Sat. Aug 8th, 2020

BLAM

KEREN

Ada Historik dan Ada Non-Historik

6 min read

Sumber gambar: pwnubanten.or.id

13,673 total views, 8 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Kematian subyek adalah proyek penting dalam filsafat postmodernisme. Keterpisahan subyek dibutuhkan untuk menentukan makna dalam teks, meskipun itu berasal dari sang subyek.

Derrida mengklaim, bahwa “kehadiran” subyek bisa ditemukan tanpa menghadirkannya. Subyek ada dalam teks dalam bentuk ‘jejak’. Pikirannya, tujuannya, dan ideologinya, bisa ditemukan di dalam teks, tetapi tidak otoritatif. Subyektifitas sang subyek juga tidak lagi murni.

Seorang penulis novel tidak bisa lagi mengklaim kebenaran. Termasuk, menghindar dari kesalahan-kesalahan yang dilakukannya. Sang subyek telah mati dan meninggalkan jejak. Para pembaca merayakan kematiannya dengan melakukan reinterpretasi dan redefinsi terhadap diri sang subyek.

Tuhan adalah subyek utama dalam agama. Tidak ada subyek lain. Agama monoteis memiliki agenda “pemurnian” ide subyek tunggal sebagai proyek sepanjang zaman.

Para teolog dan moralis agama hadir dalam seluruh waktu sejarah untuk menyuarakan “ketunggalan” Tuhan sebagai subyek utama, tanpa peduli suara itu kontekstual atau tidak.

Para moralis ini meyakini, konsep penunggalan adalah ide dasar bagi pembentukan moralitas dunia dan sekaligus menjadi tujuan penciptaan. Ini adalah ide paling dasar yang membentuk identitas agama selanjutnya.

Tuhan sebagai subyek utama dari seluruh alam semesta adalah keniscayaan. Seharusnya demikian. Namun, ketika Tuhan hendak dihadirkan oleh manusia, melalui bahasa untuk kepentingan membuktikan keniscayaan itu, perkara sederhana ini berubah menjadi rumit.

Kebingungan pun muncul. Pecah kongsi. Konflik antaragama terjadi. Tuhan diklaim berdasarkan teks masing-masing agama. Tuhan yang dipercaya hanya satu itu, tiba-tiba menjadi banyak. Tuhan orang Islam, Tuhan orang Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Buddha, dan banyak agama lainnya, adalah tuhan yang berbeda.

Kelompok perenialis, yang datang dengan konsep Satu Tuhan dalam banyak wajah, dan kelompok ateis, yang datang dengan konsep ketiadaan Tuhan, ditentang habis-habisan.

Kelompok perenialis dianggap mengaburkan batasan agama dan mencampuradukkan kebenaran. Kaum puritanis dalam semua agama menolak dengan tegas ini; satu Tuhan dalam banyak wajah.

Yang menerima konsep ini adalah mereka yang terbiasa dengan dialog antariman. Itupun dengan penerimaan yang setengah hati. Sedangkan kelompok ateis telah lama menjadi musuh semua agama.

Dalam doktrin Islam, Tuhan telah mendekonstruksi diri-Nya sejak awal dalam pikiran manusia. Tuhan telah menyatakan “manusia tidak perlu memikirkan dzat-Nya, cukup memikirkan ciptaan-Nya.”

Sebelum kaum posmo menyerukan “peniadaan otoritas subyek dalam teks,” Tuhan telah meniadakan eksistensi-Nya dalam pikiran manusia yang terbatas. Sebagai gantinya, Tuhan menghadirkan jejak-Nya melalui para nabi, kitab suci, dan alam semesta.

Sebagai subyek, Tuhan dengan sengaja “meniadakan” diri-Nya. Ketika Nabi Ibrahim sangat penasaran dengan kehadiran Tuhan. Tuhan menjawabnya dengan “Apakah kau tidak yakin?” “Tidak, Tuhan. Untuk menenangkan hatiku,” jawab Ibrahim.

Tuhan tidak memenuhi harapan Ibrahim melainkan menghadirkan “jejak.” Nabi Ibrahim diminta untuk membelah seeokor burung, dan meletakkannya di empat tempat berbeda. Lalu, Nabi Ibrahim kembali ke tempatnya. Potongan burung tadi utuh dan hidup kembali. Ini cara sederhana yang bisa dipahami oleh logika manusia.

Tuhan ada!

Tuhan ada! Ini satu-satunya kalimat yang bisa digunakan untuk “menghadirkan” eksistensi-Nya dalam bahasa. Tidak perlu pembuktian. Tidak perlu penjelasan apa-apa.

Saya bahkan melenyapkan sisipan atau kelengkapan bahasa lain seperti “adalah, itu, ini, dan lain-lain” untuk menggunakan sesedikit mungkin unsur dari bahasa.

Saya meyakini, semakin banyak bahasa yang digunakan untuk tujuan “membuktikan Tuhan ada,” koordinat Tuhan semakin menjauh.

Apakah Tuhan tidak bisa dijelaskan? Bisa. Tetapi, wadah yang digunakan untuk menjelaskan Tuhan tidak cukup. Bahasa terlalu lemah untuk bisa mengungkapkan kehadiran-Nya.

Menjelaskan Tuhan melalui bahasa, berarti sedang mengaburkan tuhan dalam pikiran. Lihat saja, penjelasan-penjelasan tentang Tuhan saling bertabrakan satu sama lain.

Agama yang mengklaim diri sebagai “jejak” Tuhan, justru berbeda paham dalam menghadirkan Tuhan. Bahkan, saling menegasi. “Tuhan kamu bukan Tuhan Saya.”

Uniknya, perbedaan klaim ini justru dibutuhkan oleh masing-masing agama agar mereka punya ruang identitas. Bayangkan jika agama ini bersepakat menyembah Tuhan yang sama, maka secara otomatis identitas agama yang terbedakan tidak lagi relevan. Semakin rumit kan?

Agar tidak terjebak dalam penjara semantik, sangat penting untuk segera melakukan redefinisi tentang “ada.” Saya menggunakan istilah “ada historik” dan “ada non-historik.”

“Ada” historik adalah ruang ke-ada-an yang berada dalam kendali manusia, melalui bahasa. Sedangkan “ada non-historik” berada di luar kendali manusia.

“Ada historik” terhubung dengan “ada non historik”, tetapi dipisahkan oleh keterbatasan manusia. Ada-non historik inilah yang disebut “ketiadaan” oleh manusia. Dua jenis “ada” ini tidak terpisah satu sama lain. Dia hanya terpisah di dalam pikiran manusia.

Meminjam Derrida, oposisi binner tentang ada dan tidak ada menyebabkan kehadiran Tuhan menjadi perdebatan. Padahal, ada banyak sistem pembedaan yang tidak bersifat binner. “Ada non historik” bisa diterjemahkan “ketiadaan” dalam bahasa, tetapi bukan binner dari “ada historik.” “Ada non historik” adalah kelanjutan dari “ada historik”.

Tugas agama adalah menjelaskan keterkaitan antara ada historik dan ada non-historik. Namun, tidak semua metode yang digunakan dalam agama bisa menjelaskan dengan baik hubungan dua titik koordinat ini.

Tafsir, takwil, hermeneutika, dan semiotika adalah jenis metode yang diciptakan manusia untuk menyambungkan dua ke-ada-an ini. Metode ini bisa terjebak dalam kerumitan panjang, ketika mencoba meniadakan salah satu dari ke-ada-an ini.

Tuhan yang ingin ditarik dalam “ada historik” yang profan akan memunculkan spekulasi tentang tuhan yang banyak atau tuhan yang sama sekali tidak ada.

Hermeneutika sebagai Jalan Menuju Ada Non-Historik, Bisakah?

Problem mendasar dalam hermeneutika adalah obyek kajiannya bersifat materil. Hermeneutika hanya bisa menjelaskan ada-historik melalui obyek materialis yang diwakili oleh sistem representasi, yang disebut bahasa.

Tanpa bahasa, hermeneutika tidak berfungsi. Bahasa memiliki banyak sekali misteri dalam galaksi makna yang bisa saling mengkonfirmasi dan menegasi satu sama lain.

Hermeneutika memang dihadirkan sebagai penghubung antara antara bahasa dan subyek penerima melalui sistem pemaknaan. Hermeneutika berfungsi untuk mengendalikan makna asal kepada subyek otoritatif, yaitu sang author.

Meskipun ada upaya melenyapkan author dalam suatu teks, seperti yang dilakukan oleh Derrida dan Barthes, namun keduanya tetap memberi peluang pada kehadiran subyek melalui sistem pembedaan dan jejak.

Hermeneutika–saya menyamakan saja dengan tafsir, meski ada banyak perbedaan dan juga penolakan terhadapnya– adalah cara yang baik untuk sampai pada ‘ada-historik’. Kondisi ke-ada-an yang terikat dengan konteks, situasi, kepentingan, pragmatisme, dan materialisme.

Hermeneutika bisa dengan sangat cemerlang menyingkap berbagai lapisan misterius dalam bahasa, memurnikan konteksnya, agar bisa dipahami dengan mudah oleh subyek penerima.

Akan tetapi, hermeneutika tidak cukup relevan digunakan untuk menjelaskan hubungan antara ada historik dan ada non-historik. Apalagi, berkehendak untuk mengungkap realitas dalam “ada non-historik”. Sebab, bahasa hanya sanggup berada dalam “ada historik.”

Di dalam “ada non historik”, bahasa mati. Ingat, ya! Yang disebut bahasa adalah rangkaian sistem penanda-petanda yang terhubungan konteks yang mencakupi manusia. Di ruang “ada non-historik”, sistem kemanusiaan tidak berguna dan tidak berfungsi sama sekali. Dengan demikian,  bahasa tidak berfungsi dan hermeneutika juga tidak bisa digunakan.

Sufisme

Saya telah lama tertarik dengan dunia sufi. Bukan hirarki-nya, tetapi caranya mendekati Tuhan. Para sufi “melenyapkan” diri dalam “ada historik” dan berupaya memasuki “ada non-historik” melalui metode yang disebut kassyaf.

Kassyaf berarti menyingkap misteri. Kaum sufi terbiasa dengan pengacakan sistem waktu dan bergerak bebas ke sana kemari. Para sufi tidak pernah terjebak dalam pembicaraan tentang eksistensi Tuhan dan segala atribut yang hendak disematkan kepada-Nya.

Para sufi ini berada dalam situasi liminal, tercerahkan, dan diam. Kassyaf adalah bentuk sempurna dalam pengendalian ‘rasa’ bukan rasio.

Saya meyakini, metode sufisme adalah metode terbaik dalam agama yang bisa menghubungkan garis batas antara dua jenis “ada” itu.

Para sufi menempuhnya dengan meniadakan bahasa dan segala atribut kemanusiaan. “Bertemu dengan Tuhan” dan “menyatu dengan Tuhan” adalah ide dasar dari sufisme. Sufi yang tidak bertemu dengan Tuhan adalah sufi yang gagal.

Problemya, ketika para sufi ini kembali dari “ada non-historik” dan menjelaskan pengalamannya melalui bahasa, para sufi ini pun menemui kegagalan.

Konsep wihdatul wujud-nya Al-Hallaj, Manunggaling Kawolu Gusti-nya Syekh Siti Jenar, yang dijelaskan oleh bahasa memunculkan kebingungan.

Manusia yang tersandera oleh “kebenaran” paradigmatik dalam bahasa tidak bisa memercayai kalimat para sufi ini. Tentu saja, karena bahasa yang menjadi alat utama pencari kebenaran tidak bisa menjangkau kebenaran dalam “ada non historik.”

Oleh karena itu, sufisme tidak bisa dijelaskan kecuali dengan penentangan atau ancaman kegagalan. Sufisme hanya bisa diikuti dalam kediaman dan mematikan bahasa.

Disclaimer: oleh karena penjelasan tentang dua jenis “ada” ini menggunakan bahasa, ini pun terancam gagal! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *