Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Strategi “Sanro” Menjalin Relasi dengan Pasien

4 min read

Sumber gambar: yakinsehat.id

6,805 total views, 6 views today

Oleh: Muhammad Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Wajah Suryani (27), terlihat gelisah. Ia tak henti-henti menatap wajah anaknya, Rudi (2), di dalam dekapannya. Sesekali, tangan kanannya menyeka air mata anak semata wayangnya, dengan tisu.

Untuk menghentikan tangisan anak, sambil menggendong, ibu muda ini menggoyangkan-goyangkan tubuhnya dengan pelan. Ia berbuat begitu, supaya anaknya seolah-olah berada dalam ayunan. Dengan bersuara pelan lirih, Suryani juga mendendangkan lagu-lagu.

Sayangnya, apa yang dilakukan Suryani, tak menghentikan tangisan sang anak. Anak tercinta terus menangis. Suara tangisannya malah terdengar seperti bukan tangisan biasa.

Malam itu, di kala jarum jam hampir mendekati pukul satu dini hari, Suryani sebenarnya tengah menantikan kedatangan suami. Mengendarai motor, suaminya lagi dalam perjalanan menjemput sanro (dukun; selanjutnya disebut sanro) di rumahnya. Jarak rumahnya dengan sanro sekitar 15 menit.

Setelah hampir satu jam menunggu, sanro pun datang. Ia langsung masuk ke dalam rumah, menuju ke arah kamar, di mana masih terdengar suara tangisan anak. Rupanya, sanro hapal betul letak kamar pasangan suami istri ini.

Namun, sebelum masuk ke dalam kamar, sanro “mampir” dulu ke dapur. Ia mengambil gelas, dan kemudian mengisi air putih. Nantinya, air putih ini akan diisi doa-doa (jampe-jampe) sebagai salah satu medium pengobatan.

Ajaib! Tak lama sanro berada di dalam kamar, tangisan anak perlahan-lahan tak terdengar lagi. Reda. Dari keterangan Suryani, setelah keluar kamar bersama sanro, anaknya tertidur pulas di tempat tidur. Tidurnya pun mendengkur, menandakan kelelahan. Wajah Suryani dan suaminya, yang sebelumnya gelisah, akhirnya tampak lega.

Medis dan non Medis

Ada apa gerangan? Menurut penjelasan sanro, anak Suryani mengalami “kapinawangngang.” Dalam bahasa Makassar, “kapinawangngang” adalah sejenis penyakit yang disebabkan gangguan makhluk halus (jin dan setan). Ada makhluk halus “melengket” atau “mengikuti” tubuh anak Suryani.

Biasanya, anak-anak di bawah usia lima tahun kerap mengalami penyakit demikian. Mata anak yang masih polos dianggap memungkinkan melihat mahkluk halus. Ciri-ciri umumnya; gelisah, sering menangis, tatapan mata terlihat kosong, dan susah tidur di malam hari (Syuhudi, 2013).

Sebelum kejadian, dua hari lalu, dengan naik motor, Suryani memang sempat bepergian ke rumah keluarga di daerah. Boleh jadi, tanpa sepengetahuan mereka, ada makhluk halus “mengikuti” anaknya di perjalanan.

Istilah sanro sangat terkenal dalam kebudayaan Bugis-Makassar. Bahkan, eksistensi mereka dikenal sejak berabad lalu.

Untuk menjadi sanro, tidak ada pendidikan formal atau sekolah khusus. Mereka umumnya memperoleh kemampuan mengobati, karena “warisan” dari keluarga, yang sebelumnya memiliki kemampuan mengobati orang sakit (Koentjaraningrat, 1984, Syuhudi, 2013).

Dengan jampe-jampe (baca-baca) yang diambil dari teks-teks suci Al-Quran atau bahasa lokal, ia dipercaya mampu mengobati penyakit non medis maupun medis.

Penyakit non medis adalah penyakit akibat gangguan mahkluk gaib. Salah satunya seperti dialami anak Suryani. Sedangkan penyakit medis merupakan penyakit yang menggunakan istilah-istilah kedokteran, seperti kanker, tumor, lever, dan lain-lain.

Kalau melihat relasi Suryani dengan sanro, relasi mereka sangat akrab. Mereka layaknya keluarga. Dan, memang begitu adanya. Suryani mengaku mengenal sanro langganan ini dari orang tuanya, yang selalu menggunakan jasa sanro tersebut. Suryani sendiri sejak SMP sudah mulai diobati sanro ini.

Suryani ingat, ketika terserang puru le’leng (typus), sanro inilah yang mengobati hingga sembuh. Begitupula, saat kakak laki-lakinya sarampa, sanro ini yang mengobati sampai sembuh.

Dan, setiap kali selesai mengobati, orang tua Suryani hanya memberikan uang a la kadarnya. Artinya, keluarga Suryani tidak pernah merasa terbebani dengan uang yang diberikan.

Sebaliknya, berapa pun pemberian uang dari keluarga pasien, sanro tidak pernah mempermasalahkan. Jadi, dalam relasi sanro – pasien ini, uang bukanlah segalanya. Ini semacam resiprositas saja. Si sakit merasa tidak “enak hati” kalau diobati, dan lantas tidak memberikan “sesuatu.” Sementara itu, sanro pun merasa “tidak enak” apabila menolak pemberian dari keluarga pasien.

Anggap Keluarga

Bisa dikatakan, bila melihat relasi yang terbangun antara Suryani dan keluarga besarnya dengan sanro, yang terlihat bukan lagi berupa relasi sanro – pasien dalam arti harfiah. Maksudnya, relasi mereka bukan lagi relasi berbasis “kepentingan”, yang bertemu dan bertatap muka apabila ada yang sakit dan memerlukan pengobatan.

Lebih dari itu. Relasi yang terbangun di antara mereka cukup mendalam. Satu sama lain sudah saling menganggap keluarga sendiri.

Di luar urusan sakit, mereka acap kali bertemu, saling berkunjung, dan memberikan hadiah. Saat Suryani dan kakaknya menikah, sanro ini diundang sebagai bagian keluarga. Sanro pun memberikan hadiah pernikahan. Di sinilah letak “kehebatan” sanro membangun keakraban dengan para pasiennya.

Lalu, apa saja strategi sanro mempertahankan pasiennya? Selain memang dianggap “sakti” oleh pasiennya, sanro juga punya strategi lain.

Dikutip dari tulisan Muh. Irfan Syuhudi; “Etnografi Dukun: Studi Antropologi tentang Praktik Pengobatan Dukun di Kota Makassar (2013),” ia menyebutkan, strategi sanro mempertahankan pasien adalah siap dipanggil kapan saja, membuat pasien nyaman, serta tidak memasang tarif.

Menurut Syuhudi, maksud dari “siap dipanggil kapan saja,” adalah sanro tidak membatasi waktu melayani orang sakit. Jadi, kapan pun dan jam berapa pun, ia selalu bersedia dipanggil dan dijemput di rumahnya.

Kemudian, “membuat pasien nyaman,” dibuktikan dengan metode pengobatan sanro yang terkesan santai dan kekeluargaan, sehingga membuat pasien cepat akrab dan merasakan kenyamanan. Meskipun saat itu, mereka baru pertama kali bertemu.

Setelah mengobati pasien, sanro juga tidak terburu-buru pulang. Ia menyempatkan waktu beberapa menit untuk berbincang-bincang dengan keluarga pasien, sekaligus menghibur pasien.

Beberapa hari setelah mengobati pasien, sanro sering mampir ke rumah pasiennya untuk menanyakan kondisinya.

Sementara itu, “tidak memasang tarif” diartikan, apabila sanro memasang tarif tertentu, maka bisa berdampak pada menurunnya atau menghilangnya keahlian mengobati.

Mereka sebenarnya tidak menolak diberi bayaran atau hadiah. Yang mereka hindari, memasang tarif tertentu. Kalau pemberian ditolak, mereka menganggap sama saja menolak rezeki Tuhan.

Sebagian masyarakat percaya, apabila sanro telah mematok tarif tertentu, jangan lagi mempercayai pengobatan sanro tersebut.

Olehnya itu, sanro tidak pernah meminta uang kepada pasien atau keluarga pasien. Malah, sanro sendiri yang terkadang memberi uang kepada pasien, yang dianggap berasal dari keluarga kurang mampu.

Keyakinan “tidak memasang tarif” dipegang kuat oleh hampir semua sanro, hingga kini. Dari sinilah kemudian muncul kharisma seorang sanro.

Kharisma sanro akan muncul, eksis, dan tetap terpelihara, ketika keikhlasannya tetap terjaga. Kharisma mereka bakal meredup, ketika sudah berorientasi ke materi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *