Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Hagia Sophia: Biarlah Tetap Menjadi Saksi

7 min read

Sumber foto: kompas.com

10,691 total views, 12 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Putusan Kontroversi

Terhitung Jumat, 24 Juli 2020, azan sebagai penanda masuknya salat akan kembali berkumandang dari puncak “tancduk emas” Hagia Sophia. Salat Jumat “perdana”, setelah hampir 86 tahun menandai alih fungsi Hagia Sophia dari museum kembali menjadi masjid.

Hal tersebut merupakan tindak lanjut dari keputusan Pengadilan Adminstrasi Utama Turki, 10 Juli 2020, yang menganulir keputusan Dewan Kabinet Turki 1934 di bawah Pemerintahan Kemal Attaturk, yang menetapkan Hagia Sophia sebagai museum.

Beberapa jam setelah putusan tersebut, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, menyampaikan pernyataan, “Ini adalah saat-saat yang kami nantikan, yaitu mendengar suara-suara azan di Hagia Sophia.”

Sontak, putusan ini memancing perhatian dunia dan menuai pro-kontra. Hagia Sophia memang secara teritori berada di atas tanah Repubik Turki. Namun, Hagia Sophia tak sekadar milik Turki. Hagia Sophia adalah milik dunia. Terlebih, setelah UNESCO menetapkannya sebagai situs warisan dunia pada 1985.

Hagia Sophia adalah milik sejarah, karena menjadi saksi perguliran sejarah dan silih berganti kekuasaan. Hagia Sophia pun kerap menjadi korban dan menjadi “mainan” yang diperebutkan.

Lebih dari sekadar bangunan bersejarah, Hagia Sophia adalah bangunan sakral yang dikuduskan sebagai “Gereja Kebijaksanaan Suci” dan tercatat sebagai salah satu gereja mula-mula yang masih memiliki jejak bangunan.

Dibalik megahnya bangunan Hagia Sophia, terekam sejarah kelam silih berganti kekuasaan, konflik dan penaklukan. Hagia Sophia merekam dengan cermat konflik dua agama besar (Islam dan Kristen) yang menyisakan luka sejarah.

Putusan pemerintah Turki menuai ragam tanggapan. Paus Fransiskus dari Vatikan menyatakan kesedihannya atas alih fungsi Hagia Sophia. Dewan Gereja Dunia meminta pengembalian status sebagai museum.

Pemerintah Yunani tak kalah sengit; mengutuk keputusan tersebut dan menilai hal ini akan berimbas dalam hubungan dengan Uni Eropa.

Dukungan dari sejumlah pihak, khususnya kalangan organisasi dan negara Muslim mengalir bagi keputusan Pemerintah Turki tersebut. Organisasi Maghrib Arab Union dan Ikhwanul Muslimin, adalah dua organisasi yang paling antusias mendukung keputusan alih fungsi Hagia Sophia.

Sebagian pihak menilai, keputusan alih fungsi Hagia Sophia tak lebih dari manuver politik Presiden Erdogan untuk meraih dukungan dari kalangan konservatif, terutama ketika dukungan politik terhadapnya mulai melemah di dua kota besar, Ankara dan Istanbul.

Raihan simpati dari Dunia Islam, tampaknya juga menjadi target Erdogan, yang dalam beberapa waktu terakhir cukup sering memainkan peran dalam konstalasi politik global, khususnya di Timur Tengah.

Dukungan dan simpati dari dunia Islam, secara politik akan sangat berpengaruh menaikkan rating elektabilitas Erdogan dan Partai AKP yang dipimpinnya.

Dukungan yang penuh antusias dari sejumlah kalangan Muslim, utamanya yang berhaluan revivalis serta sikap kontra yang ditunjukkan oleh kalangan Kristen Dunia, akan sangat mungkin membuat persoalan baru dalam hubungan Islam-Kristen. Hagia Sophia akan sangat mungkin menajdi faktor baru yang memicu semakin renggangnya hubungan Islam-Kristen secara global.

Saksi Sejarah

Berada tepat di area bersejarah Istanbul, sebuah kota kuno yang berusia nyaris 27 abad. Kota yang unik, karena satu-satunya kota di dunia yang berada di dua benua. Kota bersejarah yang merekam perjalanan peradaban dan silih berganti kekuasaan dari Bizantium Kuno hingga Turki Modern.

Hagia Sophia dalam Bahasa Latin disebut Sancta Sophia. Orang Turki menyebutnya, Ayasofya, yang merupakan ikon kota bersejarah Istanbul (dulu Konstantinopel), sekaligus lambang dari beberapa rezim kekuasaan yang pernah bercokol di sana selama lebih dari 1,5 milenium.

Hagia Sophia menjadi saksi sekaligus korban dari berbagai pusaran konflik dan perebutan kekuasaan mulai Bizantium Kuno hingga Turki Modern.

Hagia Sophia pun beberapa kali menjadi “rampasan perang” yang bukan hanya berubah status kepemilikan, tetapi hingga berubah peruntukan.

Selama hampir 17 abad, terhitung sejak awal dibangunnya hingga saat ini, Hagia Sophia menjadi saksi bisu sejarah pergantian dan kepercayaan rezim yang menguasai Konstantinopel (Istanbul).

Sebagai tempat ibadat, Hagia Sophia pernah menjadi tempat pemujaan Bangsa Pagan Roma, bangunan kudus dari Kristen Ortodoks, sempat menjadi gereja Katolik hingga menjadi masjid di masa Kekaisaran Ottoman.

Hagia Sophia awal, yang masih beratap kayu dan belum semegah sekarang, pertama kali dibangun atas perintah Kaisar Constantinus I pada 325 M di atas fondasi kuil Pagan Roma Kuno.

Seiring diterimanya agama Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, Hagia Sophia pun dijadikan Gereja Ortodoks oleh Constantinus II. Bangunan ini pun menjadi katedral paling besar, serta sebagai saksi tempat beberapa kaisar dimahkotai selama era Bizantium.

Setelah sempat terbakar akibat konflik internal di Kekaisaran Bizantium, Kaisar Justinan I pada 532 M berinisiatif mendirikan ulang Hagia Sophia menjadi bangunan megah dengan kubah mewah, seperti yag kita kenal sekarang ini.

Selama hampir satu milennium 537-1453 M, Hagia Sophia menjadi tempat kedudukan Patriarkh Ekumenis Konstantinopel. Di era Perang Salib IV antara 1204-1261, Pasukan Salib menjadikan Hagia Sophia sebagai Katedral Katolik Roma di bawah kekuasaan Kekaisaran Latin.

Penaklukan Konstantinopel oleh Mehmet II dari Kekaisaran Ottooman pada bulan Mei 1453,  mengubah sejarah Hagia Sophia dan mengganti peruntukan bangunan tersebut dari gereja menjadi masjid.

Hal tersebut berlangsung selama hampir lima abad, hingga Revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Attaturk, yang kemudian menjadikan Hagia Sophia sebagai museum pada 1934. Akhirnya, Juli 2020, Pemerintah Turki memutuskan mengembalikan fungsi Hagia Sophia menjadi masjid.

Perang Salib

Dalam sejarah relasi Islam-Kristen, Perang Salib merupakan catatan kelam nan panjang tentang konflik yang tragis di antara dua agama yang bersaudara tersebut.

Terhitung 1095, saat Paus Urbanus II di Sidang Konsili Clemont menghimbau peserta yang hadir untuk membantu Kaisar Romawi Timur melawan orang Turki Saljuk.

Sejak saat itu, berjilid-jilid perang terjadi di antara keduanya selama lebih kurang empat abad. Perang Salib, selain merupakan perang perluasan imperium, juga adalah perang perebutan dan klaim atas kota suci (Yerussalem)

Bukan hanya manusia. Rumah Tuhan pun menjadi korban perebutan hasrat hegemoni atas nama agama. Rumah Tuhan pun “dipaksa” berganti agama. Adalah hal yang lazim di masa peperangan dulu mengubah sebuah rumah ibadat sesuai agama penguasa penakluknya.

Karen Armstronng, dalam buku Perang Suci dari Perang Salib Hingga Perang Turki (2003), menulis, ketika tentara Salib pertama menaklukkan Yerussalem, tidak satu pun Muslim dan Yahudi yang diizinkan tinggal. Masjid dan sinagog pun diubah menjadi gereja.

Demikian sebaliknya, ketika Sultan Saladin berhasil merebut Yerussalem, maka gereja yang dibangun pasukan Salib diubah menjadi masjid dan madrasah.

Di Andalusia, banyak masjid akhirnya kini menjadi gereja. Di Istanbul pun sebaliknya. Hagia Sophia, Katedral besar Patriarkh Ekumenis Konstantinopel, tempat suci yang terkait erat dengan sejarah Kristen mula-mula pun takluk. Hagia Sophia pun dipaksa menjadi “mualaf.”

Relasi Islam-Kristen

Keputusan “memasjidkan” kembali Hagia Sophia adalah langkah mundur bagi upaya membangun hubungan baik antara Islam-Kristen.

Mengembalikan Hagia Sophia menjadi mesjid tentu membangkitkan kembali luka lama umat Kristen yang kehilangan salah satu kota dan gereja utamanya.

Sejarah Islam-Kristen memang banyak diwarnai noda hitam peperangan, penaklukan, dan bahkan penghancuran. Sejarah tersebut oleh beberapa kalangan terus menerus dihidupkan demi melestarikan permusuhan dan meggapai tujuan-tujuan hegemonik.

Hagia Sophia adalah simbol dan saksi yang merekam perjalanan sejarah lebih 1,5 milenium. Hagia Sophia adalah rumah Tuhan yang diperebutkan sebagai simbol kemenangan dan kejayaan sebuah imperium.

Bagi umat Kristiani, Hagia Sophia adalah laksana permata yang hilang dan simbol kekalahan. Sedang bagi umat Islam, Hagia Sophia adalah simbol kemenangan dan lambang kebesaran sebagai imperium.

Itu sebabnya, kalangan revivalis Islam gegap-gempita menyambut keputusan pemerintah Turki yang “memasjidkan” kembali Hagia Sophia. Seolah keputusan tersebut menjadi penanda era baru kebangkitan imperium Islam yang telah lama mereka perjuangkan.

Sebaliknya, kalangan dan tokoh Kristen lintas sekte menegaskan penolakan, serta menyuarakan kesedihan dan menyatakan ketidaksetujuannya atas keputusan pemerintah Turki tersebut.

Menjadikan Hagia Sophia sebagai museum, menurut saya, adalah langkah bijak sebagai jalan tengah untuk meredakan luka sejarah, serta iktikad baik untuk membangun masa depan hubungan Islam-Kristen yang harmonis.

Biarlah Hagia Sophia tetap menjadi museum yang menyimpan manis-pahit kenangan sejarah. Sebagai monumen historis, Hagia Sophia mengingatkan kita tentang kuasa dinasti yang silih berganti, tentang kelamnya perang dan pahitnya penaklukan serta tentang agama yang menjadi lencana kekuasaan.

Jika dipikir lebih jernih, apa maslahat besar bagi Turki dan bagi dunia dengan keputusan mengubah Hagia Sophia menjadi masjid? Apakah Turki sudah kekurangan masjid untuk tempat umat Islam beribadah? Ataukah, alih fungsi Hagia Sophia adalah sebuah politik simbol dan manuver politik belaka?

Agama apa pun bagi pemeluknya memantik keberpihakan yang sarat emosi dan subjektivitas. Emosi tersebut dapat berkaitan dengan simbol tertentu, atau pun juga dengan memori tertentu pada sejarah atau kenangan dan kerinduan pada sebuah tempat yang disakralkan.

Tentu kita tidak mau jika sakralitas simbol, waktu atau tempat kita dicemari apalagi diambilalih. Ini menyangkut soal emosi keagamaan yang mudah tergugah jika ada pemantik yang menggugatnya.

Mengalih-fungsikan Hagia Sophia, tentu perlu mempertimbangkan perasaan dan emosi keagamaan lebih dua miliar manusia yang mengenang tempat itu sebagai salah satu bangunan suci nan penuh sejarah.

Hal ini berpotensi semakin merenggangkan hubungan Islam-Kristen, yang implikasinya dapat memicu kerenggangan hubungan kemanusiaan dan hubungan global.

Hubungan kemanusiaan yang baik dalam tata dunia nan global melintasi sekat-sekat bangsa dan agama, adalah segalanya. Umat Islam dan Kristen, adalah dua kekuatan penganut agama terbesar yang mencakup lebih dari 4/7 penduduk bumi, adalah kelompok umat yang paling berkepentingan.

Biarlah rumah Tuhan yang diperebutkan itu menjadi museum agar luka sejarah sedikit terobati, sembari mengambil pelajaran, bahwa konflik agama punya sejarah yang panjang dan selalu saja memakan korban. Bukan hanya manusia, tapi juga mengorbankan rumah Tuhan.

Demi kepentingan rekonsilaisi sejarah umat Islam-Kristen, bukan hanya Hagia Sophia yang menjadi simbol. Tentu akan sangat progresif langkah, jika sekiranya Vatikan dan Dewan Gereja tak sekadar menyuarakan penolakan alih fungsi Hagia Sophia.

Lebih dari itu, akan sangat progresif jika Vatikan dan Dewan Gereja menyerukan agar masjid-masjid peninggalan imperium Islam, yang kini menjadi gereja sejak penaklukannya, juga diubah menjadi museum. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *