Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Meneliti Budaya Sendiri, Mudahkah?

4 min read

Sumber foto: apkpure.com

9,864 total views, 2 views today

Oleh: Muhammad Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Barangkali, sebagian orang merasa kegirangan ketika ditugaskan meneliti di daerahnya sendiri. Dengan memasuki “kampung halaman”, mereka beranggapan akan mendapatkan banyak kemudahan, dan tentunya juga, privilege.

Namanya juga daerah sendiri, pastilah segala kemudahan sudah terbayang di depan mata. Setidaknya, mereka tak perlu lagi bersusah-payah memperkenalkan diri secara formalitas kepada warga masyarakat. Atau, “mengorek” beragam informasi untuk kepentingan risetnya.

Malah, boleh jadi, kedatangan mereka ke daerah sendiri, akan disambut riang gembira oleh penduduk setempat. Asik, kan?

Selain itu, namanya juga daerah sendiri, pastilah kita tak perlu terlalu memeras keringat mencari orang yang bakal dijadikan informan. Semua orang kita kenal dan akrab (rapport). Kita pun tahu, siapa orang-orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan riset kita.

Bahkan, peneliti sendiri pun, terkadang mengetahui apa makna di balik dari sebuah peristiwa kebudayaan tertentu, tanpa terlalu banyak bertanya kepada informan di lapangan.

Memang, banyak kemudahan yang diperoleh saat memasuki kampung sendiri. Yang paling terasa, adalah masalah administratif. Kita tidak direpotkan lagi dengan masalah tetek-bengek urusan penelitian, seperti pengurusan surat izin mulai tingkat provinsi hingga desa.

Pengurusan administrasi seperti ini, meski terkesan sepele, tetapi terkadang bikin kesal. Apalagi, kalau birokrasinya tampak berbelit-belit.

Dengan berbekal wajah yang dikenal, orang-orang yang ditemui pasti tidak mencurigai kedatangan dan aktivitas yang dilakukan selama berhari-hari, beberapa pekan, bahkan bulan, di kampung sendiri.

Paling-paling, ada warga yang merasa heran melihat tingkah laku kita, yang tiba-tiba rajin bertanya macam-macam mengenai suatu peristiwa tertentu. Biasanya, kalau sudah begini, kita kerap tidak memerlukan lagi surat izin penelitian.

Sensivitas

Tapi, jangan salah. Di balik kemudahan meneliti kebudayaan di kampung sendiri, ternyata ada juga sisi “kurang baiknya.” Mengapa? Rupanya, kedekatan peneliti dengan kebudayaan yang diteliti, bisa menyebabkan kehilangan rasa sensivitas terhadap data lapangan.

Sebagai orang yang mengamati budaya sendiri, hal-hal kecil justru kadang terlupakan, lantaran dianggap “sesuatu” yang biasa-biasa saja.

Boleh jadi, “sesuatu” yang sejak dulu dilihat dan bahkan ikut dilakukan, lama kelamaan lantas menjadi hal biasa, dan tak lagi menjadi penting.

Padahal, boleh jadi, “sesuatu” yang dipandang biasa-biasa oleh peneliti tempatan, justru dipandang penting oleh pandangan (peneliti) luar. Nah, di sinilah letak perbedaannya.

Sulaiman Al-Kumayi, ketika meneliti kebudayaannya sendiri untuk kepentingan disertasi, yang kemudian diterbitkan menjadi buku; “Islam Bubuhan Kumai; Perspektif Varian Awam, Nahu, dan Hakekat (2011)”, berterus terang mendapat banyak kemudahan.

Sama seperti kisah di atas, Sulaiman pun tak perlu lagi memperkenalkan diri kepada penduduk setempat. Alhasil, ia pun dengan leluasa  mengikuti ritual-ritual yang dilakukan oleh komunitas di daerahnya.

Meskipun begitu, dalam catatan yang dituangkan di bagian metodologi pengumpulan data, ia tidak menyebutkan dirinya tengah melakukan penelitian pada beberapa orang.

Apabila mengetahui sedang riset, ia khawatir penduduk akan memperlakukannya dirinya “berbeda”, sehingga kesannya tidak natural lagi.

Selain itu, meneliti di kampung sendiri, juga mendatangkan kekhawatiran akan kelupaan atau mengabaikan data sepele tetapi “unik”, tanpa disadari. Padahal, dalam penelitian antropologi, seperti dilakukan Sulaiman, sesuatu yang “unik” itu penting, dan memerlukan pendalaman holistik.

George Aditjondro

Jika di bagian atas tulisan ini “berceloteh” tentang peneliti yang meneliti kebudayaan sendiri, maka pada bagian ini, saya berkisah tentang peneliti luar, yang bertransformasi dan kemudian terinternalisasi menjadi “orang dalam,” atau meminjam istilah George Junus Aditjondro, “the danger of going native,” “bahaya menjadi lebih ‘asli’ ketimbang orang asli.”

Sebenarnya, istilah tersebut didapatkan Aditjondro dari Milton L. Barnett, dosen yang mengajarinya antropologi terapan di Cornell University.

Menurut Aditjondro, mengutip omongan dosennya, kita harus berhati-hati terhadap sikap “the danger of going native,” saat mempelajari lika-liku kebudayaan suatu kelompok, komunitas, dan atau suku bangsa.

Tak tanggung-tanggung, dalam makalah yang diberi judul Terlalu Bugis-Sentris, Kurang ‘Perancis’ (2006), Aditjondro jelas-jelas menyentil dua peneliti asing kawakan, yang buku-bukunya kerap menjadi rujukan peneliti dalam dan luar negeri; Ben Anderson dan Christian Pelras, sebagai “the danger of going native.”

Anderson sendiri merupakan dosen Aditjondro di Cornell. Selama kuliah di sana, Anderson disebut-sebut juga banyak membantu penyelesaian studi dosen dan aktivis kelahiran 1946, itu.

Dalam sentilannya, Aditjondro memandang Anderson, yang telah banyak menghasilkan penelitian lapangan di Jawa, sebagai “lebih Jawa dari orang Jawa.”

Mengapa? Bagi Aditjondro, penulis Imagined Communities, itu acap kali melontarkan kritikan terhadap kramanisasi dalam budaya politik Indonesia. Tapi, dalam pergaulan dengan para mantan mahasiswanya, Anderson justru bersikap sebagai begawan yang harus dihormati. Sikap inilah yang tidak dimengerti Aditjondro.

Begitupula Pelras. Pelras, dalam karya babonnya, Manusia Bugis, dianggap telah menjadi “lebih Bugis ketimbang orang Bugis sendiri.”

Hanya saja, untuk Pelras, Adijtondro memberikan catatan plus dan minus terhadap keakraban dan kedekatannya dengan orang-orang yang diteliti.

Sisi positif Pelras adalah, ia berhasil menunjukkan, bahwa tidak ada lagi tembok pemisah antara pandangan “dari dalam” (emik) dan pandangan “dari luar (etik). Sebagai orang yang lama tinggal di Bugis, terlebih lagi fasih berbahasa Bugis, Pelras tentunya tidak membutuhkan lagi penerjemah.

Tak heran, dalam Manusia Bugis, Pelras mampu merinci sejarah pasang surut kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, dinamika islamisasi, hingga rahasia tempat tidur orang Bugis.

Sementara bagian negatifnya, kepekaan terhadap nuansa-nuansa ketidakadilan di dalam komunitas yang diteliti, bisa saja sangat berkurang. Peneliti akan menjadi “pembela” komunitas tersebut, tetapi menanggalkan keilmuannya.

Dalam tulisan Pelras, Aditjondro memberikan salah satu contohnya. Bahwa, menurut orang Bone, pahlawan nasional adalah Arung Palakka, bukan Sultan Hasanuddin.

Sayangnya, kata Aditjondro, Pelras tidak mempertanyakan indikator kepahlawanan yang lazim digunakan di Indonesia, seperti perlawanan terhadap kekuatan asing, bukan perebutan kekuasaan di antara kerajaan-kerajaan pribumi.

Dalam hal ini, Pelras dipandang bertindak bukan sebagai ilmuwan, melainkan penatar P-4. Sebagai ilmuwan sosial, Pelras seolah melupakan pesan Max Weber, bahwa tugasnya bukanlah memberikan penilaian baik atau buruk, melainkan lebih kepada berusaha untuk memahami (verstehen) gejala-gejala.

Lantas, kalau disuruh memilih; meneliti budaya sendiri atau meneliti budaya luar? Jawaban terbaik, tentunya, berpulang kepada peneliti bersangkutan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *