Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

Ada Historik-Ada Trans Historik

6 min read

Sumber gambar: antronesia.com

11,350 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tema “Ada” merupakan salah satu tema utama (bahkan paling utama) dalam diskursus filsafat. Bagi mereka yang mendalami diskursus filosofis, persoalan “Ada” bukanlah hal sederhana.

Namun, tentu tidak seruwet yang dibayangkan. Dalam filsafat, tema “Ada” masuk dalam pembahasan ontologi atau metafisika umum (silakan, baca juga tulisan Saprillah, https://blamakassar.co.id/2020/07/06/ada-historik-dan-ada-non-historik).

Ada Historik dan Ada Non-Historik

Filosof pertama yang secara serius membahas persoalan “Ada” adalah Xenophones (580-470 SM), yang kemudian diikuti filosof Mazhab Elea lainnya, terutama Parmanides (540-475 SM). Bagi Xenophones dan filosof mazhab Elea, ”Ada” adalah arkhe atau asas dari alam semesta.

“Ada” sebagai arkhe bersifat tetap dan tunggal. Berbeda dengan Mazhab Elea, Herakleitos dari Ephesus (540-480 SM) memandang “Ada” bersifat tidak tetap atau berubah. Pante rei (segala sesuatu mengalir), tidak ada yang diam atau tetap, karena semua yang ada mengalami perubahan.

Sekilas, tampak paradoks kedua pandangan filsafat klasik tersebut. Namun, jika ditilik lebih lanjut, pada dasarnya perspektiflah yang membuat keduanya berbeda kesimpulan, saat membahas tema seputar “Ada”.

Mazhab Elea “meneropong” “Ada” sebagai ketunggalan bercorak metafisis, sehingga bersifat tetap. Sedangkan Herakleitos, melihat “Ada” sebagai kenyataan fisis yang jamak, serta dalam lingkup waktu yang duratif dan ruang yang spasial. Karena itulah, “Ada dalam ulasan Herakleitos senantiasa berubah.

Dalam diskursus filsafat Barat, secara umum terbagi dua pandangan tentang “Ada”. Sebagian memandang, bahwa “Ada” “terbagi” dalam realitas metafisis dan fisis, filosof Idealisme seperti Plato (427-347 SM) dan aliran Rasioanlisme seperti Rene Descartes (1596-1650).

Kelompok ini berpandangan, realitas metafisis lebih sejati dibandingkan realitas fisis. Sebaliknya, filosof aliran Materialisme memandang, yang ada hanyalah realitas yang bersifat fisis saja dan mengingkari keberadaan metafisis.

Puncak penolakan terhadap metafisika tersebut tampak pada kelompok Lingkar Wina, yang mengembangkan paham Positivisme Logis pada awal abad XX. Mereka  menolak keberadaan metafisika dan tegas menyebut, proposisi (pernyataan) metafisika seperti proposisi “Tuhan, itu ada” sebagai proposisi yang tidak bermakna.

Polemik seputar tema metafisika dalam sejarah diskursus Filsafat Barat, pada dasarnya pertentangan antara yang menerima dan yang menolak eksistensi Tuhan sebagai “Sang Ada”

Filsafat Islam

Dalam Filsafat Islam, persoalan “Ada” atau Wujud, merupakan persoalan pokok yang menjadi tema dasar, yang dibahas sebelum mengulas tema-tema kefilsafatan yang lainnya.

Pembahasan tentang wujud merupakan landasan bagi pembahsan tema-tema filsafat yang lain, yaitu tema seputar manusia dan alam.

Filsafat Paripatetik, yaitu al-Farabi (870-950) dan Ibnu Sina (980-1037), menjelaskan, wujud (ada) dengan membaginya menjadi Wajibul wujud  (necessary being) atau wujud yang niscaya adanya dan mumkinul wujud (contingent being), yaitu wujud yang untuk aktual membutuhkan wujud sebelumnya.

Wujud tertinggi adalah Tuhan sebagai yang Wajibul Wujud li dzatihi (Ada karena diriNya sendiri)

Menurut Mulla Shadra, Filosof Islam Persia (1572-1640), Wujud merupakan term yang tak terdefenisikan, karena semua defenisi dalam bentuk apa pun, terlebih dahulu berpijak pada pemahaman akan wujud. Wujud adalah term yang self-evidence. Sehingga, tak membutuhkan definisi apa pun untuk menjelaskannya.

Wujud adalah sesuatu yang melandasi semuanya. Apa pun. Kapan pun. Di mana pun. Wujud tak terbatasi oleh ruang, waktu, atau ke-apa-an. Wujud adalah semuanya. Wujud adalah sesuatu dan mencakup semua ke-sesuatu-an.

Dari sinilah Mulla Shadra mengembangkan pandangannya tentang kesatuan wujud (Wahdatul Wujud).

Wujud dipahami sebagai “realitas” universal dan “membentag”, kemudian menemukan partikularitasnya dalam “realitas obyektif” melalui esensi (mahiyyah).

Mawjud adalah gradasi wujud yang mengalami partikularisasi dan menghadirkan kejamakan.  Yang menjadi berbeda satu dengan lainnya, karena adanya mahiyyah (esensi), yang membuat satu mawjud berbeda dengan mawjud yang lain.

Karenanya, mahiyyah adalah gagasan tentang realitas objektif partikular. Sedangkan wujud adalah gagasan obyektif universal.

Tuhan Ada (Historik-Trans Historik)

Banyak yang mengaitkan pembahasan “Ada” dalam filsafat pada dasarnya adalah pembahasan tentang Tuhan.

Tuhan sebagai Sang Ada Absolut atau Wajibul Wujud dan Kausa Prima (Sebab Pertama) tak terjangkau oleh pikiran manusia. Tapi, Dia dipersepsi berbeda-beda oleh konsepsi manusia sepanjang sejarah.

Tuhan yang “berbeda-beda” dalam alam persepsi manusia, adalah Tuhan yang historik. Tuhan yang didiskusikan. Tuhan yang diperdebatkan. Tuhan yang dipertentangkan. Bahkan, Tuhan yang “diperebutkan.”

Banyak, filosof yang mencoba “membunuh” Tuhan. Yang paling garang, adalah Frederich Nietzsche (1844-1990), yang berteriak bahwa “Tuhan telah mati”. Tapi, (diskursus) Tuhan tetap hidup. Para filosof itulah, yang akhirnya mati.

Max Horkheimer (1895-1973), Filosof Mazhab Frankfurt menyebut, Tuhan sebagai “yang serba lain.”

Menurut Horkheimer, meski kita tidak bisa menyatakan secara positif, siapa Tuhan itu, namun tanpa pemikiran tentang Tuhan, tidak ada makna mutlak di dunia ini. Tidak ada kekuatan absolut. Tanpa Tuhan, moralitas akhirnya hanya menjadi masalah selera subjektif belaka.

Tuhan yang di luar jangkauan pikiran manusia, adalah Tuhan yang Trans-Historik. Melampaui historisitas, tetapi diyakini menjadi Penyebab Utama dari seluruh alur kejadian historis.

Saya memilih diksi historik dan trans-historik, untuk menghindari ambiguitas semantik. Trans-Historik bukanah non historik, apalagi ahistorik.

Trans-Historik berarti, Dia yang melampaui sejarah. Namun, menjadi penyebab jalannya sejarah. Dia berada “di luar” dimensi waktu, namun dimensi waktu berada “di dalam DiriNya”, dan di bawah kendaliNya.

Tuhan yang historik, adalah Tuhan yang “ditangkap” dan diproyeksikan oleh manusia dengan berbagai pendekatan (agama, filsafat, maupun mistisisme).

Manusia, dengan segenap keterbatasannya, berupaya memahami Dia, yang meski sedari awal telah diatribusi sebagai “Sosok Yang Tak Terbatas.” Apakah ini salah atau paradoks? Tidak.

Inayat Khan (1882-1927), Sufi India menyatakan, sesungguhnya pandangan dan gagasan tentang Tuhan, adalah sebuah jembatan yang menghubungkan kehidupan yang terbatas dengan realitas yang tak terbatas.

Lanjut Inayat Khan, siapa pun yang melewati jembatan ini akan selamat melewati kehidupan yang terbatas menuju kehidupan yang tidak terbatas. Gagasan tentang Tuhan, atau pikiran ketuhanan, adalah kedalaman kehidupan, dan kedalaman aktivitas, yang kepadaNya, seluruh dan setiap aktivitas dihubungkan.

Hadis Qudsi

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah berfirman, “Aku sesuai dengan yang dipersangkakan oleh hamab-Ku kepada-Ku.”

Pernyataan Allah ini akhirnya “mensahkan” persepsi-persepsi kita tentang Dia. Walaupun apa yang kita persepsikan tentang Dia, bukanlah Dia yang sesungguhnya.

Tuhan yang historik, khususnya dalam konsepsi agama-agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam), dapat kita baca deskripsinya dalam buku Karen Armstrong, “Sejarah Tuhan.”

Dalam Islam, Tuhan historik tersebut hadir dalam alam pikiran kaum mutakallim (ahli kalam/teolog), yang deskripsi singkatnya dapat kita baca dalam buku “Teologi Islam,” karangan Harun Nasution.

Dalam diskursus filsafat, teologi, dan mistisisme, Tuhan yang historik adalah Tuhan yang memanifestasikan dan menampakkan DiriNya dalam alam semesta (teophany). Atau, Tuhan yang melakukan kreasi yang sempurna di alam semesta (teodice).

Tuhan yang Trans-Historik, pada hakikatnya, bukanlah Tuhan yang jauh. Dia begitu sangat dekat, “lebih dekat dari urat leher” (QS. Qaf {50}:16) serta Sosok yang mengatasi segala “ke-di mana-an”, karena, “ke manapun kau hadapkan wajahmu, di situ ada wajah Allah” (QS. al-Baqarah {2}:115).

Dia yang Trans-Historik adalah Dia yang berada di luar kendali persepsi dan bahasa. Filosof  besar abad XX, Ludwig Wittgenstein (1881-1951), mendeskripsikan Tuhan yang Trans-Historik sebagai:

“Zat Transenden yang eksistensiNya melampaui seuruh matra materi duniawi, Dia adalah mystic yang tak dapat diekspresikan dengan bahasa duniawi. Namun, percaya akan adanya Tuhan berarti memahami berbagai persoalan makna kehidupan. Percaya kepada Tuhan berarti memandang berbagai fakta duniawi ini bukanlah akhir dari segalanya, dan dengan percaya kepada Tuhan berarti memandang bahwa hidup ini sungguh mempuyai suatu maksud dan tujuan yang bermakna.”

Pelajaran moralnya, adalah historisitas bukanlah akhir. Historisitas adalah jalan menuju ketakterhinggaan yang trans-historik (abadi).

Trans-Historik adalah pemantik bagi hadirnya makna-makna sebagai pemandu (driving integrating) dan pemadu (unifying) bagi jalannya historisitas.

Sufi

Dilema Historik dan Trans-Historik akan menemui sedikit titik terang dalam konsep sufisme. Bagi sufi, Tuhan adalah Yang Lahir dan yang Batin, satu-satunya Wujud. Tuhannya para sufi,  bukan semata-mata keyakinan religius, tetapi juga cita-cita tertinggi dari apa yang dapat dibayangkan dan dijangkau oleh manusia.

Sufi mengalahkan egonya dan bertujuan semata-mata untuk menemui Tuhan, senantiasa berada di bawah naungan cahaya dan cinta.

“Dalam Tuhan,” para sufi melihat kesempurnaan segala sesuatu yang ada dalam jangkauan persepsi manusia. Akan tetapi, para sufi tahu, Tuhan sejatinya berada di luar jangkauan manusia.

Para sufi memandang diriNya seperti memandang kekasih, dan mengambil segala sesuatu yang berasal dariNya dengan penuh tawakal. Baginya, nama suci dari Tuhan, adalah seperti obat mujarab bagi semua persoalan kehidupan.

Ajaran Ilahi adalah pedoman bagi mereka dalam mengemudikan kapal jiwa menuju pantai keabadiaan.

Tuhan bagi para sufi, adalah Dia yang menaikkan (mengangkat) hamba-hamba yang dikasihiNya menuju tujuan kekal (derajat tertinggI), yakni Dia, sebagai satu-satunya tujuan hidup yang sejati. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *