Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Meneliti di Masa Pagebluk Corona; Waswas tapi Seru

6 min read

Sumber Foto: m.ayopurwakarta.com

9,684 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Banyak hal di dunia ini yang masih merupakan kabut misteri. Sebagai hal yang misteri, kita masih buta dan sama sekali tidak paham dengan keberadaannya.

Virus corona-19, adalah salah satu misteri tersebut. Karena ia merupakan misteri, para ahli berusaha untuk menyingkap keberadaannya.

Der Mensch muss bei dem Glauben verharren, dass das Unbegreifliche begreiflich sei, er würde sonst nicht forschen.”

Begitu kata Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832), penulis dan penyair dari Jerman, dalam Brief von und an Goethe.

Maksud Goethe kurang lebih, “Manusia harus teguh dalam keyakinan, bahwa yang tidak dapat dipahami itu dapat dimengerti. Kalau tidak, dia tidak akan melakukan penelitian.”

Karena itu, di masa pandemi corona, penelitian tidak bisa berhenti. Justru, kemunculan virus itu menantang ketidaktahuan para pakar untuk terus meneliti dan mencari tahu.

Jika dalam bidang kesehatan dan virologi, para peneliti seakan berlomba dan berburu dengan waktu melakukan kerja-kerja penelitian, lalu bagaimana dengan sektor humaniora?

Bidang sosial humaniora ini rasanya tidak jauh berbeda. Di tengah pandemi corona, justru isu-isu di bidang sosial humaniora juga muncul secara lebih mengejutkan.

Melani Budianta menyebutkan, di masa-masa pandemi corona ini terjadi pembalikan nilai dengan cepat. Kedisiplinan sekolah berubah; dari harus rajin masuk sekolah, menjadi tidak boleh masuk sekolah.

Norma kesopanan terjungkir. Jika sebelumnya bersalaman dan cium tangan adalah wujud sopan santun, maka kini salaman dan mencium tangan dianggap tidak menjaga keselamatan orang lain.

Dalam bidang agama apalagi. Jika sebelumnya praktik keagamaan dilakukan dengan perayaan, ritual bersama dan ibadah berjamaah, kini disarankan lebih baik dilaksanakan sendiri-sendiri. Beribadah dalam sunyi. Ibarat para sufi dan rahib yang beribadah secara tersembunyi di gua-gua.

Dengan pembalikan nilai-nilai sosial keagamaan dalam waktu singkat dan cepat, maka banyak perubahan-perubahan sosial yang kita masih raba-raba arahnya akan ke mana. Akibatnya, masyarakat mengalami shock culture dan tertekan.

Pengetahuan kita masih serba canggung dan tanggung untuk memahaminya secara pasti. Persis karena ketidak-tahuan kita itulah, maka penelitian menjadi semakin penting saat ini. Karena kalau kita sudah tahu, lantas untuk apa lagi meneliti.

Pekerjaan yang kita lakukan dan kita sudah tahu, bukan meneliti namanya. “If we knew what it was we were doing, it would not be called research,” begitu kalimat Albert Einstein.

So, dalam masa pandemi ini, “research must go on…” Riset bahkan harus lebih intens dan dilakukan lintas disiplin, serta trans-disiplin.

Penyesuaian Metode Penelitian

Pertanyaan kemudian, bagaimana kita melakukannya? Bukankah dalam masa-masa pandemi ini, semua serba dibatasi?

Kita disarankan untuk tidak sering bertemu dengan orang-orang. Kita dibatasi keluar kota, bahkan sekadar keluar dari rumah.

Sementara riset sosial humaniora mensyaratkan orang harus turun ke lapangan dan mengamati realitas dan menggali data secara langsung. Kita harus bertemu banyak orang.

Bahkan, dalam penelitian etnografi, kita tidak hanya harus turun ke lapangan, tetapi juga perlu tinggal lama dan wawancara secara mendalam dengan informan.

Kini, dengan keberadaan teknologi informasi, banyak hal dalam metodologi penelitian yang memang bisa segera diatasi. Penelitian-penelitian kuantitatif sudah banyak menggunakan metode online.

Peneliti tidak harus lagi membawa-bawa angket dan membagikannya ke responden. Semunya kini tinggal dikontrol secara daring, dan para responden bisa mengisinya melalui gawai dan gadget masing-masing.

Penelitian kualitatif, sejatinya juga tidak kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan teknologi informasi ini. Wawancara bisa dilakukan melalui telepon dan media sosial.

Kini, berkomunikasi melalui media sosial, bisa dengan video call sehingga informan bisa kita saksikan langsung.

Kita pun bisa berjumpa dengan mereka dalam dunia virtual. Fokus grup diskusi juga bisa dilakukan dalam bentuk diskusi zoom. Keseluruhan cara-cara ini tidak mengharuskan perjumpaan secara fisik.

Dalam situasi semacam ini, kita memang harus berterima kasih pada bantuan internet dan teknologi informasi yang semakin maju.

Terkait hal ini, jauh-jauh hari, Noam Chomsky, telah menyebutkan peran penting internet dalam dunia penelitian. Chomsky menyebutkan, “as a research tool, the internet is invaluable.”

Kalau begitu, tidak ada masalah lagi? Tunggu dulu! Riset di negeri +62 ini jangan bayangkan bisa semudah di negeri-negeri maju di sana.

Selain responden dan informan sendiri sering kali merasa riset yang dilakukan tidak penting-penting amat bagi dirinya, juga medannya tidak semuanya terjangkau jaringan internet.

Jika para responden dan informan merasa tidak penting dengan riset yang akan kita lakukan, bagaimana mereka mau sungguh-sungguh menjawab pertanyaan yang hanya dikirim melalui media sosial?

Sementara itu, jika medannya tidak terjangkau dengan internet, sudah pasti menggunakan penelitian daring bukanlah alternatifnya.

Lagi pula, penggunaan internet dan teknologi informasi memang bisa mempermudah dan mempercepat satu penelitian di masa-masa pandemi ini, tetapi kita akan kehilangan kedalaman-kedalamannya.

Saya masih percaya, informan adalah subjek-subjek yang sesungguhnya, dan juga menilai para peneliti yang mendatangi mereka. Tidak semudah itu mereka memberikan jawaban-jawaban yang mendalam.

Jika hanya berkenalan sepintas melalui telepon, kemudian selanjutnya dicecar pertanyaan-pertanyaan tertentu, kemungkinan mereka merasa dirinya sedang ditanya melalui telepon oleh tele-marketing dari kartu kredit atau asuransi.

Dengan demikian, turun langsung meneliti di lapangan masih menjadi keharusan. Bahkan, dalam situasi wabah corona belum surut.

Saya tidak mengatakan ini, karena instansi mewajibkan, ya! Tentunya, kalau instansi mewajibkan turun lapangan, tidak semata-mata karena pertimbangan metodologi.

Berbagi Pengalaman

Saya ingin berbagai sedikit pengalaman turun lapangan saat meneliti di suatu tempat, di masa-masa pandemi ini.

Saya berbagai kepada para peneliti yang termasuk disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan di masa pagebluk corona. Kalau bagi yang santuy, saya kira tidak perlu!

Sebagai orang yang ketat mengikuti protokol pandemi (bisa juga dibaca orang yang takut corona), saya termasuk orang yang cukup waswas ketika jadwal turun meneliti sudah ditetapkan.

Pertama-tama yang saya lakukan, tentu saja, adalah berdoa. Setakut-takutnya pada corona, saya tetap yakin, Tuhan Maha Kuasa atas segalanya.

Selanjutnya, saya menghubungi salah seorang rekan di lapangan yang terkait erat dengan penelitian. Mula-mula, secara diam-diam, saya mulai menggali pandangannya terhadap wabah covid-19.

Saya ingin memastikan, bahwa yang bersangkutan aware terhadap pandemi, dan tidak santuy menghadapinya. Setelah memastikan, dirinya saya jadikan informan kunci.

Untuk menentukan informan kunci, ada beberapa hal yang saya harus ketahui, seperti; paham tema penelitian, punya jaringan ke informan lain, dan terakhir, orangnya pandemic aware.

Kedua, saya menggali data soal perkembangan penyebaran covid di daerah bersangkutan. Tempat-tempat yang saya mau kunjungi termasuk zona apa? Orang-orang yang saya ingin wawancarai, seperti apa riwayatnya.

Setelah proses ini selesai, perjalanan pun saya lakukan ke daerah. Tentunya, perjalanan sendiri,  dan memang sebaiknya sendiri. Jika naik kendaraan umum, sebaiknya cari yang penumpangnya sedikit. Tidak sekali pun saya  singgah di jalan, kecuali untuk buang air kecil. Itu pun dengan membersihkan tangan dengan hand sanitizer.

Saya juga menyiapkan kispray. Menurut beberapa artikel, pengharum untuk setrikaan ini bisa membunuh virus. Kispray saya fungsikan sebagai disinfektan. Baunya wangi dan tidak menyengat, seperti disinfektan biasa.

Ketika senja menjelang, saya tiba di lokasi penelitian. Saya mencari tempat menginap yang sepi. Saya sengaja memilih kamar yang dalam dua pekan tidak ada yang menempati.

Pemilik hotel malah menunjukkan kamar yang sepanjang 2020 (hingga Agustus) belum pernah dihuni. Sangat luas dan berjendela.

Saya langsung setuju dengan kamar tersebut. Karena lama tidak ditempati, begitu masuk, saya beri salam, membaca doa-doa dan beberapa ayat. Khawatirnya, nanti ada makhluk yang lebih halus dari corona tinggal di kamar ini.

Selama mencari data di lapangan, saya selalu menyiapkan masker, face shield, hand sanitizer, minyak kayu putih, dan obat-obat untuk menguatkan daya tahan tubuh.

Masker dan face shield selalu saya kenakan pada saat wawancara. Sedapat mungkin, menjaga jarak. Jika harus berjumpa dengan beberapa orang informan, menggunakan masker dan face shiled menjadi semakin ketat.

Saya melakukan wawancara awal biasanya singkat-singkat. Dalam wawancara awal itu, diam-diam saya mulai menyeleksi siapa yang akan saya dalami informasinya.

Pertimbangan untuk mendalami, tentu pertama-tama, karena keunikan informasi dan kedalaman pengetahuan terkait  tema penelitian saya.

Selanjutnya, saya mempertimbangkan kesadaran dia dalam mencegah penyebaran covid-19. Dan, lebih bagus lagi, kalau saya bisa memastikan yang bersangkutan aman covid.

Jika dua hal terakhir saya tidak yakini, sementara yang bersangkutan penting untuk diwawancarai, maka alternatifnya adalah tetap wawancara langsung dengan menggunakan masker, dilengkapi face shield, dan dengan jarak yang aman. Wawancara  digelar di tempat terbuka dan tidak ber-AC.

Sebagai catatan, karena lokasi saya sudah mengalami penurunan covid-19, maka sebagaian informan tidak terlalu ketat lagi menjalankan prosedur covid. Tetapi, saya sendiri tetap mengikuti secara disiplin protokol covid.

Saya sendiri berasal dari Makassar, dan masuk kategori zona merah. Setidaknya, saya harus menjaga informan dari kemungkinan terpapar virus.

Memang, penelitian saya kali ini tidak seasyik sebelumnya. Tetapi, setidaknya memberikan pengalaman berbeda. Saya menanggung rasa waswas, tetapi juga menikmati keseruan yang cukup menantang.

Namun, setelah turun lapangan, aura-aura informan saya, yang sudah santai menghadapi covid,  sedikit berimbas ke saya.

Setelah pulang penelitian, saya tidak memakai dua masker berlapis lagi jika keluar. Cukup satu saja. Dan, saya juga sudah berani memanggil pembersih air conditioner ke rumah. Turun lapangan memang penting rupanya.

Begitulah pengalaman saya meneliti di masa pagebluk corona. Apakah ini bisa disebut metode penelitian kualitatif dengan pendekatan pagebluk? Entahlah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *