Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Superman Merah & Komunisme yang Mengingkari Dirinya

6 min read

Sumber gambar: searchtips.lib.morainevalley.edu

8,290 total views, 4 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tak pernah terbetik dalam pikiran saya, bahwa suatu ketika seorang Superman akan menjadi komunis.

Dan, untuk hal itu, saya yakin tidak sendiri. Siapa pun yang pernah membaca komik Superman, atau menonton filmnya, akan segera maklum, bahwa ia adalah ikon Amerika.

Kendati Superman adalah alien yang berasal dari Planet Crypton. Namun, terang benderang, ia simbol kedigdayaan negeri adikuasa tersebut.

Superman tumbuh dan besar di Smallville (kota rekaan), Kansas, Amerika Serikat. Superman,  yang dalam kehidupan biasa bernama Clark Kent, menjadi tokoh komik yang dikenal di seluruh penjuru semesta. Ketenarannya seakan menjadi representasi kegemilangan Amerika dalam mendikte jagat raya.

Tetapi, kini, Superman tiba-tiba saja menjadi seorang komunis. Namanya bukan Clark Kent, melainkan Somiskha. Sejawat bermainnya adalah Dimitri Romanovich. Anak badung yang lebih sering mengganggu dirinya.

Sementara seorang teman perempuan lainnya, atau mungkin pengasuhnya, bernama Svetlana. Si Svetlana inilah, yang mati-matian melindungi Somiskha dari keusilan Romanovich.

Nama-nama tadi segera akan memberikan gambaran pada kita, bahwa itu adalah nama-nama orang Rusia. Kenyataannya, memang demikian. Superman, yang bernama Somiskha,  terdampar di Rusia.

Pada saat itu, Rusia masih negara bernama Uni Soviet. Somiskha tumbuh menjadi dewasa di titimangsa 1953. Tahun terakhir kekuasaan Stalin.

Cerita tentang Superman yang komunis, ini muncul dalam film animasi Superman teranyar, ”Superman: Red Son” (Superman si Anak Merah). Film ini membuat buyar segenap imajinasi saya terhadap Superman, yang saya anggap representasi kapitalisme Amerika Serikat.

Dalam film ini, sosok Superman tidak berubah. Ia Superman yang kita kenal selama ini; super kuat, punya senjata laser merah di mata, jubah merah, celana dalam merah yang dikenakan di luar, serta kaos biru ketat membungkus tubuhnya yang kekar. Tetapi, yang berbeda adalah logo di dadanya.

Palu Arit

Yang unik, bila selama ini di dadanya tertera simbol S, yang diasosiasikan dengan huruf depan namanya. Kini, di dadanya, adalah simbol Palu Arit. Lambang komunisme, Coy…!

Coba, jika film animasi ini dibuat oleh orang-orang Indonesia. Hebohnya pastilah sundul langit.

Bukankah, saat ini saja, sementara kalangan sudah heboh dengan isu kebangkitan PKI? Tiba-tiba saja muncul bendera merah berlogo Palu Arit, yang dibakar oleh para demonstran. Bendera yang tidak jelas asal usulnya. Ada yang mengatakan, bendera itu dibuat sendiri oleh pedemo, dan lalu dibakar sendiri.

Coba, belum begitu jelas saja buktinya, bahwa ada PKI di antara kita, hebohnya sudah tidak ketulungan. Apalagi, jika tiba-tiba muncul film animasi super hero berlogo Palu Arit.

Untungnya, film animasi ini diproduksi di Barat sana. Tetapi, jangan-jangan, gara-gara film itu pula, makanya komunisme dianggap bangkit?

Tetapi, tunggu dulu! Film itu justru melakukan kritik terhadap komunisme. Khususnya, praksis dari komunisme yang diterapkan Stalin. Setidaknya, begitulah menurut saya.

Dalam film ini, Superman digambarkan sebagai seorang ideolog komunis yang sangat ideal. Ia menjadi komunisme, karena meyakini ideologi ini jalan terbaik untuk membangun masyarakat dunia yang adil.

Melalui komunisme, demikian pikir Superman, penindasan bisa dihilangkan dan pengisapan atas kaum buruh bisa dihapuskan.

Kapitalisme

Sebagaimana halnya para komune lainnya, Superman sangat sinis terhadap Amerika yang dianggap sebagai pusat kapitalisme.

Simaklah dialognya ketika bertemu jurnalis Daily Planet, yang tak lain adalah Louis Lane. Bedanya, Louis Lane di film ini, bukan kekasihnya. Louis Lane malah telah menjadi istri Luthor, lawan abadi Superman.

Dalam dialog dengan Louis Lane, Superman tidak hanya mengejek Luthor sebagai suami kapitalis Lane, tetapi juga mencibir Amerika.

Ketika Lane berkata “Amerika serikat adalah  pelindung  bagi semua benua, benteng kebebasan dan kesetaraan.” Superman menjawab, “Bentengmu dibangun di pundak para budak dan imigran.”

Kata Superman selanjutnya, “Kau dan ras istimewamu hidup dalam kemewahan. Sementara rakyat dan kaum buruh hidup banting tulang; menderita, sekarat.”

Tidak hanya meyakini komunisme sebagai ideologi untuk keadilan. Superman juga setia pada Stalin. Sampai pada akhirnya, Superman ditunjukkan satu kenyataan, rakyat Uni Soviet ternyata berada dalam penindasan.

Apa yang ia bayangkan komunisme melalui Stalin akan menghilangkan penindasan pada rakyat kecil, ternyata justru sebaliknya dengan apa yang disaksikannya di satu kamp bernama Gulag.

Di tempat itu, rakyat Soviet, khususnya para kaum buruh, justru mengalami penindasan. Beberapa dari mereka bahkan dieksekusi, karena dianggap melawan rezim. Padahal, mereka hanya mengeritisi rezim Stalin.

Inilah ironi pertama dari komunisme yang Superman saksikan. Cita-cita keadilan, kesejahteraan, kemakmuran bagi semua, ternyata dalam kenyataannya, adalah penindasan terhadap rakyat.

Hal ini tidak lain, karena seperti Lenin, Stalin pun setuju dengan apa yang disebut diktator proletariat, yang akan mengontrol para buruh. Tidak sekadar mengontrol, kekerasan menjadi wajib untuk mengontrol dan mengatur para buruh tersebut. Hanya dengan cara itu, kestabilan revolusi bisa dijamin.

Hal ini mengecewakan Superman. Bagaimana mungkin cita-cita keadilan itu harus dirintis dengan menindas, bahkan menghabisi anak kandungnya sendiri? Karena kekecewaan itulah, Superman merasa perlu mengambilalih pimpinan revolusi.

Menurutnya, bukan komunisme yang salah, tapi tafsir dan praksis Stalin atasnya yang keliru. Superman pun menghabisi Stalin.

Setelah pimpinan revolusi berada di pundaknya, Superman mulai merombak tatanan dunia. Berhasil? Tentu saja. Internasionalisme yang dicita-citakan komunisme, ternyata bisa diterapkan oleh Superman. Seluruh dunia bergerak sesuai tatanan yang dibangunnya.

Mengapa bisa semudah itu? Apa semua negara ujuk-ujuk langsung setuju berada dalam tatanan dunia baru, sebagaimana yang diinginkan komunisme a la Superman?

Tidak! Tentu, banyak yang melawan. Tetapi, yang menjadi pimpinan revolusi dunia ini, adalah Superman. Yang tidak setuju dengan tatanan dunianya, tentu saja dengan mudah ia gulung.

Pelajaran penting yang kita bisa petik dari sini, Anda membutuhkan sosok Superman untuk membentuk tatanan pemerintah yang berlaku untuk seluruh jagat.

Karena itu, yang masih bermimpi membentuk tatanan dunia yang tunggal baik ala komunisme maupun sistem Khilafah, mau tak mau memerlukan manusia super a la Superman.

Hanya sosok seperti dialah yang bisa menegakkan cita-cita komunisme dan mungkin juga memenuhi harapan para pengusung Khilafah.

Namun, dengan kehebatan supernya itu, Superman sejatinya, telah mengingkari prinsipnya (komunisme menurut dia). Bukankah ia dulu kecewa pada Stalin, karena untuk membangun tatanan dunia komunis, Stalin harus melakukan penindasan, pemaksaan, dan pembantaian?

Tetapi, apa yang dulu membuatnya kecewa, kini sadar atau tidak, telah dilakukannya. Dengan kekuatan supernya, ia memaksa, dan bahkan, menghancurkan pemimpin negara lain yang menolak gagasannya.

Superman bisa saja berkilah. Ia hanya menghabisi rezim yang menolak tatanan dunia yang adil.  Tetapi, apa pun alasannya, tindakannya telah ikut mengorbankan rakyat tak berdosa.

Pada akhirnya, Superman memang berhasil membangun tatanan dunia yang berpijak pada ideologi komunisme. Rakyat berada dalam kesejahteraan. Tak ada kesenjangan. Semua sama rata, sama rasa. Superman, sang komunis, memberikan  sandang, papan, dan pangan lebih dari cukup.

Namun, persis di situlah ironi itu kembali berlanjut. Rakyat seluruh bangsa-bangsa memang terlihat sama rata dan tercukupi kebutuhannya. Akan tetapi, kesejahteraan itu disusun secara universal. Keadilan adalah apa yang dipandang adil dalam konsep Superman.

Apa artinya kesejahteraan, jika kebebasan untuk menentukan diri sendiri tidak dimiliki?  Satu-satunya kebebasan yang dirasakan oleh masyarakat dunia adalah, kebebasan melakukan persis seperti yang Superman ingin lakukan. Tidak ada kebebasan di luar dari yang dikehendaki oleh Superman komunis ini.

Begitulah risiko Internasionalisme, yang mungkin dipahami keliru. Internasionalisme yang bercita-cita menyatukan dunia dalam satu rezim kekuasaan. Cita-cita semacam itu, kendati mengatasnamakan keadilan, toh pada akhirnya mengingkari hakikat dari keadilan itu sendiri.

Boleh jadi, memang, marxisme menjadi rumit dalam praksisnya.  Bukankah Marx sendiri tidak pernah ingin menjadikan komunisme sebagai agama baru. Ia tidak ingin membentuk satu model masyarakat komunis yang universal. Hal itu diakuinya secara tersirat dalam penutup Kapital I.

Tetapi, begitulah kritik total Marx terhadap moda produksi kapitalis, ditafsirkan para pelanjut dengan mendirikan tatanan komunis yang berlaku total dan menyeluruh.

Gagasan Marx yang bertujuan mendudukkan kaum proletar sebagai subjek revolusioner utama dalam menumbangkan sistem ekonomi kapitalisme, diterjemahkan para pelanjut dengan membangun kekuatan diktator proletar.

Superman akhirnya sadar. Dunia komunisme yang dibangunnya, ternyata adalah ironi. Kesadaran itu datang, ketika Louis Lane menunjukkan miniatur masyarakat dunia yang dibentuk Superman dalam sebuah akuarium kecil. Superman terpana.

Superman seakan-akan melihat masyarakat dunia itu semacam spesimen dalam laboratorium, lalat dalam sangkar, dan ikan dalam akuarium. Mereka memang cukup makan. Tapi, mereka hanya bisa bergerak sejauh batas yang telah ditetapkan oleh sang jagoan.

Komunisme telah berubah menjadi agama. Dan, Superman bertindak menjadi Tuhannya. Tetapi,  bukan hanya komunisme. Siapa pun yang ingin membangun tatanan dunia yang tunggal, jangan-jangan, juga ingin bertindak seperti Tuhan? (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *