Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

Media Massa & “Imajinasi yang Dibayangkan”

5 min read

Sumber gambar: emazi.home.blog

18,763 total views, 6 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dua orang tampak berdebat seru. Keduanya mendebatkan informasi yang sama-sama barusan mereka baca di salah satu media online. Menurut orang yang satu, informasi tersebut sudah benar, sedangkan orang satunya lagi menampik, dan menganggap informasi tersebut keliru.

Kejadian di atas memang hanyalah ilustrasi. Namun, kita seringkali menjumpai terjadi hal seperti itu, dan bahkan sampai menjurus kepada perseteruan, yang disebabkan oleh perbedaan pendapat akibat pemberitaan yang bersumber dari media massa atau media online.

Dalam sebuah berita mengenai suatu peristiwa atau fakta, apa yang dialami dua orang di atas, kerap saja terjadi. Sebuah berita ditanggapi dan ditafsir berbeda oleh pembaca.

Tentunya, yang paling parah, mereka yang tidak bersetuju dengan berita tersebut, lantas menilai berita itu sebagai hoax atau informasi keliru. Padahal, boleh jadi, berita tersebut benar, dan sesuai fakta di lapangan.

Yang paling terasa adalah ketika menjelang pesta pemilihan anggota legislatif dan pemilihan kepala daerah. Di sini, semua calon diyakini punya tim khusus untuk menangani dan mengelola media online (umumnya berupa website).

Nantinya, media online yang “diciptakan” oleh bakal calon inilah, akan menggarap dan menuliskan semua informasi bagus-bagus dan positif. Tujuannya, untuk menaikkan popularitas sang calon. Termasuk, tentunya, menjatuhkan calon lawan dengan menuliskan berita-berita kebohongan.

Tidak usah diceritakan secara mendetail bagaimana kerja-kerja tim media tersebut. Contoh konkrit yang dapat diamati adalah ketika pemilihan calon Presiden Indonesia 2019.

Kala itu, kita sebagai masyarakat awam terkadang sulit membedakan lagi mana berita benar dan hoax. Masing-masing pihak meyakini, meskipun hoax, tetapi kalau terus diberitakan berulang-ulang, akan dipercaya oleh masyarakat awam sebagai sebuah kebenaran.

Saat ini, sejak Covid-19 mulai menyerang Indonesia, kita juga disuguhkan oleh berita-berita mengerikan mengenai dampak dari wabah virus tersebut. Terutama, di awal-awal kemunculan wabah ini di Indonesia, Maret 2020. Selain bentuk tertulis, juga visual.

Masih ingat kan video-video yang menggambarkan orang-orang lagi berjalan di jalan raya, dan kemudian tubuhnya tiba-tiba ambruk berjatuhan? Tidak ada penjelasan lanjutan, apakah orang tersebut langsung mati atau pingsan.

Belum lagi, video-video lain, seperti memperlihatkan suasana mencekam di sebuah negara, di mana mayat-mayat bergelimpangan di jalanan dan kontainer sampah?

Untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19, pemerintah di Indonesia mengeluarkan beragam regulasi. Apalagi, wabah ini telah menjadi isu bersama, di hampir semua negara di dunia.

Maka, mulailah kita diperkenalkan istilah-istilah seperti lock down, social distancing, physical distancing, pembatasan sosial berskala besar, hingga mencapai puncaknya, new normal.

Namun, meskipun pemerintah telah menetapkan kenormalan baru, kita dianjurkan untuk tetap menjalani protokol kesehatan sesuai standar operating procedure (SOP), seperti menggunakan masker, menghindari kerumunan, serta rajin mencuci tangan dengan sabun.

Saya tidak akan berbicara panjang lebar mengenai Covid-19. Sudah banyak sekali yang mengulasnya. Apalagi, kini, pendapat tenaga kedokteran pun terbelah melihat virus ini.

Perdebatan kalangan medis kedokteran ini bisa kita baca di Facebook, Twitter, dan sebagainya. Intinya, ada yang tetap memandang virus ini sangat berbahaya dan mematikan. Tetapi, ada juga beranggapan sebaliknya.

Orde Baru

Tak bisa dipungkiri, apa yang disajikan oleh media, ikut mempengaruhi mindset dan tindakan sebagian besar masyarakat.

Pada masa Orde Baru, misalnya. Sumber informasi yang kita dapatkan cuma satu. Untuk televisi, pemerintah menyediakan TVRI. Sementara untuk mendengarkan berita-berita terkini, tersedia RRI.

Karena pemerintah melarang media massa lain berdiri, TVRI dan RRI kemudian menjadi satu-satunya sumber informasi. Alhasil, TVRI dan RRI menghegemoni pikiran dan tindakan masyarakat Indonesia.

Kata Gramsci, media massa, sekolah, rumah ibadat, hingga arsitektur, merupakan institusi dan strukturnya sebagai “alat hegemoni.” Ia merupakan “tangan-tangan” kelompok pemegang kuasa untuk menentukan ideologi yang mendominasi, yang dimanfaatkan untuk mensosialisasikan dan mempertahankan ideologi hegemonik.

Dan, sebagai satu-satunya sumber informasi, apa yang kita dilihat dan dengar, menjadi “kebenaran tunggal.” Ketika TVRI memperlihatkan kondisi sosial politik di suatu daerah yang tampak aman-aman saja, semua orang lantas percaya kondisinya memang seperti itu.

Imajinasi yang Dibayangkan

Dengan tayangan terus-menerus dan berulang-ulang tentang kondisi di Indonesia, saya lalu teringat buku Ben Anderson; Imagined Communities.

Jadi, apa yang kita saksikan melalui tayangan TVRI mengenai kondisi sosial politik yang “baik-baik saja”, sesungguhnya adalah sesuatu yang dibayangkan. Sebab, banyak juga sesuatu yang sengaja disembunyikan, yang menunjukkan kalau Indonesia sedang “tidak baik-baik saja.”

Soal “imajinasi yang dibayangkan”, dikemukakan pula Antropolog dan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Heddy Shri Ahimsa Putra.

Ahimsa mencontohkan, karakter bangsa Indonesia yang acap kali disaksikan melalui tayangan media massa (terutama televisi), yang digambarkan santun, ramah, dan religius, sebenarnya adalah karakter yang terbayangkan.

“Karakter bangsa yang kita pikir merupakan sesuatu yang melekat pada kita ternyata adalah “imagined character” (karakter yang dibayangkan). Imagined community ini menurut bangsa kita (atau sebagian orang Indonesia) memiliki karakter,” kata Ahimsa.

“Setelah saya teliti lebih lanjut, karakter ini pun ternyata imagined. Jadi, karakter bangsa adalah “karakter yang dibayangkan”, bukan sesuatu yang benar-benar ada,” lanjut Ahimsa, pada sebuah diskusi dengan sejumlah Antropolog Indonesia, beberapa tahun lalu.

Positivisme & Konstruksivisme

Berita-berita di media massa, tidak selamanya bisa dilihat “hitam putih.” Artinya, berita yang hadir di hadapan kita, tidak selamanya polos.

Sebelum diterbitkan, ia juga melalui beberapa tahapan proses, termasuk misalnya, “campur tangan” redaktur atau jajaran dewan redaksi.

Saya menyukai artikel Masnur Muslich, “Kekuasaan Media Massa Mengonstruksi Realitas,” yang dimuat Jurnal Bahasa dan Seni, 2008.

Ada perspektif menarik yang ditampilkan Masnur, yang ia kutip dari sejumlah pengamat media massa mengenai pandangan Positivisme dan Konstruktivisme. Saya tertarik melihat dua pandangan ini, apalagi kalau mengaitkan dengan sebuah peristiwa yang tengah kita baca.

Pandangan positivisme memahami media massa sebagai alat penyaluran pesan dan sarana bagaimana pesan tersebut disebarkan dari komunikator (wartawan) kepada khalayak (pendengar dan pembaca).

Dalam arti kata, pandangan Positivisme melihat, media massa betul-betul sebagai alat yang netral, dan menyampaikan suatu peristiwa atau realitas yang sesungguhnya, tanpa ditambahi dan dikurangi.

Sementara pandangan Konstruksivisme adalah, media massa tidak hanya penyalur pesan, melainkan juga subjek yang mengatur realitas, lengkap dengan pandangan bias, dan pemihakannya.

Dalam pandangan Konstruksivisme, media massa menjadi agen konstruksi sosial yang mendefinisikan realitas. Apa yang kita baca dan dengar setiap hari, tulis Masnur dalam artikelnya, merupakan produk dari pembentukan realitas oleh media. Media adalah agen yang secara aktif menafsirkan realitas untuk disajikan kepada khalayak.

Mengutip Hallin dan Mancini (1985), Positivisme memandang berita sebagai informasi, yang dihadirkan kepada khalayak sebagai representasi dari kenyataan.

Di sini, kenyataan ditulis kembali, dan kemudian ditransformasikan lewat berita. Dalam istilah Hallin dan Mancini, berita merupakan mirror of reality, karena mencerminkan realitas yang akan diberitakan.

Pandangan Konstruksivisme, justru beranggapan sebaliknya. Hallin dan Mancini (dalam Masnur, 2008), menyebutkan, berita diibaratkan sebuah drama yang tidak menggambarkan realitas. Ia adalah potret dari arena atau panggung pertarungan dari berbagai pihak berkaitan sebuah peristiwa.

Keberpihakan media massa terhadap sebuah peristiwa mulai tampak pada pemilihan judul maupun isi berita yang disajikan. Dalam hal ini, media memilih kejadian mana yang akan mereka ekspos dan tidak.

Demikian pula, media juga akan memilih orang-orang atau narasumber berdasarkan kriterianya sendiri, sehingga hasil pemberitaan pun cenderung sepihak.

Padahal, idealnya, kata Tuckman (1988), mengutip pendapat Ericsson, penulis berita (wartawan) itu ibarat pemulung yang netral, yang bertugas memberikan atau mentransfer apa yang mereka lihat dan rasakan di lapangan. Ia mengambil fakta di lapangan apa adanya; tidak ditambah dan tidak pula menguranginya.

Sebagai pembaca dan apalagi orang awam, kita pun terkadang dibuat bingung dengan masih adanya pemberitaan yang simpang siur.

Pada akhirnya, banyak di antara kita yang lantas memilih berita sesuai “kepentingan diri.” Terlebih lagi, kalau pemberitaan tersebut jelas-jelas dianggap “menguntungkan” dan berkesesuaian dengan jalan pikiran mereka. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *