Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Kurban: Sebuah Ritus Universal

5 min read

Sumber foto: dakwatuna.com

14,815 total views, 1,160 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tradisi Semua Agama

Dalam tradisi agama dan keperccayaan mana pun, kita akan temukan kesamaan mengenai beberapa ritus penting berkenaan relasi manusia dan sosok Adikodrati (Tuhan atau Dewa).

Kurban, sebagaimana ibadah seperti puasa, doa, dan haji (ziarah), adalah ibadah universal yang bisa kita jumpai dalam beberapa ajaran agama, baik agama dalam bentuknya yang modern dan global, hingga pada agama dalam bentuknya yang tradisional sebagai sebuah kepercayaan lokal.

Ritus kurban adalah, yang dengannya manusia religious melakukan persembahan diri kepada Dewa atau Tuhan, melalui sebuah pemberian yang berharga. Berkurban adalah tindakan religius, yang dengannya pemeluk agama dan keyakinan datang menghampiri Tuhannya.

Kurban adalah ritus universal, yang dalam praktiknya pada tiap-tiap agama dan tradisi, selain terdapat perbedaan, juga memiliki beberapa kemiripan. Yaitu; kurban dilaksanakan pada momen tertentu dan adanya sesuatu yang dikurbankan. Kurban biasanya berupa penyembelihan binatang ternak tertentu untuk dipersembahkan kepada Tuhan atau Dewa.

Godfrey Ashby (dalam Singgih, 2017), menjelaskan, hal-hal berkenaan dengan kurban, yang berlaku pada semua jenis upacara kurban pada berbagai tradisi agama.

Pertama; dalam upacara kurban ada drama, ritus, dan ibadah; kedua, keyakinan mengenai adanya perubahan pada objek yang dikurbankan dan subjek yang berkurban; dan ketiga, bahan material kurban adalah objek-objek biasa yang dekat dengan kehidupan suatu kelompok masyarakat atau kampung.

Upacara kurban adalah ritus dan ibadah yang dikaitkan dengan suatu momen drama kehidupan. Dapat berupa siklus hidup (life cycle), drama historis untuk mengenang suatu peristiwa atau tokoh tertentu, “penebusan dosa” dan pertobatan, maupun sebagai sarana ucap syukur atas karunia Tuhan.

Sebagai sebuah ritus, upacara kurban menurut Dhavamony (1995), adalah bentuk pertukaran antara manusia dan sosok Adikodrati. Upacara kurban adalah bentuk komunikasi non-verbal antara manusia dan Sang Adikodrati yang meliputi persembahan, persekutuan, penebusan (dosa), maupun ungkapan syukur.

Akikah, idul kurban, kaffarat atau dam, serta penyembelihan hewan sebagai ungkapan syukur atau pemenuhan hajat/nazar, merupakan contoh ritus kurban dalam tradisi agama Islam.

Objek kurban diyakini mengalami perbuahan trans-susbtansial. Binatang yang dikurbankan diyakini mengalami perubahan dari sekadar makhluk fisik menjadi makhluk metafisik, dan menjadi medium yang mendekatkan manusia dengan Tuhan.

Mengutip H. Hubert, Dhavamony (1995) menjelaskan, “ritual kurban adalah tindakan religious, yang dengan melalui penyucian kurban akan mengubah keadaan moral orang-orang yang melakukannya, serta mengubah keadaan akan hal-hal tertentu yang dimaksudkan.”

Barang yang dikurbakan adalah hal yang dekat dengan keseharian masyarakat dari semua lapisan. Sehingga, biasa yang dikurbankan berupa binatang ternak yang umum pada masyarakat itu.

Pun, jika yang dikurbankan bukan binatang ternak seperti pada tradisi pengurbanan di beberapa suku, objek pengurbanan adalah hasil bumi yang umum dihasilkan di daerah tersebut.

Akar Primordial

Kata kurban (dalam bahasa Inggris disebut sacrifice) berasal dari bahasa Arab, yaitu qaraba yang berarti dekat.

Oleh karena itu, tujuan berkurban adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kurban berarti upaya untuk mendekatkan diri dengan menunjukkan bukti sebagai tanda keseriusan.

Akar primordial dari tindakan kurban adalah fitrawi manusia, yang memiliki kecenderungan pada pemujaan atau pengkudusan (idolatry) pada sosok yang dianggap agung atau sakral, yang memiliki kekuatan adiduniawi. Sosok tersebut adalah Tuhan Yang Maha Agung.

Berangkat dari kecenderungan fitrawi akan pemujaan dan pengkultusan tersebut, serta adanya tarikan “kerinduan eksistensial” yang kuat secara imanen akan Sang Ilah inilah, manusia kemudian “berkepentingan” untuk memberikan persembahan istimewa pada Sang Khalik.

Di sinilah, ritus kurban menemukan akar primordialnya. Bahwa, berkurban adalah sebuah ritus persembahan seorang manusia yang dengan segala kelemahannya, pada Tuhan yang dengan segala keagungannya sebagai tempat dia bergantung.

Dengan berkurban, manusia menemukan medium untuk memberikan persembahan sebagai manifestasi pemujaan, pengkudusan, hajat dan rasa syukur serta pengharapan akan kedekatan diri pada Sang Maha Agung tersebut.

“Persembahkanlah syukur sebagai kurban kepada Allah dan bayarlah nazarmukepada yang Maha Tinggi” (Mazmur 50:14).

Pada praktiknya di beberapa tradisi kepercayaan, kurban terkadang selain ditujukan kepada Allah, juga ditujukan kepada makhluk-makhluk ghaib guna membangun keharmonisan. Atau, kepada roh leluhur sebagai penghormatan atau hadiah untuk bekal perjalanan arwahnya menuju alam keabadiaan.

Syariat Purba

Kurban merupakan salah satu syariat paling “purba” yang Allah tetapkan kepada manusia. Dalam tradisi agama Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam), hukum kurban pertama kali ditetapkan oleh Allah kepada manusia atas dua putra Adam, yaitu Qabil (kain) dan Habil (Habel).

Alkisah, ketika dua putra Nabi Adam tersebut memberikan persembahan kurban kepada Allah. Qabil mempersembahkan hasil pertaniannya sebagai kurban dan Habil mengurbankan domba gembalaan terbaiknya.

Diceritakan dalam Surat al-Maidah (5): 27, Allah menerima kurban dari Habil dan hal ini memantik kemarahan Qabil, dan ia mengancam untuk membunuh saudaranya tersebut, dengan santai Habil menjawab: “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Kisah ini juga diceritakan di Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 4:3-5, pengurbanan dua anak Adam yang berujung pada terjadinya tragedi pembunuhan perdana dalam sejarah generasi Adam.

Al-Qur’an menjelaskan kurban sebagai salah satu “syariat purba” dalam surat al-Hajj (22);34, sebagai berikut:

Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekiakan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk.

Tradisi Abrahamic

Dalam tradisi dan ajaran agama Semit, perintah kurban didasarkan atas dramapsiko-historis yang dialami Ibrahim (Abraham), yang bermaksud menyembelih putranya demi memenuhi perintah Allah.

Tradisi Biblikal dan Islam berbeda pandangan soal siapa putra tunggal Ibraham tersebut. Yahudi dan Kristiani meyakini, putra Abraham tersebut adalah Ishaq, sedangkan dalam tradisi Islam, putra yang dimaksud adalah Ismail.

Pada akhirnya, Ibrahim hanya diuji keimanan dan kecintaannya oleh Allah. Pengorbanan Putranya kemudian diganti Allah dengan seekor domba (Kejadian 22: 12-13). Al-Qur’an menyebut, bahwa putra Ibrahim ditebus dengan “sembelihan yang agung” (QS as-Shaffat (37): 107).

Ali Syari’ati, dalam buku Haji (2002), mendeskripsikan secara puitis kondisi psikologis yang dialami Nabi Ibrahim as pada saat turun perintah kurban tersebut;

Ibrahim mempunyai dua alternatif, mengikuti jeritan hatinya dan “menyelamatkan” Ismail, atau mengikuti perintah Tuhan dan “mengurbankan” Ismail. Ibrahim harus memilih salah satu!. “Cinta” dan “kebenaran”, sedang berkecamuk dalam hatinya (cinta yang merupakan kehidupannya dan kebenaran yang merupakan keyakinannya).

Konteks Sosial

Upacara kurban dalam bentuk yang paling khasnya pada tradisi Bangsa Semit, atau mungkin juga dalam tradisi bangsa-bangsa yang lain, adalah kurban sebagai suatu upacara perjamuan.

Perjamuan kurban, menurut Robertson Smith (dalam Dhavamony, 1995), merupakan ungkapan yang tepat untuk cita-cita kuno kehidupan yang religious.

Melalui perjamuan, kurban kemudian menjadi simbol sekaligus penegasan persahabatan (fellowship) dan tuntutan-tuntutan sosial bersama.

Ritual kurban akhirnya memiiki relevansi pada dua pertalian, yaitu vertikal sebagai persembahan dan horisontal sebagai persahabatan.

Dengan demikian, kurban akhirnya bukan sekadar ritus universal dari berbagai agama. Akan tetapi, kurban juga merepresentasikan universalitas ajaran agama yang vertikal (teologis) dan horisontal (sosiologis).

Kurban bukan hanya memiliki nilai kesalehan spiritual (vertikal), tetapi juga memiliki nilai kesalehan sosial (horisontal). Kurban bukan hanya bentuk penyerahan diri kepada Sang Pencipta, tetapi bentuk kepedulian antarmanusia.

Di dalam ibadah kurban, kita dituntut untuk membagikan kurban kita kepada orang-orang tak berpunya. Sebab, sejatinya, yang membutuhkan uluran tangan kita adalah mereka, bukan Tuhan yang mensyariatkan kurban

Hal tersubstantif dari kurban adalah derajat ketulusan kita untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan ketulusan kita untuk berbagi kepada sesama. Hal ini diingatkan oleh Allah dalam firmanNya;

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah dan tidak (pula) darahnya, tetapi takwa daripada kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al-Hajj (22): 37). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *