Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Masjid dan Penyucian Diri

6 min read

Ilustrasi: Masjid Agung Syekh Yusuf, Gowa. Sumber foto: berita.news.

5,815 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Masjid sebagai rumah ibadah umat Islam diusahakan agar senantiasa bersih dan suci. Bersih  mengandung arti bebas dari kotoran (KBBI, 1997:125). Sementara itu, suci mengandung arti bebas dari najis,  yakni segala sesuatu yang dipandang kotor oleh syarak (Dahlan, ed. IV, 2000:1288). Salah satunya adalah khamar.

Selain itu, masjid dijauhkan dari benda yang mengganggu kekhusyukan salat. Kekhusyukan melibatkan indra dan hati. Sejalan dengan itu, maka ragam ornamen di dalam masjid sangat terbatas. Ornamen yang lazim, misalnya kaligrafi ayat Al-Qur’an di dinding masjid.

Setiap Muslim mengambil bagian dalam menjaga kebersihan dan kesucian masjid. Misalnya, alas kaki dilepas sebelum seseorang memasuki masjid. Rak untuk alas kaki biasanya disediakan.

Pada masa silam, masjid di daerah Bugis memiliki petugas khusus kebersihan. Petugasnya disebut doja. Termasuk tugas doja adalah memukul beduk bila waktu salat masuk. Bunyinya bisa kedengaran hingga ke sawah dan ladang. Pada 1960-an, masih banyak masjid di pedalaman Sulawesi Selatan yang  belum memiliki loud speaker (pembesar suara).

Imbalan jasa bagi doja diberikan oleh umat setempat secara sukarela. Ia menjadi bagian dari perangkat masjid atau petugas syara‘.

Seiring dengan perkembangan manajemen masjid, istilah doja jarang lagi digunakan. Sebagai gantinya digunakan istilah yang umum, yakni petugas kebersihan. Insentifnya dibayar rutin dari pemasukan masjid.

Menyucikan Badan dan Pakaian

Orang yang akan menunaikan salat harus suci dari segi material dan segi hukum. Ia suci dari hadas besar dan hadis kecil. Hadas, menurut Ensiklopedi Hukum Islam, adalah penyebab yang membuat keadaan seseorang tidak suci (Dahlan, ed, II, 2000:1289).

Sebagian ulama menekankan arti hadas pada keadaan badan yang tidak suci karena sebab tertentu. Di antaranya, orang yang baru saja melakukan hubungan intim dengan pasangannya berarti ia dalam keadaan hadas besar. Ia harus mandi untuk menghilangkannya. Itu disebut mandi junub.

Perintah mandi junub disebut di dalam Al-Qur’an. Wa in kuntum junuban fa-ththahharuu. (Dan jika kamu junub, maka mandilah) (al-Maidah/5:6). Seluruh bagian tubuh, dari rambut hingga kaki, harus dibasuh. Perbuatan tersebut diawali dengan niat.

Sebagian orang mengukuhkan niat mandi dengan ucapan. Lafaznya, Nawaitu-l gusla li-raf‘i-l hadatsi-l akbari fardhan li-llaahi ta‘aalaa. Artinya, Aku niat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar karena Allah Ta‘ala (Rifa‘i, 2019:22).

Mandi wajib termasuk ketentuan syara‘. Ia tidak boleh ditinggalkan jika ada sebab yang mewajibkan mandi. Kewajiban ini menumbuhkan kebiasaan mandi pada komunitas Muslim.

 Orang yang baru masuk Islam (mualaf) dipandu agar melakukan hal itu. Bimbingan ini berlaku bagi warga komunitas yang sebelumnya jarang mandi. Dengan demikian, ajaran agama memengaruhi gaya hidup.

 Ketentuan mandi wajib diperkuat dengan mandi sunat. Di antaranya, mandi dianjurkan sebelum seseorang menghadiri salat Jumat. Mandi sunat membersihkan badan dan mendatangkan pahala.

Tubuh dan pakaian harus suci dari najis sebelum menunaikan salat. Lebih dari itu, tubuh dan pakaian dijauhkan dari najis sepanjang waktu. Setelah buang air besar atau kecil, seorang Muslim harus membersihkan badan dari najis. Tempat keluar kotoran dibersihkan dengan sebaik-baiknya.

Kebiasaan membersihkan badan dari najis setelah buang air tumbuh pada komunitas Muslim. Air disiapkan di toilet. Dalam kenyataan, tidak semua komunitas memiliki kebiasaan seperti itu.

Di beberapa negara maju di Asia sebagian toilet tidak dilengkapi dengan air untuk membersihkan badan. Sebagai gantinya, disediakan kertas pembersih. Kondisi seperti ini perlu diantisipasi, misalnya dengan membawa botol kecil, pada saat bepergian.

Selanjutnya, seseorang berada dalam keadaan hadas kecil bila ia tidak memiliki wudu atau wudunya batal. Cara menghilangkannya ialah dengan berwudu. Berwudu dalam bahasa orang awam disebut mengambil air sembahyang.

Terdapat empat jenis anggota badan yang  wajib dibasuh pada waktu berwudu. Anggota badan yang dimaksud adalah: (1) wajah, (2) dua tangan hingga ke  siku, (3) sebagian kepala atau rambut, dan (4) dua kaki hingga mata kaki. Ketentuan lainnya ialah niat dan tertib (Abdurrahman dan Bakhri, 2006:14-15).

Dalam praktiknya, orang yang berwudu membasuh tangan lebih dahulu. Meskipun hukumnya sunat, namun ini selalu dilaksanakan.  Berkumur-kumur dan membasuh telinga juga hukumnya sunat. Membaca doa sesudah berwudu juga sifatnya anjuran.

Sebagian orang menyatakan niat wudu. Lafaznya, Nawaitu-l wudhuu’a li-raf‘i-l hadatsi-l ashgari fardhan li-llaahi ta‘aalaa. Artinya, Aku niat berwudu untuk menghilangkan hadas kecil karena Allah Ta‘ala (Rifa‘i, 2019:19).

Berwudu itu membersihkan tubuh dari segi lahir dan batin. Bagian-bagian tubuh yang dibasuh menjadi bersih. Selain itu, dosa-dosa yang dilakukan dengan anggota tubuh itu hilang dengan air wudu.

Hadis Nabi Muhammad Saw. menjelaskan keutamaan wudu. (Artinya), Apabila seorang hamba yang Muslim atau Mukmin berwudu, lalu ia membasuh wajahnya, maka keluarlah dari wajahnya setiap kesalahan yang ia lakukan dengan kedua matanya bersama air (atau tetesan air yang terakhir). Jika ia membasuh kedua tangannya, keluarlah setiap  kesalahan yang dilakukan tangannya bersama air (atau tetesan air yang terakhir). Dan jika ia membasuh kedua kakinya, maka keluarlah setiap kesalahan yang dilakukan kedua kakinya bersama air (atau tetesan air yang terakhir) sehingga ia menjadi suci dari segala dosa (HR. Muslim, I, 2011:132).

Ulama menjelaskan bahwa dosa yang dihapus dengan air wudu adalah dosa kecil. Cara untuk menghapus dosa besar, seperti kecurangan dalam mengelola bisnis, ialah dengan bertobat. Sejalan dengan itu, maka teks doa sesudah berwudu berisi permohonan untuk menjadi orang yang bertobat dan orang yang menyucikan diri.

Lafaznya, Allahumma- j‘alnii mina-t tawwaabiina wa-j‘alnii mina-l mutathahhiriin. (Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan orang yang bertobat dan jadikanlah aku termasuk golongan orang yang menyucikan diri) (HR Tirmidzi, I, 2009:121).

Pergi ke Masjid

Setiap masjid menyediakan fasilitas untuk berwudu dan toilet. Meskipun demikian, sebelum berangkat ke masjid, seorang Muslim dianjurkan untuk berwudu di rumah.  Selain itu, selama dalam perjalanan ia dianjurkan untuk membaca doa atau zikir.

Rasulullah Saw. menjelaskan (artinya), Barang siapa bersuci di rumahnya kemudian ia berjalan ke salah satu rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu salat fardu, maka kedua langkahnya itu, salah satunya menggugurkan dosanya, dan satu langkah lainnya mengangkat derajatnya (HR Muslim, I, 2011:297).

Hadis di atas menjadi salah satu petunjuk bahwa Allah Swt. sangat mengasihi hamba-Nya. Ia memberi kemudahan untuk meraih kebaikan yang banyak. Kebaikan yang lebih banyak dari dosa membawa keberuntungan di akhirat. Imbalannya adalah surga.

Selanjutnya, Al-Qur’an menyebut kedudukan masjid sebagai tempat untuk menyucikan diri. Allah Swt. berfirman (artinya), Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan salat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih (at-Taubah/9: 108).

Pada ayat itu, terdapat bagian yang menyatakan fiihi rijaalun yuriiduuna an yatathahharuu (Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri). Maksudnya, mereka membersihkan diri dari kotoran perbuatan maksiat dan najis, atau dari segi immaterial dan material (Hijazi, II, 11, 1968: 15). Mereka melakukan kegiatan seperti salat dan berzikir. Mereka mengupayakan kesucian jiwa dan raga (al-Maragi, IV, 11, t.th.:26-27).

Ayat di atas diakhiri dengan pernyataan, Wa-llaahu yuhibbu-l muththahhiriin (Allah menyukai orang-orang yang bersih). Maksudnya, Allah menyukai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam membersihkan jiwa dan raganya  (al-Maragi, IV, 11, t.th.:27).

Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat lain yang memuat pernyataan yang redaksinya hampir sama dengan pernyataan di atas. Ayat yang dimaksud, Inna-llaaha yuhibbu-t tawwaabiina wa yahubbu-l mutathahhiriin (Sungguh Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri (al-Baqarah/2:222).

Seperti dikutip di atas, kitab Al-Qur’an dan Terjemahnya mengartikan kata al-muththahhiriin dengan ‘orang-orang yang bersih’. Selanjutnya, kata al-mutathahhiriin diterjemahkan dengan ‘orang-orang yang menyucikan diri’. Terjemah itu menunjukkan adanya kedekatan makna pada kedua kata itu, namun ada pula penekanan tertentu pada setiap kata.

Sebagai perbandingan, kitab The Message of The Qur’an menerjemahkan kata al-muththahhiriin dengan all who purify themselves (orang-orang yang menyucikan diri). Sedangkan  al-mutathahhiriin diterjemahkan dengan those who keep themselves pure (orang-orang yang menjaga diri tetap suci) (Asad, 2003:315 dan 60). Penekanan makna pada setiap kata menjadi lebih jelas.

Predikat al-muththahhiriin dan al-mutathahhiriin terpuji di sisi Allah.  Predikat itu bagi seorang Muslim timbul dari usaha dan anugerah. Predikat itu diusahakan secara berkelanjutan. Semoga kita diberi bimbingan dan perlindungan ke arah itu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *