Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Kehidupan Tanpa Tuhan? (Catatan Reflektif setelah Membaca Buku The God Delusion)

7 min read

Sumber gambar: Bernard Batubara

10,913 total views, 12 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Buku “The God Delusion”, karya Richard Dawkins, menjadi populer di tengah perdebatan antara sains dan agama di media sosial. Saya tertarik untuk ikut membacanya. Ada beberapa asumsi yang muncul di kepala saya sebelum membacanya.

Semula, saya menduga, Dawkins akan menciptakan kredo ateisme yang menarik dan konstruktif, yang bisa menggoda kaum teistik.

Saya juga menduga, buku Dawkins adalah “kitab suci” para penganut ateisme untuk menghibur diri mereka, dan sekaligus merayakan kemenangannya “membunuh Tuhan.” Sembari menyanyikan dengan riang lagu John Lenon, Imagine.

Seperti Film Fantasi

Dugaan saya berantakan. Buku Dawkins ini seperti film dengan genre fantasi. Plotnya dimulai dengan adegan masyarakat dunia yang dipenuhi dengan bangunan-bangunan agama.

Masing-masing agama menempatkan satu tuhan di dalam altarnya. Dunia yang penuh sesak dengan agama ini chaos. Perkelahian terjadi di mana-mana. Umat beragama saling menindas.

Bahkan, mereka yang berada dalam satu bangunan agama saling berkelahi. Celakanya, Tuhan yang diagung-agungkan tidak berdaya untuk menghentikannya.

Warga dari satu kampung ateis mengutus pendekar sakti mereka untuk menyelamatkan manusia dari chaos. Mereka mengincar tuhan sebagai persona yang paling bertanggungjawab atas kekacauan di dunia manusia.

Sang pendekar ateis dengan kuda putih dan sebilah pedang rasional di tangannya maju ke tengah masyarakat beragama, yang sedang chaos itu. Dia dengan percaya diri memasuki setiap bangunan dan membunuh semua tuhan yang ditemuinya. Mula-mula dia membunuh tuhan di rumah panteisme, lalu bergerak ke rumah kaum deisme.

Tak puas dengan itu, sang ksatria ateis juga menghancurkan tuhan yang pasif dalam ‘otak’ kaum agnostik. Bahkan, sinyal kehadiran Tuhan yang paling minim di otak Einstein sekalipun, diredupkan.

Sang ksatria memurnikan pikiran Einstein (yang semula diberi label ateis religius) dan berteriak lantang, “Einstein adalah ateis sejati!” Setelah membunuh semua (konsep) tuhan, sang ksatria mengejek semua pemeluk agama sebagai pemimpi dan tertipu dengan Tuhan yang sudah tidak ada.

Dawkins memproklamasikan ateisme sebagai pahlawan dunia. Pahlawan yang membebaskan manusia dari keterbelengguan dan penjara identitas yang memicu dehumanisasi.

Dawkins menyusun sejumlah hipotesis yang berupaya meyakinkan pembacanya atas ketiadaan Tuhan. Dawkins mengembangkan sikap skeptik, negativisme, dan nihilisme. Seluruh upaya pembuktian Tuhan dari agama dan ilmuwan pro-agama dibantahnya.

Setelah semua terbantahkan, dia datang dengan hipotesis, bahwa Tuhan memang tidak ada. Seluruh asumsi rasional yang berkehendak membuktikan adanya Tuhan hanyalah sebuah agitasi berbasis logika sistematis yang dibuat-buat.

Bagi Dawkins, argumen atas pembuktian Tuhan absurd dan menyelesihi hukum-hukum ilmiah. Tidak ada yang bisa membuktikan keberadaan Tuhan, karena itu Tuhan memang tidak ada.

Meski sebagian besar argumennya garang dan sinis terhadap agama, namun sekali waktu, saya menemukan keinginan untuk berkompromi dengan agama. Dawkins mencoba membentuk garis kompromi antara teis ke ateisme. Kok bisa? Ya. Dulunya agama-agama memiliki banyak tuhan.

Lalu monoteisme menurunkan para nabi untuk menghancurkan (konsep) tuhan yang banyak, dan menyisakan satu tuhan. Nah, para ateis hadir untuk membunuh tuhan yang tersisa itu. Dawkins ingin menyatakan, bahwa ateisme adalah puncak evolusi beragama.

Bagi saya, konsep ini tidak asing. Para sufi yang radikal dalam Islam memiliki sistem berfikir yang serupa dengan pikiran Dawkins. Bedanya, Dawkins membunuh Tuhan sebagai tujuan pembebasan diri, sedangkan para sufi justru melebur menjadi satu, dengan alasan yang sama.

Dalam tradisi sufi, bukan Tuhan yang hilang, tetapi manusia dan alam yang lenyap menyatu bersama Tuhan. Tuhan dan hamba berada dalam kesatuan. Ketika sang sufi kembali ke dunia manusia, mereka kehilangan selera terhadap dunia. Tuhan ada pada diri mereka dan meresapi kenikmatan spritual.

Ateisme dan sufisme sama-sama mengeritik agama yang dikuasai oleh sistem agama, yang ambivalen. Jika ateis tidak membutuhkan tuhan, para sufi justru tidak membutuhkan dunia.

Di bagian lain, Dawkins menggunakan logika zig-zag yang bertujuan untuk memapankan ateisme sebagai sesuatu yang inheren dalam semua agama.

Bagi umat Islam, penganut Kristen dan Yahudi (serta agama lainnya) adalah ateis karena mereka tidak mempercayai Allah sebagai tuhan. Bagi umat Kristen, masyarakat Islam dan Yahudi adalah ateis, karena tidak mempercayai konsep ketuhanan Yesus. Begitu seterusnya.

Dawkins ingin mengatakan, bertuhan adalah konsep kekuasaan yang diindoktrinasikan oleh masing-masing agama untuk saling menegasi tuhan-tuhan dalam agama yang berbeda. Karena itu, agama dunia adalah konsep ambigu. Tidak ada kesepakatan yang bulat antara semua agama atas keberadaan Tuhan. Mengapa? Karena memang Tuhan tidak ada.

Cara berpikir ini juga berkembang di kalangan pemeluk agama, terutama dari kalangan penganut agama minoritas. Bhante Sri Pannavaro (tokoh agama Buddha di Indonesia) menyebutkan, Buddha seringkali diklaim agama tanpa Tuhan oleh agama lain di Indonesia, hanya karena mereka tidak menemukan “tuhan yang mereka sembah” dalam agama Buddha.

Oleh karena berbeda konsep ketuhanan, orang-orang luar ini dengan seenak hati menyebut mereka beragama tanpa tuhan.

Logika serupa digunakan Karen Amstrong dalam buku Sejarah Tuhan. Amstrong menunjukkan masa depan yang buruk bagi Tuhan yang tidak memiliki keluwesan. Tuhan-tuhan yang kaku ini akan ditinggalkan oleh generasi baru, yang menginginkan relevansi citra ketuhanan dengan perkembangan zaman.

Konsep Tuhan yang persona dalam sistem teologi agama menjadi tidak relevan dalam masyarakat modern. Sabda ini, relevan dengan agenda pembunuhan Tuhan yang disusun rapi oleh kelompok ateis sejak lama.

Pasang Surut Relasi Theisme dan Atheisme

Hubungan antara agama monoteistik dengan atheisme sepanjang sejarah berlangsung buruk. Khususnya, agama monoteis. Tidak ada tempat bagi ateisme untuk hidup dalam agenda monoteisme.

Monoteisme mengklaim atheisme dengan segala jenisnya adalah bentuk pengingkaran terhadap fitrah kemanusiaan yang membutuhkan Tuhan. Atheisme dianggap sebagai bentuk kesombongan atas anugerah penciptaan yang seluruhnya dikuasai oleh Tuhan. Sebaliknya, atheisme mengklaim agama sebagai bentuk manipulasi otoritas oleh para tokoh agama.

Menariknya, sejarah agama-agama juga mengikutsertakan gerakan ateisme di dalamnya. Ateisme dalam masyarakat Kristen (baik Katolik maupun Kristen) saat ini, yang memengaruhi ateisme global.

Para tokoh ateisme, seperti Stephen Hawkings hingga Richard Dawkins, adalah orang-orang yang tumbuh dalam tradisi kristianitas. Kultur kebebasan dalam masyarakat Eropa memungkinkan kaum ateis tumbuh dan mengisi dialog intelektualitas.

Sedangkan di negara-negara muslim, sikap curiga terhadap ateisme sangat kuat. Ateisme tidak bisa menemukan ruang publik yang setara. Bahkan, negara terbuka dan multi-agama seperti Indonesia, ateisme tetap tidak bisa hidup tentram. Sila pertama dalam dasar filosofis Indonesia adalah theisme.

Meski demikian, ateisme tetap muncul dalam masyarakat Islam dan memiliki akar sejarah yang cukup kuat. Imam Arrawandi dan Abu-bakar Arrazi, adalah nama penting dalam tradisi ateisme dalam Islam. Mereka disebut sebagai kaum mulhid, zindiq. Mereka mendekonstruksi tradisi ibadah dalam Islam dan menganggapnya sebagai bagian dari sistem pembodohan.

Tulisan Abdurrahman Badawi, min tarikh al-ilhad fi al-islam, yang diterjemahkan LKiS, dengan judul Sejarah Ateis Islam, merekam cukup baik jejak intelektualitas kaum ateisme dan pengaruhnya terhadap pembentukan nalar kebebasan dalam masyarakat Islam.

Ateisme Islam tidak bertujuan kepada “pembunuhan” Tuhan, tetapi dekonstruksi sistem peribadatan yang mengekang manusia menuju Tuhan. Semacam purifikasi teologis dengan meruntuhkan semua “patung-patung” ritual yang memaksa manusia memberhalakan Tuhan.

Hindu dan Buddha adalah dua agama dunia menempatkan pemikiran ateisme dalam posisi yang lebih “terhormat.” Di dalam agama Hindu tumbuh kelompok ateis. Kelompok ini Samkhya atau Mimamsa. Mereka menolak kehadiran Tuhan dalam proses penciptaan. Meski minor, kelompok ini sudah bertahan cukup lama dalam agama Hindu.

Sementara agama Buddha menempatkan Tuhan dalam posisi yang unik. Pembicaraan tentang Tuhan tidak menjadi arus utama, sebagaimana agama lain. Bahkan, tidak disebutkan sama sekali dalam Kitab Trivitaka.

Konsep Tuhan dalam agama Buddha memang impersona. Tidak bersifat dan tidak bernama. Dia menempati ruang kehadiran yang mutlak. Tuhan tidak disebutkan, karena memang Dia tidak ingin dihadirkan dalam bahasa manusia.

Penghadiran Tuhan dalam bahasa manusia mendegradasi posisi Tuhan dan menjadikannya persona. Agama Buddha tidak berkepentingan untuk itu. Konsep tuhan persona diisi oleh para dewa dan buddha.

Oleh karena itu, masyarakat Buddhis menerima dengan sukacita konsep ketuhanan dalam Pancasila, karena sesuai dengan konsepsi mereka; impersonalitas Tuhan. Absennya Tuhan dalam percakapan ritual umat Buddha menjadikan mereka sering dianggap sebagai agama tanpa Tuhan.

Kehidupan Tanpa Tuhan?

Saya bersetuju dengan kritik Dawkins terhadap agama. Institusionalisasi agama dan hadirnya kelompok yang mengaku otoritatif terhadap agama seringkali menciptakan kekacauan. Tuhan dicitrakan sesuai dengan kepentingannya. Tindakannya disandarkan kepada Tuhan untuk mendapatkan legitimasi.

Tak jarang, kita menemukan orang yang merasa sah dan menjalankan ajaran agama sembari menghina orang lain. Tak sedikit pula yang tega membunuh manusia berdasarkan ilusi ketuhanan. Uniknya, kelompok seperti ini ditemukan di semua agama.

Namun, skenario apik Dawkins berantakan di plot terakhir. Anti klimaks. Ketika memasuki gagasan tentang hidup tanpa Tuhan, Dawkins mulai kelelahan.

Saya tidak menemukan argumen yang garang dan konstruktif. Anti-tesa kehidupan beragama yang dikritik habis-habisan tidak dibarengi argumentasi kuat tentang ide masyarakat tanpa Tuhan.

Bahkan, Dawson tidak menyediakan ide apa-apa sebagai alternatif. Saya justru menemukan rasa frustasinya, ketika menemukan kenyataan, bahwa sebagian besar orang yang bunuh diri adalah kaum ateis.

Di bagian ini, Dawkins menghidupkan kembali agama dan mengatakan, bahwa “orang baik dan orang buruk dapat ditemukan dalam masyarakat Kristen, Muslim, dan Atheis.”

Dawkins ingin menyatakan, agama bukan faktor determinan terhadap pembentukan moralitas manusia. Dawkins hanya berhenti di situ dan kembali menyusun apologi penghancuran agama. Bagi saya, Dawkins gagal menyusun argumentasi tentang kehidupan ideal masyarakat tanpa tuhan.

Saya membayangkan sang ksatria ateis yang garang di bagian awal, berakhir seperti Thanos. Setelah sukses meratakan dunia melalui jentikan jari, Thanos menyepi di taman di suatu planet tanpa penghuni. Jiwanya hampa.

Kesuksesannya menghancurkan populasi dunia, yang diyakininya sebagai cara terbaik untuk menciptakan keseimbangan, tidak memberi rasa bahagia pada dirinya. Dia kesepian dan kehilangan banyak hal. Thanos bahkan harus berakhir, ketika para Avengers datang dengan memanipulasi waktu.

Dawkins benar. Buku ini cocok bagi mereka yang punya hasrat besar untuk membuktikan ketiadaan Tuhan. Atau, mereka yang mengalami rasa traumatisme terhadap agama.

Betul, buku ini bukan untuk saya. Bukan karena saya memiliki pegangan yang kuat terhadap teologi Islam. Tetapi Tuhan pemarah, pemurka, pendendam, dan tega membiarkan manusia dalam penindasan yang dibunuh oleh para ateis, bukanlah Tuhan yang saya kenali.

Dawkins membunuh tuhan lain, bukan Tuhan yang saya sembah. Pun, saya menemukan Tuhan tidak seperti yang dibayangkan oleh Dawkins. Saya menemukan Tuhan dengan cara mempercayai-Nya.

Cukup bagi saya untuk tidak tergoda membuktikan keberadaan-Nya. Karena, upaya menghadirkan Tuhan melalui sistematika ilmu pengetahuan adalah bagian dari manipulasi konsep ketuhanan.

Saya lebih menikmati cara Aamir Khan dalam menyimpulkan kehadiran Tuhan di pikiran manusia, melalui film Peekay.

Juga, saya lebih terpesona dengan doktrin para sufi, “bagaimana bisa engkau membunuh Tuhan demi menyelamatkanku sedangkan aku bersama-Nya di segala masa.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *