Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Prof Nur Kholis Bedah “Tasawuf Birokrasi” di BLAM Corner 7

2 min read

Prof. Dr. Nur Kholis Setiawan.

6,485 total views, 88 views today

MAKASSAR, BLAM — Pendekatan sufistik diperlukan untuk memberi nilai tambah dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang memiliki kemuliaan dari sisi filosofis, sekaligus sisi manfaat untuk masyarakat.

Demikian dikatakan Prof. Dr.Phil H.M. Nur Kholis Setiawan, saat membedah buku karangannya, Tasawuf Birokrasi, pada diskusi Webinar Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), “BLAM Corner 7,” Kamis, 16 Juli 2020.

Menurut Nur Kholis, benang merah nampak jelas antara dunia birokrasi dan dunia tasawwuf. Misalnya, ketika seseorang diamanahi jabatan dengan tradisi tarekat. Namun, sebelum seseorang ingin berguru kepada ahli tarekat, ada tiga hal, yang menurut dia, mesti diperhatikan.

Yang pertama, kata Nur Kholis, sebelum memutuskan untuk berguru dan tarekat apa yang akan diikuti, ia harus memahami terlebih dahulu seberapa pantaskah seseorang itu dijadikan guru atau panutan, berikut tarekat beserta amalannya.

Kedua, mengetahui amalan dan wirid dari ajaran tarekat yang hendak diikuti, seseorang murid harus tahu amalan dan wirid tarekat iru apa saja. Ketiga, jika seseorang mau masuk dan belajar ilmu tarekat, ia harus tahu silsilah guru,” katanya.

Buku “Tasawuf Birokrasi” merupakan karya terbaru Nur Kholis. Tulisan yang terdapat di dalam buku ini adalah kumpulan materi pembinaan yang Nur Kholis berikan pada berbagai kegiatan di lingkungan Kementerian Agama, ketika menjabat Inspektur Jenderal dan Sekretaris Jenderal, secara lisan maupun spontan.

Diskusi webinar ini juga menghadirkan Peneliti Ahli Utama BLAM, Prof. Dr.H. Abd. Kadir Ahmad, MS, sebagai pembahas.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga jam ini, tak menyurutkan semangat peserta untuk terus menyimak dan berdiskusi.

Yang menarik, sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Agama turut hadir, antara lain, Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Selatan dan Kepala Kementerian Agama Kabupaten/Kota. Hadir juga kalangan akademisi, praktisi, dan peneliti.

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, yang memberikan epilog, menyatakan, buku “Tasawuf Reformasi” ini menjembatani tasawuf yang cair dan birokrasi yang terkesan kaku.

Menurut Saprillah, nilai-nilai ideal dalam ajaran tasawuf bisa mengilhami sistem birokrasi di kemenag. Kesiapan mental birokrat, bisa pula diuji melalui disiplin tinggi, yang menjadi habitus birokrasi tarekat yang juga sangat ketat. (sta)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *