Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku Antropolog Marvin Harris: “Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-Teki Kebudayaan”

6 min read

Sumber foto: M. Irfan

8,890 total views, 22 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul Buku: Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-Teki Kebudayaan (versi Indonesia: 2019)

Penulis: Marvin Harris

Penerbit: Marjin Kiri

Jumlah Halaman: 262

Terbit pertama kali dengan judul: Cows, Pigs, Wars and Witches: The Ridlles of Culture (1974)

SETIAP kali melihat pelaku budaya pada komunitas tertentu, yang berbeda dengan kebiasaan keseharian kita, pada saat itu juga akan berkecamuk beragam pertanyaan di dalam pikiran kita. Mengapa mereka berlaku demikian, sementara saya tidak? Apa yang melatari mereka berbuat seperti itu?

Sekelumit pertanyaan kebudayaan menggelitik inilah, yang kemudian berusaha dijawab oleh Antropolog Marvin Harris, saat menerbitkan bukunya pada 1974; Cows, Pigs, Wars and Witches: The Ridlles of Culture, yang dalam bahasa Indonesianya diterjemahkan menjadi; “Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir; Menjawab Teka-Teki Kebudayaan (2019).”

Bagi pelaku kebudayaan, tradisi dan praktik keagamaan yang selama ini mereka lakukan turun-temurun, tak perlu lagi “ditanya ulang.” Ia sudah menjadi warisan leluhur, yang mesti dilestarikan oleh generasi pelanjutnya. Menanyakan ulang tradisi dan praktik keagamaan, apalagi sampai meragukan kebenarannya, sama saja dianggap menodai pengetahuan leluhur mereka.

Nah, di sinilah kecerdasan seorang Marvin Harris, yang mampu menjawab pertanyaan “tabu” tersebut. Sebagai antropolog yang berasal dari budaya luar (etik view), ia mencoba memahami budaya yang diteliti menggunakan pandangan orang dalam (emic view).

Lihat saja, misalnya, ketika ia mengajukan pertanyaan seperti mengapa umat Hindu mensucikan sapi? Atau, pertanyaan lain; mengapa orang Islam dan Yahudi tidak memakan babi?

Di dalam buku ini, meskipun ia membuat 11 chapter ditambah satu penutup (epilog) dan Catatan Penutup oleh Dicky P. Ermandara, namun yang menjadi pusat perhatian pembaca adalah bab yang membahas “Sapi Suci” dan “Pecinta Babi dan Pembenci Babi.” Saya pun demikian. Dua bab itu saja, yang coba saya “komentari” di sini.

Sapi Betina

Mengapa orang Hindu tidak memakan sapi betina? Untuk menjawab pertanyaan ini, Marvin Harris melakukan riset mendalam di India, yang mayoritas penduduknya memeluk Hindu, serta agama mereka melarang menyembelih dan memakan sapi.

Marvin Harris melihat, orang India yang beragama Hindu memandang sapi betina sebagai hewan suci dan lambang dari kehidupan.

Sebagai hewan yang disucikan, sapi betina tentu saja dilarang untuk dimakan. Apabila melanggar “pantangan” tersebut, dampak yang ditimbulkan bagi si pelanggar adalah meregang nyawa. Sebab, di India, nilai-nilai spiritual lebih berharga daripada nyawa.

“Seperti halnya Maria bagi umat kristiani adalah bunda kehidupan. Jadi tak ada penistaan yang lebih besar bagi seorang Hindu selain membunuh seekor sapi. Bahkan, mencabut nyawa manusia pun tidak akan menjadi penghujatan tak terkatakan, ia tidak mengandung makna simbolis sebagaimana yang disulut oleh penyembelihan sapi.” (hal. 8).

Memang, ada banyak jenis makanan tertentu yang berbeda antara pemeluk agama yang satu dengan lainnya. Ada makanan, yang bagi agama tertentu boleh dikonsumsi, tetapi sebaliknya, agama berbeda justru tidak mengonsumsinya.

Hilman Latief, yang menulis “Makanan dan Spiritual: Telaah terhadap Wacana dan Tradisi Agama-Agama,” di Jurnal Tarjih, 2002, menyebutkan, perbedaan jenis makanan di setiap kebudayaan dan agama tergantung kepada tradisi maupun sejarah yang melatarbelakangi ritual tersebut.

Untuk umat Hindu, misalnya. Di dalam Percakapan Ketujuh Belas Sraddhci Traya Vibhciga Yoga, dari Kitab Bhagavadgita, disebutkan, bahwa beberapa Sloka mengulas tentang pentingnya makanan baik yang layak dikonsumsi. Isi Bhagavadgita merupakan bagian dari Bhismaparva (buku keenam dalam epos Mahabharata atau Weda yang kelima, setelah Rigveda, Maraveda, Jayurveda, dan Atharvaveda, yaitu Bab XXIII-XI).

Dalam pandangan orang Hindu Kasta Brahrnana di India, seperti ditulis Hilman Latief (2002), memotong dan memakan daging sapi tidak layak dilakukan.

Salah satu keterangan Rgveda menyatakan, sapi dipandang sebagai Devi (goddness), yang diidentifikasikan kepada Aditi (mother of the gods). Hanya saja, kebijakan memakan daging sapi ini tampak longgar untuk rakyat jelata.

Orang India juga memperlakukan sapi betina dengan sangat spesial. Dibanding hewan lain, sapi betina memiliki privilege. Buktinya, sapi diberikan kebebasan melenggang bebas di jalan-jalan raya di India, bebas buang air besar di mana pun mereka inginkn, dan membiarkan mereka memakan makanan di kebun-kebun warga. Para petani bahkan menganggap sapi-sapi mereka bagian dari keluarga.

Bukan itu saja. Bagi sapi tua atau sapi yang tidak produktif lagi, pemerintah menyediakan semacam panti jompo buat sapi, tanpa dipungut biaya alias gratis.

Tak heran, petani miskin rela “mengencangkan ikat pinggang” menahan lapar dan kelaparan selama musim kekeringan, dan memilih tidak memakan sapi piarannya.

Padahal, bisa sekali mereka menyembelih hewan ternaknya tersebut, dan kemudian memakannya. Mereka memilih tidak melakukan, lantaran kehilangan sapi bagi mereka sama saja kehilangan ladang dan pangan.

Di samping itu, apabila mereka kehilangan sapi, tidak ada lagi yang akan membajak sawah mereka. Kotoran sapi dianggap sebagai berkah alamiah kesuburan tanah, dan dapat berfungsi menstimulasi kesuburan tanah.

Kecintaan orang India terhadap sapi sempat memicu kerusuhan massal di Bihar pada 1917, yang menewaskan 30 orang dan 17 desa muslim dijarah. Kerusuhan massal ini hampir terjadi setiap tahun, sebagai bentuk pencegahan orang muslim melakukan “pembantaian” kepada sapi.

Ketegangan gara-gara sapi tidak hanya melibatkan antarpemeluk agama berbeda (Hindu dan Islam), melainkan juga Partai Kongres yang berkuasa dengan faksi-faksi Hindu ekstremis pencinta sapi.

Hal ini terjadi pada 7 November 1966, di mana gerombolan massa berjumlah 120 orang dipimpin kelompok pertapa suci, melakukan aksi demo menentang penyembelihan sapi di depan gedung Parlemen India. Delapan meninggal dan 48 luka-luka serius akibat demo ini.

Belum lagi, Muni Shustril Kumar, Presiden Komite Kampanye Perlindungan Sapi Segala Partai, memimpin orang-orang suci seluruh negeri India melakukan aksi puasa.

Mahatma Gandhi

Salah satu penyebab pemujaan sapi yang kerap disalahpahami adalah, karena implikasinya berbeda bagi orang kaya dan miskin. Petani miskin menggunakan sapi untuk memulung, sedangkan petani kaya menganggapnya pencurian. Bagi petani miskin, sapi adalah pengemis suci, tetapi bagi petani kaya, sapi tetaplah pencuri, karena masuk ke padang rumput atau lahan seseorang (hal. 22).

Perbedaan pandangan antara petani kaya dan petani miskin inilah, yang akhirnya mendongkrak popularitas Mahatma Gandhi. Nama Gandhi menjadi terkenal di kalangan massa petani, kaum miskin kota, dan kaum paria.

Gandhi melihat, sapi adalah fokus perjuangan untuk membangkitkan India menjadi suatu kebangsaan yang autentik. Kecintaan terhadap sapi sejalan dengan pertanian skala kecil, produksi benang katun, pantang makan daging, bersikap khidmat terhadap kehidupan, dan tidak menganut kekerasan. Inilah cara Gandhi melindungi mereka dari ganasnya industrialisasi (hal. 23-24).

“Sesuai petuah dalam Baghavadgita, Gandhi meyakini, bahwa kita harus mendisiplinkan seluruh selera makan sebelum bisa mendisiplinkan seluruh tubuh kita, sampai akhirnya bisa mendisiplinkan pikiran kita. Ia juga meyakini, kita harus makan secara sederhana, murah dengan kandungan gizi, yang bahkan semua orang termiskin di India bisa menjangkaunya.” (Hilman Latief, 2002).

Babi

Pada Bab “Pecinta Babi dan Pembenci Babi, Marvin Harris, mengelompokkan orang Islam dan Yahudi sebagai kelompok agama yang tidak mengonsumsi babi.

Selain didasarkan pada larangan ajaran agama, babi juga dianggap hewan kotor, karena bergumul dengan kotoran, air kencing, serta memakan tinjanya sendiri. Belum lagi, mengonsumsi daging babi setengah matang dapat menimbulkan penyakit cacing pita (35-38).

Di sini, Marvin Harris juga mengeritisi larangan kelompok agama tertentu yang tidak mengonsumsi babi dengan alasan kesehatan. Menurutnya, penggunaan dalil kesehatan mudah dimengerti. Namun, ia menganggap alasan tersebut tidak konsisten.

Sebab, kelompok yang melarang makan babi, mereka juga ternyata memakan daging lain, seperti daging sapi, kambing, dan domba, yang  kesemua jenis hewan ternak tersebut rentan juga terserang penyakit.

Sementara itu, orang-orang Eropa, Amerika, dan China, mereka semua termasuk penyuka lemak dan daging babi. Mereka juga ada yang memperlakukan babi layaknya “teman dekat” dan “anggota keluarga.”

Misalnya, tidur bersama babi, memanggil panggilan kesayangan, menangis ketika babinya sakit, dan sebagainya. Berbeda dengan pencinta sapi di India yang tidak mengonsumsi sapi, cinta babi di beberapa negara dan komunitas tertentu, ditunjukkan juga dengan mengorbankan dan memakan babi pada acara-acara istimewa. Bahkan, banyak juga etnis tertentu menjadikan babi hewan kurban yang disakralkan saat menggelar upacara keagamaan (hal. 41-42).

Kapitalisme

Buku ini juga membahas kapitalisme, yang dicontohkan kepada model pencarian status pada beberapa masyarakat primitif di awal abad 20, di daerah Pantai Alaska, Selatan, British Colombia, dan Washington.

Yang menarik, Marvin Harris mengulas sisi gelap kapitalisme melalui pintu masuk Potlatch (hal. 102). Istilah Potlatch menjadi terkenal berkat karya Antropolog Ruth Benedict, Pattern of Culture.

Potlatch adalah pencari status dengan cara mempraktikkan konsumsi dan pemborosan harta, yang bertujuan membagi-bagikan atau menghancurkan harta lebih banyak daripada pesaingnya, termasuk membakar rumahnya sendiri. Ini dilakukan untuk mendapat pengakuan (prestise) dari para pesaingnya, bahwa dia-lah yang paling hebat, kuat, banyak pengikut, dan banyak harta.

Ketika mengulas kapitalisme di bukunya ini, Marvin Harris sesungguhnya tengah melontarkan kritikan. Bahwa, kapitalisme, kata dia, sering kali dikenal sebagai sarana orang kaya saling berebut kekayaan satu sama lainnya, dan merupakan potret buruk dalam kehidupan.

Simaklah, yang ia tuliskan di halaman 120:

“Mereka membangun rumah-rumah paling megah, mengenakan pakaian mewah, berdandan dengan permata gemerlap, dan bicara tentang rakyat miskin dengan penuh cemooh. Sementara itu, kelas bawah dan menengah terus memberikan prestise tertinggi kepada mereka yang bekerja paling keras, menghabiskan uang paling sedikit, dan sadar menahan godaan semua bentuk pemborosan dan konsumsi.”

Kontroversial

Di kalangan Antrolopog, Marvin Harris dikenal sebagai ilmuwan yang menghasilkan riset lapangan yang kerap mengundang perdebatan. Tak heran, oleh majalah Smithsonian, ia dijuluki “salah satu antropolog paling kontroversial.”

Dalam pandangan Achmad Hidir, Sosiolog Fisip Universitas Riau, Marvin Harris dikenal menganut paham materialisme budaya berbasis Marxis, yang bertumpu pada basis struktur dan suprastruktur sebagai fenomena etik. Prinsip umum materialisme kebudayaan adalah, budaya dikembangkan oleh masyarakat berdasarkan materi (benda) yang dimilikinya.

Marvin  Harris, Antropolog Amerika Serikat, lahir 18 Agustus 1927, dan meninggal 25 Oktober 2001 (74 tahun). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *