Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Temuan Riset Disertasi Peneliti BLAM Syamsurijal: Ada Tradisi Hibrid dalam “Aji Ugi” (Haji Bugis)

5 min read

Peneliti BLAM, Syamsurijal, saat Seminar Hasil Disertasi Kamis, 2 Juli 2020. Foto: Abu Muslim.

3,438 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Pemaparan Syamsurijal, saat menyajikan temuan riset pada Ujian Kualifikasi Hasil Penelitian Disertasi, di Kampus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Kamis, 2 Juli 2020, mendapat apresiasi positif tim penguji.

Prof. Dr. Musafir Pabbabari, M.Si, selaku Promotor/Penguji, sekaligus Pemimpin Sidang, malah memberikan pujian khusus kepada ayah tiga putri ini.

“Kalau seminar hasil seperti ini, kalau waktunya sudah sampai 17 menit, saya sering meminta promovendus untuk berhenti berbicara. Tapi, karena disertasi Pak Syamsurijal menarik, apalagi dia berbicara semangat sekali, saya membiarkan dia terus berbicara hingga selesai. Ternyata, waktu satu jam tak terasa,” kata Musafir.

Prof Musafir juga tak menyangka, seminar hasil Syamsurijal, yang juga Peneliti Ahli Madya, di Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), dihadiri banyak peserta.

“Saya melihat ada 42 peserta yang saat ini ikut menyimak. Ini merupakan catatan luar biasa untuk peserta seminar hasil disertasi melalui tayangan virtual,” katanya.

Kopromotor 1/Penguji, Prof. Dr. H. Muhammad Ramli, M.Si, juga sempat mencandai Syamsurijal, sebelum memberikan masukan dan kritikan. Ramli tampaknya kurang sreg dengan kalimat yang dituangkan Syamsurijal di dalam “Kata Pengantar” disertasinya.

“Dalam Kata Pengantar ada tertulis, disertasi ini akhirnya selesai karena mendapat dorongan dan paksaan istri tercinta. Jangan seperti inilah kalimatnya. Sepertinya, Anda ini sangat terpaksa menyelesaikan disertasi. Apalagi, ada kata dipaksa sama istri,” kata Ramli, sambil tersenyum.

Selain Prof. Musafir dan Prof Ramli, mereka yang “menyidang” Syamsurijal adalah, Wahyuddin Halim, M.A, Ph.D (Kopromotor 2/Penguji),  Prof. Dr. Usman Jafar, M.A (Penguji Utama 1), dan Dr. H. Norman Said, M.A (Penguji Utama 2). Dr. H. A. Aderus, Lc, M.A, yang termasuk menjadi Penguji Utama 3, berhalangan hadir.

Seminar hasil disertasi Syamsurijal, yang dilakukan melalui tayangan aplikasi zoom, berlangsung sekitar tiga jam lebih. Dimulai pukul 13.00 Wita, dan berakhir pukul 16.30 Wita.

Syamsurijal memberi judul disertasinya; “Aji Ugi: Perjumpaan Agama, Tradisi, dan Gaya Hidup dalam Masyarakat Bugis Segeri.”

Seperti biasa, Syamsurijal, berbicara dengan gaya khasnya; bersuara keras dan bersemangat. Selama satu jam, ia menjelaskan beberapa temuan menarik dan terbaru mengenai tradisi dan ritual haji pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.

Syamsurijal menjelaskan, selain memaknai haji secara agama, masyarakat Bugis-Segeri, ternyata memberikan juga pemaknaan haji berbasis tradisi lokal. Makna-makna haji semacam “were na pammase”, haji sebagai “assenusenungeng” atau Haji Bawakaraeng, muncul sebagai buah dari perjumpaan antara haji menurut agama dengan pemaknaan lokal.

“Belakangan, tidak hanya tradisi lokal, Haji Bugis pun mengalami pergumulan dengan modernitas, yang melahirkan perjumpaan segitiga, yaitu ajaran Islam (haji), tradisi lokal, dan modernitas,” kata Syamsurijal.

Menurut Syamsurijal, perjumpaan dengan modernitas melahirkan gejala baru terhadap haji Orang Bugis, yaitu menempatkan haji sebagai bagian dari gaya hidup dalam masyarakat. Status sosial haji yang tinggi, bukan lagi sebagai efek dari penghargaan sosial, melainkan menjadi sesuatu yang diburu dan dirancang dari awal.

“Proses ini melibatkan kapitalisasi haji yang telah meletakkan haji tidak sekadar ibadah, tetapi juga ruang bagi masyarakat kelas menegah-atas untuk membelanjakan uangnya. Haji lalu menjadi komoditas yang membentuk konsumerisme bagi kelas menengah muslim,” ujar Ketua Lembaga Ta’lif wa Nasyr Nahldatul Ulama (LTN-NU) Sulawesi Selatan, 2019-2024, ini.

Berbasis penelitian etnografi, Syamsurijal mengangkat tiga pertanyaan pada risetnya ini, yaitu pemaknaan ritual haji bagi masyarakat Bugis yang berangkat dari basis pengetahuan lokal mereka; bentuk-bentuk ritual yang mengiringi pelaksanaan haji yang menggambarkan pergumulan antara haji dan tradisi lokal; serta implikasi gaya hidup dan kecenderungan sosial era modern yang memengaruhi pelaksanaan haji.

Selama di lapangan, Ijal, panggilan akrab Syamsurijal, beberapa kali menghadiri, sekaligus mengikuti ritual haji yang diadakan calon jamaah haji dan keluarga sebelum menuju Mekkah, seperti, antara lain, ritual sebelum berangkat ke Tanah Suci, ritual keluarga di rumah selama menunggu kepulangan jamaah haji, serta ritual ketika jamaah haji tiba di tanah air dan di rumah.

“Untuk menganalisis proses pergumulan antara haji, tradisi lokal, dan modernitas, saya menggunakan perspektif cultural studies, yang menekankan relasi kuasa dan proses encounter (perjumpaan) dalam proses relasi tersebut,” ujar ayah tiga putri, ini.

Meskipun modernitas memengaruhi haji orang-orang Bugis, Syamsurijal juga menemukan, terdapat resistensi kultural dari dalam. Artinya, Orang Bugis yang akan berangkat haji tidak menelan mentah-mentah modernitas.

Menurutnya, perjumpaan antara Islam, tradisi lokal, dan modernitas, yang selama ini sering kali dianggap sebagai determinasi satu atau dua entitas atas yang lain, tidak berlaku dalam masyarakat Bugis.

“Dalam kasus pergumulan haji di Bugis, masing-masing entitas tampak memainkan kuasa. Islam dan modernitas tidak serta-merta bisa menggulung tradisi lokal. Sebab, tradisi lokal sendiri selalu memainkan strategi-strategi kekuasaan untuk tetap bertahan. Pada akhirnya, tidak ada satu entitas yang dianggap lebih dominan, atau determinan, dibanding yang lainnya,” ujarnya.

“Pergumulan ini akhirnya melahirkan semacam tradisi hibrid, yakni perpaduan antara haji sebagai ajaran Islam, haji sebagai bagian dari tradisi lokal Bugis, dan haji yang terbentuk oleh modernisme. Inilah yang kemudian disebut sebagai Aji Ugi,” kata Sekjen Forum Lintas Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro Makassar 2001-2003, ini.

Pada bagian kesimpulan, Syamsurijal memaparkan, antara lain, pemaknaan haji bagi orang-orang Bugis tidak hanya didasarkan pada pemaknaan agama, tetapi juga dipengaruhi tradisi lokal dan modernitas.

Ia lalu memberi contoh, ada beberapa makna haji bagi masyarakat Segeri. Makna pertama, disesuaikan dengan makna agama (syar’i), yaitu satu ibadah yang dilaksanakan di Mekkah dengan syarat dan rukun tertentu untuk memenuhi rukun Islam yang kelima.

“Makna kedua, adalah makna haji yang sudah bercampur antara pemaknaan agama dan tradisi lokal. Haji, dalam hal ini dilihat sebagai were na pammase (ketentuan dan rahmat), dalle (rezki) dan assenu-senungeng (haji mencakup simbol-simbol tertentu yang diyakini membawa berkah serta harus diiringi dengan ritual lokal),” kata pria kelahiran September 1976, ini.

Di samping itu, lanjut Syamsurijal, muncul pula makna haji yang lain, seperti haji sebagai bayangan kematian dan Haji Bawakaraeng, yang dimaknai sebagai bayangan kematian masih merupakan makna yang dipetik dari manasik haji.

Haji Bawakaraeng, Bissu, & Calabai

Menurut Syamsurijal, Haji Bawakaraeng merupakan ekspresi haji orang-orang lokal di Bugis, yang disebut dengan “Komunitas Bawakaraeng.” Dalam pemaknaan haji semacam ini, yang lebih kental adalah nuansa resistensinya terhadap dominasi tradisi keislaman yang menggerus kebudayaan-kebudayaan lokal.

Ketika haji dipelesetkan oleh komunitas lokal Bugis menjadi Haji Bawakaraeng, pada dasarnya, kata dia, itu bukanlah sikap atau keinginan untuk mengganti haji ke Mekkah menjadi hanya berhaji ke Gunung Bawakaraeng saja.

“Pemaknaan haji semacam ini hanyalah simbol-simbol resistensi kultural dari masyarakat lokal dalam masyarakat Bugis (Makassar) atas marginalisasi dan stigmatisasi terhadap mereka selama ini,” kata Presidium Forum Mahasiswa Kota Makassar (FORMAKAR) 2000-2001.

Syamsurijal melihat, dalam masyarakat lokal yang selama ini dimarginalkan, seperti Komunitas Bawakaraeng, bissu, dan calabai, haji tidak hanya bermakna ibadah, melainkan cara untuk melakukan negosiasi, dan bahkan, resistensi terhadap kebudayaan yang mencoba menghabisi mereka.

“Melalui haji yang mereka maknai sedemikian rupa, masyarakat lokal yang selama ini dimarginalkan, akhirnya tetap survive sampai saat ini,” kata Syamsurijal.

Seusai seminar hasil, Syamsurijal langsung mendapat ucapan selamat dari teman-temannya di BLAM melalui Grup Whatsapp.

“Terima kasih atas doa dan dukungan semua teman-teman. Tapi, ini belum selesai. Masih ada beberapa tahapan lagi yang mesti saya lewati kesi’,” katanya, disertai icon tangan menungkup dan icon wajah tersenyum. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *