Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

Saksikan “Basmar Ngoceh Sipakainga’ bersama Daeng Ngiba’le” di Youtube, Berisi Pesan-Pesan Leluhur Bugis-Makassar

4 min read

Salah satu konten youtube garapan Baso Marannu, "Basmar Ngoceh Sipakainga.' Foto: Istimewa.

6,904 total views, 6 views today

DUA pria berbonceng motor memasuki sebuah rumah. Dua pria tersebut ditaksir berumur sekitar 50. Motor berhenti tak jauh dari pintu utama. Pria kemeja merah berlengan panjang rapi, yang duduk di belakang, turun dari motor. Ia membuka helm. Lalu, memakai songkok khas Makassar. Ia kemudian jalan tergopoh-gopoh menuju pintu. Di depan pintu rumah, ada seorang perempuan tengah berdiri.

Pria yang membawa motor, juga melepas helm, jaket, dan memakai topi. Wajahnya sedari tadi terlihat senyum-senyum sendirian. Cengengesan. Tapi, wow..! Ada yang unik dari dua pria ini. Ya, wajahnya. Rupanya, wajah mereka sama. Kembar.

Di ruang tamu, mereka lantas berbincang-bincang dengan seorang perempuan tadi, yang ternyata seorang dosen bergelar Doktor, di salah satu perguruan tinggi di Makassar. Rumah ini milik perempuan itu. Jadi, dua pria ini adalah tamu.

Demikian, sepintas cuplikan di awal-awal video dari kanal You Tube, “Basmar Ngoceh Sipakainga’ bersama Daeng Ngiba’le”, yang ditayangkan, Senin, 6 Juli 2020. Tayangan ini merupakan konten yang kesekian kalinya dari garapan Basmar Academy.

Lalu, siapa pria “kembar” ini?

Yang bersongkok khas Makassar bernama Daeng Ngiba’le, sedangkan satunya, Basmar (Baso Marannu). Mereka sangat akrab. Ini dapat dilihat, lantaran keduanya kerap saling mencandai dan mengejek.

Yang menarik, sosok Daeng Ngiba’le dan Basmar, diperankan oleh satu orang, yaitu Baso Marannu sendiri. Setiap kali “mentas”, Baso memerankan dua lakon berbeda, tetapi tetap dalam panggung yang sama.

Lantas, bagaimana lakon Daeng Ngiba’le dan Basmar tercipta? Apa yang melatarinya? Kepada Website BLAM, blamakassar.co.id, sang Sutradara, Baso Marannu, yang juga Peneliti Bidang Pendidikan Agama dan Layanan Keagamaan, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), menuturkan secuil kisahnya, yang diramu dalam bentuk tanya jawab:

Boleh Anda menceritakan sedikit mengenai kisah-kisah yang diangkat dalam lakon Daeng Ngiba’le dan Basmar?

Sebenarnya, kisah yang saya ceritakan di dalam dialog-dialog Daeng Ngiba’le & Basmar, cukup sederhana. Ini semacam cerita lisan yang coba saya ambil dan gali dari peninggalan leluhur kita di Sulawesi Selatan, yang umumnya berisi pesan-pesan kebaikan. Sayangnya, pesan-pesan baik dan indah dari leluhur kita itu, sudah mulai ditinggalkan dan dilupakan oleh sebagian generasi sekarang.

Dalam cerita Daeng Ngiba’le & Basmar, misalnya, saya mencoba untuk saling mengingatkan, atau “sipakainga”. “Sipakainga” ini merupakan sebuah prinsip hidup Orang Bugis-Makassar dalam melakoni kehidupan sosial. Meski dialognya tidak terlalu panjang dan mungkin terkesan sederhana, namun saya mencoba mengemasnya dalam konten yang lebih kreatif dan mendidik.

Pada saat keduanya berdialog, mereka menampilkan bahasa Makassar, atau dialek logat Makassar, yang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan. Identitas bahasa dan dialek ini, akan terus dipertahankan dalam tayangan “Basmar Ngoceh Sipakainga.” 

Apa yang melatari Anda membuat konten ini di kanal Youtube?

Saya melihat beberapa konten kreatif (khususnya di youtube), yang dihadirkan oleh para kreator di Makassar, secara khusus banyak menampilkan hanya cerita-cerita lucu. Sebenarnya, menarik juga sih.

Cuma, saya mengamati, yang menyentuh dunia karakter dan perilaku yang lebih bersifat mendidik masih kurang, terutama menampilkan orang-orang Sulawesi Selatan secara umum,  yang memiliki keilmuan.

Nah, saya melihat ruang kosong tersebut, sehingga Basmar Academy hadir untuk mengisi celah yang kosong itu. Saya yakin, orang-orang Sulawesi Selatan banyak memiliki potensi-potensi yang bisa ditampilkan secara kreatif, dengan materi yang mendidik dan tetap menghibur.

Saya tertarik dengan pemilihan nama Daeng Ngiba’le. Boleh Anda ceritakan ada apa dengan nama tersebut?

Nama nama Daeng Ngiba’le itu, sebenarnya nama saya sendiri, Baso Marannu Daeng Ngiba’le. Jadi, bukan nama imajinasi. Kalau di kalangan internal keluarga, saya dipanggil Daeng Ngiba’le.

Apa saja tema yang diangkat dari konten Daeng Ngiba’le?

Saya mencoba mengangkat tema-tema yang lebih mendidik dan menggali ilmu pengetahuan secara umum yang dimiliki oleh orang-orang Makassar khususnya, dan secara umum orang Sulawesi Selatan.

Lalu, siapa yang menjadi “sasaran” dari konten ini?

Segmentasi konten ini ditujukan buat remaja dan orang tua. Khusus remaja, agar mereka tetap membudayakan bahasa Makassar yang saat ini mereka terkadang sudah melupakannya. Termasuk, tentunya, beberapa tradisi kita sebagai Orang Bugis Makassar, yang mulai dilupakan oleh anak-anak dan remaja.

Sementara untuk orang tua, sekadar mengingatkan dan mengobati kerinduan mereka dengan dialog Bahasa Makassar, terutama bagi mereka yang berada di perantauan.

Ini yang menarik juga. Setiap saat, Daeng Ngiba’le ditemani seorang sahabat. Namanya, Basmar. Tapi, uniknya, mengapa wajah mereka seolah-olah “kembar” sejak lahir (twins by birth), karena memang diperankan oleh orang yang sama. Nah, mengapa Anda tidak mencari sosok lain sebagai sahabat Daeng Ngiba’le?  

Saya melihat di beberapa konten kreatif, model dialog yang dilakukan oleh satu orang masih sangat kurang. Yang ada justru berganti peran. Namun, sistem shoot-nya di cut (dipotong), tapi dialog tanpa jeda semacam podcast masih jarang dilakukan, khususnya diperankan oleh satu orang.

Di sinilah tingkat kreativitas sutradara dan pembuat konten. Memang agak berat, karena terkadang Basmar ikut larut dengan gaya bahasa Daeng Ngiba’le. Hehehe..

Sebenarnya, teman akrab Daeng Ngiba’le, itu awalnya Basmar. Tapi, pada perkembangan selanjutnya, Basmar kemudian mengajak Daeng Ngiba’le untuk bertemu orang-orang kompeten, yang dapat memberikan informasi mengenai ilmu pengetahuan apa saja.

Jadi, nantinya, Daeng Ngiba’le bersama rekannya, Basmar, akan menyambangi sejumlah orang dari kalangan dosen, peneliti, praktisi, guru, untuk membincangkan tema-tema tentang sosial, pendidikan, dan budaya.     

Barangkali, masih banyak yang merasa penasaran dengan sosok Daeng Ngiba’le dan Basmar. Bisa Anda ceritakan seperti apa karakter sosok dua sahabat ini?

Daeng Ngiba’le itu rakyat biasa saja, dan menjalani profesi sebagai pedagang. Namun, dalam kehidupannya, ia menganggap dirinya sudah berpengalaman dan banyak makan asam garam. Orangnya realistis, terkadang sok tahu, dan tidak terlalu banyak bercerita tentang teori. Namun, ketika ketemu Basmar yang selalu berbicara teori, Daeng Ngiba’le akhirnya suka marah-marah.

Sebaliknya, sosok Basmar digambarkan sebagai orang yang lebih banyak berpikir akademis, optimistis, dan selalu berbicara teori. Makanya, pada beberapa hal, ketika berdialog dengan Basmar, mereka berdua selalu bertentangan dan “berantem.”

Oh, ya. Bagaimana kalau orang lain ingin juga menyaksikan konten ini di youtube?

Klik saja di kanal youtube Basmar Academy. Dan, jangan lupa klik like, share, dan subsribe, ya. Hehehe..

Oke. Terima kasih. Sukses terus berkreasi dan berkarya untuk negara kita tercinta.

Terima kasih. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *