Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Peneliti Bimas Ingin Dalami Moderasi Beragama Guru PAI di Aliyah & SMA

3 min read

Pembahasan DO Bimas Agama BLAM, Kamis, 18 Juni 2010. Foto: M. Irfan

4,190 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Maraknya intoleransi dan radikalisme di sekolah, diduga kuat akibat adanya infiltrasi kelompok intoleran dan radikal yang memengaruhi mindset siswa lewat pengajian, daurah atau liqa.

Namun, boleh jadi, para guru, terlebih lagi guru Pendidikan Agama Islam (PAI), juga ikut berpengaruh membentuk pemahaman keagamaan peserta didik. Perspektif para guru agama tersebut, apakah intoleran atau moderat, akan memberi impresi atas corak pemahaman keagamaan peserta didik.

Hal tersebut dikemukakan Syamsurijal, Koordinator Penelitian, saat menyajikan desain operasional (DO) penelitian tahap kedua Bidang Bimas Agama dan Layanan Keamanan, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), di Aula Kantor BLAM, Kamis sore, 18 Juni 2020.

Syamsurijal dan timnya bakal melakukan penelitian dengan judul “Pemahaman Moderasi Beragama Guru PAI di Aliyah & Menengah Atas.”

Mengutip riset PPIM UIN Jakarta & Convey Indonesia (2018) berkenaan pemahaman keagamaan guru-guru di Indonesia yang berjudul “Pelita Yang Meredup: Potret Keberagamaan Guru di Indonesia”, Syamsurijal menyebutkan, sekitar 53,06 persen guru-guru di Indonesia secara implisit beropini intoleran, sedangkan 10,1 persen, sangat intoleran.

Sementara secara eksplisit, ada 50,87 persen guru-guru beropini intoleran, dan 6,03 % beropini sangat intoleran.

“Yang dimaksud opini intoleran, salah satunya, “56 persen guru-guru tersebut menyatakan secara eksplisit tidak setuju sekolah non muslim berdiri di lingkungan mereka,” kata Syamsurijal.

Riset Syamsurijal dkk., ini memfokuskan pada empat pertanyaan penelitian, yaitu  pemahaman guru PAI dalam melihat keragaman agama, suku, dan kelompok minoritas di Indonesia (kebinekaan); pemahaman guru PAI dalam meletakkan relasi agama (Islam) dan negara; pemahaman guru PAI dalam melihat hubungan agama dan kebudayaan di Indonesia; dan faktor-faktor yang memengaruhi paham moderasi beragama guru PAI.

“Penelitian kami ini bertujuan untuk memetakan atau menggambarkan paham moderasi beragama para guru PAI di sekolah MAN dan SMA di wilayah Indonesia Timur,” ujar Syamsurijal.

Penelitian ini mengambil lokasi Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar). Wilayah Sulsel mencakup Makassar, Gowa, Bantaeng, Bulukumba, Bone, dan Palopo. Sementara wilayah Sulbar, yaitu Polewali Mandar, Mamuju, dan Majene.

Beberapa peserta memberikan tanggapan beragam atas DO ini. Dr. Muhaimin, misalnya. Dosen UIN Alauddin Makassar ini mengakui penelitian ini sangat menarik. Apalagi, saat ini, corak keberagamaan anak-anak sekolah ada yang menunjukkan radikal dan intoleran.

“Saya melihat, masih banyak siswa di sekolah umum dan perguruan tinggi, terutama non santri, kurang lancar membaca Al-Quran dan belum mengetahui bacaan salat,” ujar peserta lain.

Prof. Dr. Kadir Ahmad, Pembimbing Penelitian, meminta peneliti membuat profile beberapa guru PAI di sekolah yang menjadi sasaran penelitian. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui pemahaman keagamaan guru bersangkutan.

“Peneliti harus melacak latar belakang guru-guru PAI. Seperti, apa latar belakang pendidikannya, siapa teman-temannya, berapa kali mereka ikut diklat-diklat guru tentang kebangsaan, moderasi beragama, dan mereka berafiliasi ke organisasi keagamaan apa. Dari sini, kita bisa mengetahui karater pemahaman keagamaan guru PAI tersebut,” kata Kadir Ahmad.

Sementara Wahyuddin Halim. Ph.D, Konsultan Penelitian, menyatakan, keterkaitan sekolah dengan kelompok keagamaan tertentu, sebaiknya juga mendapat perhatian para peneliti.

“Dalam hal ini, peneliti perlu menelusuri apakah sekolah tersebut berafiliasi dengan lembaga pendidikan keagamaan atau kelompok agama tertentu. Dari sini kita bisa melihat corak dan pemahaman keagamaan guru dan siswa,” kata Wahyuddin.

Selain itu, sangat penting juga peneliti memetakan lokasi penelitian dan latar pendidikan guru PAI. Apakah lokasi penelitiannya itu masuk kategori kota santri atau sebaliknya, bukan kota santri.

“Sebaiknya diketahui juga latar belakang pendidikan guru PAI. Misalnya, apakah mereka itu alumni santri atau bukan santri. Hal ini untuk membedakan pemahaman keagamaan di antara guru PAI di sekolah tersebut. Nantinya, bisa diketahui berdasarkan pemahaman keagamaannya berdasarkan latar belakang pendidikan keagamaannya,” kata Doktor lulusan Australian National University, ini.

Untuk bisa lebih memahami pemahaman moderasi beragama guru PAI, Wahyuddin menyarankan peneliti untuk bergabung ke dalam grup media sosial guru – orang tua siswa.

“Alangkah bagusnya lagi kalau peneliti bisa bergabung ke dalam Grup Whatssapp guru – orang tua siwa, sambil mengamati percakapan mereka di grup. Pengalaman saya ketika bergabung di grup media sosial guru – orang tua siswa, ada guru yang ternyata kampanye politik menjelang pilpres dan caleg,” kata dosen UIN Makassar, ini. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *