Fri. Sep 18th, 2020

BLAM

KEREN

Urban Salafisme

5 min read

Sumber gambar: muslim.or.id

8,990 total views, 4 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Urban salafisme, adalah istilah yang saya usulkan sebagai novelity, dalam disertasi saya tentang kontestasi keagamaan.

Urban salafisme, adalah salah satu jenis gerakan dalam masyarakat Islam, yang lahir dari dialetika antara ide salafisme dan budaya masyarakat urban.

Urban salafisme muncul sebagai jawaban atas kejumudan ide-ide salafi yang terlalu berkutat pada klaim otentisisme dengan pendekatan ekslusif, dan sekaligus sebagai mode adaptasi terhadap penetrasi budaya populer yang sangat kuat dalam masyarakat perkotaan.

Urban salafisme adalah wajah baru salafi yang lebih adaptif dan terbuka pada ide-ide perubahan sosial. Urban salafisme memiliki kesamaan dengan gerakan pos-Islamisme, yang digunakan Asef Bayat (2011), ketika melihat fenomena masyarakat Iran dan Mesir pasca-revolusi.

Salafisme dan Modernitas

Salafisme sebagai salah satu paham keagamaan telah berkembang di Indonesia pada 1980-an. Para alumni universitas dari Jazirah Arab membawa pengaruh penting terhadap pertumbuhan gerakan salafisme di Indonesia.

Berawal dari diskusi terbatas di masjid kampus dan masjid kompleks, gerakan salafisme kemudian menjalar dan tak terbendung. Gerakan ini kemudian mendapatkan konteks di Indonesia, ketika Muhammadiyah pelan-pelan bergerak lebih moderat dan lebih menguatkan paham kebangsaannya.

Apalagi, ketika Muhammadiyah mengubah sedikit arah keagamaan yang lebih “ramah” terhadap kebudayaan, paham salafisme ini mengambil tempat yang ditinggalkan oleh Muhammadiyah, yaitu ide purifikasi.

Gerakan salafisme sempat mengalami fase kritis. Perang melawan radikalisme yang dilakukan oleh negara menyeret kelompok berhaluan salafi sebagai “terduga.”

Kesamaan cara pandang antara kelompok revivalis membuat seluruh gerakan salafi dicurigai sebagai bagian dari desain terorisme. Pergulatan ini berlangsung cukup panjang sejak era Presiden Gus Dur hingga Presiden Jokowi.

Tetapi, arus politisasi agama yang sangat kuat di Indonesia, menjadi peluang bagi kelompok salafisme untuk menguatkan eksistensi.

Konsolidasi gerakan umat Islam yang dipicu dari populisme agama berbasis kepentingan politik menjadi titik penting bagi kelompok salafisme. Peluang untuk melakukan resistensi terhadap stigma radikal yang secara mudah disematkan kepada mereka.

Tidak mengherankan apabila beberapa kelompok salafi mendukung gerakan ini dan ikut terlibat dalam demonstrasi 212. Kelompok Wahdah Islamiyah (WI) di Sulawesi Selatan secara terang-terangan menyatakan dukungan dan ikut terlibat di dalamnya.

Meski demikian, ada beberapa kelompok salafi yang tetap bertahan untuk tidak ikut dalam arus politik tanah air, tetapi sebaliknya, menikmati perubahan politik ini bagi eksistensi mereka.

Di luar konteks politik, gerakan salafisme menemukan tempat bersemai yang subur di lahan modernitas, yaitu media digital. Para aktor dalam kelompok salafi tampil ke publik melalui kanal You Tube dan media online lainnya.

Di saat aktor dari kelompok dominan (NU dan Muhammadiyah) lebih mapan menggunakan pranata sosial konvensional, para aktor dari kelompok salafis, ini berebut ruang di media digital.

Seluruh kelompok salafi yang berkembang di Indonesia menggunakan platform media online sebagai ruang dakwahnya.

Cikal bakal gerakan ini dipelopori oleh kelompok salafi, yang mendirikan stasiun Radio Rodja dan mengembangkannya menjadi TV, dengan memanfaatkan kanal TV berbayar, atau lebih dikenal dengan sebutan TV kabel.

Para aktor dari kelompok salafi ini juga bergerak cepat merebut ruang media digital. Mereka tidak hanya memanfaatkan sebagai saluran dakwah, tetapi juga mengorganisir diri dengan membentuk tim kreatif, guna mendukung akseblitas publik terhadap dakwah mereka.

Mereka cukup sukses menggantikan era da’i TV yang dikuasai oleh kelompok Islam tengah,  seperti Ustaz Yusuf Mansur, Aa Gym, Ustaz Solmed, Ustaz Subkhi Al-Bughury, Uje, dan lain-lain. Dai-dai berbasis paham salafi seperti Khalid Basalamah, Syafiq Basalamah, dan Firanda,  mendapatkan sambutan besar dalam masyarakat Indonesia.

Kesuksesan mereka di panggung media digital menjadi role model dakwah kontemporer. Para dai dari kelompok lama, seperti NU pun mengikuti jejak langkah mereka. Para dai salafi ini mendapat sambutan dari kalangan generasi muda. Metode dakwah yang simpel dan propaganda Islam otentik menjadi modal penting dalam meraih perhatian generasi milenial.

Pola gerakan mereka semakin mapan, ketika sebagian role model budaya populer mulai menjadi pengikut mereka. Pemuda berjanggut, bercelana cingkrang, dan wanita bercadar pelan-pelan mulai mengisi budaya populer. Ruang ini kemudian membentuk satu jenis gerakan baru, yang saya sebut dengan Urban Salafisme.

Urban Salafisme sebagai sub-Kultur?

Kehadiran kelompok urban salafisme ini menjadi liminal bagi gerakan salafi secara umum di Indonesia. Kelompok ini dibutuhkan untuk “melawan” stigma terorisme dan radikalisme yang masih dikembangkan oleh beberapa elemen kelompok di Indonesia.

Ketika wacana terorisme dan radikalisme kembali ditampilkan oleh pemerintahan Jokowi periode kedua, kelompok Niqab Squad (di)tampil(kan) sebagai anti-tesa. Kelompok muslimah bercadar ini datang dengan pengertian baru tentang cadar.

Mereka secara eksplisit menyatakan, bahwa muslimah yang bergabung dalam Niqab Squad datang dengan berbagai latar profesi berbeda-beda. Dokter, pelukis, atlet, bahkan pendaki gunung.

Dengan berbagai argumen normatif dan faktual, kehadiran Niqab Squad berhasil mematahkan asumsi publik tentang ortodoksi keagamaan, yang selama ini melekat pada gerakan salafisme.

Asumsi tentang cadar, yang semula terassosiasi dengan ortodoksi dan ekslusifisme beragama, mulai terkikis dengan hadirnya perempuan bercadar di ruang publik, dan bergaul secara nyaman dengan beragam identitas.

Sebagai gerakan liminal, urban salafisme akan berkontestasi dengan publik yang tidak sepenuhnya menerima kehadiran mereka, dan sekaligus akan berhadapan dengan kelompok salafisme yang ingin mempertahankan cara beragama ekslufif, ortodoks dan otentik.

Kehadiran para perempuan bercadar dengan gaya urban memicu munculnya krtik dari dalam. Mereka dianggap telah menyelisihi ide salafisme yang ketat dalam membangun relasi sosial dengan kelompok yang dianggap ahlul bid’ah.

Urban salafisme muncul sebagai sub-kultur. Mereka terpisah secara kelompok dari inangnya dengan membentuk grup baru, tetapi mereka tidak bisa menyatu secara total dengan kelompok mainstream.

Sebagai gerakan sub-kultur, kelompok urban salafisme ini merumuskan diri mereka sebagai kelompok minoritas. Mereka membangun solidaritas berdasarkan psikologi sub-ordinasi.

Kegalauan berbasis minority inferior ini disublimasi melalui media youtube dengan memproduksi berbagai gerakan-gerakan a la kaum urban.

Saat ini, saya sangat mudah menemukan film pendek yang menjadikan ide salafisme sebagai gagasan dasar. Misalnya, kewajiban bercadar bagi generasi muda muslimah. Film ini dibuat anak-anak setingkat SMA.

Narasi dimulai dari tantangan bercadar. Bercadar diletakkan sebagai simbol sub-kultur. Simbol yang berbeda dengan mainstream sosial dan bahkan dianggap asing. Diejek teman-teman, tidak disukai orang tua, malu menggunakannya, dan lain-lain.

Logika dominas-subordinasi dimainkan. Perlawanan dilakukan dengan mengatasnamakan keteguhan dan keyakinan kepada Tuhan. Lalu, membangun konsolidasi sesama pengguna cadar.

Metode ini khas kelompok sub-kultur. Jauh sebelum munculnya urban salafisme, kita sudah mengenali beragam jenis kelompok sub-kultur yang meresonansi perasaan tertindas sebagai modal untuk membangun konsolidasi.

Anak-anak punk memulai dengan perasaan sebagai orang yang terbuang dari bangunan sosial. Perasaan inilah yang memicu solidaritas untuk berkelompok secara terpisah dengan kelompok mainstream, termasuk keluar dari rumah.

Meski berangkat dari ide salafisme (yang berarti sangat dekat dengan simbol kebudayaan Islam bernuansa Arab), namun gerakan urban salafisme perlahan mengadaptasi diri ke dalam dunia modern.

Selain memanfaatkan kanal-kanal media sosial, kelompok urban salafisme tidak lagi mengentalkan diri dengan idiom Arab. Istilah yang digunakan–malah keminggris-minggirisan.

Kalangan kelompok urban salafi ini sangat akrab dengan istilah meet up, gathering akbar, hijrah fest, cadar challenge, one day with cadar, one day one juz, niqab squad, ramadhan run, dan lain-lain. Mereka telah meninggalkan kebiasaan madzhab salafisme lama, yang sangat identik dengan istilah Arab.

Sebagai kelompok sub-kultur, urban salafisme bisa menjadi titik perjumpaan antarkelompok keagamaan di Indonesia. Karakter kelompok urban salafisme yang terbuka dan mengedapankan dialog, menjadi titik penting yang selama ini terabaikan.

Hubungan kelompok salafisme dan kelompok moderat-mayoritas di Indonesia yang selama ini canggung, pelan-pelan mulai terbangun dengan munculnya gerakan urban salafisme ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *