Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Soekarno dan Pancasila: Inspirasi Revolusi Iran

5 min read

Sumber gambar: ahlulbaitindonesia.or.id

13,940 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Februari 1979, merupakan momen bersejarah bagi Bangsa Iran. Sebuah revousi besar di paruh kedua abad 20 berhasil menggulingkan rezimotoriter Syah Pahlevi, yang telah berkuasa lebih dari tiga dekade.

Revolusi tersebut juga menanda perubahan besar dalam sistem politik dan pemerintahan Iran. Setelah lebih 2,5 milenium berstatus sebagai kekaisaran, sejak revolusi sistem pemerintahan berubah menjadi republik.

Kini, Iran berhasil membuktikan dirinya bukan sebagai bangsa yang lemah. Iran berdiri tegak dan kokoh di tengah tekanan sanksi embargo ekonomi, yang dijatuhkan oleh Amerika dan sekutunya.

Tekanan dan embargo yang datang bertubi-tubi, justru membuat Iran menjelma menjadi bangsa kuat dan mandiri. Iran kini menjadi salah satu negara yang dianggap menjadi ancaman besar bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Kekuatan Revolusi Iran 41 tahun yang lalu, membuat bangsa Iran menjadi bangsa kuat dan disegani.

Tak banyak yang tahu, bahwa dibalik kesuksesan revolusi Iran pada 1979, di antara yang menginspirasi gelora revolusi tersebut adalah sosok Soekarno dengan falsafah Pancasila. Sosok Soekarno dan Pancasila dikagumi dan menjadi inspirasi.

Lebih dari itu. Bahkan, sosok Soekarno dan Pancasila, menjadi perekat tokoh-tokoh dari dua kelompok besar yang berbeda haluan ideologi di Iran pada saat itu, yaitu kelompok ulama dan kelompok sosialis, sebagaimana yang terjadi pada kisah berikut.

Pertemuan Dua Tokoh

Dalam Book Art of Humanism Religius Iran, Ayatullah al-Uzhma Sayyid Ali Khamene’i. Tokoh Revolusi Iran yang pernah menjabat Presiden Iran dua periode 1981-1989, dan sekarang menjabat sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran menggantikan Ayatullah Khomeini sejak 1989.

Ali Khamene’i bercerita tentang sebuah pengalaman, ketika berada dalam tahanan rezim Syah Pahlevi pada masa perjuangan Revousi Iran. Ayatullah‘Ali Khamane’i dipenjarakan dalam satu sel bersama seorang komunis dari Partai Baats (sekarang disebut Sosialis loyalis).

Ali Khamene’i datang mendekati tahanan tersebut, lalu mengucapkan salam. Tapi, tahanan tersebut enggan berbicara kepada Ali Khamene’i, dan tidak membalas salamnya.

Tanpa mengacuhkan sikap tak acuh dari lawan bicaranya, Ali Khamene’i bertanya; “Apa Anda seorang komunis dari Partai Revolusi Baats?” Orang tersebut tetap diam.

Mengetahui lawan bicaranya adalah seorang anggota Partai Baats yang berhaluan Sosialis-Komunis, Ali Khamene’i mengungkapkan sebuah pertanyaan lagi; “Apakah Anda mengenal Soekarno bapak revolusi kemerdekaan Indonesia, yang memiliki falsafah pancasila?”

Mendengar nama Soekarno disebut, orang tersebut akhirnya menoleh dan menjawab; “Ya, saya kenal dengan beliau. Ada beberapa buku beliau yang saya miliki ketika saya di Rusia, dan saya pernah ketemu beliau di Rusia.”

“Siapa Soekarno itu di mata Anda?” sahut Ali Khamene’i. Orang tersebut pun menjawab, bahwa Soekarno adalah bapak pertama yang menciptakan negara humanis sosialis, tanpa dasar agama sebagai pilar, dan tanpa liberalis sebagai acuan kata.

Ali Khamene’i pun menimpali. “Anda salah, bahwa Soekarno memang betul bapak humanisme sosialis, tapi Soekarno bukanlah seorang komunis dan negara beliau tidak berdasarkan agama, tapi negara beliau berdasarkan ketuhanan, di mana semua manusia wajib bertuhan sebagai dasar kebangsaan. Tanpa dasar ketuhanan itu manusia bagaikan robot yang tidak bisa hidup dengan merdeka.”

Ayatullah Ali Khamene’i melanjutkan;

“Saya memiliki buku Pancasila dari seorang Indonesia yang berziarah ke Iran dan belajar, serta berdagang di sana. Walau kami bertahun-tahun menerjemahkannya, kami tetap semangat untuk menjadikan Iran sebagai negara humanisme agama, di mana semua agama saling membangun negara Iran tanpa ada perseteruan di sana.”

Orang tersebut diam sejenak. Tanpa ia sadari, ia mengeluarkan airmatanya dan bertanya kepada Ali Khamene’i, dan kemudian berkata:

“Kelak, kalau saya keluar dari penjara, saya akan datang ke rumah Anda dan meminjam buku-buku Soekarno, karena sangat penting jika Iran dijadikan negara yang berdasarkan humanisme agama, di mana semua manusia dari berbagai gooongan Iran saling membangun negaranya.”

Iran telah menjalani 41 tahun pasca revolusi, dan belum pernah terjadi gesekan antaragama, baik agama Zoroaster, Yahudi, Nasrani, Baha’i, maupun Islam Sunni dan Syi’ah.

Bahkan, dalam konstitusi Iran, agama-agama minoritas tersebut mendapatkan jatah gratis perwakilan di Parlemen Iran. Semua agama dan semua golongan diberikan kesempatan dan ruang untuk sama-sama membangun Negara Iran yang berbasis humanisme agama.

Soekarno sang Inspirator

Soekarno sebagai founding father Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan falsafah Pancasila sebagai dasar negara, ternyata bukan hanya milik Indonesia.

Soekarno memicu inspirasi para pejuang dunia melawan imperialis, dan Pancasila memacu kekaguman banyak bangsa tentang sebuah falsafah yang menyatukan beragam perbedaan.

Nun di sana, di belahan dunia Barat Asia, tepatnya di tanah Persia. Tokoh-tokoh yang menjadi bagian penting dari revolusi Islam Iran, ternyata menjadikan Soekarno dan Pancasila sebagai salah satu inspirasi perjuangan dan konsep negara yang akan mereka bangun nantinya.

Ali Khamene’i sangat terinspirasi dengan pidato Soekarno, ketika membuka konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung. Pidato Soekarno tersebut diulang kembali oleh Ali Khamene’i, ketika membuka KTT Gerakan Non Blok di Teheran, 2012.

“Yang mengumpulkan kita di tempat ini bukanlah kesamaan ideologi maupun ras, namun yang mengumpulkan kita di tempat ini adalah persamaan kebutuhan yang kita miliki.”

Saat revolusi bergema, Imam Khomeini, sang pemimpin revolusi, menggemakan seruan, “la syarqiyah wa la gharbiyah, “bukan timur dan bukan pula barat.” Konon, Imam Khomeini mendapatkan inspirasi Non Blok ini dari Soekarno.

Nasir Tamara, wartawan Indonesia, yang meliput langsung peristiwa revolusi Iran, menceritakan,  sebuah kejadian ketika sejumlah mahasiswa Iran menduduki Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran dan menyandera 49 orang Amerika di dalamnya.

Sosok Soekarno menjadi salah satu tokoh pemantik semangat mahasiswa Iran melawan imperialis Amerika kala itu.

Pada kejadian tersebut, foto Soekarno dipajang oleh para mahasiswa. Di bawah foto Soekarno tertulis sebuah kalimat dalam bahasa Persia, yang artinya, “Soekarno, Nasionalis pemimpin Indonesia, korban imperialis Amerika.”

Pancasila: Kekuatan Pemersatu

Sosok Soekarno ternyata menginspirasi banyak tokoh bangsa di dunia, dan Pancasila falsafah yang mengintegrasikan keragaman dalam persatuan dikagumi dan dipelajari. Sebagai bangsa Indonesia, tentunya kita patut berbangga tentang hal tersebut.

Telah 75 tahun Pancasila dicanangkan sebagai ideologi negara Indonesia, negara yang susah payah dibangun oleh bapak-bapak bangsa.

Rumusan pancasila merupakan refleksi jernih pemikiran bapak bangsa, yang digali dari fondasi nilai agama dengan tanpa mengabaikan keragaman agama dan budaya.

Pancasila merupakan bentuk kompromi politik sekaligus sintesa nilai dan kebudayaan agama dan lokalitas.

Keberterimaan terhadap Pancasila sebagai dasar negara, serta menjadi karakteristik khas sistem politik Indonesia, sudah cukup untuk mengakomodir nilai dasar dan universal dari ajaran Islam dengan tidak menegasi kelompok agama lainnya.

Pancasila yang merupakan falsafah negara yang luar biasa telah diakui, dan menjadi inspirasi dari tokoh-tokoh Persia (Iran) yang terkenal dengan tradisi filsafatnya.

Tentulah, kita sebagai bangsa Indonesia yang paling berhak atas Pancasila, dan paling wajib untuk menjadikan pancasila secara murni dan konsekuen, dalam penerapannya sebagai anutan kebangsaan.

Pancasila telah terbukti hingga saat ini berhasil menjadi common platform, yang menyatukan bangsa Indonesia yang bhineka dari berbagai latar belakang agama, ras, maupun budaya.

Uni Soviet dengan ideologi komunisnya hanya mampu bertahan selama 73 tahun, Yugoslavia dengan sistem sosialisnya, hanya mampu bertahan selama 49 tahun.

Pancasila, dasar negara yang menegaskan Indonesia sebagai negara humanis yang berketuhanan,  telah menyatukan Indonesia hingga kini di usia 75 tahun Republik Indonesia.

Selamat Hari Kelahiran Pancasila.

Pancasila Harga Diri. NKRI Harga Mati. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *