Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Dua Sisi Puasa: Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial

4 min read

Sumber gambar: dakwatuna.com

4,029 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Ibadah yang Istimewa

Di antara semua ibadah yang disyariatkan kepada umat Islam, puasa merupakan ibadah yang paling sangat privat. Ibadah puasa merupakan rahasia berdua antara seseorang dengan Allah.

Hal ini berbeda dengan ibadah lainnya, di mana keterlibatan dan pengetahuan orang lain terlihat begitu jelas.

Dalam ibadah salat, misalnya, orang lain dapat melihat dengan jelas bagaimana kita salat. Demikian pula ibadah lain, seperti zakat dan haji.

Berbeda dengan ibadah puasa. Kalau kita berpura-pura puasa, orang lain tak akan tahu, tapi tentu saja Allah Maha Tahu.

Pada sifatnya yang sangat privat dan rahasia inilah, ibadah puasa menjadi sangat istimewa. Ibadah puasa membentuk sisi kejiwaan yang sangat personal, yaitu keikhlasan, kejujuran, tanggung jawab, dan komitmen.

Meskipun ibadah puasa bersifat sangat pribadi, namun di dalamnya mengandung ajaran-ajaran sosial yang penting untuk kita transformasikan dalam kehidupan sosial kita.

Riyadhah Ruhani

Puasa adalah sebuah proses riyadhah (latihan) ruhaniah manusia, yang oleh Nabi saw disebut sebagai jihad akbar.

Sayyed Husein Nasr menulis, bahwa aspek paling sulit dari puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan pada jiwa hewani.

Melalui puasa, kecenderungan jiwa hewani untuk memberontak perlahan-lahan dijinakkan melalui penaklukkan kecenderungan tersebut secara sistematis dengan mentaati perintah Ilahi,  melalui menahan lapar, dahaga, nafsu seksual, dan gejolak amarah.

Ibadah puasa merupakan ritualitas personal yang mendidik jiwa seorang hamba untuk tidak tunduk dan tidak dikendalikan oleh insting hewaniahnya.

Dengan proses riyadhah ruhani, jiwa dilatih untuk me-manusia sebagaimana kesejatian fitrawi.

Ibadah puasa adalah proses internalisasi nilai dasar keislaman yang berorientasi pada ketundukan dan kebahagiaan.

Selanjutnya, melalui puasa, jiwa melakukan eksternalisasi dalam bentuk pengkhidmatan pada kemanusiaan menebarkan keselamatan bagi sesama makhluk Tuhan, dan menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin).

Di sinilah, dua sisi puasa akan menjadi tampak dengan sangat jelas. Ibadah puasa merupakan ritual dan motivasi simbolik, yang mengantarkan seseorang untuk menjadi seimbang antara kesalehan individual yang sifatnya simbolik-ritualistik, dan kesalehan sosial yang bernuansa sosiologis.

Ibadah puasa dalam simbol ritual menahan lapar, dahaga, dan nafsu seksual, merupakan madrasah ruhani yang mengajarkan manusia pada pelajaran ruhani tanpa melalui sebuah konsep yang sangat teoritik.

Akan tapi, sebuah proses pembelajaran terlibat, sehingga pelajaran ruhani tersebut menginternalisasi dalam lubuk jiwa kita.

Dengan tetap menahan lapar, dahaga, dan nafsu seksual dari fajar hingga malam datang, kita diajarkan untuk melakukan semua itu, ikhlas karena Allah.

Sebab, seandainya untuk sesuatu selain Allah, kita akan gampang mengelabui manusia dengan mengesankan diri, bahwa kita sedang berpuasa.

Ibadah puasa melatih kita untuk senantiasa jujur pada diri kita sendiri dan jujur pada Allah. Dengan demikian, kita akan mudah untuk jujur kepada orang lain.

Selanjutnya, puasa melatih jiwa untuk tetap tanggung jawab dan komitmen pada pilihan nilai yang kita anut.

Kesalehan Sosial

Lebih dari sekadar latihan jiwa yang bersifat personal, dengan simbol ritualistik berupa lapar dan dahaga, puasa mengajarkan kita secara langsung untuk merasakan keperihan mereka yang tak berpunya.

Saat Ramadan, kita lapar dan dahaga karena sebuah pilihan. Padahal, kita memiliki banyak stok makanan dan minuman.

Dengan itu, kita sejatinya diajak merenung untuk merasakan dan memikirkan derita saudara-sudara kita yang kelaparan dan tak berpunya.

Dengan demikian, puasa melatih jiwa sosial kita untuk merasakan empati kemanusiaan yang mendalam dengan berbagi pada sesama. Itulah hikmahnya perintah puasa di bulan Ramadan, yang ditutup dengan kewajiban menunaikan zakat.

Melalui puasa, Allah menjanjikan berbagai macam pahala berlimpah jika melakukan ritual-ritual tertentu. Hal ini merupakan modus untuk membentuk kesalehan ritual yang bersifat pribadi.

Namun, di pihak lain, Allah juga memerintahkan kita untuk memberikan sedekah, memberi makan orang yang hendak berbuka puasa, menunaikan zakat, dan ibadah sosial lainnya.

Hal tersebut merupakan simbolitas, agar selain melakukan internalisasi kesalehan yang bersifat pribadi dan ritual, kita juga memerhatikan aspek-aspek sosial.

Itulah sebabnya, kata iman dalam Al-Quran senantiasa disandingkan dengan kata amal saleh.

Iman merupakan simbol yang bersifat personal-ritual, dan amal saleh merupakan simbol amal yang bersifat sosial dan bernuansa sosiologis.

Simbolitas ini juga tampak, dengan disyariatkannya zakat, yang merupakan ibadah sosial sebagai pamungkas keseluruhan rangkaian ibadah Ramadhan.

Ibadah zakat sebagai pamungkas, menunjukkan, orientasi dari puasa Ramadan adalah membentuk priabdi yang selalu ingat berbagi. Pribadi yang menyadari, bahwa di sebagian hartanya ada hak orang lain di dalamnya.

Berkali-kali Rasulullah saw menekankan, indikator keimanan seseorang (kepada Allah dan hari akhir) adalah pada amalannya yang bersifat sosial.

Seperti dalam sabda suci Nabi Saw:

“Tidak beriman seseorang kepada Allah dan hari akhir jika ia tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya tidur dalam keadaan lapar.” “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya”, dan masih banyak hadis Rasul saw lainnya, yang senada dengan itu.

Dengan demikian, untuk mengukur keimanan dan kesalehan seseorang, tidaklah cukup hanya dengan indikator kesalehan yang bersifat ritual saja.

Bahkan, kemuliaan seseorang diukur sejauh mana orang tersebut berkontribusi positif bagi orang lain, sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasul saw, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling memberi manfaat bagi orang lain.”  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *