Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Ujian Seminar Hasil Doktor, Kepala BLAM Saprillah Membahas Kontestasi Antar Kelompok Keagamaan Masyarakat Islam di Indonesia

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, mempresentasikan risetnya pada ujian seminar hasil disertasi melalui tayangan virtual, Rabu, 17 Juni 2020. Sumber gambar: Abu Muslim.

1,565 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Kontestasi keagamaan dalam masyarakat Islam telah membentuk pola relasi yang dinamis, dialektika, dan dominasi-subordinasi. Relasi antara kelompok Sunni berlangsung dialektis. Sementara relasi antara kelompok mayoritas dan minoritas, berlangsung dalam cara subordinasi.

“Aktor yang terlibat dalam arena kontestasi terdiri atas representasi kelompok moderat, revivalis, dan kelompok subkultur. Kontestasi terjadi dalam konteks teologis, ideologis, dan sosiologis,” kata Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, saat menyajikan temuan risetnya, pada ujian Seminar Hasil Penelitian Disertasi, di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Rabu, 17 Juni 2020.

Saprillah memberi judul disertasinya “Kontestasi Antar Kelompok Keagamaan dalam Masyarakat Islam; Dialektika, Subordinasi, dan Strategi Mempertahankan Kelompok.”

Melalui tayangan sidang virtual (zoom), Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan, itu mempresentasikan temuan lapangannya di hadapan Promotornya, Prof. Dr. Hamdan Juhannis, MA, Ph.D, ko-Promotor, Dr. H. Nurman Said, MA, dan Dr. H. Hamzah Harun, Lc, M.Ag, serta Penguji, Prof. Dr. H. Natsir Mahmud dan Dr. Barsihan Noor. Dr. Firdaus Muhammad, yang juga menjadi penguji, berhalangan hadir.

Untuk disertasinya ini, Saprillah, yang juga Peneliti Madya BLAM, telah lama melakukan riset dan mendalami dinamika yang terjadi pada berbagai kelompok keagamaan Islam di Indonesia.

Ada empat pertanyaan penelitian yang diangkat Saprillah pada risetnya ini. Pertama, siapa yang terlibat dalam kontentasi keagamaan; kedua, bagaimana bentuk kontestasi keagamaan; ketiga, apa faktor yang memengaruhi kontestasi keagamaan; dan keempat, bagaimana strategi setiap aktor dalam mempertahankan identitas kelompoknya.

Menurut Saprillah, ia melihat dinamika kontestasi kelompok keagamaan Islam dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Faktor internal, kata dia, meliputi perbedaan cara pandang setiap kelompok keagamaan yang menjadi identitas masing-masing kelompok. Sedangkan faktor eksternal, meliputi keterlibatan negara dan amplifikasi media sosial.

“Dua faktor ini saling memengaruhi satu sama lain dan membentuk kontestasi yang dinamis. Setiap kelompok mengembangkan strategi untuk mempertahankan identitas kelompok, seperti strategi rejeksi ideologis, strategi adaptasi, dan strategi kebudayaan,” jelas ayah tiga anak ini.

Implikasi teoritik penelitian Saprillah adalah, bahwa struktur mayoritas dan minoritas tidak bisa menjawab ketegangan identitas antar kelompok. Diperlukan konstruksi struktur baru, yaitu quasi mayoritas. Struktur yang secara ideologis menyatu dengan mayoritas, tetapi mengembangkan strategi dan pendekatan yang berbeda dengan kelompok mayoritas.

Selain itu, kata dia, setiap kelompok berupaya mengembangkan “mitos” dalam upaya menguatkan posisi dan kepentingan eksistensi setiap kelompok keagamaan.

“Implikasi teoritik terakhir, adalah munculnya gerakan baru dalam masyarakat Islam, yang bersumber pada ideologi salafisme, yaitu urban salafisme. Kelompok yang cara pandangnya dipengaruhi oleh paham salafisme, tetapi mereka mengembangkannya dalam konteks budaya populer,” katanya.

Saprillah menyebut, kesimpulan pada risetnya ini, antara lain, perubahan situasi politik tanah air pascareformasi berimplikasi pada massifnya perkembangan kelompok keagamaan, dengan ragam bentuk dan corak pandangan keagamaan.

“NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi mapan di Indonesia mendapatkan pesaing dari kelompok keagamaan baru, yang muncul dalam bentuk organisasi maupun gerakan keagamaan, sehingga diaspora perkembangan terjadi secara ekspresif,” ujar pria kelahiran 1977, ini.

Di samping itu, lanjut dia, gerakan neo-puritanisme direpresentasikan oleh beragam kelompok berhaluan salafi, sedangkan gerakan politik agama direpresentasikan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Kelompok berhaluan yang disebut sempalan pun mengalami kebangkitan. Ahmadiyah, meski mengalami tekanan, tetapi terus berkembang. Demikian pula Syiah, yang terinstitusionalisasi ke dalam IJABI dan ABI, juga mengalami perkembangan di kalangan masyarakat intelektual di Kota Makassar dan Indonesia pada umumnya,” kata pria berdarah Palopo, ini.

Setelah ujian seminar hasil ini, Saprillah sebentar lagi promosi doktor, dan kemudian menyandang gelar tertinggi akademik (doktoral) di Kampus UIN Alauddin Makassar. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *