Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Zakat: Perspektif Filsafat Sosial  

4 min read

Sumber gambar: iqra.id

18,873 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Celakalah orang-orang yang musyrik; yaitu orang-orang yang tidak mau membayar zakat” (QS. Fussilat:6-7).

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orag fakir, orang-orang miskin, para pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, orang-orang yangberjuang untuk jalan Allah, orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allahmaha mengetahui lagi maha bijaksana”(QS. Al-Taubah:60).

Zakat dan Salat

Zakat merupakan salah satu sendi pokok ajaran Islam, bahkan Al-Qur’an menjadikan zakat dan salat sebagai lambang dari keseluruhan ajaran Islam:

Apabila mereka, kaum musyrik, bertobat, mendirikan salat, menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara seagama (QS al-Taubah:11). Salat dan zakat disebut sebagai pembeda antara muslim dan bukan muslim.

Zakat merupakan salah satu ketetapan Tuhan yang menyangkut diri dan harta, Karena Allah menjadikan diri dan harta benda sebagai sarana kehidupan untuk umat manusia seluruhnya, maka ia harus diarahkan guna kepentingan bersama.

Dalam Al-Qur’an, perintah zakat sering disandingkan dengan perintah mendirikan salat sebanyak 24 kali.

Salat sebagai refleksi dari kesalehan ritual, sedang zakat adalah refleksi kesalehan sosial sebagaimana interpretasi refleksi akan substansi Agama di turunkan oleh Allah ke dunia.

Menurut KH. Masdar F Mas’udi, penggandengan kedua perintah itu mengandung makna yang sangat dalam. Perintah salat, dimaksudkan untuk meneguhkan jati diri keislaman manusia sebagai hamba Allah pada dimensi spiritualitasnya yang bersifat personal.

Sedangkan perintah Zakat, dimaksudkan untuk mengaktualisasikan jati diri manusia pada dimensi etis dan moralitasnya, yang terkait dengan tanggungjawabnya pada realitas sosial

Keduanya tidak bisa terpisahkan, yang pertama, merupakan sisi pencarian personal yang subyektif dan transenden terkait dengan Tuhan sebagai obyek pencarian. Sementara kedua, sisi keislaman, terkait Tuhan sebagai obyek cita pencarian sosial yang obyektif dan imanen.

Filsafat Sosial

Zakat merupakan salah satu pilar (rukun) Islam dan berkenaan langsung dengan ibadah sosial. Selain itu, perintah zakat jika menyiratkan pandangan Islam tentang filsafat sosial, khususnya terkait dengan posisi individu dalam masyarakat.

Dalam konstruksi pandangan filsafat sosial, setidaknya ada dua pandangan umum yang bertentangan, yaitu paham individualisme dan kolektifisme.

Paham individualisme menyatakan, bahwa yang sejati adalah individu, dan eksistensi masyarakat hanyalah bentukan dari individu-individu yang berkumpul.

Sebaliknya, paham kolektifisme berpandangan, yang riil adalah masyarakat. Dalam masyarakat, eksistensi individu tidak memiliki otonomi, melainkan lebur dalam eksistensi kolektif masyarakat.

Implikasi dari kedua pandangan filsafat sosial tersebut dalam hal kepemilikan harta ialah, bahwa dalam prnsip filsafat individualisme, kepemilikan sejati harta adalah hak mutlak individu, atau “hartaku adalah hartaku”.

Sebaliknya, dalam pandangan filsafat kolektifisme, berpandangan, tidak ada kepemilikan sejati bagi individu atas harta, karena penguasaan atas harta adalah kepemilikan bersama, dengan kata lain “tidak ada hartaku, yang ada adalah harta kita.”

Sedangkan dalam pandangan Islam, melalui perintah zakat, menyiratkan sebuah pandangan filsafat sosial yang mengafirmasi eksistensi dan otonomi individu tanpa menegasi eksistensi dan hak masyarakat.

Dalam harta kita, ada harta orang lain. Hal tersebutlah yang ingin ditegaskan melalui zakat.

Islam mengakui kepemilikan individu, namun menegaskan, bahwa kepemilikan individu tersebut tidaklah mutlak. Sebab, dalam harta yang dimiliki, ada hak orang lain yang wajib untuk dikeluarkan.

Fitrah

Secara fitrawi, manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Kedua potensi dasar fitrah tersebut, bukanlah hal yang harus didikotomikan. Melainkan, keduanya bersifat integral dalam kedirian fitrah manusia.

Keduanya bersinergi dan berjalin-kelindan dalam gerak hidup manusia menuju kesempurnaan kemanusiaannya. Islam memandang, kemasyarakatan merupakan ciri kemanusiaan yang tak dapat dipisahkan dari kepribadian manusia.

Karakter dan jiwa kemasyarakatan bukan sesuatu yang baru tumbuh ketika manusia berinteraksi dengan orang lain, melainkan sudah ada sejak manusia diciptakan.

Prinsip dasar hubungan kemasyarakatan (keumatan) dalam Islam, adalah hubungan kebersamaan yang berlandaskan persatuan (ummatan wahidatan) dan persaudaraan (ikhwah/ukhuwah).

Persatuan dan persaudaraan sebagai prinsip hubungan sosial, menyiratkan sebuah tanggung jawab besar setiap individu terhadap keutuhan eksistensi komunalnya.

Zakat merupakan simbol akan tanggung jawab setiap individu muslim pada keutuhan eksistensi komunal, yang merupakan sisi lain dari fitrah kemanusiaannya.

Perlu kita sadari, hubungan persaudaraan tak hanya menuntut sekedar take and give (mengambil dan menerima) atau useful change (pertukaran manfaat).

Akan tetapi, lebih dari itu, yaitu memberi tanpa menanti sebuah imbalan, atau membantu tanpa dimintai bantuan. Apalagi, jika mereka bersama hidup dalam satu lokasi (bertetangga) atau bersama dalam ikatan darah (kekerabatan).

Islam menyeru manusia untuk mengeluarkan sebagian harta dan bermurah hati serta dermawan. Sejatinya, harta yang ada di tangan mukmin merupakan sarana untuk mendapatkan rida Allah, bukan merupakan life’s goal (tujuan hidup).

Sisi lain, dari filosofi sosial zakat, adalah meretas jarak dan kesenjangan sosial akibat perbedaan status ekonomi.

Dengan zakat, orang-orang kaya senantiasa memiliki kesadaran untuk tidak mengabaikan saudara-saudaranya yang tidak berpunya, serta orang-orang miskin tidak merasa terabaikan.

Sehingga, dengan zakat keharmonisan dan stabilitas sosial akan lebih mudah untuk diwujudkan,  karena retasnya jarak dan kesenjangan sosial akibat perbedaan status ekonomi.

Ibadah zakat yang ditunaikan sebagai pamungkas dari ibadah Ramadan, menunjukkan, bahwa orientasi dari puasa Ramadan adalah membentuk pribadi yang selalu ingat berbagi. Pribadi yang selalu menjaga kesucian diri dan kesucian hartanya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *