Thu. Oct 1st, 2020

BLAM

KEREN

Alunan Takbir & Idul Fitri

6 min read

Pawai malam takbiran menyambut lebaran Idul Fitri. Sumber foto: jatimtimes.com

5,545 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Bila matahari terbenam pada akhir bulan Ramadan, saat itu terjadi peralihan waktu. Bulan Ramadan berlalu, bulan Syawal masuk. Malam itu sudah terhitung tanggal 1 Syawal. Tak ada lagi kegiatan salat tarawih. Sebagai gantinya, umat Islam melantunkan lafaz takbir.

Hari jatuhnya tanggal 1 Syawal dikenal sebagai Idul Fitri. Pada hari itu, beberapa saat setelah matahari terbit, umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri secara berjamaah. Tempatnya di masjid atau tanah lapang. Jika ada halangan, seperti pandemi yang merebak, ulama menyarankan salat berjamaah di rumah.

Salat sunat Idul Fitri terdiri atas dua rakaat. Salat ini ditandai dengan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, sesudah takbiratul ihram. Pada rakaat kedua, takbir sebanyak lima kali. Jumlah takbir pada salat ‘Id, lebih banyak dibandingkan takbir pada salat lainnya.

Selain itu, sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri, disunatkan memperbanyak zikir, utamanya takbir. Takbir dimulai pada malam hari hingga pelaksanaan salat Id. Dengan demikian, tersedia waktu sekitar dua belas jam untuk melantunkan takbir berulang-ulang. Takbir pada malam Idul Fitri di Indonesia, biasanya disiarkan melalui radio dan televisi.

Kitab al-Adzkaar menjelaskan, bahwa takbir dapat dilakukan sambil berjalan, duduk, dan berbaring. Takbir dapat dilakukan di jalan, di masjid, dan tempat tidur (an-Nawawi, t.th.:155). Ini menunjukkan, kegiatan takbir merupakan ibadah dan menampakkan syiar. Aspek syiarnya menjadi jelas ketika lafaz takbir dilantunkan dengan suara nyaring dan secara bersama-sama.

Lafaz takbir diucapkan dengan khusyuk dan berulang-ulang. Ini membawa kenikmatan spiritual. Orang yang mendengarkannya dengan saksama, juga merasakan getaran di hati. Mereka merasakan sentuhan lafaz takbir.

Penjelasan sederhana tentang hal itu seperti berikut. Perintah takbir bersumber dari Allah Swt. Lafaznya diajarkan oleh utusan Allah, yakni Baginda Nabi Muhammad Saw. Isinya mengagungkan nama Tuhan yang menciptakan manusia. Dengan demikian, terdapat kesesuaian asal usul lafaz dan orang yang membacanya.

Lafaz Takbir

Al-Qur’an menuntun umat Islam agar mengagungkan nama Allah setelah menyelesaikan puasa Ramadan. Ayat terkait, yakni wa li-tukmilu-l ‘iddata wa li-tukabbiruu-l laaha ‘alaa maa hadaa-kum wa la‘alla-kum tasykuruun.

Artinya, Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur (al-Baqarah/2:185).

Perintah mengagungkan Allah pada ayat di atas, dilaksanakan dengan beberapa cara. Di antaranya, memperbanyak takbir dan menunaikan salat Idul Fitri.

Ketika salat, umat Islam mengagungkan nama Allah dengan ucapan, gerakan salat (berdiri, rukuk, sujud, dan duduk), dan sikap batin (merendahkan diri kepada Allah Yang Maha Agung).

Menurut pakar tafsir, M. Quraish Shihab, mengagungkan Allah dapat berbentuk ucapan, perbuatan, atau sikap batin.

Ucapan, yakni mengucapkan Allahu Akbar. Sikap batin, yakni meyakini bahwa Dia Maha Esa, kepada-Nya tunduk segala makhluk, dan kepada-Nya kembali keputusan segala sesuatu.

Perbuatan, yakni pengejawantahan makna-makna yang dikandung “takbir dengan sikap batin” tersebut dalam kehidupan sehari-hari (2008:107-108).

Lafaz takbir yang sering dibaca sebelum salat Id seperti berikut. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illaa-llaahu wa-l llaahu Akbar, Allahu Akbar wa li-llaahi-l hamd.

Artinya, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah dan Allah Mahabesar. Allah Mahabesar dan Untuk Allah segala pujian (HR ad-Daruquthni, II, 2005:33).

Teks di atas sesuai hadis riwayat Imam ad-Daruquthni. Pada teks itu terdapat lima kalimat takbir (Allahu Akbar).

Selain itu, terdapat kalimat tahlil (Laa ilaaha illa-llaah), dan kalimat pujian (Li-llaahi-l hamd). Kalimat yang disebut terakhir adalah bentuk lain dari al-Hamdu li-llaah. Semua ini termasuk lafaz zikir, yang dianjurkan untuk senantiasa dibaca pada berbagai kesempatan.

Selain teks di atas, buku fikih juga memuat teks takbir yang lebih panjang. Teks-teks takbir itu dibaca berselang seling. Sejalan dengan itu, lantunan suara takbir menjadi bervariasi.       

Selanjutnya, di antara dua takbir salat Id, disunatkan membaca zikir. Yaitu, Subhaana-l laah, wa-l hamdu li-llaah, wa laa ilaaha illa-llaah, wa-llaahu akbar.

Artinya, Mahasuci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah, dan Allah Maha Besar  (Amin, t.th.:198).

Lafaz-lafaz ini mengandung beberapa prinsip pokok di dalam aqidah Islam. Salah satunya, umat Islam meyakini keagungan Allah.

Umat menempatkan keagungan Allah di atas segala yang lain. Umat mengucapkan lafaz takbir disertai harapan dapat menguatkan semangat juang di jalan yang benar. Lafaz suci ini juga memberi arah bagi perjuangan setiap Muslim.

Idul Fitri

Kata ‘iid (Arab) berarti hari raya. Ia adalah hari, yang di dalamnya ada sesuatu yang dirayakan dengan perasaan gembira dan senang. Ia juga menunjuk pada sesuatu yang senantiasa berulang. Sementara itu, al-Fithr berarti perihal berbuka (Dhaif, ed., 2005:635 dan 694).

Pada waktu Idul Fitri, umat Islam tidak berpuasa dan kembali makan dan minum seperti sedia kala, setelah menunaikan puasa.

Hari ini adalah hari kemenangan, setelah menaklukkan keinginan dan godaan nafsu. Hari ini membahagiakan, karena ibadah Ramadan mendatangkan ampunan dari segala dosa. Muslim yang taat menjadi suci kembali.

Nabi Muhammad Saw. melarang umatnya berpuasa pada hari pertama Syawal. Hari itu adalah hari menikmati makan dan minum. Semua diminta untuk menunjukkan kebersamaan, menikmati hidangan, setelah merasakan lapar dan dahaga pada waktu siang selama sebulan.

Muslim dari berbagai tingkatan sosial bergembira. Fakir miskin turut mengambil bagian. Zakaat al-fithr yang ditunaikan sebelum hari raya, memungkinkan ketersediaan makanan dan minuman bagi kaum dhuafa. Pada waktu Idul Fitri, umat Islam mengagungkan nama Allah dan menunjukkan kepedulian terhadap sesama.

Rasulullah Saw. memberi contoh kepada umatnya. Menurut riwayat dari Anas r.a., (artinya) Rasulullah Saw. tidak berangkat untuk (salat) Idul Fitri melainkan ia memakan beberapa kurma (al-Bukhari, 1996:277).

Ulama  menjelaskan, bahwa haram hukumnya berpuasa pada tanggal 1 Syawal. Sesudah hari itu, puasa sunat atau pengganti puasa Ramadan karena ada uzur, dapat dilaksanakan. Seperti itu ketentuan syariah.

Seperti halnya pada setiap kemenangan, umat Islam juga menandai kemenangan pada hari raya dengan bersalam-salaman pada saat bertemu. Selain itu, mereka saling mendoakan, ‘Semoga ibadah kami dan kamu diterima Allah Swt.’ Ungkapan dalam bahasa Arab, Taqabbala-l laahu minnaa wa minkum (Amin, t.th.:198).

Ucapan lainnya, Mohon maaf lahir dan batin. Ungkapan dalam bahasa lokal di kalangan orang Bugis juga indah, Taparajaingengnga addampeng (Saya mohon maaf). Tangan diulurkan sambil memohon maaf terlebih dahulu.

Dalam ungkapan lain, yang maknanya timbal baik dalam hubungan setara, Tosiaddampeng-dampengeng (Mari kita saling memaafkan). Sebagian mengucapkan maksud tersebut di dalam hati saja.

Sejatinya memang demikian. Orang yang hatinya bersih senang memberi maaf. Orang yang ingin hubungannya terjalin dengan baik, memohon maaf bila bersalah. Orang yang menjaga hubungan dengan Allah (hablun mina-llaah), berusaha memelihara hubungan dengan sesama manusia (hablun mina-n naas).

Menunaikan salat Idul Fitri berarti mengerjakan ibadah sunat. Selain itu, pelaksanaan ibadah ini mengandung syiar. Menurut Kitab Tanwiir al-Quluub, orang yang menghadiri salat Id dianjurkan untuk melakukan beberapa hal. Di antaranya, mandi, memakai pakaian yang terbaik, memakai parfum, makan sebelum berangkat, dan melalui jalan yang berbeda pada waktu pergi ke tempat salat dan kembali ke rumah (Amin, t.th.:197-198).

Anjuran itu mengisyaratkan beberapa hal. Di antaranya, umat Islam didorong untuk memiliki rasa percaya diri, tampil necis, menunjukkan identitas, saling menyapa, dan saling memberi semangat.

Lebih dari itu, umat Islam meyakini, bahwa jalan-jalan yang dilalui akan menjadi saksi atas amal saleh yang dilakukan itu di akhirat.

Warga berbagai suku bangsa di Indonesia merayakan Idul Fitri dengan tradisinya masing-masing. Orang Bugis menyiapkan burasa (nasi santan dibungkus daun pisang) dan ayam lengkuas. Orang Makassar memasak ketupat dan konro. Orang Padang menanak rendang daging. Setiap keluarga menyiapkan hidangan dalam jumlah besar agar bisa dinikmati dan berbagi. Tamu dijamu.

Tradisi lokal menambah kesemarakan hidup beragama. Tradisi yang baik perlu dipertahankan. Jika ada unsur tradisi yang tidak senafas dengan ajaran agama, maka itu diarahkan dan dimodifikasi. Dengan demikian, tradisi memperkuat nilai-nilai agama. Pola hubungan seperti ini menciptakan harmoni.

Dalam skala nasional, Muslim di Indonesia merintis suatu tradisi terkait dengan Idul Fitri. Namanya halal bi halal. Tradisi ini dimaksudkan sebagai cara praktis untuk menjalin silaturahmi. Orang banyak berkumpul di suatu tempat dan bermaaf-maafan. Tradisi yang dirintis sekitar lima puluh tahun silam itu, bertahan hingga sekarang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *