Mon. Nov 30th, 2020

BLAM

KEREN

Kuasa Leluhur sebagai Kausa dalam Kepercayaan Masyarakat Kei

6 min read

Penulis saat melakukan riset di Kei, Maluku Tenggara. Foto: Dok. penulis.

11,758 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Suatu hari, ketika bertandang di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara, saya menghadiri acara pelantikan pejabat kepala desa pada sebuah ohoi (desa) di sana.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya pada acara tersebut, yaitu penyandingan penyebutan nama Tuhan dan leluhur dalam sambutan dan doa.

Kalimat seperti; “Semoga Tuhan dan para leluhur…”, “Dengan berkat Tuhan dan para leluhur…” Atau kalimat, “Semoga Tuhan dan leluhur menyertai” berulang-ulang diucapkan oleh kepala kecamatan ketika melantik. Atau, oleh pejabat desa yang lama atau pejabat yang baru, ketika memberi sambutan dan oleh pendeta ketika memimpin doa.

Karena penasaran, saya kemudian bertanya pada seorang peserta yang hadir (seorang Muslim);

“Apakah menyandingkan Tuhan dan leluhur berlaku pada seluruh masyarakat Kei, termasuk yang muslim?”

Ia menjawab; “Iya, Bang. Kaum Muslim Kei pun selalu menyebutkan itu, karena hal tersebut menjadi identitas masyarakat Kei.”

Penyandingan Tuhan dan leluhur sangat menarik perhatian saya. Terlebih lagi, masyarakat Kei sejauh ini sangat dikenal sebagai masyarakat yang taat pada agama yang dianutnya.

Saat ini, masyarakat yang mendiami kepulauan di Maluku bagian Tenggara tersebut, sejak lebih satu abad lalu, telah menganut tiga agama, yaitu Islam, Katolik, dan Kristen.

Masyarakat Kei umumnya menjalankan agama mereka dengan taat. Meski demikian, hubungan kerukunan antarumat beragama berjalan dengan baik.

Penyandingan nama Tuhan dan leluhur dalam sistem kepercayaan masyarakat Kei menunjukkan, bahwa pengaruh agama tradisional mereka yang dianut sebelum tiga agama besar tersebut datang.

Penghormatan terhadap Leluhur

Genealogi merupakan salah satu aspek yang digunakan sebagai penanda untuk mengikat individu dan kelompok secara sosial.

Dalam konteks ini, hubungan darah dan kekerabatan menjadi acuan utama untuk meninjau asal usul individu dan kelompok.

Geneologi yang menghasilkan relasi hubungan darah tersebut menjadi sosok leluhur (ancestor) sebagai founding fathers yang menjadi sumber kausa.

Sebagai sumber kausa dari sebuah komunitas masyarakat, leluhur kemudian dipandang masih memiliki kuasa terhadap keturunan mereka.

Leluhur sejatinya telah menjadi bagian penting dalam konstruksi sejarah budaya manusia. Hal ini dapat diamati melalui ragam bentuk penghormatan kepada leluhur dan aneka ritual kompleks yang melingkupinya sebagai fenomena yang ditemukan di berbagai pelosok dunia, termasuk di nusantara.

Jamak ditemukan, pada derajat tertentu, leluhur bahkan diberi peran yang kontinyu dalam konstruksi sosial komunitas yang masih hidup. Leluhur ditempatkan sebagai entitas yang menjadi bagian integral dalam keseharian komunitas.

Kehadiran mereka dipandang memiliki daya yang memengaruhi dinamika sosial masyarakat. Karena itu, leluhur kemudian dikeramatkan, diberi peran sakral, dilekatkan menjadi bagian yang menyatu dengan religi tradisional, serta dipuja sebagai salah satu kekuatan yang menentukan stabilitas alam dan sosial.

Pada masyarakat yang menganut sistem kepercayaan tradisional, tradisi pemujaan terhadap leluhur masih sangat kental.

Itu sebabnya, Dhavamony (1995), menyebut, pemujaan terhadap leluhur sebagai salah satu bentuk paling primitif dari agama.

Pemujaan leluhur merupakan suatu kumpulan sikap, kepercayaan, dan praktik yang berhubungan dengan pendewaan orang-orang yang sudah meninggal dalam satu komunitas. Khususnya dalam kaitan dengan hubungan kekeluargaan.

Ririmasse (2012) menyebut, pemujaan leluhur beserta segenap ritual dan budaya bendawi terkait, dapat dipahami sebagai salah satu manifestasi atas konsep identitas sebagai aspek yang menyatukan individu dan kelompok dalam suatu komunitas.

Pada masyarakat yang telah menganut agama monoteistik (Islam maupun Kristen), praktik pemujaan leluhur umumnya berubah bentuk menjadi praktik penghormatan yang mengambil bentuk dalam berbagai tradisi atau ritus yang terkait.

Peran sentral leluhur sebagai sumber kausa (sebab) dari komunitas dan keyakinan akan adanya kuasa (otoritas) yang mereka miliki dalam memengaruhi kehidupan masyarakat keturunannya masih diyakini.

Hal inilah yang melandasi masih adanya praktik ritus penghormatan terahdap leluhur dengan tujuan memeroleh berkah atau menghindarkan bala.

Pada masyarakat Batak, Nias, Dayak, Toraja, serta suku-suku yang dominan menganut agama Kristen, praktik penghormatan terhadap leluhur masih dapat terlhat dengan jelas dalam praktik kebudayaan mereka.

Demikian pula pada masyarakat muslim, seperti pada suku Jawa maupun Bugis. Penghormatan leluhur dilakukan melalui tradisi ziarah dan upacara adat, yang biasanya dikaitkan dengan momen tertentu dalam siklus hidup maupun siklus kalender keagamaan Islam, seperti ramadan dan Idul Fitri.

Otoritas (kuasa) leluhur yang berpengaruh dalam kehidupan anak cucunya masih diyakini, dan hal inilah yang menjadi motivasi mereka dalam melakukan tradisi ziarah, atau upacara adat penghormatan leluhur.

Mendapatkan berkah dan keteguhan hidup (ngalap berkah), memperoleh kekayaan dunia (rezeki), kedamaian dan keselamatan hidup anak cucu, merupakan motif penghormatan tersebut. Diyakini, bahwa leluhur memiliki kuasa untuk memenuhi itu semua, meski tentu saja, dengan seizin Tuhan.

Tuhan dan Leluhur

Meskipun kini agama Islam, Katolik, dan Kristen adalah agama yang umum dianut, tetapi masyarakat Kei tetap mengakui keberadaan para leluhur, roh pelindung kampung, dan roh-roh lain.

Bersama agama-agama yang kini dianut, kepercayaan terhadap leluhur membentuk sebuah sistem sosial masyarakat. Roh-roh leluhur dan roh-roh pelindung dihormati dalam hubungan dengan ritual dan relasi-relasi tradisional pada sistem religi dan kebudayaan masyarakat Kei.

Masyarakat Kei memiliki keyakinan akan entitas supernatural, yang dipersonifikasikan dengan Duad ler-vuan (Tuhan). Namun, di sisi lain, juga memiliki keyakinan terhadap roh-roh leluhur (duad kabav).

Yakni, mereka yang dulu pernah hidup sebagai manusia, tetapi ketika mati dalam kurun waktu tertentu, diilahikan dan dianggap memiliki kekuatan ilahi.

Menurut Refo (2016), dalam masyarakat Kei dikenal ungkapan duad kararat dan duad kabav. Kata duad adalah bentuk pertama jamak inklusif. Kata ini, secara ekslusif, berpeferensi dan menunjuk pada Tuhan.

Di dalam kata ini terkandung pengertian “kita atau kami”, sehingga kata duad berarti Tuhan,  dalam relasi dengan kita atau Tuhan kita.

Kata karatat berarti “di atas” atau “tempat tinggi”. Adapun kata kabav berarti “di bawah”, sebagai kebalikan dari kata karatat.

Ungkapan duad karatat-duad kabav secara spesifik menggambarkan ide totalitas dan hierarki. Dalam arti ini, keduanya ada dalam relasi satu dengan yang lain; duad karatat akan berarti dalam relasinya dengan duad kabav.

Begitu pula sebaliknya. Keduanya membentuk totalitas keilahian seturut peran dan fungsi yang diberikan kepada masing-masing.

Masyarakat Kei masa lalu memahami duad karatat sebagai duad ler-vuan (Tuhan), sedangkan duad kabav sebagai leluhur.

Dengan demikian, ungkapan ini menggambarkan dua entitas ilahi, yang secara umum dianggap sebagai pelindung dan penolong.

Oleh masyaraiat Kei, Tuhan dipahami sebagai sosok yang memberi hidup dan kehidupan. Sementara leluhur dipahami oleh mereka sebagai yang melahirkan dan mewariskan segala sesuatu untuk menghidupi dan melindungi kehidupan dari keturunannya.

Penyandingan Tuhan dan leluhur menyimbolkan penyandingan agama (Tuhan) dan adat (leluhur) dalam sistem kepercayaan mereka.

Itulah sebabnya, agama dan adat berpadu dengan harmoni dan melahirkan harmoni kehidupan masyarakat meski berbeda agama (Sabara, 2019).

Leluhur yang Menyatukan

Ketika saya melakukan penelitian tentang best practice kerukunan umat beragama di Kei, setiap tokoh yang saya wawancarai selalu memulai testimoni mereka dengan pesan kearifan lokal Kei, yang bersumber dari para leluhurnya.

Di antara kalimat yang paling sering diungkapkan adalah; ain ni ain (kita semuda adalah satu), manut en mehe ni tilur, funt en mehe ni ngifun (telur-telur yang berasal dari seekor ikan dan seekor burung yang sama), dan agam ni bavilun adat (agama berlandaskan adat).

Kearifan lokal adat Kei menjadi jiwa dari terbangunnya kerukunan antarumat beragama. Pertalian leluhur orang Kei menjadikan mereka bersaudara, karena darah dan adat mempersatukan mereka.

Menurut tokoh agama Islam yang saya temui, ikatan kekerabatan dan adat mengatasi perbedaan agama.

Dalam falsafah orang Kei dikenal istilah agam ni bavilun adat (agama berlandaskan adat), sehingga katong (kita) boleh berbeda agama, tapi satu dalam darah dan adat.

Agama sebagai jalan ke surga dan adat sebagai jalan untuk semua hidup rukun dan damai. Karena berasal dari leluhur yang satu, sehingga semua satu darah, dan tidak mungkin menumpahkan darah.

Agama (Islam, Kristen, Katolik) dipahami sebagai hal yang baru, sedangkan adat telah lebih dulu ada jauh sebelum masyarakat Kei mengenal agama sekitar 100 tahun lalu. Leluhur masyarakat Kei telah lebih dahulu meletakkan adat sebagai dasar dalam membangun kehidupan yang damai.

Agama dijalankan oleh masing-masing sesuai ajaran. Akan tetapi, adat pun tetap diterapkan pada ketiga kemonuitas ini; agama Katolik, Kristen, dan Islam. Karena itu, masyarakat Kei tetap utuh dan damai, sampai saat ini.

Bagi masyarakat Kei, leluhur adalah kausa bukan hanya sebagai sebab geneologis mereka saja, melainkan leluhur dijadikan sebagai kuasa pemandu dan pemadu harmoni masyarakat yang hidup damai, meski dalam perbedaan agama.

Dalam berbagai momen, kuasa leluhur telah terbukti efektif sebagai kausa bagi proses rekonsiliasi konflik yang pernah terjadi. Termasuk, di antaranya, ketika Kei terimbas konflik horisontal bernuansa agama pada 1999. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *