Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

Onde-Onde: Konon dulunya Memang Musyrik, tapi sudah (mi) Hijrah (tawwa)

5 min read

Kuliner umba-umba, klepon, onde-onde. Sumber foto: kaskus.co.id

20,136 total views, 6 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Kue klepon tidak Islami: Yuk tinggalkan jajanan yang tidak islami dengan cara membeli jajanan islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami.”

Begitulah bunyi meme yang muncul disertai gambar kue klepon. Dalam meme itu tertulis nama Abu Ikhwan Azis. Tidak tunggu waktu lama, meme ini segera banjir komentar dan viral di jagat media sosial.

Tanggapan atas meme viral ini beragam bentuknya. Ada yang mengejeknya sebagai sikap puritan yang berlebihan, mabuk agama, tetapi juga ada yang melihatnya sebagai false flag.

Dalam pandangan yang terakhir ini, meme itu justru sengaja disebar oleh kaum yang anti terhadap kelompok syar’i untuk menjatuhkan citra kelompok  tersebut.

Apa pun perdebatan tentang meme itu, saya cukup menikmati viralnya perdebatan soal onde-onde ini  sebagai satu hal yang cukup menghibur. Tetapi, benarkah klepon ini tidak islami atau tidak syar’i?

Saya malah ingin katakan, kudapan yang di Bugis-Makassar ini disebut onde-onde atau umba-umba, dulunya, bukan sekadar tidak syar’i. Tetapi malah pernah jadi musyrik.

Nah loh… Baru tahu kan, bahwa penganan satu ini pernah jadi musyrik. Bagaimana bisa bah, kue jadi musyrik?

Baiklah, saya ceritakan kisahnya.

Dulu, masyarakat Bugis-Makassar memiliki kepercayaan tentang adanya to tenri ita (makhluk tak kasat mata). Mereka disebut dengan bermacam-macam nama. Ada longga, memmang, lamporo, dan seterusnya. Itu di Bugis-Makassar. Entah di daerah lain.

Mereka ini adalah makhluk tak kasat mata yang sering usil terhadap manusia. Tidak hanya usil, makhluk-makhluk itu diyakini sering sekali mendatangkan musibah, atau sakit pada orang-orang tertentu.

Agar makhluk ini tidak melakukan keisengan yang berbahaya, manusia lantas melakukan ritual persembahan. Ritual itu disebut ritual massompa. Ritual ini, semacam ritual bujuk rayu terhadap to tenri ita, agar tidak berbuat hal-hal yang merugikan manusia.

Halilintar Latief, Budayawan dan Antropolog Sulawesi Selatan, menyebut, ritual itu semacam cara menyogok para makhluk tak kasat mata, supaya tetap tenang-tenang saja. Mirip nyogok pada seorang pejabat, agar usaha lancar-jaya atau semacam jatah premanlah.

Dalam ritual massompa itu, disiapkanlah berbagai sesajian yang akan dipersembahkan pada  to tenri ita tersebut.

Sesajian itu antara lain: beberapa makanan, binatang yang disembelih, kepala kerbau dan darah binatang. Termasuk di dalamnya, beberapa kudapan. Salah satu kudapan itu, onde-onde atau umba-umba alias klepon.

Upacara Bersaji

Jika boleh meminjam istilah Roberton Smith, ritual semacam ini disebut upacara bersaji. Sebuah ritual yang secara sengaja menyajikan sesajenan. Dan, di antara sesajenan itu, darah yang sengaja dipersembahkan pada makhluk gaib atau kekuatan tertentu yang tidak terlihat.

Terang benderang kan wahai akhi dan ukhti. Bahwa, onde-onde terbukti ikut serta dalam ritual yang ada bau-bau kemusyrikannya. Jelas sudah “beliau”, si onde mande, eh…onde-onde itu, adalah pelaku, atau setidaknya, mendukung sebuah kemusyrikan terjadi.

Tetapi, dulu, ulama kita arif bijaksana. Onde-onde tidak buru-buru dituduh musyrik. Tidak dipublikasikan ke mana-mana, bahwa si onde-onde ini tidak syar’i. Pelan-pelan, onde-onde malah diajak hijrah.

Caranya gimana? Ulama kita tidak membuat hijrah fest atau semacamnya. Wadah sama sekali tidak diubah.

Ulama-ulama kita tetap mempersilakan melakukan ritual. Namun, makanan-makanan, termasuk si onde-onde tidak lagi menjadi sesajenan untuk dipersembahkan. Seluruh makanan dimakan bersama oleh khalayak yang hadir dalam ritual.

Agar tidak diganggu makhluk halus, warga lalu diajak berdoa. Berdoa pada Tuhan seru sekalian makhluk, termasuk makhluk to tenri ita. Tetapi, doa-doa yang diajarkan melalui simbol-simbol, bukan doa-doa dalam bentuk teks Arab.

Simbol Pengharapan

Ulama kita paham, warga bisa repot lidahnya jika langsung diminta hafal doa sebelum makan. Maka, seluruh ornamen yang hadir dalam upacara itu, memiliki simbol-simbol yang mengandung makna pengharapan. Termasuk, dalam hal ini, makanan dan kudapan.

Karena itu, jika Anda melihat orang Bugis Makassar naik rumah baru, lalu di palang kayunya, digantung sesisir pisang, sebutir kelapa dan gula, maka itu bukan lagi makanan yang akan dipersembahkan pada makhluk tak kasat mata. Semuanya itu telah menjadi simbol pengharapan. Semacam doa tanpa kata-kata.

Sesisir pisang, misalnya, maknanya adalah supaya rezeki yang punya rumah bersisir-sisir datangnya (melimpah ruah). Kelapa bermakna, agar hidup si empunya rumah lezat bagai santan. Sementara gula, artinya, semoga perjalanan hidup yang punya rumah senantiasa semanis gula.

Lalu, bagaimana dengan onde-onde? Onde-onde pun demikian. Bahkan, mulai dari pembuatannya sudah memiliki makna yang dalam.

Lihatlah ketika onde-onde diturunkan ke wajan untuk memasaknya. Mulanya kecil. Tetapi, lama-lama mengembang. Itulah mengapa di Makassar disebut juga umba-umba. Maknanya apa? Tidak lain supaya yang punya hajatan semakin berkembang kehidupannya menjadi lebih baik.

Sementara itu, bagian dalam onde-onde, adalah gula yang legit, sedangkan luarnya kelapa yang gurih. Sekali lagi, hal itu menyiratkan simbol, agar hidup yang dijalani selalu terasa nikmat. Manis di dalam, lezat di luar.

Perubahan dari ritual yang selalu mementingkan adanya persembahan terhadap makhluk tak kasat mata, menjadi ritual yang penuh simbol permohonan, itulah yang disebut assenu-senureng. Karena itulah, ritual-ritual selamatan di Bugis-Makassar sering kali juga disebut assenu-senureng.

 Assenu-senureng ini sudah islami sekali. Sebab, memang merupakan hasil dari sebuah proses transformasi yang dilakukan ulama terhadap ritual lokal.

Bukankah, dengan demikian, telah terjadi islamisasi budaya? Untuk hal ini perlu penjelasan lain. Soalnya, di saat yang sama, tradisi lokal sendiri melakukan semacam negosiasi dan resistensi tertentu. Namun, untuk saat ini, kita tidak akan jelaskan di sini.

Nabi SAW

Kita kembali ke assenu-senureng yang dikatakan tadi telah menjadi islami. Mengapa Islami? Merujuk pada penjelasan salah seorang kiai (kali ini sengaja saya tidak kutip namanya), dulu Nabi Muhammad SAW juga sering melakukan hal semacam ini.

Ketika ada yang naik rumah baru, misalnya, Nabi SAW biasanya mengajak orang yang memiliki nama bagus. Orang inilah yang diminta Rasulullah sebagai orang pertama masuk dalam rumah tersebut.

Hal ini tentu adalah simbol permohonan, agar yang punya rumah senantiasa mendapatkan kebaikan-kebaikan, sebagaimana nama orang yang pertama menjejakkan kaki di rumahnya.

Bukankah apa yang dilakukan oleh Nabi SAW itu tidak lain adalah assenu-senureng?

Kalau assenu-senureng dapat ditemukan jejaknya pada Nabi SAW, maka ritual yang telah berubah menjadi assenu-senureng, itu bukankah sudah sangat syar’i? Kalau demikian, maka onde-onde yang hadir sebagai pendukung utama ritual assenu-senureng ini, telah bergeser menjadi pendukung kegiatan syar’i.

Yang luar biasa dari onde-onde ini adalah posisinya kini yang selalu hadir dalam ritual syukuran, dan selamatan. Begitu pun, onde-onde telah menjadi pendukung utama acara keagamaan.

Misalnya, aqikah, selamatan naik haji, syukuran masuk bulan Ramadhan, peringatan Asyura, Maulid Nabi SAW, Isra mikraj, menyambut bulan Muharram, dan seterusnya.

Dalam masyarakat Bugis-Makassar, onde-onde menjadi tujuh kudapan, yang semestinya ada dalam satu ritual selamatan, syukuran ataupun acara keagamaan itu. Ia selalu bersisian dengan cucuru bayao,  sawalla, beppa oto’, katirri sala, pejja-pejja dan beppa oto.

Dengan demikian, teranglah sudah wahai akhi dan ukhti, bahwa onde-onde ini telah mengalami hijrah. Ia tidak lagi menjadi pendukung acara-acara yang berbau khurafat dan musyrik.

Sebaliknya, kini si onde-onde menjadi penunjang utama acara-acara keagamaan. Apalagi, seperti disebut tadi, ritual musyrik tadi telah berubah menjadi ritual syar’i, yang bernama assenu-senureng.

Tetapi, masa sih, klepon alias onde-onde pernah jadi musyrik? Bukankah selama makanan itu halalan tayyiba (halal dan baik bagi seseorang), maka semua itu sudah islami?

Saya pun menjadi bingung. Mengapa saya menyebutnya pernah musyrik! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *