Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Melawan Covid-19, Para Kapitalis yang “Duluan” Angkat Bendera Putih

6 min read

Sumber foto: belajar ilmu ekonomi

8,156 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Kau yang mulai, kau yang mengakhiri.”

Mungkin, begitulah kalimat untuk menggambarkan para kapitalis di tengah pandemi covid-19 ini. Namun, sebelum memeriksa lebih jauh mengapa para kapitalis saya gambarkan seperti penggalan lagu Bang Haji Rhoma di tengah pandemi, saya jelaskan dulu siapa kapitalis itu dalam tulisan ini.

Kapitalis yang saya maksud adalah para kaum pemodal yang menguasai dan mengontrol alat-alat produksi; tanah, uang, industri, dan para pekerja.

Kekuasaan mereka terhadap alat-alat produksi diolah untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya bagi diri atau kelompoknya. Secara keseluruhan, proses ini membentuk satu sistem, bahkan menjadi satu ideologi yang disebut kapitalisme.

Para kapitalis butuh pasar untuk memperdagangkan komoditasnya. Karena bagi mereka, satu barang barulah bisa dianggap komoditas jika memiliki nilai tukar, tidak sekadar hanya memiliki nilai pakai.

Dengan adanya perdagangan di pasar, para kaum kapitalis ini bersaing untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya.

Saya tidak tahu, apakah pengertian saya tepat atau tidak. Apalagi, jika merujuk pada cara-cara kaum Marxian memahami kapitalisme. Tetapi, begitulah yang saya maksudkan dengan kapitalis dalam tulisan ini.

Lalu, di mana hubungannya dengan “kaulah yang memulai dan kau yang mengakhiri” dalam kaitannya dengan Covid-19 ini?

Robert Wallace, yang terkenal dengan bukunya Big Farms Make Big Flu, itu dengan terang-terangan menunjuk kapitalisme sebagai biang keladi virus menyerang manusia, dan menjadi vektor dari merebaknya wabah.

Banyak kalangan menyebut, wabah sebagai serangan balik dari virus ketika  inang-inang mereka diluluh-lantakkan oleh manusia.

Robert Wallace, sekali lagi menyebutkan, bahwa virus semacam Covid-19 ini muncul dari perluasan produksi raksasa untuk kepentingan mengakumulasi modal.

Jika pada awalnya manusia berburu dan mengumpulkan makanan dari binatang dan hutan,  dengan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem dan rantai makanan, maka ketika kapitalisme menjadi pandangan hidupnya, berubahlah semuanya.

Hutan dieksploitasi. Tanah-tanah pertanian diindustrialisasi. Sumber daya alam diekstraksi dengan cara gila-gilaan. Dan, binatang-binatang liar didomestikasi.

Pada saat itulah, patogen zoonosis yang selama ini berumah di hutan atau berinang pada binatang tertentu, akhirnya mencari inang-inang baru. Manusialah yang menjadi sasaran serangan baliknya.

Itulah mengapa dalam perspektif komunitas lokal, wabah yang menyerang manusia itu hanya pindah tempat. Mereka nyasar di tempat yang tidak seharusnya.

Maka, dalam menghadapi wabah, para ahli pengobatan komunitas lokal; para dukun-dukun, tidak pernah bermaksud memusnahkan patogen-patogen tersebut. Dengan mantra-mantra dan nyanyian tertentu, mereka hanya membujuk agar kembali ke lingkungan semula.

Setelah kapitalis berperan menjadikan patogen ini menyerang manusia, selanjutnya sistem kapitalisme pulalah yang memudahkan penyebarannya menjadi wabah, dan akhirnya dalam kasus Covid-19 ini, menjadi pandemi dunia.

Dalam How Just in time Capitalism Spread Covid-19: Trade, Routes, Transmission and International Solidarity, yang diulas secara baik oleh Noer Fauzi Rahman, Kim Moody secara tegas menyatakan, virus-virus bergerak dalam sirkuit kapitalisme.

Melalui perantaraan perdagangan dunia dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, virus itu segera menyebar masif ke seluruh dunia.

Wuhan

Dalam catatan Kim, sebagaimana diutarakan Noer Fauzi, Covid-19 yang berasal dari Wuhan-Cina, ini tidak lebih dari dua minggu untuk segera menyebar ke kota Asia Timur, Timur-Tengah, Eropa , Amerika Utara, dan Brazil.

Proses penyebaran itu bergerak melalui rantai pasokan barang dan rute perdagangan global. Virus segera masuk ke kantong-kantong industri, tak terkecuali Indonesia, yang sedang gencar-gencarnya dengan industrialisasinya.

Wuhan sendiri dikenal sebagai pusat industri. Sebanyak 51.000 perusahan seluruh dunia memiliki satu atau lebih pemasok di Wuhan. Demikian catatan Dun & Bradstreet, yang dilaporkan Indeed (Noer Fauzi, 2020).

Banyak pengamat yang menyebutkan, Indonesia sudah diterjang Covid-19 beberapa bulan sebelum ditemukannya kasus positif pertama secara resmi.

Pergerakan orang dan barang dari Cina ke Indonesia dan dari kota-kota industri lainnya, membuat para ahli berkesimpulan, bahwa Indonesia telah diserang virus jauh sebelum kasus “No-1.”

Seperti kemudian kita saksikan hingga hari ini, Indonesia pun akhirnya berkubang dan terkurung oleh virus Covid-19. Dan, kini masih mengap-mengap terbebas darinya.

Celakanya, kendati Covid-19 ini disebar melalui rantai kapitalisme, tetapi pada akhirnya, ia tidak hanya menyerang para kapitalis dan borjuis. Ia pun melabrak buruh, menghabisi rakyat biasa, dan menghantam orang miskin. Bahkan, yang disebut terakhir itu, terdampak paling mengenaskan.

Revolusi

Virus ini, kata banyak orang, adalah revolusi. Ia memaksa orang untuk mengubah tatanan sosial. Mengocok ulang tatanan dunia. Tetapi, ia pun menghantam semuanya. Melabrak ke kanan, menghantam ke kiri, menyerang di atas, dan meneror di bawah. Ia tidak memilah-milih.

Manusia pada akhirnya menabuh genderang perang. Tag line melawan Covid-19 muncul di mana-mana.

Maka, perlawanan pun dimulai dengan berbagai macam cara: lock down, pembatasan sosial, keberjarakan fisik, stay at home, work from home, dan di Indonesia dikenal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dokter dan medis di garis depan dan masyarakat memback up dari belakang.

Dalam situasi semacam itu. Orang kecillah yang menjadi korban. Merekalah yang disalahkan jika ada orang-orang yang keluar rumah.

Padahal, jika pun mereka keluar, orang-orang kecil ini tidak mungkin membangun jaringan pasar yang besar, yang melalui itu bisa menjadi jaringan penyebaran Covid-19. Mereka keluar tidak untuk mengakumulasi modal. Mereka keluar hanya untuk sekadar makan dan bertahan hidup.

Di titik ini pulalah terlihat, pemerintah tidak mampu memberi jaminan sosial pada masyarakat. Pengembangan industri, yang selama ini digembar-gemborkan mampu menumbuhkan ekonomi, ternyata dalam situasi pandemi terbukti tidak mampu membangun jaringan pengaman sosial di tingkat masyarakat.

Benarlah kata Bosman Batubara (2020), bahwa industri kita dibangun mengabdi pada kepentingan kapitalis. Bukan untuk orang banyak, apalagi rakyat kecil.

Kebutuhan pokok bagi masyarakat miskin di kota justru banyak disuplai dari Komunitas Relawan Sosial, Organisasi Civil, dan Jaringan Filantropi.

Bahkan, menurut pengakuan beberapa aktivis masyarakat adat dan aktivis agraria, pasokan makanan justru berasal dari desa-desa yang masih berbasis pertanian. Merekalah yang jadi penolong, yang justru selama ini diabaikan dalam gegap-gempitanya industrialisasi di negeri ini.

Benarlah kata Hadratus Syekh Hasyim Asyari, pendiri NU, ketika mengatakan:

 ”Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe diwaktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat  negeri didasarkan.”

Dalam pertarungan panjang melawan Covid-19. Desa dan petanilah yang bisa dijadikan tumpuan. Pertanian tradisional mereka selama ini terbukti masih bisa jalan dan memenuhi kebutuhan pokok mereka sehari-hari.

Bahkan, masih sangat bisa membantu pasokan makanan di kota-kota. Sayangnya, sekali lagi sayangnya, mereka selama ini tidak menjadi primadona dalam pembangunan negeri. Sering kali petani dan pertaniannya disisihkan atas nama industrialisasi, pengembangan kota dan perluasan perumahan real estate.

Di sinilah, kita sekarang yang mengandalkan industri yang tunduk pada kapitalisme. Di mana di tengah serbuan Covid-19, kita tidak bisa bertahan hidup dan tak ada jaminan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Dan, seperti bait lagu tadi, mereka yang memulai dan mereka yang mengakhiri. Kapitalisme menjadi sumber virus dan sirkuitnya menjadi vektor penyebaran, dan kapitalisme pulalah yang pertama-tama menawarkan berdamai.

Sejatinya, para kapitalis tidak sedang ingin berdamai. Sebab, tidak ada kata berdamai dalam rumus mereka. Yang ada adalah kompetisi dan bertarung sampai akhir. Maka, ketika para kapitalis meminta berdamai, itu artinya mereka telah kalah dalam pertarungan melawan virus yang ditimbulkannya sendiri.

Amatilah komentar banyak ahli, juru bicara (influencer) pemerintah, dan para kapitalis itu sendiri.

“Jika masih harus bertahan di rumah, industri tidak dibuka, mereka hanya sanggup bertahan hingga bulan Juni ini.” Melewati bulan itu, mereka kolaps. Jelas sudah bendera putih telah dikibarkan.

Tentu saja bisa banyak alasan dikemukakan. Akan terjadi, PHK besar-besaran, muncul gelombang pengangguran, dan jutaan orang akan jatuh miskin. Benar situasi itu akan terjadi. Tetapi, sistem kapitalismelah yang memerangkap kita dalam situasi yang sulit seperti itu.

Para buruh di pabrik-pabrik tidak bisa lagi pulang kampung menggarap tanah. Sebab, tanah-tanahnya sudah beralih fungsi semua. Maka, teranglah sudah, jika akhirnya pabrik tutup mereka jadi pengangguran.

Di atas semua itu, yang paling penting lagi, jika industri tidak berjalan, sirkuit perdagangan tidak dibuka, lalu bagaimana para kapitalis akan mengakumulasi modalnya? Bagaimana keuntungan akan berlipat-lipat…? Padahal, hanya dengan mengakumulasi modal dan meraih keuntungan yang sebesar-besarnya, mereka barulah disebut kapitalis sejati.

Karena itu jangan heran. Di tengah kurva penyebaran Covid-19 yang masih menanjak naik, Indonesia pun segera mengampanyekan new normal.

Kendati pertumbuhan ekonomi masih dianggap baik-baik saja dibanding negara lain, tetapi kita atau tepatnya para kapitalis, menuju pailit.

Jalan satu-satunya adalah kembali bekerja. Roda industri kapitalisme harus kembali berputar.  Tetapi itu semua untuk siapa? (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *