Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Moderasi Beragama Melalui Pribumisasi Islam

5 min read

Pembacaan Kitab Barzanji di kalangan masyarakat Bugis di Makassar. Sumber foto: inibaru.id.

16,427 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Perjumpaan Islam dan budaya menuai beragam tanggapan dari kalangan ulama muslim. Kalangan yang berhaluan puritanis menentang segala bentuk “percampuran” unsur-unsur budaya lokal dalam praktik keberislaman. Menurut mereka, hal ini akan merusak kemurnian ajaran Islam dan merupakan praktik bid’ah yang terlarang dalam Islam.

Kalangan berhaluan moderat lebih bersikap akomodatif terhadap budaya lokal. Sikap ini kemudian diartikulasikan dalam beragam bentuk perjumpaan antara Islam dan unsur budaya lokal.

Moderasi Beragama, yang tertuang di dalam buku terbitan Kementerian Agama (2019), menyebutkan, salah satu indikator moderasi beragama adalah sikap akomodatif terhadap kebudayaan lokal.

Orang-orang yang moderat memiliki kecenderungan lebih ramah dalam penerimaan tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya.

Praktik keberagamaan yang moderat, ditandai dengan praktik keberagamaan yang tidak kaku. Di antaranya, kesediaan menerima praktik dan perilaku keberagamaan yang tidak semata-mata menekankan pada kebenaran normatif, namun menerima praktik beragama yang berartikulasi melalui integrasinya dengan tradisi atau kebudayaan lokal.

Pribumisasi Islam

Pribumisasi Islam merupakan salah satu bentuk praktik integrasi Islam dengan unsur tradisi lokal. Gagasan Pribumisasi Islam, secara geneologis dilontarkan pertama kali oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1980-an. Pribumisasi Islam, adalah ketika Islam dan tradisi lokal berintegrasi dan menghasilkan sebuah sintesis kebudayaan yang khas.

Menurut Gus Dur (2001), Pribumisasi Islam menggambarkan bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan, diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Sehingga, tidak ada lagi pemurnian Islam atau proses menyamakan dengan praktik keagamaan masyarakat muslim di Timur Tengah (Arabisasi). Karena Arabisasi atau proses mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah, berarti mencerabut karakteristik akar budaya pribumi.

Dalam hal ini, pribumisasi bukan upaya menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan budaya-budaya setempat. Akan tetapi, justru agar budaya itu tidak hilang. Inti pribumisasi Islam adalah kebutuhan, bukan untuk menghindari polarisasi antara agama dan budaya.

Pribumisasi Islam akan menjadikan perjumpaan Islam dan budaya lokal tidak saling mengalahkan, melainkan berwujud dalam pola nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuknya yang otentik dari agama, serta berusaha menemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya.

Intinya, pribumisasi Islam adalah memosisikan agama dan kebudayaan lokal bukan dalam relasi high and low culture. Tapi, keduanya diposisikan setara yang dapat saling memengaruhi secara sejajar. Pribumisasi Islam, adalah upaya akomodasi budaya lokal tanpa menggerus identitas dasar keIslaman.

Pribumisasi Islam akan berimplikasi pada terwujudnya model “Islam Pribumi” sebagai antitesa dari “Islam Otentik” atau “Islam Murni,” yang berorientasi pada proses Arabisasi pada setiap komunitas Islam.

“Islam Pribumi” justru memberi keanekaragaman interpretasi dalam praktik kehidupan beragama (Islam) di setiap wilayah yang berbeda-beda. Dengan demikian, Islam tidak lagi dipandang secara tunggal, melainkan beraneka ragam.

Dengan demikian, tak ada lagi anggapan Islam yang di Timur Tengah sebagai Islam yang murni dan paling benar. Karena, Islam sebagai agama mengalami historisitas yang terus berlanjut.

Menurut Ahmad Baso (2006), Pribumisasi Islam, bukan menempatkan Islam sebagai “ideologi dominan” yang memisahkan dengan tegas antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Dalam pribumisasi, Islam ditampilkan sebagai “the hope’, atau lebih tepatnya, “kekuatan transformatif tanpa label Islam.”

Pribumisasi Islam akhirnya melahirkan beraneka ragam wajah Islam berbeda-beda. Pribumisasi Islam, pada praktiknya, memberikan peluang bagi hadirnya keanekaragaman interpretasi dalam praktik kehidupan keberagamaan pada setiap wilayah yang berbeda-beda.

Hal seperti ini sangat dimungkinkan, sebagaimana diungkapkan Amartya Sen (2007), bahwa perilaku sosial orang-orang yang seagama pun bisa sangat berbeda-beda, dan bahkan, dalam bidang-bidang yang dianggap erat kaitannya dengan agama.

Perbedaan tersebut di antaranya disebabkan oleh kontekstualisasi agama (Islam) dengan lokalitasnya masing-masing. “Islam Pribumi” akhirnya lebih berideologi kultural yang tersebar (spread cultural ideology), bukan pada wajah Islam yang tunggal, melainkan wajah Islam yang plural.

Bukan Sinkretisme

Pribumisasi bukanlah sinkretisme. Sebab, Pribumisasi Islam hanya mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lokal dalam merumuskan hukum-hukum agama, tanpa mengubah hukum itu sendiri.

Pribumisasi bukan upaya untuk meninggalkan norma agama demi budaya, tetapi agar norma-norma tersebut dapat menampung kebutuhan-kebutuhan budaya dengan mempergunakan peluang yang disediakan oleh berbagai pemahaman.

Sementara sinkretisme, adalah upaya untuk mencampurkan agama dengan tradisi lokal tanpa mempertimbangkan norma dasar agama, termasuk di antaranya aspek-aspek yang mendasar. Sehingga, sinkretisme lebih cenderung pada pola kebudayaan yang mengalahkan agama.

Perbedaan lain yang mendasar antara pribumisasi dan sinkretisme, adalah dalam pribumisasi hubungan agama (Islam) dan budaya lokal adalah hubungan dialektis-emansipatoris dan konstruksi bersama antara Islam dan budaya lokal.

Sedangkan pada model sinkretisme sangat menunjukkan dominasi budaya lokal atas agama. Agama hanya menjadi legitimasi yang bersifat nominal dan berada pada aspek luaran saja. Sebab, inti dari semuanya adalah budaya lokal dan Islam hadir tidak mampu menembus bagian inti dari budaya lokal.

Proses Timbal-Balik

Pribumisasi merupakan proses timbal balik yang produktif dan kreatif, serta melibatkan subjek-seubjek aktif dalam melakukan akomodasi, negosiasi, dialog, maupun resistensi.

Dengan kata lain, dalam konteks kesejarahannya, relasi kuasa dan hubungan antar kekuatan dominasi dan subordinasi. Pribumisasi merupakan arena kontestasi, di mana makna dipertarungkan dan tidak diletakkan dalam perspektif dominan semata (Ahmad Baso, 2002).

Dengan demikian, pribumisasi adalah pola integrasi antar kebudayaan tanpa ada dominasi maupun hegemoni, antara satu kebudayaan yang datang dengan kebudayaan tempatan (lokal).

Pribumisasi bukan berarti tidak ada resistensi dan negosiasi. Dalam pribumisasi, tetap ada resistensi dan negosiasi representasi kebudayaan. Namun, resistensi dan negosiasi tersebut pada gilirannya diorientasikan untuk mampu membereskan berbagai hegemoni.

Karena itulah, dalam pribumisasi tak ada tempat bagi dominasi dan hegemoni suatu tradisi atas tradisi yang lain, karena dua tradisi (Islam dan lokalitas) berjalin-kelindan dan saling mengisi tanpa menegasi substansi masing-masing.

Mulkan (2007), mengemukakan, menjadi pribumi atau Pribumisasi Islam dan Islam Indonesia, mencerminkan kebudayaan yang memperoleh peluang yang luas dan terbuka, tanpa harus terjebak dalam paradigma absolutisme wahyu.

Islam pribumi sebagai hasil dari Pribumisasi Islam, bukanlah Islam yang bergerak pada wilayah yang menyangkut inti keimanan dan peribadatan formal. Ia hanya merupakan manifestasi kehidupan Islam belaka.

Oleh karenanya, Islam tetaplah Islam, di manapun berada. Namun, ini tidak berarti penyeragaman wajah Islam dalam bentuk kulit luarnya (Wahid, 2001).

Karena, ketika Islam menjumpai varian kultur lokal, maka yang segera berlangsung adalah aneka proses simbiosis yang saling memperkaya. Akhirnya, muncullah beragam varian Islam.

Kemampuan Islam menyerap semua tradisi yang datang dari pelbagai wilayah yang dimasukinya, telah menjadikannya semakin kaya dan beragam. Hal ini semakin meneguhkan, Islam adalah agama universal, kontekstual, dan senantiasa sesusai dengan segala waktu dan tempat.

Imdadun Rahmat (2003), menyebut, karakteristik yang melekat dalam wajah Islam pribumi adalah sifatnya yang kontekstual, toleran, menghargai tradisi, progresif, dan membebaskan. Karakteristik tersebut menegaskan, bahwa pribumisasi Islam merupakan salah satu bentuk nyata dari praktik moderasi beragama.

Kontekstual, yaitu Islam dipahami sebagai ajaran yang terkait dengan konteks zaman dan tempat. Toleran adalah penerimaan terhadap keragaman tafsir, sehingga melahirkan sikap toleran terhadap berbagai perbedaan tafsir Islam.

Islam pribumi adalah Islam yang menghargai tradisi lokal, dan justru tradisi lokal menjadi sarana vitalisasi nilai-nilai Islam. Islam pribumi menerima aspek progresif dari ajaran dan realitas yang dihadapinya. Islam pribumi berkarakter membebaskan, karena menjawab problem-problem nyata kemanusiaan secara universal.

 Islam tidak datang untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan untuk aku jadi ana, sampean jadi antum, sedulur jadi akhi. Pertahankan apa yang jadi milik kita, kita harus serap ajarannya, bukan budaya Arabnya.” (Gus Dur). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *