Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku: Indonesia, Revolusi & Sejumlah Isu penting

6 min read

Buku Anthony Reid.

4,238 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku                  : Indonesia, Revolusi & Sejumlah Isu Penting

Penulis                         : Anthony Reid

Penerbit                       : Prenada Media Group Jakarta

Jumlah Halaman         : 365 + xvii

Terbit pertama kali dengan judul To Nation by Revolution Indonesia in the 20th Century (National University of Singapore –NUS- Press)

AWAL Abad XX, JS. Furnival, Antropolog Inggris, melakukan penelitian lapangan di beberapa suku, di wilayah nusantara (Hindia Belanda).

Salah satu konsep terkenal dari penelitian tersebut, adalah mengenai masyarakat majemuk (plural society) sebagai ciri khas masyarakat Hindia Belanda (Nasikun, 2007).

Hindia Belanda, sesaat setelah Perang Dunia II, kemudian menjelma menjadi sebuah negara merdeka, bernama Indonesia.

Pengalaman politik sebagai bangsa yang pernah dijajah, fakta sosial sebagai masyarakat plural, problematika ekonomi, serta sejumlah hal lain yang menjadi variabel sejarah panjang sebuah negara baru, bernama Indonesia.

Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai penanda berdirinya negara Indonesia,  bukanlah sebuah fakta sederhana. Proklamasi menggambarkan sebuah revolusi politik yang mengantarkan Indonesia memasuki era komunitas negara bangsa.

Indonesia memang “lahir” pada 17 Agustus 1945. Namun, tanggal itu, bukanlah awal dari sejarah panjang Indonesia.

Sejarah bangsa-bangsa, yang kemudian bersatu menjadi Indonesia, membentang dari Sumatera hingga Papua, yang telah berlangsung sejak ribuan tahun sebelumnya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana Indonesia memasuki era penting sebagai negara bangsa di masa modern? Bagaimana pluralitas suku-bangsa bisa bersatu menjadi sebuah negara bangsa? Bagaimana sejarah panjang pergolakan sosial, ekonomi, budaya, dan politik dapat ditarik benang merah dalam membaca sejarah Indonesia modern?

Rangkaian persoalan tersebut diulas secara apik dan komprehensif di dalam buku ini. Buku ini merangkum rangkaian sejarah panjang Indonesia, dari berbagai sisi dan perspektif, serta durasi yang satu sama lain saling berkait.

Total History

Anthony Reid, Profesor Emiritus dalam Bidang Sejarah, dari Australian National University (ANU). Sejarawan kelahiran Selandia Baru, 81 tahun silam, ini fokus pada kajian Sejarah Asia Tenggara, khususnya sejarah Indonesia.

Keseriusan Reid menjadi Indonesianis, tampak pada disertasinya di Universitas Cambridge. Ia mengambil topik perjuangan Aceh melawan kolonialisme Belanda.

Sebagai ahli Sejarah Asia Tenggara, Reid banyak menelorkan karya-karya Sejarah Asia Tenggara, khususnya nasionalisme bangsa-bangsa Asia Tenggara. Ia juga intens mendalami Sejarah Sulawesi Selatan dan sejarah modern Hindia Belanda.

Sebagai sejarawan, Reid dikenal dengan pendekatan Total History. Yaitu, suatu kajian sejarah yang meliputi semua aspek kemasyarakatan.

Total History membicarakan semua unsur masa lampau, yang membentuk peradaban suatu masyarakat di sebuah kawasan.

Reid juga tidak memberi prioritas dan penekanan pada isu-isu dinasti, elite, maupun peperangan, yang kerap menjadi lokus utama narasi sejarah arus utama. Narasi sejarah politik dari banyak sejarawan yang menjadikan peristiwa besar di pusat kekuasaan sebagai tema sentral.

Total History a la Reid juga tidak sebagaimana model sejarah sosial yang lebih memberikan penekanan pada sejarah orang-orang marginal yang berada di pinggiran kekuasaan. Baik model sejarah politik maupun sejarah sosial, semuanya mendapatkan proporsi sama.

Reid juga memberi penjelasan seputar tema tentang makanan, gaya hidup, dan budaya di berbagai daerah, saat menjelaskan karakter masyarakat di sebuah kawasan. Begitu pula, ketika ia menulis seputar revolusi Indonesia dan sejumlah isu penting lainnya.

Bagi Reid, sebagaimana diakui dalam pengantar buku tersebut, sejarah politik yang mengiringi pergolakan pembentukan bangsa Indonesia di Abad XX telah banyak ditulis. Sehingga, ia pun tidak bermaksud untuk “menyaingi” studi-studi yang sudah ada seputar revolusi Indonesia.

Perspektif dan wawasan Reid yang kaya sebagai seorang sejarawan dan Indonesianis, tampak jelas dalam buku, yang edisi aslinya terbit 2010 di NUS Press Singapura.

Di tahun yang sama, Reid juga menerbitkan buku dengan judul, Imperial Alchemy: Nationalism and Political Identity in Southeast Asia, yang diterbitkan Cambridge University Press.

Bunga Rampai

Buku “Indonesia, Revolusi, & Sejumlah Isu Penting,” merupakan bunga rampai yang berasal dari 12 tulisan, dan berisikan refleksi sejarah Indonesia.

Keduabelas Bab dalam buku ini mengulas dan mengulik beragam tema seputar pasang-surut perjuangan Indonesia. Khususnya, sepanjang empat dekade berdirinya negara Indonesia.

Menariknya, dari kesemua tema tersebut, Reid menawarkan perspektif berbeda, yang diulas dan dikemas secara apik dengan pendekatan sejarah total dan gaya narasi yang detail dan komparatif.

Sebagai bunga rampai, buku ini hadir dengan kajian yang komprehensif. Setiap Bab menceritakan isu-isu penting di Indonesia pada beberapa dekade terakhir Abad XX, dan menawarkan perspektif kompleks, jelas, dan menyeluruh.

Rangkaian tulisan dari Bab Satu hingga Bab 12 menyambungkan benang merah perjalanan sejarah Indonesia yang panjang.

Dimulai Bab Satu, yang mengulas bagaimana Indonesia yang akhirnya lahir sebagai sebuah negara, hingga peristiwa-peristiwa lain yang memicu semangat kebangsaan Indonesia.

Keduabelas tema berbeda yang menjadi Bab dalam buku ini membahas tentang; revolusi kemerdekaan Indonesia, persoalan perbudakan, tradisi sirih dan tembakau, politik perdagangan, gagasan tentang merdeka, dan sejarah nasionalisme Indonesia.

Juga, pengaruh jepang, revolusi regional, seputar peristiwa Gestapu, tradisi Asia dan politik Indnesia, soal pilihan bentuk negara kesatuan dan bukan federal, hingga soal diaspora China di Asia Tenggara (khususnya Indonesia).

Benang merah dari keduabelas tema tersebut, adalah serangkaian peristiwa pergolakan sosial, politik, bahkan budaya dan ekonomi, yang sedikit banyaknya memengaruhi karakter bangsa Indonesia.

Dalam pengantar bukunya, Anthony Reid, menjelaskan benang merah yang menghubungkan keduabelas Bab dalam buku tersebut. Misalnya, tentang arti penting dari cara Indonesia memasuki komunitas negara bangsa di era modern melalui revolusi politik.

Sebuah perjuangan sosial, politik, dan budaya dalam menciptakan persatuan dan kesatuan negara Indonesia, yang dihadapkan pada kenyataan akan keragaman budaya dan etnis.

Meski benang merah dari 12 tulisan merujuk pada persoalan politik di Indonesia, namun Reid mencoba mengisahkan persoalan tersebut dari berbagai sisi yang belum banyak diketahui khalayak.

Sebagai seorang sejarawan, kekayaan wawasan Reid tampak ketika membahas beragam tema, dan kemudian menarik benang merahnya.

Reid menyajikan isu penting sejarah Indonesia mulai dari hal serius hingga tema yang terkesan sepele, seperti soal kebiasan mengunyah sirih dan menghisap tembakau di kalangan masyarakat.

Persoalan perbudakan di Indonesia tak luput dari amatan Reid, dan menjadikannya sebuah isu menarik. Mulai bagaimana hubungan patron-klien antara budak dan tuan, hingga akhir era perbudakan di masa Indonesia merdeka, yang dianggapnya terlambat.

Demikian pula, ia mengulas berkembangnya pengaruh asing yang sedikit banyaknya memengaruhi Indonesia.

Mazhab Annales

Sebagai penulis sejarah, Reid sangat kental dengan model penulisan sejarah a la Mazhab Annales.

Mazhab Annales, adalah sebuah pendekatan dalam penulisan sejarah yang menekankan kontinuitas-kontinuitas jangka panjang dalam sejarah struktur-struktur geografi, ekonomi, sosial, politik, dan budaya, yang memiliki cakupan luas namun tersembunyi dalam sebuah fenomena sejarah jangka pendek (Reid, 1996).

Gaya Reid sebagai seorang Annales, tampak jelas dalam buku ini. Ia tidak memotret sejarah kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah fenomena sejarah jangka pendek. Melainkan sebuah kontinuitas kompleks dalam rentang waktu yang panjang, dan tidak terbatas pada ruang spasial nusantara saja.

Dalam buku ini, Reid mengulas tentang revolusi politik Indonesia, membongkar berbagai hal dari soal perbudakan, hingga sirih dan tembakau, sebagai pengantar narasi dalam membaca dan memahami Indonesia.

Melalui buku ini, ia mengajak kita mencermati sejumlah isu penting yang tidak melulu bersifat politik, namun tetap berkaitan dengan revolusi politik Indonesia di masa kemerdekaan. Bahkan, hingga masa-masa sesudah itu.

Bagi Reid, Indonesia adalah sebuah fakta yang tak sederhana, karena dibentuk oleh variabel yang kompleks, yang masih perlu lagi dipahami secara detail dengan memerhatikan keseluruhan faktor.

Ihsan Ali Fauzi (2012), ketika mengulas buku Reid berjudul Imperial Alchemy: Nationalism and Political Identity in Southeast Asia, menyebut Reid sebagai comparative historian. Termasuk dalam buku ini, tampak jelas Reid adalah sejarawan komparatif.

Membaca buku ini, kita diajak untuk melintas ruang, budaya, dan waktu tentang Indonesia. Misalnya, ketika ia membahas “Merdeka: Kunci Indonesia Menuju Kebebasan,” kita dihantar menyelami akar gagasan tersebut melalui teks kuno pada prasasti peninggalan Abad VII di Sumatera, teks-teks kuno Jawa Abad X, hingga memperbandingkannya dengan gagasan merdeka dari sejarah Bugis-Wajo.

Pada bagian akhir buku, Reid menulis tentang China dan Negara menggunakan sejarah Yahudi dan Eropa sebagai analog. Kemudian, membandingkan konteks diaspora Yahudi di Eropa dan diaspora China di Asia Tenggara.

Saya akui, membaca narasi sejarah dari dalam buku yang sarat dengan sejarah total, dan cukup detail dengan pendekatan komparatif, ternyata cukup melelahkan.

Beberapa kali saya harus mengernyitkan dahi untuk memahami maksud dan menangkap benang merahnya. Namun, bagi saya, buku ini sangat recommended sebagai salah satu referensi memahami sejarah Indonesia lebih utuh. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *