Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti BLAM Siap “Serbu” Rappocini, Survei Kesiapan Rumah Ibadat Hadapi New Normal

2 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si (kanan), bersama beberapa Peneliti BLAM. Foto: Dok. BLAM.

5,886 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) akan menyasar rumah ibadat yang terdapat di seluruh kelurahan di Kecamatan Rappocini, Makassar.

Hal ini berkaitan dengan survei BLAM mengenai “Kesiapan Rumah Ibadat Menghadapi New Normal” di masa pandemik Covid-19. Rencananya, Peneliti BLAM turun lapangan selama tiga hari, Jumat hingga Minggu, 26-28 Juni 2020.

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, menyatakan, sebagai lembaga peneliti, pihaknya juga ingin memberikan kontribusi di masa Covid-19.

Sebagai lembaga peneliti yang selama ini berkonsentrasi menggeluti persoalan sosial, budaya, dan keagamaan di Kawasan Timur Indonesia, BLAM kali ini ingin meneliti kesiapan rumah ibadat, terutama kesiapan protokol kesehatan pencegahan dan penyebaran virus Covid-19, antara lain, ketersediaan bilik disinfektan, pengukur suhu tubuh, sabun pencuci tangan, pengaturan jaga jarak jamaah, dan penggunaan masker.

“Untuk riset saat ini, kami ingin fokuskan dulu masalah kesiapan rumah ibadat, dan belum kepada penggunaan dan pemanfaatan protokol kesehatan oleh pengurus rumah ibadat. Setelah ini, kita mungkin akan melanjutkan lagi dengan riset apakah alat-alat protokol kesehatan itu difungsikan atau dimanfaatkan di setiap rumah ibadat,” kata Saprillah.

Berdasarkan pemberitaan di sejumlah media dan penuturan warga, masih banyak rumah ibadat yang ternyata belum terlalu ketat melaksanakan protokol kesehatan Covid-19 di Makassar.

Meskipun rumah ibadat tersebut menyediakan tempat cuci tangan, misalnya, namun masih ada di antara jamaah yang tidak menggunakannya. Belum lagi, masih ada juga warga yang tidak menggunakan masker pada saat berada di dalam rumah ibadat, serta duduk saling berdekatan (tidak menjaga jarak).

Survei ini berbasis online, real time, dan menggunakan aplikasi App Sheet. Nantinya, para peneliti tidak melakukan interaksi dan berbincang-bincang dengan responden di lapangan. Ini dilakukan sebagai upaya pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran pandemik Covid-19.

Peneliti cukup mengamati dari dekat ketersediaan alat-alat protokol kesehatan di masing-masing rumah ibadat, serta ikut dan melihat dari dekat pelaksanaan Salat Jumat di salah satu masjid, yang menjadi sasaran survei.

“Karena basisnya online dan real time, dan menggunakan App Sheet, maka temuan yang diperoleh peneliti di lapangan akan langsung diisi, difoto, dan kemudian diupload melalui handphone masing-masing,” kata Saprillah, yang bersama Agen Perubahan BLAM, Baso Marannu, bertindak sebagai admin.

Kecamatan Rappocini terdiri atas 11 kelurahan, yaitu Gunung Sari, Karunrung, Mapala, Kassi-Kassi, Bonto Makkio, Tidung, Banta-Bantaeng, Buakana, Rappocini, Ballaparang, dan Minasa Upa. Sementara jumlah rumah ibadatnya adalah 153 masjid, sembilan gereja, dan satu vihara.

Survei ini mengambil sampel dan populasi di Kecamatan Rappocici, lantaran berada di tengah kota dan mudah terjangkau. Juga, lalu lintas orang-orang yang ingin mampir beribadat di jalan tersebut, tergolong mudah.

Pemilihan Kecamatan Rappocini bukan pula dimaksudkan untuk mewakili seluruh rumah ibadat di Makassar. Namun, setidaknya, hasil survei ini bisa memberi gambaran mengenai kesiapan rumah ibadat di Makassar.

Setelah survei selesai, BLAM berencana melakukan launching, dengan mengundang Kepala Kanwil Kemenag Sulsel dan Wali Kota Makassar untuk membicangkan hasil survei ini. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *