacakan pada berbagai kegiatan, yakni naskah Rate Juma’. Naskah ini dibacakan pada saat terwujudnya nadzar, maupun ritual kematian.

Selain itu, juga masih ditemukan beberapa naskah yang masih dibacakan oleh sekelompok masyarakat di Takalar, khususnya di Sanro Bone, Cikoang, seperti Naskah Hikayat Syekh Yusuf.

Husnul Fahimah, Koordinator Penelitian Kajian Konteks Naskah Keagamaan, menyimpulkan,  bahwa temuan studi awal di sembilan lokasi dari berbagai naskah tidak ada yang bergeser dari korpus.

“Namun, perlu juga teman-teman peneliti melakukan pemetaan terhadap kajian yang telah dilakukan sebelumnya, seperti naskah Meong Palo Karellae dan beberapa isi dari naskah I Lagaligo,” kata Husnul.

Beberapa masukan peserta, antara lain, lebih menekankan pada pentingnya menghidupkan kembali naskah yang masih ditemukan di masyarakat, di mana naskah tersebut tidak hanya digunakan pada kegiatan sakramen, tetapi naskah ini betul-betul dihidupkan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Selain itu, khusus pada kematian memang telah dilakukan pembacaaan naskah dengan pelantunan yang menarik. Misalnya, dilantunkan dalam bentuk kelong, sehingga terkadang membuat sedih maupun bergembira, pada saat penceramah memberikan takziah.

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, selaku pengendali teknis, tidak menghendaki adanya perpindahan lokasi penelitian.

Selanjutnya, kata Saprillah, pandangan terhadap BLAM memang kurang direspon dan hanya bermain di areanya sendiri.

Namun, apapun itu merupakan tantangan riset BLAM, terutama di Bidang Lektur, yang sulit menyusun sebuah rekomendasi berbasis kebijakan.

“Oleh karena itu, kita harus duduk bareng untuk memikirkan ke mana muara riset ini. Apakah ke arah akademis atau kebijakan. Dan,yang  terpenting, hasil riset kita digunakan oleh siapa, sehingga riset kita termanfaatkan. Oleh karena itu, para peneliti dituntut untuk bekerja secara profesional lagi,” kata Saprillah.

Peneliti Ahli Utama BLAM, Dr. H.Abd Kadir M, yang juga pembimbing penelitian, menyatakan, temuan peneliti cukup menarik.

Hanya saja, pada kesempatan ini, temuan studi awal belum menemukan apakah para peneliti telah bekerja sesuai Instrumen Pengumpulan Data (IPD) yang telah disusun dan disepakati bersama.

“Perlu melakukan penelusuran literatur terhadap kajian-kajian terdahulu. Perlu juga penelusuran keberadaan naskah, dan menelusuri lebih dalam konteks naskah, mengapa naskah tersebut masih hidup di masyarakat,” papar Kadir.

“Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peneliti ketika penelitian nanti. Misalnya, naskah yang belum terlihat kaitannya dengan keagamaan seharusnya sudah harus ada 50% data yang diperoleh dalam studi awal ini. Dan, apakah IPD yang sudah disusun digunakan di lapangan,” ujar Pembimbing Penelitian, Peneliti Ahli Utama BLAM, Prof. Dr. H. Idham.

Setelah penjajakan lapangan sepekan, Peneliti BLAM akan kembali turun lapangan untuk meneliti selama dua pekan, yang dijadwalkan 27 Agustus 2020. (sta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *