Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku Sosiologi Phil Zuckerman: “Masyarakat Tanpa Tuhan”

5 min read

Foto: M. Irfan

9,096 total views, 28 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku                : Masyarakat Tanpa Tuhan (versi Indonesia, 2018)

Penulis                        : Phil Zuckerman

Penerbit                      : Basabasi, Yogyakarta

Jumlah Halaman    :464

Terbit pertamakali dengan judul: Society Without God, New York University Press (2008)

JULI 2020, dunia menjadi ramai membincangkan Hagia Sophia. Tentunya, dengan pro dan kontra atas putusan kontroversial tersebut.

Hagia Sophia seolah menjadi penegas, bahwa di akhir dekade kedua millennium ketiga, simbolitas agama masih kukuh “menguasai” nalar banyak warga dunia.

Ketika Pemerintah Turki memutuskan “mengembalikan” fungsi Hagia Sophia menjadi  masjid, sontak dunia “menyambut.”

Kalangan Muslim, utamanya yang berhaluan revivalis, gegap gempita menyambut. Sebaliknya, kalangan Kristiani menyatakan “duka” atas keputusan tersebut.

“Saat ini dunia tampak lebih religious dari sebelumnya.” Demikian kalimat pembuka Phil Zuckerman dalam pengantar bukunya, “Masyaraat Tanpa Tuhan.”

Mulai dari Timur-Tengah hingga Amerika Latin, dari Asia Tenggara hingga Barat Afrika, komitmen agama bangkit kembali. Mungkin inilah yag disebut Peter Berger (2001), “Sebagian besar dunia terbuai oleh gairah-gairah religious.”

Phil Zuckerman, Profesor Sosiologi, dari Pitzer College California, selama 14 bulan dari Mei 2005 hingga Juli 2006 melakukan riset di Denmark dan Swedia,  dua negara Skandinavia yang masyarakatnya memilih untuk tidak religious di tengah masyarakat dunia yang semakin religious.

Masyarakat tanpa Tuhan, tentu sebuah topik yang sensitif bagi sebagian (besar) orang. Mereka yang agamis mungkin akan berpikir, dunia akan menjadi neraka jika tanpa kepercayaan pada Tuhan dan agama.

Amoralitas merajalela, kejahatan di mana-mana, masyarakat menjadi bebas nilai dan tak acuh pada sakralitas dan etika kemanusiaan.

Filosof Mazhab Frankfurt sekaliber Max Horkhaimer pun pernah berujar, “Tanpa kepercayaan terhadap Tuhan, maka matilah kebenaran absolut, moralitas menjadi selera subjektif dan politik hanya menjadi bisnis semata.”

Benarkah seperti itu…??? Ternyata, tidak berlaku pada masyarakat Skandinavia. Sebuah riset menunjukkan, hanya 24% warga Denmark dan 16% warga Swedia yang percaya kepada “Tuhan Pribadi”.

Bandingkan dengan Amerika yang 90% warganya mengklaim percaya kepada Tuhan.

Denmark dan Swedia, dua negara dengan penyembahan terhadap Tuhan yang melemah, doa-doa yang nyaris berhenti, dan kitab suci yang hampir tak lagi dipelajari. Hanya 12% warga Denmark dan 9% warga Swedia yang menghadiri pelayanan di gereja. Setidaknya sekali dalam sebulan.

Apakah kehidupan masyarakat Denmark dan Swedia menjadi permissif dan kacau? Ternyata tidak.

Denmark dan Swedia, adalah dua negara dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah, perekonomian yang maju, kemakmuran yang merata, polusi yang minimal dan berbagai indikator kesejahteraan lainnya.

Tanpa keyakinan tentang kehidupan pasca kematian, menurut temuan Zuckerman, mereka cenderung menyambut kematian dengan tenang. Bagi mereka, mati ya mati, “Ketika semua harus berakhir maka berakhirlah tanpa harus takut.”

Ketika di belahan dunia lain, politisi “menjual” simbol agama dan kesalehan demi meraup elektoral. Sebaliknya di kedua negara tersebut.

Menurut survei, hanya 8% masyarakat yang percaya, bahwa “hanya politisi yang bertuhan saja yang layak menjadi pejabat publik.”

Denmark dan Swedia, negara di mana, ketika seorang politisi menampilkan religiusitasnya secara vulgar di depan publik, maka dipastikan politisi tersebut akan kehilangan pekerjaannya.

Dengan tanpa menyertakan keimanan, justru Denmark dan Swedia berhasil membuktikan diri sebagai negara dengan tingkat korupsi terendah di dunia (Denmark urutan keempat dan Swedia urutan ketujuh terbawah di dunia dalam hal tingkat korupsi).

Phil Zuckermann menuliskan penelitiannya di buku ini dalam bentuk percakapan dengan orang-orang Denmark dan Swedia yang diwawancarainya.

Zuckerman menceritakan secara detil pengalamannya, perjalanan dan jawaban-jawaban yang dia dapatkan selama riset berlangsung.

Apakah anda percaya adanya Tuhan? Apa Anda takut akan kematian? Menurut Anda, setelah mati, Anda akan pergi ke mana?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut umumnya dijawab dengan jawaban tak terduga; ”tidak percaya”, “tidak takut”, dan “mati, ya selesai”.

Buku ini menelusuri dengan lebih mendalam dan komprehensif, menjelaskan mengapa dan bagaimana masyarakat tertentu yang sangat tidak religious tapi bisa menciptakan harmoni sosial yang ideal.

“Saya tidak menghindari fakta sosiologis yang menarik bahwa di sini adalah masyarakat yang agamanya jelas lemah, namun pada saat yang sama, mereka sangat sehat, berfungsi dengan baik, dan sangat bijaksana. Demikian Zuckerman menulis testimoninya.

Apakah, Zuckerman melalui buku tersebut menawarkan ireligusitas sosial sebagai jalan terang menuju masyarakat ideal?

Meski Zuckermann mengakui dirinya adalah seorang yang tak percaya Tuhan, namun dia tidak berkesimpulan, bahwa dengan tanpa keyakinan pada Tuhan, masyarakat pasti mencapai “idealitanya” seperti di Skandinavia.

Zucekrmann dengan fair mengajukan pembanding seperti China, Korea Utara, Uni Sovyet dan Albania.

Negara-negara tersebut dapat dijadikan contoh sebagai negara yang ireligius bahkan seperti Albania yang dinyatakan sebagai negara “ateis” di dunia. Tetaplah sulit dikarakterisasi sebagai contoh masyarakat yang sehat.

Mengapa demikian? Karena pengabaian agama (dan Tuhan) di negara-negara tersebut dipaksakan oleh diktator-diktator kejam yang memaksakan ketidakberimanan mereka kepada rakyat.

Antitesa

Denmark dan Swedia adalah dua negara yang sampai seperti sekarang ini setelah melalui sebuah proses yang evolutif. Meski ireligius, mereka tidak lantas bersikap anti agama, mereka memperlakukan agama sebuah tradisi, budaya dan kebiasaan yang telah mengakar.

Sehingga, tak perlu heran, jika mereka tetap menjalani pemberkatan pernikahan, melakoni upacara kematian, dan membaptis anak-anak mereka di gereja, untuk tiga hal inilah, setidaknya orang Skandinavia masuk ke gereja. Bagi mereka, ketiga hal tersebut dijalankan sebagai tradisi bukan karena keimanan.

Benar, bahwa umumnya orang Denmark dan Swedia, hanya masuk gereja untuk tiga momen (baptis, pernikahan, dan kematian). Namun, mereka tetap menghormati gereja sebagai simbol identitas nasional. Geraja adalah “monumen” tua yang megah dan bercahaya.

Mereka sangat menikmati bunyi lonceng gereja setiap Minggu pagi, meskipun tidak benar-benar memotivasi mereka untuk ikut serta dalam peribadatan dan pelayanan di gereja.

Bagaimana dengan kitab suci? Hanya 7% warga Denmark dan 3% warga Swedia yang benar-benar percaya, bahwa Bibel adalah benar-benar perkataan Tuhan.

Namun, mereka tetap memuji Bibel sebagai buku yang bagus, berisi pelajaran moral dan mengandung kisah-kisah yang inspiratif dan penuh dengan kebijaksanaan.

Hal lainnya yang unik menurut Zuckerman, adalah meski mayoritas warga kedua negara tersebut menyatakan diri tidak percaya Tuhan, mereka tetap enggan melabeli diri mereka sebagai ateis. Karena bagi mereka, ateis itu terlalu negatif, terlalu menghina dan terlalu fanatik.

Denmark dan Swedia adalah antitesa dari model ketidakberimanan yang juga terkadang “genit”, bahkan sama genitnya dengan keberagamaan yang simbolik dan propagandis. Beriman atau tidak bagi  mereka adalah pilihan personal yang harus dihargai.

Refleksi

Fakta, bahwa di Skandinavia, kehidupan sosial bisa menjadi sangat sehat meski tanpa kepercayaan terhadap Tuhan dari umumnya masyarakat, bukan berarti membenarkan ketidakberimanan sebagai hal yang shahih.

Sebaliknya, fakta di negara-negara yang masyarakatnya sangat agamis, namun distabilitas sosial merajalela, tidak lantas menjadi dalil bahwa agama adalah “biang kerok” dari distabilitas sosial yang terjadi.

Fakta dari Skandinavia tidak lantas memfalsifikasi agama sebagai cita kebenaran ideal. Agama sebagai sebuah kebenaran ideal tetaplah absolut, meski di tangan penganutnya implementasi agama kerap menuai banyak anomali.

Lantas, bagaimana kita memosisikan temuan buku ini?, fakta dari negeri Skandinavia adalah refleksi bagi kita yang menjunjung tinggi agama sebagai nilai yang adiluhung dan petunjuk yang ideal.

Pilihan kepercayaan akan ketidakpercayaan masyarakat Skandinavia tentu harus kita hargai, tak perlu mengutuk pilihan tersebut sebagai sebuah pengingkaran serta tak juga lantas dengan latah menduplikasinya sebagai jalan yang ideal.

Masyarakat Skandinavia justru mengajarkan bahwa  pilihan kepercayaan tak perlu “digenggam” dengan fanatik dan menghina pilihan orang lain.

Menghargai kemanusiaan adalah dasar dari implementasi atas semua pilihan, sehingga kemanusiaan adalah “kata kunci” yang mempertemukan segala perbedaan pilihan keyakinan.

Fakta sosial masyarakat Skandinavia, di satu sisi adalah “pukulan telak” bagi kita yang mengaku beriman, namun masih gagal mengkonversi iman menjadi “aman”. Sebuah refleksi kegagalan beragama (bukan kegagalan agama).

Sebagai orang yang beragama, tentu saya masih percaya bahwa jika nilai adiluhung dan pedoman agung dari agama benar-benar dihayati dan diimplementasikan akan lebih bisa mengantarkan masyarakat pada kesejahteraan lahir dan batin.

Tentu butuh komitmen yang tulus untuk menjadikan agama benar-benar sebagai pedoman nilai, bukan sekadar sebagai “pajangan” di ”etalase” politik. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *