Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Membuang Humor pada Tempatnya

5 min read

Sumber gambar: twitter.com

5,333 total views, 2 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Humor sedang memasuki fase serius. Tanpa canda, tanpa tawa. Yang ada hanya marah. Korps kekuasaan sedang mendemonstrasikan kuasanya atas canda. Jantung sang pengunggah berdegup kencang gegara humor “klasik” yang sudah populer direproduksi.

Entah iseng, atau memang bertujuan, seorang lelaki di Kepulauan Sula, mengunggah humor Gus Dur tentang polisi. Polisi di Kepulauan Sula pun berang.

Sang pengunggah “diundang” menghadap ke kantor polisi. Beruntung, kanal media sosial berbunyi kencang. Kisah ini viral dan memantik ribuan cuitan.

Sang pengunggah pun selamat dari cengkraman hukuman. Minta maaf, bolehlah sebagai solusi jalan tengah. Polisi tidak kehilangan “muka”, dan si pengunggah tidak mendekam dalam jeruji. Suasana semakin reda, ketika Kapolda Maluku Utara, mengungkap pernyataan yang “berpihak” kepada pengunggah.

Apa yang sedang terjadi? Saya ingin menganalisisnya dengan meminjam teori Alessandro Duranti tentang power of language. Kekuatan (atas) bahasa. Bahasa memiliki struktur makna dan kekuasaan yang inheren dalam dirinya.

Ketika Anda menggunakan kata “pergi!”, orang-orang yang sedang Anda tunjuk akan beranjak dari tempatnya. Apakah orang beranjak karena mendengar kata “pergi”? Benar. Itulah kekuatan inheren dalam bahasa. Tetapi, bagi Duranti, itu tidak cukup. Subyek penutur juga sangat memengaruhi.

Kekuatan penutur sangat penting memengaruhi bahasa bekerja sesuai dengan konteksnya. Kalimat yang sama diucapkan oleh level struktur sosial yang berbeda, maknanya akan berbeda pula.

Bagi Duranti, “orang-orang” yang beranjak itu tidak pindah tempat karena kata “pergi” saja, tetapi juga atas siapa yang mengucapkannya.

Di sini, makna sangat tergantung pada subyek. Siapapun yang mengucapkan kata pergi, biasanya memiliki “kuasa” yang besar atas situasi.

Seorang gadis yang sedang terluka perasaannya akan memiliki wibawa besar atas kata “pergi” di hadapan lelaki yang datang dengan permohonan maaf. Kekuatan seorang ibu atas kata “pergi” terhadap anaknya memiliki wibawa besar.

Sebaliknya, seorang anak yang mengucapkan kata “pergi” kepada orang tuanya akan dicerca dunia sebagai anak durhaka. Duranti ingin mengembalikan “subyek” sebagai penentu bahasa. Kekuatan bahasa sangat bergantung pada subyek penutur, subyek penerima, dan konteksnya.

Lalu, apa hubungannya dengan humor? Humor adalah salah satu jenis komunikasi yang bertumpu pada bahasa.

Humor terlahir dari keresahan sang pelawak terhadap realitas sekelilingnya. Sang pelawak menumpahkan keresahannya melalui bahasa lucu. Maka, terciptalah humor.

Bahan baku humor adalah realitas yang serius seperti gap sosial, ras, suku, fisik, agama, seksualitas, dan fenomena sosial lainya. Bahan-bahan ini, pada dasarnya, memiliki daya ledak tinggi. Tetapi, humor punya resep hebat untuk menjinakkannya. Bahkan, membincangkannya dengan wajah gembira.

Seorang perempuan jelek bisa dengan sebebas-bebasnya menumpahkan sumpah serapahnya kepada perempuan cantik dan semua orang tertawa.

Perempuan cantik yang hadir dalam “ruang humor” bahkan ikut tertawa. Mereka menertawakan ketertindasan si perempuan jelek, dan sekaligus menertawakan perlawanannya.

Kesuksesan humor tergantung pada dua hal, sebagai berikut:

Pertama; panggung humor. Tujuan dasar humor adalah menghibur dan tertawa bersama. Untuk sampai pada level ini memang dibutuhkan ruang khusus, yaitu panggung humor. Panggung yang diciptakan untuk tertawa bersama. Yang hadir adalah orang yang siap tertawa.

Bahkan, ketika sang komika (sebutan untuk pelawak stand up comedy) mengucapkan salam, orang-orang ini sudah ada yang tertawa. Apapun yang diucapkan si komika, pasti memicu tawa.

Si penonton cantik menikmati keresahan si pelawak jelek, karena si perempuan cantik memang datang dengan kesadaran untuk tertawa. Si cantik dan si jelek tertawa bersama. Lihatlah betapa asyiknya humor itu.

Namun, ketika ruangnya berubah, makna keresahan itu akan berubah pula. Humor kehilangan konteks. Unsur-unsur sensitif dalam humor bisa meledak dan memicu ketersinggungan.

Inilah problem kita sekarang. Ruang media sosial adalah ruang bebas. Humor yang diunggah di media sosial tidak punya kuasa atas ruang, sebagaimana panggung humor. Semuanya tergantung subyek penerima.

Unsur- unsur berbahaya yang termuat dalam humor bisa terbaca sebagai keseriusan. Ini yang terjadi di Kepulauan Sula dan kasus-kasus lain, yang serupa.

Problem di Sula adalah sang subyek memiliki kekuasaan untuk mendikte situasi. Pihak kepolisian merasa, bahwa sang pengunggah sedang beralibi di balik humor Gus Dur. Mereka merasa berhak untuk memanggil si pengunggah untuk klarifikasi. Bagi polisi, mereka punya hak untuk mengetahui motif. Kalau tidak bermaksud menghina, ya dilepaskan.

Kedua; subyek penutur. Faktor ini sangat determinan dalam teori Duranti. Ada banyak pelawak yang tertunduk malu. Gegara lawakannya tidak memicu tawa. Garing dan membosankan. Itulah sebabnya, materi komika selalu berbeda-beda. Mereka jarang menggunakan materi yang sama,  kecuali diyakini kalau audiensnya benar-benar berbeda.

Wibawa sang pelawak adalah penentu sukses tidaknya materi disampaikan. Di luar pelawak, ada beberapa orang yang memiliki “kharisma” melawak yang luar biasa besar. Gus Dur salah satunya.

Lawakan Gus Dur bisa melintasi batas bahasa. Dia bisa membuat terkekeh-kekeh para kyai dengan humor berbahasa Jawa. Dia bisa membuat saya terpingkal-pingkal dengan guyonannya dalam bahasa Indonesia. Dia bisa membuat Presiden Amerika dan Raja Arab tertawa keras.

Anda tentu tahu bahasa apa yang digunakan Gus Dur. Sebuah pekerjaan sulit bisa diselesaikan dengan candaan. Gus Dur adalah subyek penting, yang memastikan seluruh unsur sensitif dalam lawakannya tetap berada dalam koridor humor.

Nah, ketika humor yang sama diceritakan oleh yang berbeda, rasa lucunya juga berbeda. Kita akan tertawa, karena ternyata sang reproduktor, ini juga memiliki sense lucu yang baik. Atau, kita tertawa, karena menghargai sang penutur. Tak ada lagi punch line misterius, karena ini lawakan reproduksi.

Dalam situasi ini, lapisan lucu terlepas satu per satu dari cangkang humor. Apabila cangkang humornya terlepas hingga menyisakan bahan dasar, Anda bisa duga apa yang akan terjadi. Alih-alih tertawa, humor justru mendapatkan amarah. Absurd, kan?

Si pengunggah humor Gus Dur adalah orang biasa. Tidak ada power besar yang dimilikinya. Meski dia menggunakan humor Gus Dur, para polisi menduga ada maksud lain di balik unggahan itu.

Dalam perspektif Duranti, si pengunggah berada dalam posisi powerless, tak berkekuatan. Humor yang diunggahnya pun, menjadi tidak berkekuatan. Power Gus Dur yang kuat, hilang dalam humor itu. Lalu, polisi yang memperkarakannya, mempersempit ruang kuasa kepada sang pengunggah, dan mengabaikan penutur utamanya.

Humor, sama dengan jenis seni lainnya. Jejaring penutur, situasi, dan penerima, adalah kuncinya. Humor yang diletakkan di sembarang tempat, akan memunculkan reaksi yang berbeda.

Seperti mendengar musik slow di pagi hari. Rasanya kurang bersemangat. Untuk itu, kita harus belajar menempatkan humor di tempat yang tepat, dan di waktu yang benar. Pun, para penikmat humor harus dewasa menerima humor.

Sangat mudah mengalahkan humor. Jika kamu tidak menyukainya, maka jangan tertawa. Humor akan layu dan mati. Itu cara yang elegan dan terhormat.

Sebab, apabila kamu menggunakan kekuasaanmu di hadapan humor dan berniat untuk mengadilinya, sungguh, itu tidak lucu sama sekali! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *