Sun. Nov 29th, 2020

BLAM

KEREN

Salam di Dunia dan Akhirat

5 min read

Sumber gambar: ibnuilyas.com

8,565 total views, 8 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Agama Islam mengajarkan tuntunan salam kepada pemeluknya. Lafaznya Assalaamu ‘alaikum wa rahmatu- llaahi wa barakaatuh. Artinya, Semoga anda sekalian memperoleh keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah. Assalaam juga mengandung arti kedamaian dan kesejahteraan. Jadi, sejatinya, Muslim itu mengharapkan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama.

Ucapan salam tersebut disusun dalam bahasa Arab. Salam itu digunakan oleh pemeluk Islam dari berbagai etnis dan memiliki bahasa ibu yang beragam. Dengan demikian, penggunaan salam tersebut dalam pergaulan sehari-hari menjadi bagian dari identitas Muslim di berbagai negeri.

Penggunaan salam merata pada semua tingkatan usia. Anak kecil yang baru saja lancar berbicara dapat menjawab salam. Itu dimungkinkan, karena intensitas penggunaan kalimat ini tergolong tinggi. Mereka mendengar dan berlatih untuk menirukannya. Suara kumpulan anak-anak sering lebih besar dari orang dewasa ketika menjawab salam penceramah di masjid.

Kalimat inti pada ucapan salam adalah Assalaamu ‘alaikum. Kalimat inti mengalami pengembangan. Misalnya, Assalaamu ‘alaikum wa rahmatu- llaah, Assalaamu ‘alaikum wa rahmatu- llaahi wa barakaatuh, dan Assalaamu ‘alaikum wa rahmatu- llaahi ta‘aalaa wa barakaatuh. Beragam kalimat itu diatur penggunaannya.

Ucapan salam mengandung makna yang luas dan dalam. Makna itu terkandung pada tiga kata kunci.

Pertama, keselamatan. Ini adalah dambaan semua orang. Kedua, rahmat. Ia adalah pemberian sebagai tanda kasih dari Allah Yang Maha Pengasih (ar-Rahmaan). Ini juga senantiasa diharapkan. Ketiga, berkah. Ia adalah manfaat yang berkembang dari suatu anugerah. Ini juga selalu didambakan.

Pemeluk Islam mendambakan kebaikan yang terkandung pada ucapan salam secara berkelanjutan. Mereka mengharapkan kebaikan itu di dunia dan akhirat. Dengan demikian, penggunaan ucapan salam erat kaitannya dengan keyakinan keagamaan.

Ucapan Salam dalam Ibadah

Salam menjadi bagian pada pelaksanaan ibadah. Sebagai contoh, khatib Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta memulai khutbah dengan salam. Itu biasanya disiarkan secara langsung melalui stasiun TVRI pusat. Khatib di Masjid al-Markaz al-Islami Makassar juga mengucapkan salam. Khutbah disiarkan melalui RRI Nusantara IV Makassar dan Radio Al-Markaz. Salam dalam kaitan ini dipandang sebagai amalan sunat (Dahlan, ed., V, 2000:1583).

Khatib menyapa jamaah Jumat dengan salam. Itu salah satu cara untuk mengetuk hati pendengar sebelum menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Mereka diharapkan membuka hati agar dapat menerima nasihat.

Khatib berharap kiranya firman Allah Swt. dan hadis Nabi Saw. yang dibacakan membawa berkah. Maksudnya, pesan dipahami, dihayati, dan diamalkan. Harapan itu sejalan dengan kalimat yang sering diucapkan pada akhir khutbah pertama.

Salah satu teks penutup khutbah pertama seperti berikut. Baarka- llaahu lii wa lakum fii-l qur’aani-l ‘azhiim wa nafa‘nii wa iyyaakum bi-maa fiihi mina-l aayaati wa-dz dzikri-l hakiim. Aquulu qawlii haadzaa wa astagfiru- llaaha lii wa lakum fa- stagfruuhu innahuu huwa-l gafuuru-r rahiim (Ajahari, et.al, 2015:39).

Artinya, “Semoga Allah memberi berkah untukku dan untukmu semua dari Al-Qur’an al-‘Azhiim dan memberi manfaat kepadaku dan kepada kamu sekalian dari ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah itu. Aku mengucapkan ini dan memohon ampun kepada Allah untukku dan untukmu semua. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Komunikasi antara khatib dan jamaah pada dasarnya berlangsung satu arah. Akan tetapi, jamaah tidak pasif sepenuhnya. Mereka menjawab salam yang diucapkan oleh khatib. Mereka juga mengucapkan aamiin dengan suara rendah ketika khatib membaca doa.

Selanjutnya, salam menjadi ketentuan wajib pada salat. Salat ditutup dengan dua salam. Ulama menjelaskan, bahwa salam yang pertama termasuk rukun, sedangkan salam yang kedua termasuk sunat.

Sejumlah riwayat dari Nabi Saw. menerangkan tentang salam pada akhir salat. Di antaranya (artinya), Pembuka salat adalah bersuci, batas awalnya adalah takbir, dan tanda selesainya adalah salam (HR. Abu Dawud, I, 2007:37 dan 241).

Imam Syafi‘i meriwayatkan hadis yang menjelaskan praktik salam dari Nabi Muhammad Saw. (Artinya), Bahwasanya Nabi Saw. mengucapkan salam ke arah kanan dan ke arah kiri, hingga kedua pipinya kelihatan (dari belakang) (as-Sindi, 1997:68).

Imam Ibnu Majah meriwayatkan hadis berikut. (Artinya), Rasulullah Saw. mengucapkan salam (di akhir salat) dengan menoleh ke kanan lalu ke kiri sehingga tampak rona putih pipi beliau. (Salamnya) Assalaamu ‘alaikum wa rahmatu- llaah. (I, 2010: 359).

Salam dalam Kehidupan Sehari-hari

Al-Qur’an memuat perintah untuk mengucapkan salam. Salah satunya (artinya), Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat (an-Nur/24:27).

Ayat lain menyatakan (artinya), Apabila kamu memasuki rumah-rumah hendaklah kamu memberi salam (kepada penghuninya, yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, dengan salam yang penuh berkah dan baik di sisi Allah. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat (-Nya) bagimu, agar kamu mengerti (an-Nur/24:61).

Mengucapkan salam dalam pergaulan hukumnya sunat. Akan tetapi, menjawab salam hukumnya wajib. Ketentuan hukum ini menunjukkan bahwa komunikasi itu harus timbal balik. Orang yang disapa, harus menyapa kembali. Pola komunikasi seperti ini berlaku umum.

Doa dijawab dengan doa. Penghormatan dijawab dengan penghormatan. Penghormatan harus setimpal. Bahkan, Al-Qur’an menganjurkan agar suatu penghormatan dijawab dengan penghormatan yang lebih baik.

Firman Allah Swt. menyatakan (artinya), Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu (an-Nisa’/4:86).

Al-Qur’an juga menjelaskan praktik salam dalam interaksi sosial. Difirmankan (artinya), Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan, “Salaaman (salam)”, Ibrahim menjawab, “Salaamun (salam)” (adz-Dzaariyaat/51: 24-25).

Penghuni Surga Disambut dengan Salam

Nabi Muhammad Saw. menganjurkan untuk menebar salam. Sabdanya, (artinya) Maukah aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu kerjakan niscaya kamu sekalian akan saling menyayangi? Sebarkanlah salam di antara kamu sekalian) (HR. Muslim, Sabir, II, 2004:2).

Hadis di atas memberi motivasi untuk menciptakan dan memelihara kedamaian di antara sesama manusia. Ucapan salam  sebaiknya diikuti dengan tindakan yang selaras. Dengan cara seperti itu ucapan salam memiliki arti yang lebih nyata.

Ucapan salam dalam beragam bentuknya harus dihayati dan dibuktikan. Ucapan ‘selamat datang’ di bandara sebuah kota dan pintu gerbang sebuah desa perlu dihayati. Warga setempat harus memiliki komitmen tentang arti ucapan ‘selamat datang’. Demikian pula sebaliknya, tamu yang datang jangan sampai mengganggu ketenteraman di tempat yang didatangi.

Nabi Muhammad Saw. mengingatkan umatnya untuk menjawab salam. Raddu-s salaam (menjawab salam) menjadi salah satu dari lima hak seorang Muslim dari Muslim lainnya (HR al-Bukhari dan Muslim, Shabir, II, 2004: 17). Dengan kata lain, ketentuan itu harus dipatuhi.

Hadis Nabi Saw. menjelaskan beberapa ketentuan salam. Misalnya, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk. Orang yang lebih muda memberi salam kepada yang lebih tua. Dengan demikian, penerapan salam menjadi bagian dari pengamalan ajaran agama Islam.

Mengucapkan salam diiringi dengan kesungguhan, ketulusan, dan harapan. Salam dicontohkan oleh hamba-hamba Allah yang mulia. Selain itu, manfaat salam untuk kemajuan rohani perlu disadari jika seseorang mengucapkannya.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa salam adalah ucapan ahli surga. Firman Allah Swt. menyatakan, Laa yasma‘uuna fiihaa lagwan wa laa ta’tsiiman. Illaa qiilaan salaaman salaamaa. Artinya: Di sana mereka tidak mendengarkan percakapan yang sia-sia maupun menimbulkan dosa, tetapi mereka mendengar ucapan salam (al-Waqi‘ah/56: 25-26).

Menjadi penghuni surga di akhirat adalah harapan setiap Muslim. Harapan itu dijadikan pula sebagai motivasi untuk mengucapkan salam dengan sungguh-sungguh. Ucapan salam dipahami sebagai bagian dari teks suci agama.

Selanjutnya, Al-Qur’an juga menjelaskan, bahwa para malaikat menyambut penghuni surga dengan salam. Orang beriman berharap agar ia menjadi bagian dari mereka yang disambut dengan salam di akhirat.

Dengan demikian, di dunia ini ia merasa senang jika ada yang datang dan mengucapkan salam kepadanya. Ia kemudian menjawabnya dengan penuh penghormatan.

Firman Allah Swt., Alladziina tatawaffaahumu-l malaaikatu thayyibiina yaquuluuna salaamun ‘alaikumu- dkhuluu-l jannata bimaa kuntum ta‘maluun.

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang ketika diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), Salaamun ‘alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan (an-Nahl/16: 32). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *