Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Modal Sosial Relasi Islam-Kristen di KTI: Catatan Webinar “BLAM Corner” Relasi Islam-Kristen (Bagian 2, selesai)

6 min read

Penulis (kanan) saat bertamu di rumah Ketua PWNU Papua, Dr. H. Tony Wanggai, di Jayapura. Foto: Dok. Penulis.

8,316 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tulisan ini merupakan kelanjutan tulisan saya sebelumnya sebagai catatan singkat diskusi webinar “BLAM Corner” 3 bertajuk, “Relasi Islam-Kristen di KTI: Bersama Melawan Rasisme dan Diskriminasi untuk Memperkuat Kebangsaan,” yang diadakan Balai Litbang Agama Makassar (BLAM).

Tulisan sebelumnya saya membahas secara singkat beberapa hal, mengenai harmoni dan problem dalam relasi Islam-Kristen di KTI.

Pada tulisan ini, saya akan fokus mengulas perjumpaan sosial, kearifan lokal, dan semangat kebangsaan, sebagai modal sosial membangun relasi harmonis antaragama, khususnya Islam-Kristen di KTI.

Ketiga aspek yang saya sebut sebagai modal sosial dalam membangun relasi harmonis antara Islam-Kristen di KTI merupakan implementasi praktis dari indikator moderasi beragama,  sebagaimana disebut dalam buku Moderasi Beragama, terbitan Kementerian Agama RI, 2019.

Indikator moderasi beragama tersebut adalah, toleransi, anti kekerasan, akomodatif terhadap kebudayaan lokal, dan komitmen kebangsaan.

Berdasarkan data selama riset di beberapa daerah di KTI, saya menemukan, praktik moderasi beragama tumbuh pada masyarakat Muslim-Kristen di KTI, yang terimplementasi melalui modal sosial dalam tiga aspek, yang saya sebut di atas.

Perjumpaan Sosial

Beberapa daerah di KTI dikenal sebagai kawasan perjumpaan antarumat Islam-Kristen. Bahwa,  dalam perjumpaan tersebut kerap memunculkan berbagai persoalan, dan bahkan hingga konflik horisontal. Namun, fakta harmoni dan best practice dalam relasi perjumpaan tersebut, jauh lebih banyak dibanding konflik yang terjadi.

Menurut Giddens (2010), dalam realitas kehidupan bermasyarakat, keberadaan ruang dan waktu menjadi faktor penting dalam membangun dinamika sosial.

Bagi Giddens, ruang dan waktu berkenaan dengan “pengekangan”, yang membentuk rutinitas kehidupan sehari-hari dan menekankan pada sifat praktis, dalam perjumpaan dan bagi terbentuknya perilaku sosial.

Gagasan tersebut menunjukkan, ruang dan waktu tidak hanya dipandang sebagai arena, tetapi menjadi setting dari berbagai praktik dan rutinitas sosial.

Dalam realitasnya, agen akan dibentuk dan membentuk struktur dalam perentangan ruang dan waktu, yang melatarbelakangi berbagai interaksinya.

Teori Giddens tersebut dapat kita gunakan dalam membaca realitas perjumpaan sosial antara Muslim-Kristen di KTI.

Perjumpaan dalam ruang sosial pertetanggaan antara Muslim-Kristen, memunculkan pola relasi dinamis, yang meski terkadang memicu konflik, namun lebih banyak memantik relasi harmonis antarkedua umat. Fakta harmoni tesebut dapat kita jumpai seperti di Manado, Jayapura, Maluku Tenggara, dan banyak daerah lainnya di KTI.

Perjumpaan sosial dalam relasi pertetanggan memantik kesadaran rasional untuk membangun hidup bersama yang terimplementasi dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, kebudayaan hingga agama.

Dalam bidang sosial, misalnya, diwujudkan dalam praktik saling bekerjasama dan tolong-menolong tanpa memandang latar belakang agama.

Seorang pendeta menuturkan pengalaman menggugah. Ketika dirinya kuliah dan kehabisan dana, ia kemudian meminta dan diberi bantuan pinjaman dana dari kas masjid dekat rumahnya.

Pengalaman berharga pendeta ini, lantas tak pernah ia lupakan sepanjang hidupnya. Ia bahkan selalu menyampaikan dan menceritakan ulang pengalamannya ini, sebagai contoh best practice perjumpaannya dengan umat Muslim.

Perjumpaan sosial juga diwujudkan dalam praktik tolong-menolong dan kerjasama membangun rumah ibadat. Orang Muslim membantu pendirian gereja, dan sebaliknya, orang Kristen membantu pembangunan masjid, akan jamak kita temukan praktiknya di tengah masyarakat di KTI.

Ruang ekonomi juga berperan sebagai ruang sosial, yang memperjumpakan umat kedua agama.  Bukan hanya sebagai penjual-pembeli, tetapi sebagai sesama aktor ekonomi. Misalnya, kelompok tani atau nelayan, yang anggotanya terdiri atas Muslim dan Kristen.

Momen kebudayaan dan momen hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri dan Natal, pada banyak daerah menjadi golden momen yang memperjumpakan umat kedua agama dalam relasi harmonis dan penuh persaudaraan.

Tradisi “pegang tangan” atau silaturahmi dalam setiap momen hari raya keagamaan, saling memberi hadiah, serta saling menjaga menjadi tradisi, masih rutin dilakukan pada banyak daerah di KTI.

Melalui perjumpaan sosial intensif dalam ruang sosial yang “tak berjarak” dan dalam waktu rutin menguatkan harmoni dalam relasi Islam-Kristen di KTI.

Oleh karenanya, perjumpaan sosial menjadi penting sebagai modal sosial yang harus dipertahankan dalam merawat relasi harmonis antara Islam-Kristen, khususnya di KTI.

Hasil survei maupun penelitian kualitatif Badan Litbang dan Diklat Kemenag maupun BLAM menunjukkan, daerah-daerah dengan perjumpaan sosial yang tinggi antarumat, menunjukkan kecenderungan pada kerukunan pada ranah kognisi, afeksi, dan konasi.

Kearifan Lokal

Salah satu modal sosial yang penting dalam penguatan relasi antarumat beragama harmonis adalah kearifan lokal.

Kearifan lokal sebagai media, sekaligus modal kultural, dalam membentuk semangat keberagamaan masyarakat yang moderat.

Haba (2007), menegaskan, kearifan lokal setidak-tidaknya memiliki fungsi, yakni sebagai pendorong atas terbangunnya kebersamaan, apresiasi, sekaligus sebagai sebuah mekanisme bersama menepis berbagai kemungkinan yang meredusir, bahkan merusak solidaritas komunal, yang dipercaya berasal dan tumbuh di atas kesadaran bersama, dari sebuah komunitas terintegrasi.

Di KTI, kita akan temukan banyak kearifan lokal yang masih tumbuh, dan secara operasional masih berfungsi dalam membangun kehidupan masyarakat harmonis, meski berbeda agama.

Pada beberapa kali survei Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di beberapa provinsi yang dilakukan BLAM, ditemukan, kearifan lokal menjadi salah satu penopang KUB yang terjalin dengan harmonis.

Penelitian kualitatif BLAM, juga mengonfirmasi hal tersebut. Kearifan lokal terbukti sebagai salah satu pilar utama membangun best practice harmoni antarumat, khususnya Muslim-Kristen.

Kearifan lokal, seperti “satu tungku tiga batu” di Papua, mapalus di Sulawesi Utara, pela-gandong di Maluku, ain ni ain di Kei, serta masih banyak model-model kearifan lokal lainnya,  yang masih berlaku dan secara efektif terbukti sebagai penopang kultural membangun dan merawat relasi harmonis antarumat beragama di KTI.

Kearifan lokal tersebut, bahkan telah teruji sebagai media efektif dalam upaya rekonsiliasi konflik horisontal.

Kearifan lokal pela-gandong secara efektif berhasil membangun rekonsiliasi konflik di Ambon,  yang sempat “luluh-lantah” akibat konflik horisontal bernuansa agama, 1999-2002.

Pengalaman saya ketika riset di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, menemukan, kearifan lokal larvul ngabal dan ain ni ain terbukti secara efektif sebagai media pemersatu masyarakat Kei, yang terdiri atas tiga agama besar (Islam, Katolik, dan Kristen).

Ketika konflik bernuansa agama di Ambon meluas hingga ke Kepulauan Kei, 31 Maret 1999,  membuat suasana di Kei terbakar konflik hingga Juni 1999. Mulai Juli 1999, segenap tokoh adat berinisiatif melakukan upaya perdamaian dengan memanfaatkan pendekatan kearifan lokal ain ni ain. Hasilnya, secara efektif membuat kondisi Kei kembali pulih, terhitung sejak Februari 2000.

Pada kasus lain, misalnya, penolakan rumah ibadat, upaya penyelesaiannya juga kerap menggunakan pendekatan kearifan lokal. Seperti pengalaman saya, saat riset fact finding penolakan pembangunan menara Masjid Agung Sentani, Kabupaten Jayapura, oleh Persekutuan Gereja-gereja Jayapura (PGGJ).

Rekonsiliasi konflik dan rumusan solusi yang dicetuskan, dieksplorasi dari kearifan lokal Sentani, yaitu kenambay umbay. Dalam tempo singkat, persoalan penolakan tersebut akhirnya clear.

Kearifan lokal merupakan modal sosial yang harus dirawat dan ditransformasikan menjadi kekuatan pembentuk semangat dan sikap moderasi beragama.

Praktik-praktik keagamaan yang akomodatif terhadap kebudayaan lokal, dapat dimanfaatkan sebagai ruang perjumpaan dan penerimaan di antara berbagai pihak yang berbeda agama untuk bergabung bersama dalam suasana kultural

Sikap akomodatif terhadap kearifan lokal menjadi ruang bersama untuk terlibat aktif dan merayakan perbedaan. Dan, pada sisi lain, secara efektif menjadi modal sosial-kultural menyelesaikan konflik bernuansa agama.

Semangat Kebangsaan

Semangat kebangsaan atau nasionalisme merupakan modal sosial, yang juga tak kalah penting dalam membangun relasi harmonis antar Islam-Kristen di KTI. Semangat dan komitmen kebangsaan, saya temukan dalam sejumlah riset di KTI, sebagai modal sosial merawat harmoni antarumat beragama.

Secara substantif, semangat kebangsaan menghadirkan penerimaan penuh terhadap saudara mereka yang berbeda etnik maupun agama, untuk hidup bersama dalam jalinan yang harmonis.

Di Manado, misalnya, semua orang yang tinggal di sana, dari mana pun asal daerahnya, sudah dianggap sebagai orang Manado. Orang yang datang dan kemudian menetap di Manado, disebut “orang Manado asal Makassar,” “orang Manado asal Jawa,” dan sebutan lainnya.

Semangat kebangsaan sebagai modal sosial dalam membangun relasi harmoni Islam-Kristen di KTI, saya temukan juga saat riset di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara.

Pada sebuah dusun bernama Berjoko, yang berada tepat di wilayah tapal batas negara Indonesia-Malaysia, semangat kebangsaan menginisiasi generasi muda dusun tersebut, yang terdiri atas Remaja Masjid dan Pemuda Gereja, untuk mendirikan organisasi kepemudaan bernama Orang Muda Berjoko (Om Joko).

Setiap 28 Oktober 2015, bertepatan momen Hari Sumpah Pemuda, dipilih sebagai hari deklarasi pendirian organisasi tersebut. Semangat kebangsaan begitu kental terasa dalam suasana kebersamaan anak-anak muda Dusun Berjoko ini.

Selain itu, 28 Oktober menjadi hari sakral mereka, yang dipilih sebagai “Hari Jadi” organisasi. Hal tersebut untuk memantik spirit perjuangan kaum muda membangun persatuan bangsa, meski berbeda suku dan agama.

Kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada kegiatan keagamaan dan kerukunan  antarumat beragama serta kebangsaan, menjadi fokus organisasi OM Joko sebagai bentuk implementasi dari visi dan misi organisasi tersebut.

Melalui semangat kebangsaan, jalinan relasi antarpemuda Muslim-Kristen di tapal batas negeri,  berlangsung harmonis melalui kerjasama aktif dalam kehidupan sehari-hari, utamanya pada momen hari besar kebangsaan dan hari besar agama.

Pada riset lain di Kota Ambon berkenaan integritas kebangsaan generasi muda, saya menemukan, semangat kebangsaan ternyata memiliki relasi langsung untuk membangun semangat kebersamaan dalam kepelbagaian.

Semangat kebangsaan pula, yang secara efektif menyatukan kembali masyarakat Maluku, yang pernah terkoyak akibat konflik.

Ke Saparua hari Selasa

Susuri jejak Pattimura

Ale rasa beta rasa

Salam-Sarane basudara (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *