Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Harmoni & Problem Relasi Islam-Kristen di Kawasan Timur Indonesia; Catatan Webinar Relasi Islam-Kristen di KTI (Bagian I)

5 min read

Diskusi webinar yang digelar "BLAM Corner."

6,253 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Kamis, 18 Juni 2020, “BLAM Corner” Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) mengadakan webinar (web seminar) dengan tema “Relasi Islam – Kristen di Kawasan Timur Indonesia (KTI): Bersama Melawan Rasisme dan Diskriminasi untuk Memperkuat Kebangsaan.”

Webinar ini merupakan diskusi ketiga dari rangkaian kegiatan yang diagendakan “BLAM Corner.

Webinar ini menghadirkan empat narasumber, dan saya sendiri, Peneliti Bidang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, termasuk menjadi salah satu narasumber. Tulisan ini merupakan ringkasan pemaparan saya dalam dialog webinar tersebut.

Narasumber lainnya, Dr. KH. Toni Viktor Mandawiri Wanggai, M Ag (Ketua Umum PW NU Papua dan Anggota Majelis Rakyat Papua), Gembala Fetrisia Keke Alling (Ketua Umum Pucuk Pimpinan Kerapatan Gereja Protestan Minahasa), serta Dr. Diks Sasmanto Pasande, M. Th (Pendeta dan Akademisi di Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Timur).

Fakta Harmoni

Dari 12 provinsi di KTI yang menjadi wilayah kerja BLAM, delapan provinsi merupakan mayoritas penganut Islam. Tiga provinsi (Sulut, Papua, dan Papua Barat) mayoritas Kristen, sedang satu provinsi (Maluku), berimbang antara populasi Islam dan Kristen.

Perimbangan populasi umat Muslim dan Kristen, juga terdapat di beberapa kota/kabupaten. Seperti Kota Manado, Ambon, Jayapura, Kabupaten Poso, Kutai Barat, Maluku Tengah, Fakfak, dan lainnya.

Umumnya di daerah KTI, utamanya di daerah-daerah dengan populasi umat Islam dan Kristen yang berimbang, relasi harmoni antarumat kedua agama tersebut baik-baik saja.

Hal ini dibuktikan dengan tingginya angka Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB), yang telah lima tahun terakhir dilakukan oleh Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.

Provinsi Sulut, Papua, dan Papua Barat, bahkan pernah menempati posisi tertinggi dalam Indeks KUB dari semua provinsi di Indonesia. Setidaknya, tiga provinsi tersebut selalu menempati lima besar dalam ranking Indeks KUB di Indonesia. Sementara provinsi lain yang disurvei, semuanya berada pada indeks KUB dengan kategori tinggi/baik.

Sebelumnya, pada rentang 2011-2014, BLAM juga melakukan survei Indeks KUB di beberapa provinsi. Hasilnya juga menunjukkan angka rata-rata indeks yang cukup tinggi pada setiap kabupaten/kota.

Riset dalam bentuk kualitatif yang dilakukan BLAM dalam beberapa tahun terakhir, juga menunjukkan adanya fakta, bahkan best practice harmoni antarumat beragama khususnya antara Muslim dan Kristen sebagai dua agama dengan penganut terbesar pada banyak daerah di KTI.

Mulai dari tataran elit hingga akar rumput menunjukkan, fakta relasi yang harmoni antar kedua umat.

Jika kita sering mendapatkan pemberitaan tentang adanya rumah ibadat yang gagal dibangun,  karena adanya penolakan. Justru, lebih banyak fakta pembangunan rumah ibadat yang dikerjakan secara bersama-sama. Misalnya, pembangunan masjid yang dibantu oleh umat Krsiten, dan sebaliknya, pembangunan gereja dibantu umat Muslim.

Hanya saja, pemberitaan lebih banyak menyorot kejadian penolakan pembangunan rumah ibadat oleh umat lainnya, dibanding memberitakan relasi antarumat beragama yang saling membantu dalam membangun rumah ibadat.

Best practice harmoni antar kedua umat juga tampak pada hari raya keagamaan, seperti Idul Fitri dan Natal. Nuansa hari raya dirasakan dan dirayakan bersama dengan saling support, saling bantu, dan saling menjaga dalam peringatan hari raya.

Problem Relasi

Fakta harmoni dalam relasi antarumat Islam-Kristen, tentu tidak membuat kita harus menutup mata tentang adanya problem yang terjadi dalam relasi kedua umat agama tersebut.

Di awal reformasi (1999), relasi umat Kristen dikoyak oleh dua konflik besar yang terjadi di Maluku dan Poso.

Konflik horisontal bernuansa agama tersebut, berlangsung hingga bertahun-tahun dan menimbulkan kerugian dan korban yang tak sedikit.

Belum lagi dampak traumatik dan sosial yang ditimbulkan dari konflik yang cukup kolosal tersebut. Dampaknya tidak hanya terasa dalam skala lokal, namun juga dalam relasi Islam-Kristen dalam skala nasional.

Syukurlah, konflik tersebut berhasil direkonsiliasi. Masyarakat Maluku dan Poso telah kembali hidup dengan tenang dan damai. Namun, pemulihan sosial pasca konflik masih belum benar-benar selesai.

Segregasi pemukiman berdasarkan agama di Ambon dan Poso merupakan pertanda dampak sosial konflik masih tersisa.

Kasus-kasus berkenaan penolakan pendirian atau renovasi rumah ibadat bahkan hingga perusakan rumah ibadat beberapa kali terjadi.

Masjid yang ditolak pendiriannya di daerah mayoritas Kristen, atau sebaliknya pembangunan gereja yang ditolak di daerah mayoritas Muslim, telah beberapa kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, ada kasus yang berujung hingga pengrusakan rumah ibadat oleh sejumlah oknum.

Meski jumlahnya terbilang kecil dan bersifat kasuistik, namun blow up dan framing media membuat kasus tersebut seolah menjadi sangat luar biasa.

Alhasil, kasus tersebut akhirnya menutupi fakta umum, bahwa relasi antarumat Islam-Kristen sedang baik-baik saja.

Pengalaman saya ketika melakukan riset fact finding beberapa kasus rumah ibadat menunukkan, bahwa betapa blow up dan framing media lebih banyak yang tidak sesuai fakta yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Misalnya, ketika saya ditugaskan melakukan riset fact finding kasus penolakan pembangunan menara Masjid Agung Sentani Jayapura. Informasi yang berseliweran di media sangat banyak yang provokatif.

Dikatakan, gereja menolak pembangunan masjid, umat Islam dilarang mengumandangkan azan, muslimah tidak boleh memakai jilbab, pelarangan mushala di kantor dan sekolah, serta sederet pemberitaan hoax lainnya, yang mengesankan kondisi kacau dan umat Islam yang didiskriminasi.

Fakta yang terjadi tidaklah setragis dan sedramatis yang diberitakan. Memang betul ada problem kesalahpahaman yang terjadi, sehingga memicu timbulnya penolakan oleh segelintir oknum yang mengatasnamakan gereja atau umat Kristen.

Namun, setelah melalui proses komunikasi yang difasilitasi pemerintah, tokoh agama tokoh masyarakat, dan tokoh adat, masalah tersebut akhirnya clear.

Di era disrupsi digital, yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknolog informasi dan komunikasi harmoni, relasi antarumat Islam-Kristen di KTI, khususnya berhadapan dengan maraknya pemberitaan dan produksi wacana keagamaan melalui media digital yang berpengaruh pada pemahaman dan pola keberagamaan masyarakat.

Banyak penelitian menunjukkan pesatnya arus informasi di era disrupsi digital berpengaruh pada menguatnya ekstremisme keagamaan dan sikap intoleransi terhadap perbedaan utama di kalangan generasi muda.

Di era boom media sosial seperti saat ini, banyak orang yang tergiring untuk menjadikan berbagai informasi dan opini yang bertebaran di internet sebagai bahan referensi keagamaan tanpa melakukan verifikasi.

Kondisi ini membuka jalan bagi massifnya persebaran ideologi keagamaan radikal yang dapat mengancam keharmonisan relasi antarumat, khususnya Islam-Kristen.

Problem lainnya, adanya kecenderungan menguatnya politik identitas yang menjadikan agama sebagai variabel. Menguatnya politik identitas berbasis agama misalnya ditunjukkan dengan adanya upaya formalisasi agama melalui peraturan daerah (perda) semisal perda syariat atau perda Injili.

Era disrupsi digital semakin membuka ruang bagi penguatan politik identitas melalui informasi dan opini, yang memang sengaja dibangun untuk menggiring afiliasi masyarakat ke arah politik identitas tersebut.

Ancaman bagi menguatnya politik identitas, apalagi berbasis agama, akan mendorong munculnya rasisme dan diskriminasi terhadap kelompok agama lain.

Hal ini menjadi tantangan besar bagi tokoh agama dan pemerintah untuk memperkuat persatuan antarumat melalui penguatan wawasan empat pilar keagamaan utamanya kepada kalangan generasi muda.

Sederetan problem relasi Islam-Kristen, khususnya di KTI, merupakan tantangan besar yang harus dihadapi bersama demi mempertahankan relasi harmoni antar kedua umat, yang selama ini telah terjalin baik.

Namun, satu hal yang patut kita syukuri adalah, meski masih menghadapi beragam problem dan tantangan, namun secara umum, relasi antarumat Islam-Kristen di KTI masih dalam kondisi baik.

Perjumpaan sosial dan kearifan lokal menjadi modal sosio-kultural dalam menguatkan relasi harmoni antarumat Islam-Kristen khusunya di KTI.

Pergi ke pantai makan ikan

Jangan lupa sambal terasi

Mari ajak umat pada kerukunan

Lawan rasisme dan diskriminasi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *