Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Akan Survei Kesiapan Rumah Ibadat Hadapi New Normal, Saprillah: Kecamatan Rappocini Dipilih sebagai Sampel

2 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si (tengah), dalam sebuah seminar sebelum Covid-19. Foto. Dok. BLAM.

1,402 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) akan melakukan survei terkait kesiapan rumah ibadat menghadapi new normal di Kota Makassar, 25-27 Juni 2020. Menariknya, survei kali ini berbasis online dan real time, serta menggunakan aplikasi App Sheet.

“Survei ini belum ingin melihat apakah pengukur suhu badan, wastafel cuci tangan, sabun pencuci tangan, dan sebagainya, dimanfaatkan atau tidak oleh jamaah. Untuk survei ini, kita cuma ingin mengetahui apakah benda-benda tersebut tersedia di setiap rumah ibadat,” ujar Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, Selasa, 16 Juni 2020.

Para peneliti yang ditugaskan menjalankan survei ini tidak berinteraksi dengan responden, sebagai upaya pencegahan dan memutus mata rantai penyebaran pandemik Covid-19.

Nantinya, peneliti hanya mengamati dari dekat semua indikator protokoler kesehatan rumah ibadat terkait Covid-19, seperti, antara lain, kesediaan pengukur suhu badan, kamar bilik disinfektan, wastafel cuci tangan, sabun pencuci tangan, hand sanitizer, dan penggunaan masker saat jamaah beribadah.

Survei yang melibatkan 27 Peneliti BLAM ini, merupakan inisiatif Kepala BLAM yang penasaran menyaksikan fenomena di sejumlah rumah ibadat di Makassar dalam menghadapi new normal.

Masalahnya, dari pemberitaan media dan penuturan sejumlah orang di Makassar menyebutkan, masih ada rumah ibadat yang belum mematuhi protokoler kesehatan Covid-19. Meskipun rumah ibadat menyediakan alat-alat tersebut, tetapi belum banyak yang memanfaatkannya sebagaimana layaknya. Bahkan, masih ada pula jamaah yang tidak mengenakan masker ketika berada di dalam rumah ibadat.

Untuk survei ini, BLAM mengambil sampel dan populasi seluruh rumah ibadat di Kecamatan Rappocici, Kota Makassar. Selain berada di tengah kota dan mudah terjangkau, lalu lintas orang-orang yang ingin mampir beribadat di jalan tersebut tergolong mudah.

Pemilihan Kecamatan Rappocini sebagai sampel dan populasi, bukan dimaksudkan untuk mewakili seluruh Kota Makassar. Namun, hasil survei ini hanya memberikan gambaran mengenai kesiapan rumah ibadat di satu kecamatan di Makassar.

“Tapi, bisa juga, kesiapan rumah ibadat menghadapi new normal ini berlaku umum di Kota Makassar. Kita akan mengetahui temuan lapangan ini kalau sudah selesai melakukan analisis,” ujar Saprillah.

Meskipun penelitinya turun lapangan, kata Saprillah, pengolahan datanya tidak menggunakan angket kertas, sebagaimana penelitian survei pada umumnya.

“Karena berbasis online dan real time, serta memakai aplikasi App Sheet, maka temuan yang peneliti dapatkan di lapangan, langsung diisi melalui handphone masing-masing peneliti,” kata Saprillah, selaku admin survei ini.

Agen Perubahan BLAM, Baso Marannu, yang juga bertugas sebagai admin survei ini, menambahkan, real time dalam penelitian ini adalah pada saat peneliti mengisi angket mengenai kesiapan masjid di handphone, maka pada saat itu juga hasil inputan angketnya langsung terisi sesuai jam dan lokasinya sesuai titik koordinat global positioning system (GPS).

“Untuk memastikan apakah penelitinya betul-betul berada di rumah ibadat pada saat mengisi angket, maka peneliti diharuskan juga mengambil gambar rumah ibadat tersebut,” kata Baso Marannu.

Setelah penelitian tuntas, BLAM berencana mengundang Kepala Kanwil Kemenag Sulsel dan Wali Kota Makassar untuk mendiskusikan hasil survei BLAM. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *