Sun. Aug 9th, 2020

BLAM

KEREN

“Masih Ada Rumah Ibadat Belum Terapkan Protokol Covid-19”, Hasil Survei BLAM soal Kesiapan Rumah Ibadat Hadapi New Normal

4 min read

Diskusi webinar "BLAM Corner" tentang survei kesiapan rumah ibadat menghadapi new normal.

3,429 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Sejumlah rumah ibadat di Kecamatan Rappocini, Makassar, tampaknya sudah menerapkan pencegahan Covid-19 sesuai standar operasional prosedur (SOP), terutama peralatan pencegahan dan pemasangan tanda untuk menjaga jarak.

Sayangnya, masih ada rumah ibadat yang sama sekali tidak menerapkan protokol demi pencegahan dan pemutus mata rantai Covid-19.

Demikian salah satu rekomendasi survei Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) mengenai “Kesiapan Rumah Ibadat Menghadapi New Normal” di Kecamatan Rappocini, Makassar, yang dipresentasikan koordinatornya, Baso Marannu, pada diskusi webinar “BLAM Corner 5”, Jumat, 3 Juli 2020.

Diskusi ini menghadirkan narasumber Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, H. Anwar Abubakar. Sedianya, Pj. Walikota Makassar, Prof. Dr. H. Rudy Djamaluddin, M.Eng, juga menjadi narasumber. Sayang, ia berhalangan, dan kemudian mendelegasikan Kepala kemudian Bagian Kesra Pemerintah Kota Makassar, H. Aswis Badwi, M.Si.

Sebanyak 28 Peneliti BLAM turun melaksanakan survei selama tiga hari, 26 hingga 28 Juni 2020. Mereka menyasar semua rumah ibadat, yang berada di dalam naungan wilayah geografis Kecamatan Rappocini.

Rappocini sendiri membawahi 11 kelurahan, yakni Kelurahan Bonto Makio, Rappocini, Gunung Sari, Mapala, Karunrung, Tidung, Banta-Bantaeng, Minahasa Upa, Kassi-Kassi, Balla Parang, dan Bua Kana. Sementara itu, ada 150 rumah ibadat di daerah ini, yaitu 141 masjid dan sembilan gereja.

Survei ini dilakukan secara online dan real time, serta menggunakan aplikasi App Sheet. Pengambilan data rumah ibadat, mulai bangunan masjid hingga titik koordinat, semua  tercatat secara online dan real time di perangkat handphone peneliti.

Rekomendasi lain yang diberikan BLAM adalah partisipasi rumah ibadat untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran Covid-19, ternyata sangat tinggi.

“Rekomendasi berikutnya adalah, kami melihat, kesadaran para jamaah untuk mengikuti SOP yang diterapkan oleh pengurus/pengelola rumah ibadat, ternyata belum begitu bagus, dan karenanya, perlu ditingkatkan lagi,” kata Baso, yang juga Agen Perubahan Peneliti BLAM.

Hasil Survei

Survei ini mempertanyakan sembilan pertanyaan yang berhubungan dengan standar protokol kesehatan pencegahan dan penyebaran Covid-19.

Berikut pertanyaan yang diajukan di dalam survei, disertai hasilnya, yaitu:

  1. Penyediaan cuci tangan dilengkapi sabun (82% ada, 18% tidak ada).
  2. Penyediaan pengukur suhu (43% ada, 57% tidak ada).
  3. Penyediaan alat disinfektan tubuh (13% ada, 87% tidak ada).
  4. Penyediaan hand sanitizer (65% ada, 35% tidak ada).
  5. Memasang media informasi tentang standar protokol kesehatan (37% ada, 63% tidak ada).
  6. Pengaturan shaf untuk masjid dan kursi bagi rumah ibadat lainnya (39% diatur dengan tanda, 35% diatur tanpa tanda, 14% tidak berjarak, 12% tidak diatur tetapi jamaah melakukan).
  7. Kewajiban menggunakan masker bagi khatib dan pengkhotbah (79% diatur/diwajibkan, 21% tidak diatur/diwajibkan).
  8. Kewajiban jamaah rumah ibadat menggunakan masker (86% diatur/diwajibkan, 14% tidak diatur/diwajibkan).
  9. Kewajiban jamaah masjid untuk membawa sajadah sendiri (78% diatur/diwajibkan, 22 tidak diatur/diwajibkan).

Kepala BLAM

Sebelumnya, Kepala BLAM, Saprillah, M.Si, menyatakan, tujuan BLAM melakukan survei ini adalah untuk memetakan sebaran rumah ibadat yang menerapkan standar protokol prosedural pencegahan covid-19, serta mengetahui kesiapan rumah ibadat dalam berpartisipasi mencegah penyebaran Covid-19.

“Ada perubahan cara pandang kita menyangkut pelaksanaan beribadah di masjid di masa pandemik. Sebelum pandemik, kita umat muslim dianjurkan untuk berlomba-lomba pergi Salat Jumat. Tetapi, di masa pandemik ini, kita juga dianjurkan untuk menunda sementara melakukan ritual di masjid,” katanya.

Menurutnya, rumah ibadat sejauh ini boleh dikatakan sebagai pelopor. Rumah ibadat tidak lagi sekadar tempat beribadah, tetapi sebagai pelopor dalam konteks apa yang disebut new normal.

“Rumah ibadah, dalam hal ini masjid, misalnya, adalah titik perjumpaan manusia yang paling masif, terutama ketika Salat Jumat. Artinya, masjid menjadi tempat strategis untuk melihat apakah telah mengikuti protokol kesehatan atau tidak di masa new normal ini,” ujarnya.

Meskipun riset ini hanya menyasar di seluruh kelurahan di Kecamatan Rappocini, tetapi tidak tertutup kemungkinan, gambaran rumah ibadat yang diamati di Kecamatan Rappocini,  menyerupai yang terjadi di Kota Makassar.

“Riset kami ini bisa menjadi mirrroing atau mencerminkan, bahwa apa yang terjadi di Kecamatan Rappocini menyerupai pula dengan kesiapan rumah ibadat di seluruh Kota Makasaar. Apalagi, mengingat persebaran rumah ibadat di Kota Makassar tersebar di berbagai tempat, seperti di hampir semua lorong, pemukiman penduduk dan perumahan, dan relatif terbuka untuk semua jamaah,” kata Saprillah.

Kanwil Kemenag Sulsel

Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, H. Anwar Abubakar, memberikan apresiasi kepada temuan survei BLAM.

Menurutnya, hasil survei ini bisa menjadi indikator bagi pengurus rumah ibadat untuk mengetahui kesiapan mereka menghadapi Covid-19.

“Saya berharap, temuan hasil survei BLAM ini bisa menjadi perhatian kita semua, baik pengurus rumah ibadat maupun jamaah,” kata Anwar.

Pada setiap kesempatan, Anwar juga selalu mengimbau kepada pengurus rumah ibadat untuk tidak henti-hentinya mengingatkan para jamaah menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan tidak bersalaman.

“Sebaiknya juga, di setiap rumah ibadat menyediakan pintu masuk dan pintu keluar berbeda. Ini juga menghindari supaya jamaah tidak berkerumun ketika masuk dan ketika keluar,” kata Anwar.

Kepala Bagian Kesra Pemerintah Kota Makassar, Aswis Badwi, menyatakan, survei BLAM ini sangat bagus, dan bisa menjadi informasi penting bagi pengurus rumah ibadat di Kota Makassar. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *