Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Seribu Makna di Balik Kubah

4 min read

Sumber gambar: widiutami.com

9,049 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Nyaris, semua kita paham, apa itu kubah. Barang ini berbentuk separuh bola. Kadang pula,  bentuknya mirip kerucut, yang permukaannya melengkung keluar.

Tentu, ada pula kubah dalam bentuk lain. Tetapi, yang paling sering kita saksikan di masjid-masjid, adalah berbentuk bundar-separuh bola, atau mirip kerucut.

Kubah diletakkan di puncak-puncak sebuah bangunan. Arsitektur yang menunjukkan sebuah keagungan dan kegemilangan sebuah peradaban. Kini, di mana-mana, masjid identik dengan kubah. Seakan tanpa kubah, masjid kehilangan identitasnya. Lenyap kekhasannya sebagai rumah ibadat umat Islam.

Padahal, kubah bukanlah berasal dari sejarah peradaban Islam. Kubah berasal dari Romawi. Sudah ada dan menjadi arsitektur orang-orang Roma sebelum Masehi.

Salah satu kubah yang terkenal terdapat di Pantheon, Roma, Italia. Pantheon adalah kuil untuk penyembahan dewa-dewa Romawi. Setelah 609-1885 M, Pantheon berubah menjadi gereja.

Namun, tidak semua masjid senang menggunakan kubah. Dalam masyarakat lokal Cerekang, masjid, musallah, atau pun langgar, tidak dipasangi kubah. Rumah ibadat umat Islam, itu tampil bersahaja dengan arsitektur lokal.

Konon, langgar yang dulu dibangun oleh Sayyid Jamaluddin al-Husaeni, sepuh para Wali Songo, di Tosora, Wajo, juga tanpa kubah. Langgar tersebut bersahaja. Para jelata pun menjadi intim dengan rumah ibadat itu.

Di halaman langgar, mereka berlatih silat langka. Ilmu bela diri Arab yang dipadu silat lokal. Silat ini diajarkan langsung oleh Sayyid Jamaluddin. Bilamana badan letih, mereka beristirahat sejenak di serambi langgar. Malamnya, mereka berhimpun dalam masjid. Dalam hening, mereka menyimak wejangan sang Imam.  

Tetapi, kini, masjid seakan berlomba memancang kubah di puncak-puncaknya. Tak cukup satu. Ada yang dua, dan tiga. Bahkan, di sebuah masjid di bibir Pantai Losari Makassar, atau tepatnya, di tengah laut yang ditimbun jadi daratan, berdiri sebuah masjid dengan 99 kubah.

Kubah menjadi penting bagi sementara umat Islam. Sebab, ternyata menjadi simbol. Dalam bahasa agama, kubah bisa menjadi syiar. Masjid yang memiliki kubah megah, tentu akan menunjukkan sebuah keagungan. Melalui kemegahan kubah, kebesaran umat di satu tempat,  konon, bisa ditakar.

Ahmad Tohari

Kubah, dalam novel Ahmad Tohari, malah berfungsi sebagai sarana rekonsiliasi. Karman si tokoh cerita dalam novel, diterima kembali menjadi bagian dari kampungnya, gara-gara sebuah kubah.

Karman, seorang mantan pesakitan Pulau Buru. Ia ditahan, karena terlibat partai terlarang. Mulanya, Karman sangat canggung dan gamang, saat kembali di tengah kampung. Risih bergabung dengan sanak kadang, dan segan berkumpul dengan handai tolannya.

Karman tidaklah mudah berbaur dan diterima sepenuhnya oleh masyarakat di kampungnya. Dia tidak sekadar mantan narapidana. Dia juga mantan komunis, atau setidaknya, pernah dianggap komunis. Tetapi, siapa sangka, jalan untuk disambut kembali menjadi bagian dari masyarakatnya,  ternyata melalui kubah.

Dengan keterampilan yang Karman peroleh dari penjara, dia pun mulai turun tangan membuatkan sebuah kubah untuk masjid di kampungnya. Kubah buatannya memuaskan. Masyarakat pun mulai tersenyum dan bersikap hangat padanya.

Itu kisah Tohari. Adanya dalam novel berjudul “Kubah.” Tetapi, apakah kini, melalui kubah masjid, rekonsiliasi umat juga bisa dijalin?

Belum ada cerita begitu dalam dunia nyata. Yang pernah kita dengar, malah, seorang muslim tiba-tiba berbelok dan enggan masuk ke masjid tertentu, hanya karena melihat kubahnya. Sebab, melalui kubah masjid, dia sudah tahu, bahwa masjid itu bukan masjid organisasinya. Atau, tidak sealiran dengannya.

Kalau ada masjid dengan kubah mewah demi untuk menjaga marwah Islam, tentu saja hal itu bagus. Tetapi, akan lebih bagus lagi, kalau masjid berkubah mewah itu, menjadi pusat pemberdayaan masyarakat. Tidak hanya kubahnya yang diperindah, tetapi masyarakat di sekitarnya juga, dibuat sejahtera.

Di Indonesia, masjid semacam ini, masih langka. Di Yogyakarta, ada namanya Masjid Syuhadah dan Masjid Jogokariyan.

Dua masjid itu dapat menjadi contoh dalam mengembangkan ekonomi umat. Jamaah masjid dan masyarakat sekitarnya menjadi target pemberdayaan. Para pengurus masjid tidak sekadar (hanya) ingin membangun masjid mewah dengan kubah mengesankan.

Namun, konon, di sebuah negeri antah berantah, ada pula kubah dibuat sebagai jalan mengamankan proyek. Kubah didesain indah dengan jumlah mengesankan. Maksudnya, agar orang-orang tidak protes pada proyek yang tengah berjalan.

Sembari membangun kubah-kubah yang mengesankan itu,  proyek pun jalan terus. Orang-orang pun segan bertanya. Proyek itu untuk apa? Siapa yang diuntungkan? Tak pernah ada berani mengungkitnya. Lebih tidak berani lagi orang mengeritisinya. Menolaknya, apalagi. Siapa yang berani menolak orang mendirikan rumah ibadat?  Kalau rumah ibadat umat berbeda, lain cerita.

Sering kali, rumah ibadat memang dijadikan alasan. Masjid, gereja, pura, vihara, klenteng, berdiri tegak di halaman depan. Padahal, di halaman belakang, proyek besar lainnya sedang digelar. Terkadang, gunung dirobohkan dan tanah dikeruk.

Bahkan, untuk sebuah proyek, laut pun kadang ditimbun. Padahal, laut adalah hajat hidup orang banyak. Dari laut, nelayan mencari ikan. Laut adalah milik bersama dan tidak bisa dimiliki oleh satu orang.

Konon, Sultan Hasanuddin, pernah berkata, tanah bolehlah dikapling dan dimiliki, tetapi laut jangan. Siapa yang ingin memonopoli laut,  ibarat orang merebut makanan yang sudah ingin masuk ke tenggorokan.

Kalimat Sultan Hasanuddin itu keras. Kata-kata ini keluar di hadapan kolonial Belanda, yang ingin memonopoli laut.

Sultan Hasanuddin ingin berkata, kalau Anda ingin menguasai dan memonopoli laut, maka tidak ada jalan lain kecuali melawan. Tetapi, itu dulu, dan terjadinya di Makassar.

Beda halnya di negeri antah berantah itu, siapa yang berani protes? Anda berani protes, bisa jadi,  Anda dituduh menolak pembangunan kubah. Dan, bukankah kubah kini sudah menjadi barang yang suci? (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *