Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

Kaitan antara Zikir dan Salat

6 min read

Sumber gambar: nu.or.id

7,348 total views, 2 views today

Oleh: H.M.Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Zikir dan salat termasuk istilah keagamaan Islam. Kedua kata itu diserap dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Keduanya sering diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Masing-masing kata mengandung arti tersendiri, namun di antara keduanya terdapat kaitan yang erat.

Bila seorang Muslim mengucapkan lafaz zikir,  maka ia disebut berzikir. Lafaz yang dimaksud, misalnya, Al-Hamdu li-llaah. Terkadang, lafaz zikir hanya dibaca di dalam hati saja. Zikir dalam kaitan ini dibedakan atas dua macam, yakni zikrun bi-l lisaan dan zikrun bi-l qalb (al-Ashfahani, 1992:328).

Zikir dengan lisan disebutkan secara eksplisit di dalam hadis Rasulullah Saw. Kalimataani khafiifataani ‘ala-l lisaani tsaqiilataani fi-l miizaani habiibataani ila-r Rahmaani: Subhaana-l laahi wa bihamdihi, Subhaana-l laahi-l ‘azhiim Artinya, Dua rangkaian kata yang ringan di lidah, berat di timbangan, dan terpuji di sisi Allah Yang Maha Pengasih, yaitu Subhaana-l laahi wa bihamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya dan Subhaana-l laahi-l ‘azhiim (Maha Suci Allah Yang Maha Agung) (HR Bukhari dan Muslim) (an-Nawawi, t.th.:16).

Zikir dengan lisan disebut pula dengan ungkapan syafatain (dua bibir). Sabda Rasulullah Saw. menyatakan: Ana ma‘a ‘abdii maa dzkaranii wa taharrakat bii syafataah. Artinya, Aku bersama hamba-Ku selagi ia berzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak karena Aku (HR Ibnu Majah) (al-‘Asqalani, t.th.:345).

Zikir dan kaitannya dengan hati disebutkan di dalam Al-Qur’an. Firman Allah Swt., artinya, (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (ar-Ra‘d/13: 28).

Ulama ternama, Abdullah Yusuf Ali, menerjemahkan surah ar-Ra‘d/13: 28 seperti berikut. Those who believe, and whose hearts find satisfaction in the remembrance of Allah: for without doubt in the remembrance of Allah do hearts find satisfaction (Ali, 1991: 595).

Ia memberi komentar singkat tentang satisfaction atau kepuasan hati yang dimaksud.  The Sign or Miracle is not something external: it is something internal, something in your mind, heart, and soul. It depends on your inner spiritual experience. If you turn to Allah, the light, that experience, will come. If you do not, Allah will not force you (Ali, 1991:595).

Artinya, Tanda atau Keajaiban itu bukan sesuatu yang ada di luar: ia ada di dalam, sesuatu di dalam pikiranmu, hati, dan jiwa. Itu tergantung pada pengalaman spiritual di dalam dirimu. Bila engkau menaruh harapan kepada Allah; maka cahaya, pengalaman itu, akan datang. Akan tetapi, bila engkau tidak berharap, maka Allah tidak memaksamu.

Kegiatan zikir dapat dilakukan secara khusus untuk itu. Selain itu, kegiatan ini dapat dilakukan sambil melakukan kegiatan yang lain. Misalnya, seseorang mengemudikan kendaraan sambil berzikir. Dengan demikian, intensitas kegiatan zikir dari seorang Muslim bisa sangat tinggi.

Sementara itu, salat harus dilakukan tersendiri. Bila seorang Muslim akan melakukan salat, maka ia meninggalkan kegiatan yang lain. Aktivitas duniawi ditinggalkan sementara. Ia harus memusatkan perhatian sejak dari awal hingga akhir.

Salat mengandung bacaan dan perbuatan tertentu yang disebut rukun salat. Sebelum pelaksanaan salat ada pula beberapa syarat yang harus dipenuhi. Dua hal ini termasuk unsur yang  membedakan salat dari zikir.

Salat dibedakan pula dari zikir yakni, pada waktu salat indra harus diarahkan untuk meraih kekhusyukan. Sebagai misal, pandangan mata ditujukan ke tempat sujud. Pada waktu membaca syahadat pada tasyahhud akhir, pandangan mata diarahkan ke telunjuk (ad-Dimyathi, I, 1993: 204-205).

Perintah Zikir dan Salat

Kitab Riyadhus Shalihin, karya Imam an-Nawawi menyebut sejumlah dalil yang melandasi kegiatan zikir. Di antaranya, firman Allah Swt. yang menyatakan: Fa-dzkuruunii adzkurkum wa-sykuruu lii wa laa takfuruun. Artinya, Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah ingkar kepada-Ku (al-Baqarah/2:152) (Shabir, II, 2004:182).

Menurut kitab Tafsir Jalalain, perintah dzikr pada ayat di atas menunjuk pada salat, tasbih, dan lafaz zikir lainnya (al-Mahalli dan as-Suyuthi, 1991:21). Artinya, ayat itu diamalkan dengan cara menunaikan salat atau melakukan zikir.

Penjelasan itu sejalan dengan terjemah dan tafsir ayat tersebut pada kitab The Interpretation of the Meaning of the Noble Qur’an. Dikatakan, Therefore, remember Me (by praying and glorifying). I will remember you, and be grateful to Me (for My countless Favour on you) and never be ungrateful to Me (al-Hilali and Khan, 1996:39).

Artinya, Maka ingatlah Aku (dengan salat dan tasbih). Aku akan mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku (atas nikmat-Ku yang tak terhitung kepadamu) dan janganlah menjadi orang tidak bersyukur kepada-Ku.

Pada ayat 152 surah al-Baqarah di atas terdapat ungkapan ‘Aku akan mengingatmu’. Ungkapan ini, menurut kitab Al-Qur’an dan Terjemahnya, mengandung arti, yakni Allah melimpahkan ampunan dan rahmat-Nya kepada orang yang mengingat-Nya (2004: 29). Selain itu, ayat itu menjelaskan bahwa anugerah dari Allah itu diperoleh melalui amal ibadah dan kepatuhan. Dengan kata lain, amal ibadah menjadi sebab yang mendatangkan ampunan dari Allah Swt.

Salat mengandung sejumlah bacaan zikir. Sejalan dengan hal itu, beberapa kata dzikr dalam Al-Qur’an menunjuk pada ‘salat’. Selain itu, terdapat ayat Al-Qur’an yang menyebut dzikr sebagai inti salat.

Firman Allah Swt. menyatakan, Innanii ana-l laahu laa ilaaha illaa ana fa-‘budnii wa aqimi-sh shalaata lidzikrii. Artinya, Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat Aku (Thaha/20:14). Rukuk termasuk salah satu rukun salat (gerakan wajib). Demikian pula halnya dengan sujud, bagian dari rukun salat. Pada saat melakukan dua gerakan ini dianjurkan membaca zikir (tasbih).

Sejalan dengan itu, terdapat perintah rukuk dan sujud di dalam Al-Qur’an yang menunjuk pada perintah menunaikan salat (al-Hajj/22:77). Terdapat juga ayat Al-Qur’an yang menyebut orang-orang yang rukuk dan sujud, yang menunjuk pada orang-orang yang salat (al-Baqarah/2:125).

Pilihan kata rukuk dan sujud pada ayat-ayat itu mempertegas, bahwa salat memiliki bentuk pelaksanaan yang jelas dan tegas. Kejelasan dan ketegasan itu memungkinkan umat Islam untuk mengikuti salat berjamaah di setiap masjid yang ia datangi tanpa rasa canggung.

Al-Qur’an menggunakan kata salat dan zikir pada beberapa satuan ayat. Pada setiap ayat itu terdapat dua kata itu. Ragam redaksi itu mengisyaratkan adanya persamaan dan perbedaan makna pada kedua kata itu.

Firman Allah Swt. menyatakan: Yaa ayyuhaa-l ladziina aamanuu idzaa nuudiya li-sh shalaati min yawmi-l jumu‘ati fa- s‘aw ilaa dzikri-l laahi wa dzaruu-l bai‘a. Dzaalikum khairun lakum in kuntum ta‘lamuun. Fa-idzaa qudhiyati-sh shalaatu fa-ntasyiruu fi-l ardhi wa-btaguu min fadhli-l laahi wa-dzkuruu-l laaha katsiiran la‘allakum tuflihuun.

Artinya. Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung. (al-Jumu‘ah/62:9-10).

Menurut kitab Tafsir Jalalain, kata dzikr pada ayat sembilan berarti ‘salat’, sedangkan kata dzikr pada ayat sepuluh berarti ‘zikir’ ( (al-Mahalli dan as-Suyuthi, 1991: 401). Penafsiran itu didasarkan pada konteks ayat.

Pelaksanaan Zikir dan Salat

Azan bisanya diserukan sebelum pelaksanaan salat fardu. Azan termasuk amalan sunat. Lafaznya tergolong zikir.

Kalimat pertama pada azan adalah takbir (Allaahu Akbar). Kalimat pertama yang diucapkan pada waktu salat adalah takbir, juga. Takbir yang pertama pada salat disebut takbiiratu-l ihraam. Ini adalah salah satu rukun salat.

Hadis Nabi Muhammad Saw. menyatakan, Idzaa qumta ila-sh shalaati fa-kabbir. Artinya, Apabila engkau melaksanakan salat, maka lakukanlah takbir (HR. Bukhari dan Muslim) (ad-Dimyathi, I, 1993:153).

Hikmah takbiiratu-l ihraam, antara lain, agar orang yang menunaikan salat merasakan kebesaran Allah Swt. dan siap melakukan pengabdian kepada-Nya (ad-Dimyathi, I, 1993:153).

Pada sebagian perpindahan gerakan pada waktu salat disunatkan mengucapkan takbir. Misalnya, perpindahan dari posisi berdiri ke rukuk. Jumlah takbir yang disyariatkan pada salat yang terdiri dari dua rakaat sebanyak sebelas kali (an-Nawawi, t.th.:42). Perinciannya, satu wajib (rukun) dan sepuluh sunat.

Selanjutnya, sesudah salat disunatkan untuk memperbanyak zikir (termasuk doa). Lafaz zikir yang lazim diamalkan sesudah salat fardu, antara lain, Subhaana-l laah 33 kali, Al-Hamdu li-llaah 33 kali, dan Allaahu akbar 33 kali (Muslim, I, 2011:267). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *