Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Antropologi dalam Penelitian Agama

4 min read

Sumber gambar: indozone.id

7,240 total views, 6 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Suatu waktu, seorang peneliti menyajikan hasil temuan riset lapangannya dalam sebuah forum diskusi. Ia meneliti soal tradisi ziarah kubur masyarakat muslim di makam leluhur, di salah satu daerah di Jawa.

Sebenarnya, apa yang ia temukan dalam bentuk naratif, cukup menarik. Selain ziarah kubur dipandang sebagai “alarm” pengingat kematian, sehingga menyebabkan masyarakat berlomba-lomba berbuat kebajikan buat bekal di akhirat.

Juga, kata penyaji tadi, berziarah di makam leluhur, ternyata dijadikan pula oleh warga sebagai simbol penguatan etos kerja, supaya di kemudian hari, mereka lebih giat lagi bekerja, dan menjadi orang sukses.

Setidaknya, dengan kesuksesan yang akan mereka raih, warga meyakini bisa lebih leluasa menebar kebaikan dengan cara banyak bersedekah.

Namun, pada saat menyampaikan kesimpulan akhir, si penyaji sempat membuat para peserta diskusi terkejut. Apalagi, ia sebelumnya mengaku, metodologi yang digunakan saat riset adalah pendekatan antropologi.

Menurut dia, tradisi ziarah kubur memang baik. Namun, bagi dia, perbuatan tersebut dilarang dan tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam. Ziarah kubur juga perbuatan musyrik, karena dianggap menduakan Tuhan.

Memotret Fenomena Agama

Sebenarnya, kesimpulan yang ditarik penyaji di atas, tidak keliru. Namun, ketika ia menggunakan pendekatan antropologi untuk memotret fenomena keagamaan sebuah komunitas, maka di situlah letak kekeliruannya memahami antropologi.

Bagi yang memahami antropologi, atau yang pernah melakukan penelitian antropologi, kesimpulan penyaji tersebut, tentu saja mengejutkan. Sebab, penelitian antropologi tidak pernah menyalahkan pelaku budaya yang dianut oleh komunitas tertentu. Secara sederhana, antropologi adalah ilmu untuk memahami manusia dan kebudayaannya.

Ketika meneliti fenomena sosial keagamaan, seperti tertuang di dalam buku Bustanuddin Agus, “Agama dalam Kehidupan Manusia; Pengantar Antropologi Agama” (2006), pendekatan antropologi tidak menjawab pertanyaan seperti, bagaimana seseorang atau komunitas tertentu menjalankan agama berdasarkan kitab sucinya, melainkan bagaimana menurut penganutnya.

Antropologi memakai “pendekatan dari dalam” atau verstehen. Artinya, fenomena budaya yang dihasilkan oleh agama dipahami menurut interpretasi pemeluknya sendiri, tidak menurut kacamata peneliti.

Seorang peneliti, yang meneliti sebuah komunitas menggunakan pendekatan antropologis, tidak boleh memahami masalah dengan keyakinan dan nilai-nilai yang dianut oleh peneliti, dan kemudian dipaksakan tanpa didukung bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Yang” dalam kita suci adalah das Sollen (bagaimana seharusnya), sedangkan bagaimana menurut umatnya adalah empirik, yang dialami manusia, baik yang diyakininya, dikerjakannya, maupun yang dirasakannya (Bustanuddin Agus, 2006).

Menurut Clifford Geertz, dalam bukunya, “Kebudayaan dan Agama” (1992), meneliti agama tidak bisa dilepaskan dari hubungan antara agama dan masyarakat dalam berbagai variasinya.

Agama, kata Geertz, adalah sistem kebudayaan. Sebagai sistem kebudayaan, agama tidak terpisah dengan masyarakat. Agama tidak hanya seperangkat nilai yang tempatnya di luar manusia, tetapi juga merupakan sistem pengetahuan dan sistem simbol yang memungkinkan terjadinya pemaknaan.   

Syafi’i, dkk., dalam makalahnya berjudul “Pendekatan Antropologis dalam Penelitian Agama Islam: Sebuah Upaya Penegihan Relevansi, 2010, mengemukakan, agama yang diteliti oleh penelitian antropologi adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama sebagai produk Tuhan. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama, seperti kepercayaan, ritual, dan kepercayaan kepada yang sakral.

Tuhan yang gaib memang tidak dapat diteliti secara ilmiah. Namun, pengalaman empirik, seperti manusia percaya kepada Tuhan, bagaimana sifat Tuhan yang dipercayai, hubungan dengan Tuhan tersebut, dan lainnya, dapat diteliti secara ilmiah.

Karena itu, studi agama dalam pendekatan antropologi dipandang sebagai fenomena kultural dalam pengungkapannya yang beragam. Misalnya, kebiasaan, perilaku dalam beribadah, serta kepercayaan dalam hubungan-hubungan sosial (Feryani Umi Rosidah, “Pendekatan Antropologi dalam Studi Agama, Jurnal Religio, 2011).

Secara umum, lanjut Feryani Umi Rosidah, yang menjadi acuan pendekatan antropologi dalam studi agama, adalah mengkaji agama sebagai ungkapan kebutuhan makhluk budaya, yang dibagi menjadi tiga:

Pertama, pola-pola keberagamaan manusia dari perilaku bentuk-bentuk keyakinan/kepercayaan dari politeisme, hingga pola keberagamaan masyarakat monoteisme;

Kedua, agama dan pengungkapannya dalam bentuk mitos, simbol, ritus, tarian ritual, upacara, pengorbanan, semedi dan slametan;

Ketiga, pengalaman religius yang meliputi meditasi, doa, mistisisme, sufisme, dan lain-lain.

Wilayah Kajian Antropologi

Atho Mudzhar, ketika menulis buku “Pendekatan Studi Islam: dalam Teori dan Praktik” (1998),  membagi lima fenomena kajian agama (Islam) dalam penelitian agama, yaitu:

  1. Scripture atau naskah atau sumber ajaran dan simbol agama;
  2. Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya;
  3. Ritus, lembaga dan ibadat, seperti salat, haji, puasa, perkawinan, dan waris;
  4. Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng, peci, dan semacamnya;
  5. Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Gereja Protestan, Syiah, dan lain-lain.

Simbol, mitos, dan ritual kerap kali menyertai sebuah upacara keagamaan. Tanpa ini semua, sebuah laku kebudayaan dipandang belum memenuhi “persyaratan.” Hanya saja, apa yang disaksikan oleh pelaku kebudayaan lebih kepada bersifat profan (Bustanudin Agus, 2006).

Walau begitu, semua “yang profan” itu dapat “menjelma” menjadi “yang sakral.” Ini semua tergantung kepada manusia yang mengalaminya. Simbol dan mitos mampu membangkitkan imajinasi, kehendak, emosi, dan kehidupan bawah sadar untuk melihat yang ada di balik alam natural.

Hewan atau pohon totem, misalnya, hanya sekadar binatang atau pohon biasa dalam pandangan orang lain. Namun, bagi pelaku kebudayaan, semua simbol yang disertakan di dalam sebuah upacara keagamaan, acap kali dimaknai sebagai “yang sangat sakral.”

Begitupula Ka’bah, yang walaupun subjek profan, tetapi umat muslim memperlakukannya sebagai objek “yang sakral.”

Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya yang melekat di dalam dirinya.

Hal ini dapat menjelaskan mengapa interpretasi terhadap ajaran agama berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya.

Saat mengkaji Islam di Indonesia dan Maroko secara komparatif, Geertz menemukan, adanya pengaruh budaya yang cukup kental dalam memahami Islam. Geertz melihat Islam menjadi agama sinkretik di Indonesia, sedangkan Islam mempunyai sifat agrefis dan penuh gairah di Maroko.

Perbedaan manifestasi agama di dua tempat tersebut (Indonesia dan Maroko) menunjukkan,  bahwa realitas agama sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya (Sujono, 2011, Pendekatan Antropolologi dalam Kajian Islam).

Di sini, agama diposisikan dalam kerangka sosial empiris, sebagaimana realitas sosial lainnya. Dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, tentu hal-hal yang empirislah, walaupun hal yang gaib juga menjadi penting, menjadi perhatian kajian sosial. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *