Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Mualaf yang Berislam secara Kaffah, bukan yang Salah Kaprah

6 min read

Sumber foto: khotbahjumat.com

13,726 total views, 6 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Mendung menggantung di raut wajahnya, manakala ia mulai bercerita tentang peristiwa dirinya menjadi mualaf. Ada bilur kesedihan di setiap rentetan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Bukan karena pilihannya menjadi mualaf yang membuatnya getir. Sama sekali bukan. Tetapi, proses untuk sampai pada keyakinan memeluk Islam ini, tidaklah mudah. Banyak kisah muram yang menyertainya.

Dia adalah anak seorang pemuka agama di agama sebelumnya. Orang tuanya terpandang dan “orang berada.” Dia anak perempuan satu-satunya.

Di atas pundaknya diletakkan harapan. Kelak, dia akan menjadi salah satu pemuka yang disegani. Tapi, takdir berbicara lain. Dia bertemu pria yang dikasihi. Pria beragama Islam.

Namun, bukan karena pria itulah yang membuatnya memeluk Islam. Dia mengaku pria itu hanya jalan bagi dirinya mendapatkan hidayah. Sejak berkenalan dengan pria itu, dia pun tertarik mempelajari Islam.

Sekian lama belajar Islam, dia pun yakin, agama itu akan ditetapkan sebagai agama pilihan sendiri. Bukan agama karena keturunan.

Pilihannya tentu saja mengguncangkan keluarga besarnya. Tak pernah ada yang menduga dia akan pindah agama.

Sebagai keluarga terpandang di agama sebelumnya, tindakannya tentu saja dianggap mencoreng muka keluarganya. Dia dibujuk, diancam, kemudian akhirnya dipaksa kembali ke agamanya. Tetapi, dia bergeming. Bujukan dan paksaan tak mampu menggoyahkannya. Perempuan ini pun terusir dari keluarganya.

Mulanya tak jadi masalah. Sebab, pria yang dikasihi menjadikannya pendamping. Tetapi, semuanya tidak berjalan lama.

Di lingkungan barunya, dia tidak sepenuhnya diterima. Keyakinannya dicurigai. Islamnya hanya dianggap tempelan. Tujuannya masuk Islam diasumsikan hanya ingin menikah dengan si pria.

Semua itu belum seberapa. Hanya berbilang tahun, suaminya menceraikan. Alasannya, keluarga si suami tidak bisa menerima diri perempuan ini sepenuhnya. Dunia menjadi betul-betul gelap bagi dirinya. Kabut hitam kehidupan mengelumuni hidupnya. Saat itulah, katanya terbata-bata, iman Islamnya betul-betul diuji.

“Andai kata hari itu langit runtuh sekalipun menimpa saya, saya tidak akan pernah selangkah pun surut dari iman Islamku ini,” katanya, dengan suara terbata-bata.

Perempuan ini pun membuktikannya. Berbilang tahun lamanya menjadi mualaf, dia tetap setia menjadi muslim. Dalam waktu bertahun tahun itu, dia menelusuri jalan sunyi untuk semakin dekat dengan Tuhannya.

Yang luar biasa, dia tak pernah menyisakan benci pada keluarga dari agama sebelumnya. Tidak pula terhadap agama dulunya. Baginya, tak ada agama yang buruk. Semuanya mengajarkan kebaikan. Hanya saja, Tuhan kini menunjukkan jalan yang lain.

Kini, pelan namun pasti, ia kembali bisa diterima oleh keluarga dari agama sebelumnya. Pilihan keyakinannya tak lagi dipermasalahkan. Dengan umat agama sebelumnya, dia kembali bisa membaur.

Kritikan

Kisah di atas sengaja saya bagikan, setelah tulisan saya sebelumnya tentang mualaf di sini mendapat masukan, atau mungkin tepatnya, kritikan dari beberapa orang. Ada yang mengirim pesan secara pribadi. Ada pula yang memberi komentar di laman publik media sosial.

“Tidak semua mualaf berperilaku seperti yang disebut dalam tulisan tersebut. Banyak mualaf yang tidak pernah lagi sibuk mengurusi agama yang dianut sebelumnya.” Begitulah salah satu kritik terhadap tulisan saya yang berjudul “Mualaf yang Sibuk Mencela Agama Lamanya: Mencari Tuhan atau Mencari Panggung?” (Baca selengkapnya; https://blamakassar.co.id/2020/07/10/mualaf-yang-sibuk-mencela-agama-lamanya-mencari-tuhan-atau-mencari-panggung/).

Bagi saya, kritik terhadap sebuah tulisan sangat menyenangkan. Setidaknya, tulisan kita itu mendapat perhatian. Berangkat dari kritikan itu pula, saya merasa perlu untuk melanjutkan tulisan tentang mualaf ini. Mengingat tulisan singkat yang muncul sebelumnya memang tidak bisa mencakup banyak hal tentang mualaf ini.

Saya tentu sepakat, bahwa tidak semua mualaf, setelah menjadi bagian dari agama Islam, sibuk mencaci maki agama sebelumnya. Banyak di antara para mualaf yang betul-betul menempuh jalan salik. Mencari Tuhan secara sungguh-sungguh di agama barunya.

Kisah yang saya kemukakan di awal tulisan, adalah contohnya. Kisah tersebut diceritakan oleh seorang mualaf kepada saya, dalam satu perjalanan di sebuah daerah di Utara.

Di tengah perjalanan sunyi, mualaf perempuan ini mengisahkan ceritanya. Cerita yang mengharu biru, dan saya yang mendengarkan harus menelan pilu berkali kali. Tetapi, setelah mendengar kisahnya, di mata saya, dia adalah mualaf yang telah berislam secara kaffah.

Siapa yang saya maksudkan mualaf yang kaffah ini?

Mualaf kaffah dalam pengertian saya, yakni mereka yang betul-betul menjadikan Islam sebagai totalitas untuk menemukan jalan menuju kebenaran atau jalan salik menemukan Tuhannya.

Mualaf yang berislam kaffah, akan menjadi muslim yang ramah, bukan pemarah. Muslim yang merangkul, bukan memukul. Muslim yang mengajak, bukan mengejek.

Mualaf yang menjadi muslim yang kaffah, tak punya lagi bahan untuk membenci yang lain, termasuk agama yang telah ditinggalkannya. Dalam hatinya hanya ada cinta. Cinta pada sang Khaliq dan cinta pada sesama makhluk.

Para mualaf yang demikian itu, tidak pernah lagi sibuk mengurusi benar-tidaknya agama sebelumnya. Apalagi punya niat untuk mengolok-olok. Bagi mereka, cukuplah telah diberi hidayah oleh Allah untuk berada dalam Islam.

Beberapa mualaf, untuk memutuskan memeluk Islam, memang tidak semudah orang membalikkan telapak tangan. Banyak cerita muram mengiringi kepindahan mereka. Ada yang harus meninggalkan keluarga, meninggalkan pekerjaan, bercerai, dan seterusnya. Jika bukan karena tekad yang kuat, tidak mudah mereka untuk meninggalkan agama lamanya.

Sebagai catatan, orang-orang yang menjadi mualaf, seperti yang saya temukan dalam penelitian saya di Palopo, hanya 10% karena merasa mendapat hidayah, 10% proses belajar, dan 20% lainnya, karena berasal dari keturunan Islam. Tetapi, yang lebih banyak, yakni 60% menjadi mualaf, karena perkawinan.

Mualaf yang akhirnya memilih menempuh jalan salik mencari Tuhan dalam Islam, tidak lagi sibuk mengurusi agama lamanya dan tidak peduli dengan segala rintangan, biasanya yang merasa mendapat hidayah lantaran proses belajar.

Sementara mereka yang menjadi mualaf disebabkan faktor perkawinan dan ikut keluarga, itulah yang biasanya mengalami masa-masa kegamangan.

Dalam banyak kasus, mualaf disebabkan faktor terakhir ini, yang biasanya tidak tahan dengan berbagai tekanan keluarga. Apalagi, jika yang bersangkutan juga harus meninggalkan semua harta dan kekayaannya. Beberapa di antara mereka pun akhirnya memilih kembali ke agama sebelumnya.

Liminal

Apa pun bentuk motivasi mereka masuk Islam, selalu meniscayakan para mualaf itu mengalami atau memasuki semacam ruang kediantaraan (in-betweenness).

Maka, posisi kemualafan, meminjam istilah Victor Turner, adalah posisi liminal. Mereka belum sepenuhnya menjadi bagian dari Islam yang kaffah. Banyak hal dari lingkungan agama sebelumnya, yang tidak sepenuhnya hilang.

Keyakinan, kultur, trauma dengan keluarga, dan juga jejak muram dengan lingkungan agama lamanya masih menghinggapi mereka dalam posisinya sebagai mualaf.

Posisi di awal menjadi mualaf, adalah titik krusial. Titik yang akan menentukan masa depan seorang mualaf. Siapa yang mendampingi, serta seperti apa cara pendampingannya, akan menentukan seperti apa akhirnya mereka. Sayangnya, sering kali dalam posisinya sebagai mualaf, mereka juga mengalami eksklusi dari masyarakat muslim.

Mualaf diperlakukan sebagai sang liyan, mendapatkan stigma, dianggap sebagai kelompok dengan keyakinan yang masih gamang, serta mudah berpindah kembali ke agama sebelumnya.

Mereka belum diterima sepenuhnya oleh kalangan umat Islam mainstream, namun juga sudah ditolak oleh umat dari agama yang dianut sebelumnya. Dalam situasi sulit begini, biasanya mereka tidak punya pilihan, kecuali kembali ke agama lamanya.

Dalam kasus lain, ada pula dalam posisinya sebagai mualaf, diperlakukan oleh umat Islam teramat istimewa. Dianggap sebagai ikon untuk membuktikan, bahwa agama di luar Islam ternyata betul-betul agama yang keliru.

Mualaf semacam inilah yang biasanya tampil di mimbar-mimbar. Mereka menjadi corong untuk mengolok-ngolok agama sebelumnya. Berubah drastis menjadi seorang dai, padahal ilmu agamanya belum mumpuni. Sebabnya tak lain, mualaf semacam ini terlanjur dibuatkan panggung.

Dalam kasus lain, ada pula mualaf yang berjumpa dengan pembina yang memiliki paham keagamaan ekstrem, mengusung ideologi islamis, dan cenderung konservatif. Akibatnya, mualaf berkembang menjadi muslim intoleran dan mengabaikan fakta, bahwa mereka hidup di Indonesia yang berbinneka tunggal ika.

Posisi mualaf sebagai ruang kediantaraan, memang tidak bisa diabaikan. Karena itu, pendampingan yang tepat terhadap mereka tidak bisa ditawar-tawar.

Sayangnya, menurut Syafii Antoni, Penasihat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), pendampingan terhadap mualaf belum terstruktur dengan baik.

Selama ini, mualaf memang telah diajarkan tentang spiritualitas dan ritual-ritual dasar keagamaan. Misalnya, cara salat dan pemahaman terhadap rukun Islam ataupun rukun iman.

Sebagai dasar, hal ini memang perlu. Namun, lebih dari itu, seorang mualaf harus pula dipahami latar belakang intelektualnya. Dengan pemahaman tentang latar belakang intelektualnya, kita bisa memberikan pemahaman keagamaan berdasarkan dengan kemampuan intelektualnya tersebut.

Persoalan lainnya, pembinaan mualaf ini adalah konteks sosio, ekonomi, dan kultural sang mualaf. Mereka berada dalam lingkungan baru, harus meninggalkan keluarga, serta kultur mereka sebelumnya. Mungkin juga, mereka bermasalah dengan persoalan ekonomi. Kesemua hal tersebut perlu menjadi perhatian dalam pendampingan mualaf.

Pendampingan mualaf inilah yang akan menentukan seorang mualaf akan berislam secara ekstrem atau, meminjam istilah Geertz, berislam numerik.

Pendampingan itu juga akan menentukan mereka akan menjadi Muslim kaffah atau Muslim yang salah kaprah.

Kita berharap para mualaf yang memilih Islam ini, akhirnya memeluk Islam secara kaffah. Menjadi mualaf sebagaimana yang saya kisahkan pada awal tulisan tadi.

Kalau menjadi mualaf, kemudian tiba-tiba merasa benar sendiri, suka mencaci maki manusia lain yang berbeda dengan dirinya, maka si mualaf belumlah menjadi muslim kaffah. Sebaliknya, dia telah menjadi orang yang salah kaprah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *