Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Dimensi Teologis & Inspiratif Para Sahabat Nabi Menghadapi Pandemik

6 min read

Sumber foto: simomot.com

16,824 total views, 2 views today

Oleh: Husnul Fahimah Ilyas (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Cerita tetang sahabat nabi yang disuguhkan waktu kita kecil, seputar cerita tentang Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Keempat sahabat nabi ini yang paling akrab dan dekat dengan kita. Pengenalan keempat sahabat nabi tersebut melalui jalur kisah dan ketokohannya.

Dominasi keempatnya tampak dalam komik, teks klasik, teks kontemporer, maupun bacaan anak-anak kerap dijumpai. Padahal, jumlah sahabat nabi bukan hanya empat orang. Terdapat sekitar 114.000 orang.

Jika dihitung-hitung, masih tersisa sekitar 113.996 orang sahabat nabi yang masih rabun dalam perbincangan, dan sulit meraba kisahnya.

Padahal, para sabahat ini pernah bergumul dengan nabi, melihat tingkah laku nabi, dan tatacara hidup nabi. Dan, para sahabat nabi sebisa mungkin meniru apa yang dilakukan Nabi.

Begitu pula dinamika dan kognisi pengetahuan, juga terjadi di antara para sahabat nabi. Sehingga, berpengaruh pada pemikiran dan cara memutuskan persoalan yang sangat beragam dan berbeda.

Wabah Tha’un

Salah satu dinamika yang pernah terjadi di tengah para sahabat, ketika terjadi tha’un atau wabah di Negeri Syam. Saat itu, Umar bin Khattab memimpin rombongan menuju ke Syam atas perintah Rasulullah untuk menemui tentaranya yang berada di medan peperangan.

Setelah tiba di Saragh, dikabarkan kepada Umar, bahwa Syam telah dilanda wabah. Wabah yang ganas dan mematikan telah menyebar di Amwas. Menyerang hewan ternak dan manusia.

Dalam situasi seperti itu, Umar tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Umar kemudian berdiskusi di antara kalangan Muhajirin, Anshar, dan Quraish. Dalam diskusi tersebut, banyak pendapat yang dikemukakan para sahabat nabi.

Misalnya, Abrurrahman bin Auf, menyatakan, ia pernah mendengar Rasulullah bersabda; “jika engkau mendengar wabah menjangkiti suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Namun, jika telah berada di dalam negeri yang terserang wabah, maka janganlah keluar dari negeri tersebut dan melarikan diri darinya.”

Setelah diskusi berakhir, Umar bin Khattab memutuskan untuk kembali, serta menginstrusikan rombongannya untuk bersiap kembali Madinah.

Saat itu, sahabat nabi terpecah. Ada yang mengikuti instruksi Umar bin Khattab kembali ke Madinah, ada yang tetap melanjutkan perjalanan, dan ada pula yang menghindar dari tha’un.

Kubu yang tetap melanjutkan perjalanan ke Syam, yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah. Ia berpendapat, wabah adalah takdir Allah, dan janganlah menghindar dari takdir Allah.

Meskipun Umar menimpali pendapat Abu Ubaidah, bahwa bukan berlari dari takdir Allah, namun menuju ke takdir Allah yang lain.

Seperti engkau melihat dua dataran dalam mengembalakan unta; satu dataran tandus dan satunya dataran hijau nan subur, maka terdapat dua pilihan ke arah mana menggiring untamu. Seperti itulah posisi takdir.

Timpalan Umar tidak menciutkan Abu Ubaidah ke Syam, tempat pandemik terjadi. Ia tetap ke Syam dan memimpin di Syam sampai ia wafat.

Abu Ubaidah Wafat

Setelah Abu Ubaidah wafat, ia kemudian digantikan oleh Muadz bin Jabal, seorang sahabat yang sealiran dengan Abu Ubaidah, yang menganggap wabah sebagai rahmat dari Allah dan panggilan doa para nabi. Muadz juga bertahan di wilayah pandemik, seperti yang dilakukan Abu Ubaidah.

Dalam kepemimpinannya Abu Ubaidah berkhutbah. Isi khutbahnya menyerukan kepada umat manusia, bahwa tho’un merupakan rahmat dari Allah dan doanya para nabi.

Setiap Muadz berdoa, tak henti-hentinya memohon kepada Allah agar mendapatkan bagian dari Rahmat-Nya. Do’a Muadz pun terkabulkan. Ia wafat mengikuti jejak Abu Ubaidah, mati sahid di tengah pandemik.

Terdapat pandangan yang berbeda dari Amr bin Ash. Pandangan Amr bin Ash sangat unik,  karena memandang wabah seperti kobaran api.

Jika menetap dan tinggal di tempat api yang sedang berkobar, maka akan dilalap api. Ibaratkan banjir sedang melanda, hendaklah berlari ke gunung. Pandangan ini cenderung menghidari pandemik.

Seperti yang diterapkan sekarang ini, yang dinamakan sosial distancing dan lockdown; menjaga dan menghindarkan diri dari wabah dan orang-orang yang terpapar.

Abu Watsilah al-Hudzali (salah seorang sahabat nabi) sangat setuju dengan pendapat Amr bin Ash. Ia memutuskan tidak akan tinggal di tempat pandemik dan akan mengamankan diri ke gunung.

Meskipun Abu Watsilah mengetahui, bahwa Amr bin Ash setelah menjadi sahabat nabi, Amr masih lebih buruk dari keledai yang dia tunggangi (dalam riwayat lain lebih buruk dari unta keluarganya).

Sebenarnya Abu Watsilah ingin menyatakan, walaupun dari sisi religiusitas Amr lebih rendah dari dirinya, namun dalam hal ini, Abu Watsilah mengikuti pendapat Amr, karena menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Begitulah situasi para sahabat nabi ketika memandang satu persoalan. Mereka terbuka dengan keragaman.

Sahabat-sahabat nabi bukanlah sekelompok orang yang berperilaku sama dan mempunyai cara pandang yang sama. Mereka sangat homogen dan beragam. Memilih salah satu sudut pandang sahabat nabi sebagai anutan dalam menghadapi wabah.

Seperti mengikuti pendapat Umar bin Khattab, ketika wabah terjadi akan pergi, ataukah mengikuti argumen Abu Ubaidah, yang memandang wabah bagian dari takdir. Ataukah, berkiblat pada pendapat Muadz bin Jabal, yaitu tetap bertahan karena menganggap wabah sebagai rahmat. Ataukah, mengikut pandangan Amr bin Ash.

Di antara pandangan para sahabat nabi yang ekstrem, yang ikuti Abu Watsilah al-Hudzali,  mengatakan, tidak pantas soal wabah ditarik ke dalam persoalan agama. Wabah harus dijelaskan secara rasional dan mudah dimengerti.

Jika kita belajar dari sikap para sahabat, ada ruang di mana mereka tumbuh. Tumbuh menjadi semakin bijak, dan ada yang tumbuh semakin kritis.

Apapun yang mereka lakukan, mereka adalah orang-orang hebat, karena pernah menyaksikan sendiri bagaimana nabi berperilaku.

Pendapat Sahabat

Pendapat-pendapat para sahabat ini menjadi pertimbangan dalam memutuskan suatu perkara. Contohnya, mengapa banyak yang mengikuti pendapat Amr bin Ash, padahal Amr bin Ash  seorang sahabat nabi yang masuk Islam belakangan, pernah berusaha membunuh nabi, dan menyakiti nabi?

Lantas, bagaimana orang seperti Amr bin Ash didengar pandangannya tentang agama?  Bagaimana Amr bin Ash mempunyai otoritas dalam menyampaikan agama dalam kasus tha’un.

Meskipun demikian, dalam beberapa kajian hadis, Amr bin Ash adalah orang yang luar biasa,  meskipun tipis hubungannya dengan Rasulullah.

Namun, para sahabat nabi ini mengalami proses bersama dengan nabi, mulai dari muda hingga menua bersama Nabi.

Dalam proses tersebut, terjadi dinamika dalam menyelesaikan masalah sesuai situasi dan kondisi. Kita menemukan keragaman model yang cocok, dan sesuai dengan kebutuhan persoalaan yang dihadapi.

Misalnya, model Umar bin Khatab dan Amr bin Ash, dalam menjelaskan wabah. Mereka mempunyai kesamaan dalam berkomunikasi dan merasionalisasikan sesuatu.

Ketika Umar menyanggah pendapat Abu Ubaidah soal takdir, memberikan perumpamaan dataran yang kering dan subur dalam memilih takdir. Begitupun Amr bin Ash, yang menyamakan wabah ini seperti api dan air bah, akan terbakar atau hanyut jika tidak berlari ke gunung.

Cara yang ditempuh Amr bin Ash dan Umar bin Khattab diakui sangat efektif dalam mengkomunikasikan soal wabah. Mereka tetap menyampaikan pesan-pesan agama dalam keleluasaan untuk memilih.

Dalam menyampaikan suatu permasalahan, hendaklah menggunakan bahasa keseharian dan dinaturalisasikan. Wabah tidak diasosiasikan dengan dunia langit. Namun, diasosiasikan dengan nature (alam).

Strategi komunikasi seperti ini lebih efektif dan mudah dimengerti oleh umat. Terbukti, dalam sejarah, yang mengikuti pendapat Amr bin Ash untuk berlari ke bukit, semuanya selamat. Model seperti ini menjadi pembelajaran di tengah Covid-19 yang sedang mewabah.

Seandainya bahasa agama yang digunakan untuk menjelaskan Covid-19, umat manusia akan sulit untuk mencernanya.

Penjelasan wabah melalui agama hanya akan dimengerti oleh orang-orang yang tumbuh dan punya tradisi keagamaan yang sama.

Sementara wabah ini menyerang umat manusia dari berbagai tingkatan agama,  mulai elite agama sampai ke tingkat bawah.

Berkomunikasi

Cara berkomunikasi dengan bahasa non-agama dan menggunakan bahasa keseharian atau bahasa sekuler, dianggap sangat efektif. Dan, banyak yang akan terlibat dalam diskursus tentang wabah dari berbagai perspektif. Misalnya, pakar kesehatan, gizi, ekonomi, sosiologi, sejarah, antropologi, dan lain-lain.

Diskursusnya akan lebih menarik dan lebih hidup. Contohnya, mendiskusikan tentang gangguan psikologi ketika beberapa Minggu tidak berinteraksi dengan orang-orang dalam situasi pandemik.

Maka, muncullah berbagai pakar antardisiplin ilmu yang dapat mejelaskan tentang situasi tersebut. Semakin banyak orang yang hadir memperbincangkan situasi yang terjadi ketika pandemik, maka semakin banyak sudut pandang yang kita bisa terima.

Belajar dari berbagai disiplin ilmu, tanpa sekat, tanpa pengkotak-kotakan, sehingga kognisi ilmu pengetahuan kita akan semakin komprehensif (tidak menyekat ilmu dari dunia timur atau barat).

Seperti pada zaman Ibnu Sina al-Faraby al-Kindy, dalam dirinya menyatu dan bertemunya keberagaman ilmu pengetahuan serta peradaban.

Di masa pandemik seperti ini, dapat menjadi media untuk mengemas dan mengembalikan kejayaan ilmu pengetahuan seperti di zaman Ibnu Sina, di mana ilmu pengetahun itu sesungguhnya berasal dari zat yang sama, yaitu Tuhan. Hanya cara membedahnya yang berbeda.

Misalnya, ilmu agama lebih banyak diserap dari ayat-ayat qur’aniyah, ilmu umum (kimia, fisika, biologi) diserap dari ayat-ayat kauniyah atau ayat alam, dan ayat insaniyah (sosiolog dan psikolog). Ketiganya sama-sama ayat yang menjadi landasan dalam memahami hukum Tuhan untuk menjelaskan sesuatu.

Semoga kehadiran wabah kali ini dapat mentrasformasikan ke depan dalam membangun dialog, menghargai keragaman pendapat, lebih terbuka, dan lebih produktif bekerja. (*)

Artikel ini merupakan catatan dari Webinar “Cerita Sahabat Nabi di Masa Wabah Penyakit” yang dilaksanakan oleh Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta 4 Mei 2020, dengan Narasumber Fu’ad Jabali, Ph.D.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *